Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
KHAWATIR


Amarendra memandangi layar ponselnya, dia dan kedua temannya menuju kontrakan untuk pulang.


“Aku baru tahu yang tadi itu kakakmu,” ucap Yana dan Raihan mendesis. “Penampilannya seperti orang kaya, juga cantik, kenapa bisa kamu memiliki kehidupan berbeda jauh dengan kakakmu?” tanyanya lagi dan Raihan sangat ingin menyumpal mulutnya.


“Tak perlu banyak bertanya, aku bisa marah jika terus-terusan kehidupan pribadinya digali,” geram Amarendra dan Yana mengunci mulutnya rapat-rapat.


Hari silih berganti, tak terasa dua bulan di rumah dan membuatnya penat, Kani akhirnya mendapatkan kabar baik. Saudara jauh mengajaknya bekerja menjadi Baby siter, ini resmi karena lewat yayasan, gaji yang dijanjikan tak main-main, bukan hanya Kani yang pergi tapi dari kampung lain pun banyak. Seperti biasa, sebelum Kani pergi, dia harus bersitegang dahulu dengan Ibunya yang tak memberikan izin sepenuh hati. Sementara Bapaknya, mengizinkan asal dia janji bisa menjaga diri.


Kani mengirimkan pesan kepada Amarendra bahwa dia sudah sampai di Bekasi. Dia mengirimkan alamat yayasannya. Kani mengingat-ingat setiap jalan bahkan mencatatnya di ponselnya, Amarendra memintanya dia melakukan itu untuk berjaga-jaga. Sesampainya di yayasan Pelita Hati, Kani melihat sebuah rumah berlantai dua yang dijadikan kantor yayasan tersebut, dia naik dan menjadi sorotan mereka para wanita seusianya dan ada juga yang sudah berumur. Kani menunduk, dia mengintip keluar jendela, melihat sebuah sungai dengan air keruh dan bau. Udara di sini pun sangat panas.


“Hei, aku dengar kamu dari Bandung juga. Aku Purwa,” ucap seorang wanita cantik dan Kani membalas memperkenalkan diri.


Menjelang malam, Kani yang baru selesai mandi hanya bisa duduk dipojok, entah yayasan macam apa ini, tak seperti yang dikatakan kerabat jauhnya. Mereka yang berasal dari Bandung, kampung berbeda, entah dibawa ke yayasan sebelah mana. Kani merasa lapar dan Purwa mendekat.


“Jatah makan hanya pagi dan sore, itu juga berebut, kamu masih sangat muda. Kenapa bisa sampai mau datang ke sini? Apa pekerjaan yang ingin kamu pilih, mengasuh Jompo, menjadi ART, atau mengasuh balita?” ujar Purwa dan Kani menelan ludah, dia merasa takut.


“Aku akan menjadi Baby siter, Teh Purwa sudah lama di sini?” ujar Kani dan wanita itu menggeleng.


“Baru masuk, sama denganmu. Kamu lapar, Kani? Kita bisa keluar di bawah jam sembilan malam untuk mencari makan.” Purwa tersenyum, sepertinya kota Bekasi bukan tempat asing baginya.


Wajah Kani memerah saat memeriksa tasnya, uangnya lenyap juga dengan dompet kecilnya, Kani hampir menangis, menoleh, menatap para wanita itu yang salah satunya pasti sudah mencuri uangnya.


“Teh, uangku hilang,” bisik Kani dan mata Purwa terbelalak.


Keduanya turun dan melapor pada wanita bernama Eka, dia adalah wanita yang dipercaya kerabat jauh Kani untuk membawanya dari Terminal rambutan.


“Aduh kamu ini, baru sampai sudah ceroboh, simpan mangkanya baik-baik!” Dia membentak dan Kani menciut. Tak memberi jalan keluar dan Kani malah diperhatikan mereka para wanita berseragam.


“Bu Eka anak-anaknya cakep-cakep, siapa dia, Bu?” Suara melengking seorang wanita gemuk dari dalam ruangan sambil terus memperhatikan Kani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Purwa lekas mengajak Kani pergi dan Kani bingung, hanya ada uang seratus ribu dan itu juga selamat karena di dalam jaketnya.


“Dua ratus, buat makan.” Kani menunduk.


“Lain kali hati-hati, kita nggak tahu seperti apa mereka satu-persatu. Aku senang bertemu denganmu, merasa bertemu keluarga.” Purwa juga terlihat takut dan Kani meraih tangannya.


Keduanya terus berjalan mencari makan, Kani mendengarkan cerita Purwa yang terpaksa berangkat agar bisa punya uang untuk anaknya berobat. Wanita itu janda, masih muda, anaknya baru berusia dua tahun. Kani menghela napas berat mendengar ceritanya sampai Purwa menyebutkan nama tempat tinggalnya di Bandung dan itu tidak jauh dari tempat tinggal Kani, mereka jelas bahagia mengetahui fakta tersebut.


Dua bungkus nasi goreng mereka beli, Purwa hendak membayar punya Kani tapi Kani menolak. Dia masih punya uang dan mereka kembali ke yayasan. Besok paginya, keduanya mengekor pada mereka yang mencari sarapan, ada nasi kuning murah dengan porsi hanya untuk mengganjal. Empat ribu rupiah harganya dan Kani menikmatinya. Setelah kehilangan uang, dia membawa dompetnya, memasukkannya ke dalam saku jaket yang berada di bagian dalam juga sekalian dengan ponselnya. Bahaya jika dia kehilangan benda berharga itu.


Agak siang, yayasan kedatangan satu lagi gadis kampung yang lebih lugu dari Kani, Purwa mendekatinya, mengajaknya bersama karena dia bisa berbicara bahasa Sunda karena berasal dari Tasikmalaya.


Namanya Neng, wajahnya bulat, matanya belok, suaranya serak dan dia memakai kerudung. Usianya di bawah Kani, hanya saja tubuhnya yang bongsor.


***


“Kamu kenapa, Maren? Nggak tenang begitu?” bisik Raihan dan Amarendra menoleh.


“Hari ini sudah satu Minggu Kani di Bekasi, dia memang rajin memberikan kabar tapi aku merasa janggal dengan yayasan itu, Rai. Aku takut Kani kenapa-kenapa, kamu tahu sendiri, dia polos juga cengeng. Terlebih, dia mudah dibujuk. Dia tergiur gaji besar yang belum tentu benar adanya.” Amarendra begitu frustrasi dan melepas topinya. Andai dia masih memiliki kehidupan enak, mungkin dia akan lekas menikahi gadis itu, cukup menunggunya tak perlu sampai begini.


“Tenang, Maren. Bekasinya daerah mana?”


“Jati Asih.”


“Enggak jauh, dong. Kamu bisa bertemu sama dia.”


“Iya, tapi kamu tahu sendiri pekerjaan kita kayak apa, pulang agak sore saja nggak bisa, malam terus.” Amarendra memejamkan matanya kemudian memakai topinya lagi saat melihat Manajer datang dan pegawai lain pun kocar-kacir cari muka, awalnya berleha-leha dan sekarang sok sibuk bekerja.


Kekhawatiran yang dirasakan Amarendra juga dirasakan keluarga Kani. Kani belum pernah pergi jauh apalagi meninggalkan kota Bandung. Bu Ismi terus meminta Pak Muji agar tak putus komunikasi dengan Kani.