Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
TOKO PAK HAJI


Amarendra menatap jam tangannya, dia berdiri dan menyambar sebuah buku. Dia keluar dari kelas dan berjalan menuju Perpustakaan. Dari sisi lain, di bawah sana Kani berjalan sambil memperhatikannya. Dia tak melihat jalan sampai hampir terjatuh dan Amarendra menoleh. Diam sejenak kemudian Kani yang melihatnya lekas berlalu sambil menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya lalu Amarendra melanjutkan perjalanan.


Seisi sekolah hari ini heboh dengan hilangnya ponsel Reva kemarin. Bahkan Reva terlihat lesu dengan mata bengkak karena semalaman terkena marah Ayahnya setelah ia mengadu ponselnya hilang.


Di Perpustakaan, Amarendra mengamati sekitar, tangannya sesekali menarik buku kemudian dia simpan lagi. Amarendra mendekati rak yang dikerumuni anak-anak SMP. Kemudian dia duduk dan membuka sebuah buku.


Beberapa menit kemudian Amarendra mulai gelisah, terus menatap jam tangannya dan sebentar lagi jam istirahat habis.


“Ini Hp siapa?” seru seorang gadis tiba-tiba dan Amarendra mengembuskan napas lega. Dia melipat buku kemudian pergi.


Semua orang di perpustakaan tak merasa memiliki ponsel macam begitu, kemudian ada yang ingat dengan kabar ponsel Reva hilang. Mereka langsung membawa ponsel itu ke kantor guru. Reva dipanggil dan teman-temannya mengintil dari belakang termasuk Kani.


Bel berbunyi, semuanya harus lekas masuk kecuali mereka yang ada di kantor. Kani menoleh saat pintu diketuk, Amarendra datang untuk mengambil bukunya yang belum dikembalikan kemudian dia dipersilakan masuk.


“Mungkin kamu lupa, ini ponsel ditemukan adik-adik kelas di Perpustakaan. Bukannya kamu juga bilang ke Perpustakaan kemarin sama teman-teman kamu?” Wali kelas memberikan ponsel Reva dan Reva masih terlihat bingung. Bagaimana bisa dia pelupa untuk benda yang penting?


“Sudah ketemu, Rev. Masih rejeki.” Citra tersenyum dan Reva juga.


“Benar apa yang dikatakan Citra, lain kali hati-hati.” Pak Dodo menatap Reva dan Reva mengangguk, berterima kasih lalu semuanya diminta bubar.


Amarendra yang masih di sana menatap Kani begitu juga dengan Kani. Tatapan mata yang sangat lama sampai Kani menunduk dan melewatinya. Kani sempat menoleh dan Amarendra sudah pergi menuju ke kelasnya mengekor seorang guru Wanita.


Masalah pun selesai tapi tidak dengan rasa bersalah yang didera Kani sekaligus rasa takut bercampur malu. Dia sampai tak bisa tidur memikirkan hal tersebut dan ditambah dengan Amarendra yang belum mau memaafkannya. Pesannya saja tak pernah dibalas.


 Lalu sekarang, Kani sedang makan malam dengan keluarganya, keadaan Bapaknya membaik tapi Ibunya tak berhenti menyinggung tentang ponsel itu.


“Bapak mendengar ada yang kehilangan Hp di sekolah, benar itu?” ujar Pak Muji dan Kani melirik sekilas. Dahlia yang menceritakannya dan mereka tak bisa membantah.


“Sudah ketemu, Pak. Bukan hilang tapi menyempil di rak buku Perpustakaan, asal simpan terus lupa,” sahut Kenanga dengan yakin dan Dahlia mengiyakan.


“Hati-hati kamu, Kani. Jangan teledor, itu bukan barang murah.” Bu Ismi menyenggol bahu anaknya itu yang hanya diam.


Kani hanya mengangguk dan bangkit karena dia sudah selesai.


***


Asap rokok mengepul. Entah mengapa warung paling lengkap di sekolah hari ini malah tutup, Amarendra yang lapar hanya bisa duduk memandangi warung tersebut, sesekali mengisap rokoknya, melamun lagi, dan sekarang iseng membaca semua pesan yang Kani kirimkan tapi tak dia balas.


“Kamu merokok?” Suara lembut itu membuat Amarendra terperanjat dan menjatuhkan rokoknya. Dia melihat Kani dengan kedua tangan ke belakang. Dia perlahan meraih rokoknya lagi dan Kani mendekat.


