
Lalu besoknya, Amarendra ditelepon Bu Sri, Kani yang sudah bangun, mandi, dipinjamkan pakaian oleh istrinya Doni. Dia janji akan mengembalikannya tapi istrinya Doni bilang tak usah.
“Ini cocok buat kamu, di saya saya tak muat, pakai saja.” Wanita itu tersenyum dan Kani berterima kasih. “Kamu berasal dari mana?”
“Bandung, Bu. Maaf jadi bikin repot,” ucap Kani pelan.
“Sama sekali enggak, semalam saya kira kamu belum tidur, ternyata hanya Maren yang masih terjaga. Dulu, Maren suka ke sini, setelah sekian lama akhirnya dia muncul, membawa gadis secantik kamu. Dulu saya sering bercanda padanya agar datang membawa pacar,” ungkapnya dan Kani menggeleng keras.
“Kami hanya teman, Bu.” Kani bisa menebak apa yang ada di pikiran wanita itu.
“Kalian berdua serasi, kalau menikah, jangan lupakan kami.” Dia melantur dan Kani mengerutkan keningnya.
Wanita itu pergi, melarang keduanya meninggalkan rumah tanpa sarapan, Kani keluar dan berjalan mencari di mana Amarendra.
“Sumpah, Bund, Maren nggak ngapa-ngapain sama Kani. Cuman main tapi kemalaman jadi ke sini.” Suaranya terdengar dan Kani mendekati arah suara itu. Amarendra sedang berbicara di telepon dengan Bundanya.
“Bunda nggak pernah lepas mengingatkan kamu, jaga diri, jaga orang-orang yang ada di dekat kamu apalagi perempuan, jangan merusak, itu akan mencoreng harga diri kamu sebagai laki-laki. Semua ada waktunya, nggak kuat Bunda nikahin saja kalian berdua daripada begini.” Bunda marah besar dan Amarendra mendengus. “Kani itu masih kecil, polos, jangan macam-macam sama dia kalau kamu benar-benar sayang. Sayang sama Bunda juga. Ingat selalu pesan Bunda, Nak.”
Amarendra iya, iya, saja menjawab dan menoleh saat Kani melangkah mendekat.
“Cantiknya...” Pujian meluncur lembut dari bibirnya melihat Kani pagi-pagi begini, bening, cantik apalagi gadis itu tersenyum manis.
“Maren, Bunda baru saja memperingatkan!” Bunda menyentak dan Amarendra kaget.
“Maren, boleh aku bicara sama Bunda? Biar aku yang jelaskan.” Kani meminta dan Amarendra memberikan ponselnya. “Assalamu’alaikum, Bunda, gimana kabarnya?”
Amarendra diam memperhatikan Kani menjelaskan dengan tenang dan Bundanya juga terbawa tenang. Kani sesekali menoleh padanya, membuat laki-laki itu hampir saja semaput. Amarendra tersenyum dan memperhatikan bibir mungil itu. Entah bagaimana rasanya tapi dari harum napasnya, dia bisa menebak semanis dan sesegar apa bibir merah muda itu.
Kani sudah selesai menjelaskan dan Bunda tenang, Kani memberikan ponsel itu kembali dan Amarendra mendesah resah. Tak aman bagi kesehatan jika terus dekat dengan Kani, dia menyingkir tapi Kani malah mendekat.
“Maaf, kamu jadi kena marah sama Bunda.”
“Aku rela, kok!”
“Huh?” Kani melebarkan bola matanya bingung dan Amarendra menggeleng, menggaruk kepala kemudian keduanya diminta lekas turun untuk sarapan bersama.
Doni dan istrinya melemparkan tatapan juga senyuman melihat Amarendra yang membawa kekasihnya ke rumah mereka, mereka meyakini itu walaupun keduanya sama-sama membantah. HANYA TEMAN!”
Mereka berdua pergi meninggalkan rumah tersebut, Doni yang mengantar Kani lebih dahulu kemudian membawa Amarendra menuju restoran. Doni tak menyangka anak majikannya bekerja sebagai pelayan, bahkan tak kuliah, jika Jaka masih ada, mungkin akan sangat murka tapi jalan hidup memang tak ada bisa menebak.
“Tak ada niat untuk kuliah?” Doni bertanya.
“Bukannya pak Sutan sudah bilang akan menjamin kuliahmu?” Doni mengerutkan kening.
“Syaratnya aku harus mau menikah dengan Kirana,” katanya membalas, wajahnya murung, terlihat nyata dia tak mau.
Doni menghela napas, Kirana cantik, tapi tak berhasil meluluhkan Amarendra. Amarendra hanya menganggap Kirana adik, tak lebih, tak akan pernah.
Sesampainya di restoran, Amarendra dan Doni berpelukan, keduanya berpisah dan Amarendra datang tepat waktu.
“Dia sudah menunggumu.” Tunjuk Yana kepada gadis yang duduk dengan wajah terlipat. Amarendra mendelik dan pergi ke belakang. “Kalau Kani tahu apa dia tak akan cemburu, Maren?” Yana mengejar.
“Dia tak memiliki perasaan yang sama denganku, Yan.” Amarendra menunduk lesu, memakai seragamnya. “Aku semakin bingung juga dengan hubungan kami, aku ingin sebuah tujuan yang jelas, aku bisa memperjuangkannya atau tidak. Jika dia tak sudi, lantas apa gunanya?” Suaranya berat.
“Jangan menyerah, Maren. Kani membutuhkanmu di setiap sulit dan bahagia, aku rasa dia juga jatuh pada perasaan yang sama tapi karena dari awal yang kamu tawarkan pertemanan, dia tak mau merusak pertemanan itu. Mungkin juga Kani berpikir jika kalian pacaran lalu putus, apa tak akan berantakan kemudian saling membenci? Aku kenal Kani dari bayi, percaya padaku bahwa dia juga menganggapmu lebih dari sekadar teman. Dia berbagi duka dan suka, menangis dan mengadu, dia hanya takut sebuah hubungan spesial itu akan merusak pertemanan karena hal tersebut sudah sering terjadi juga, kan?” Kata-katanya berhasil menumbuhkan semangat pada hati Amarendra yang selalu mendadak rapuh karena ketidakpastian yang Kani berikan.
“Bersabar sedikit saja,” kata Yana lagi dan Amarendra termenung. Dia sadar bahwa dia kurang sabar, juga takut Kani direbut.
Di luar, Kirana tersenyum saat melihat Amarendra. Tapi pria itu tak memedulikan keberadaannya. Yana dan Raihan yang melihat hanya saling tatap.
“Kamu mendukung Amarendra dengan Kirana atau dengan Kani?” tanya Yana.
“Ya jelas dengan Kani, gadis itu terlalu agresif untuk Maren yang tak suka dikejar-kejar perempuan.” Raihan terus menatap dan Yana mengangguk sepakat.
“Maren, aku butuh waktu untuk bicara. Papi memintamu datang ke kantor atau menelepon untuk membahas kuliahmu,” kata Kirana saat Amarendra mendekat untuk memintanya pergi.
Wajah pria itu tak ramah. “Aku tak tertarik dan jangan datang lagi ke sini, aku risi dengan keberadaanmu. Kamu memang membayar tapi aku tak nyaman, Kirana. Bilang sama Om, aku bisa berusaha sendiri jika memang meniatkan diri untuk kuliah,” tandas Amarendra dan Kirana menatap dengan mata berkaca-kaca, sesekali menyapu sekeliling, dia malu diperhatikan banyak orang.
“Saat ayahmu masih ada, bahkan dia janji untuk menikahkan kita, kita sudah dijodohkan sejak kecil, jangan lupakan itu.” Kirana kesal dan Amarendra menjatuhkan telapak tangannya kasar ke atas meja.
“Aduh, si Maren.” Raihan buru-buru mendekat, mengingatkan agar tak lepas kendali, dia bisa dipecat.
“Apa benar yang dikatakan Kak Lusi? Kamu kepincut gadis kampung itu. Aku masih merasa mampu menerima jika gadis yang kamu suka berada satu tingkat di atasku, tapi kau... mengabaikanku hanya karena gadis kampung?” teriak Kirana sengit.
Amarendra mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan melihat senyuman kecil di bibir gadis itu seakan meremehkan.
“Heh, mulutmu...” Raihan yang kini tak terima.
“Pergi,” usir Amarendra pelan dan melirik pintu. Kirana menatapnya kesal dengan dada kembang kempis menahan amarah.
Kirana akhirnya pergi, Amarendra mengusap rambutnya ke belakang juga wajahnya dia usap kasar. Raihan terus menenangkannya. Bukan hanya Amarendra dan kedua temannya yang tak nyaman dengan kedatangan Kirana yang selalu mengganggu, tapi juga para pegawai perempuan yang merasa gadis itu rendahan karena sampai sebegitunya menggoda Amarendra.