“Mubazir, dikasih orang,” jawab Amarendra dan Kani duduk cukup jauh darinya.


“Jangan mencoba itu nanti kecanduan.”


“Hanya sesekali kalau lagi stres.”


Dialog datar itu membuat Kani menoleh, memandanginya dengan teliti kemudian dia meletakkan tempat makan berwarna kuning dan dia dorong perlahan. Amarendra diam, hanya melirik sekilas, ******* bibirnya yang terasa manis dan sedikit kecut kemudian dia mematikan kuntung rokok. Dia melirik lagi, bukan ke kotak makanannya tapi pada orang yang memberikannya.


“Makanlah, beli minumnya sendiri.” Kani kesal karena terus diabaikan, dia bangkit tapi Amarendra bergeser dan menarik tangannya sampai Kani duduk kembali dan keduanya kini berdekatan.


“Aku malas harus mencarimu untuk mengembalikan kotak makanan ini, diamlah, tunggu sampai aku selesai,” katanya ketus dan Kani tersenyum. Menawarkan diri untuk membelikan minum tapi Amarendra membawanya seperti biasa, botol minumnya sedari tadi berdiri di sebelah kanan. “Aku juga malas melihatmu senyum-senyum begitu. Mingkem!” hardiknya dan Kani mendengus.


Satu suapan masuk dan Amarendra tak mengunyahnya sampai Kani memandang lama.


Amarendra tak merespons, dia memakannya perlahan dan dengan sangat manis Kani menyimpul senyum. Dia senang melihat Amarendra memakan nasi goreng dingin itu dengan lahap.


“Akan lebih enak lagi kalau masih hangat,” ucap Amarendra dan menyuap lagi.


“Akan aku buatkan jika bisa untukmu nasi goreng lebih enak dari itu dan masih hangat juga,” balas Kani dan Amarendra menatapnya tapi dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tak apa, Kani sudah senang melihat bagaimana Amarendra memakan masakannya walaupun tak secara gamblang memuji, dia jelas bisa melihat bahwa Amarendra menyukai nasi goreng buatannya.


Setelah habis sampai licin, Kani mengambil kotak makanannya dengan wajah riang dibumbui senyuman merekah pula. Amarendra minum sambil memperhatikan.


“Aku pergi.” Kani berlari meninggalkannya karena melihat Dahlia. Amarendra hendak memanggil, dia belum mengucapkan terima kasih, tangannya sudah terangkat.


****


Tanggal merah bertepatan pada hari Senin. Kani diajak Ibunya untuk pergi ke Pasar di Terminal, berangkat berjalan kaki, pulangnya nanti naik ojek. Mereka bertemu Ibunya Yana, Bu Sanah. Mereka bertiga berjalan bertiga di pagi yang begitu dingin dan masih berkabut.


Sudah biasa berjalan kaki, bahkan ada yang sering pergi masih gelap.


Kani diam mendengarkan obrolan kedua wanita paruh baya itu. Sementara ia, mendekap bahunya, dingin. Setelah keduanya berhenti, Kani melihat Ibunya berzikir. Mengulur tasbih kecil dan dia merapatkan tali Hoodienya. Dia didesak untuk memakai kerudung tadi, dia tak mau, dia belum siap memakai kerudung ke mana-mana seperti mereka wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua. Padahal bukan masalah status dan umur, itu adalah kewajiban. Tapi tak jarang juga yang memakai kerudung untuk melindungi dari sinar matahari saja bukan menutup aurat karena dipadupadankan dengan pakaian pendek tak seharusnya dan masih biasa juga dengan mereka yang lepas pasang hijab. Tapi keinginan Pak Muji suatu saat nanti, anak-anaknya yang perempuan bisa mampu menutup diri dengan sempurna. Semua orang tua berhak menginginkan apa pun yang terbaik untuk keluarganya.


Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka semua sampai, Kani mengeluh haus dan mereka berpisah dengan Ibunya Yana. Bu Ismi juga mampir ke toilet di sebuah Masjid. Kani diam sambil merasakan kering pada tenggorokannya.


Mendadak sebuah motor berhenti, Kani menoleh dan itu Heri yang akan menjemput Ibunya yang sudah selesai belanja.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Heri sambil tersenyum.


“Ngapain tanya-tanya? Pergi sana, aku sama ibuku, akan aku adukan kalau kamu mengganggu,” tegasnya mengancam dan Heri masih mempertahankan diri.


“Beri aku lima menit.” Heri serius dan Kani diam. “Aku minta maaf untuk semua kesalahanku, aku janji setelah ini nggak bakalan mengganggu kamu lagi. Kalau kamu bisa percaya, tolong jauhi Reva, dia yang mengusulkan agar aku menemui kamu malam itu. Memaksa kamu untuk menerima apa yang aku mau, itu salah tapi aku terhasut ucapan Reva setelah alasannya aku kesal dan masih sayang sama kamu.” Heri menunduk dan Kani terkejut mendengarnya.


“Jangan ngomong aneh-aneh, Her. Fitnah itu, Reva sahabat aku.” Kani marah dan Heri meremas rambutnya frustrasi.


“Aku bingung harus jelasin kayak gimana lagi sama kamu karena pasti kamu nggak bakal percaya, Reva nggak sebaik itu, dia selalu iri.” Heri bersungguh-sungguh dan Kani tak mau mendengarkannya. Heri terus berbicara dan Kani kedua kedua tangannya di depan dada. Keduanya tak sadar ada Rosi lewat mengendarai motornya, Rosi bingung karena pagi-pagi buta keduanya sudah bersama. Apa jangan-jangan Kani dan Heri menjalin hubungan lagi? Dan dia mendengar semalam Heri membawa seorang gadis ke rumah, apa itu Kani dan Kani menginap di rumah Heri? Rosi terus menerka-nerka dan tidak habis pikir kenapa bisa Kani mau pada Heri yang jelas-jelas tidak baik.


Bu Ismi yang selesai dan melihat Kani mengobrol dengan seorang laki-laki langsung melotot, Kani menoleh dan Heri tegang. Bu Ismi dengan galak menarik Kani pergi dan Kani menjelaskan bahwa Heri bukan siapa-siapa baginya tapi Bu Ismi terlanjur ingat pada aduan Dahlia yang mengatakan bahwa Kani berpacaran.


Kani tak henti-hentinya kena omel saat terus mengintil dan memegangi belanjaan. Percuma dia jelaskan, Ibunya tak akan percaya jadi dia memilih diam. Ibunya berhenti sejenak dan melanjutkan menegur Kani saat mereka sarapan Kupat Tahu. Kani tak memiliki cara lain selain pasrah. Setelah kenyang mereka pergi, sama-sama menenteng belanjaan dan terakhir akan belanja di toko Haji Salim.


Kani mendongak melihat Amarendra sedang menjemur pakaian di balkon. Hanya memakai kolor selutut dengan dada telanjang. Amarendra yang sadar diperhatikan dan memang di bawah ramai akhirnya menurunkan pandangan.


“Kani...Ish, ish!” Dia panik dan meraih handuk, menutupi dadanya lalu matanya memicing pada gadis itu. Kani tersenyum dan malah mengacungkan jempolnya, sebuah pujian untuk tubuh yang barusan dia pandangi dan Amarendra terbelalak, lekas melenyapkan diri dari balkon. Dia sangat malu.


Kani menurunkan belanjaan, menatap telapak tangannya yang merah, sakit, belanjaan sangat banyak dan sekarang ditambah Ibunya masuk ke Toko entah mau belanja apalagi. Kani diam, mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan tangan sampai dia melihat Amarendra turun sudah rapi tidak seperti tadi. Kani refleks terkekeh-kekeh dan Amarendra mendelik.


Kani menggeleng saat Amarendra hendak mendekat. Amarendra mengerti karena ada Ibu gadis itu.


“Aa punten, mau yang itu.” Ibunya Kani meminta tolong dan Amarendra menarik kursi, mengambilkan kopi sachet dan Ibu Kani berterima kasih sambil tersenyum.


Amarendra baru pertama kali melihat Ibunya Kani. Dia tak penasaran lagi kenapa bisa Kani memiliki wajah jelita nan manis nggak ketulung. Mewarisinya dari Bu Ismi dan Pak Muji.


Setelah Kani dan Ibunya selesai, mereka pulang dengan motor berbeda. Amarendra ditarik Abahnya karena malah mau pergi lagi ke lantai dua, hanya bertahan saat ada gadis itu. Sambil cemberut Amarendra membantu di Toko. Padahal dia ingin tidur lagi setelah semalam begadang dengan teman-temannya.