
Beberapa hari kemudian, ada kerja kelompok lagi dan Kani satu kelompok dengan tiga orang lainnya ada Yang dan juga Rosi. Rosi masih canggung dan sekarang keduanya berjalan tanpa bicara menuju ke rumah Kani. Tak mudah bagi Kani untuk pergi jauh setelah kejadian itu.
Rosi harus ke rumahnya dulu, menjelaskan pada orang tuanya mengenai tugas tersebut kemudian baru bisa pergi ke Terminal, ke tempat foto copy. Yana menawarkan diri agar dia saja yang membeli semua perlengkapannya tapi Kani tak percaya karena waktu itu saja Yana malah membeli yang harganya mahal tak sesuai dengan uang patungan mereka satu kelompok.
“Kani.” Rosi memberanikan diri mendekat dan Kani diam. “Aku bingung harus mengatakannya bagaimana.”
Kani masih diam bahkan tak mau menatap.
“Kani...” Rosi memegang tangan Kani erat dan Kani menatapnya. “Aku salah, aku minta maaf.”
“Kenapa bisa Rere sejahat itu? Dia mengada-ngada karena ucapan kamu.” Ia memandang lamat-lamat.
“Aku bilang sekarang, dia tahu kalau Faisal sering berusaha buat dekat sama kamu, dia nggak suka, dia membalas dengan cara begitu supaya kamu sadar dan dipandang rendah semua orang termasuk sama Faisal.”
“Kenapa marahnya sama aku? Harusnya dia marah sama Faisal, aku nggak pernah meladeni pacarnya itu, aku juga punya pikiran kali.” Kani emosi dan Rosi menggoyangkan tangannya agar ia tenang.
“Namanya juga dia cinta mati sama Faisal, dia nggak bisa marah sama Faisal walaupun Faisal kayak begitu.”
Kani menepis tangan Rosi dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Dia keterlaluan, dia nggak mikir apa yang dia lakukan itu salah tapi buat minta maaf saja nggak ada niat sama sekali. Nanti, kalau benar-benar kejadian sama dia sendiri hamil terus keluarganya menjauhi dia, semua orang menghina dia, apa kuat? Aku saja hampir gila karena kejadian kemarin,” tandas Kani dan Rosi mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Kani berlalu dan Rosi lekas menyusul. Sesampainya di rumah Kani. Mata Bu Ismi memicing sinis pada Rosi, Rosi sampai takut dan ragu untuk masuk kemudian Kani mengatakan apa yang membawa Rosi kemari. Dia diizinkan pergi setelah salat dan makan dan keduanya sudah janjian pukul setengah dua siang di jalan dengan Yana.
Mereka bertiga berjalan kaki menuju ke Terminal, di sana bertemu dengan Rara dan Rere. Kani tak peduli apalagi saat melihat Reva dengan Arif. Kani dan Rosi yang masuk ke gerai Foto copy. Perlahan Kani melirik Toko Haji Salim yang jauh di sana. Dia tersenyum dan ingin menemui Maren sebentar.
“Beli Bakso dulu, ah.” Yana sedari tadi memang memperhatikan gerobak bakso di seberang sana.
“Jajanin, dong,” pinta Kani dan Rosi juga mau. Yana manyun tapi gengsi untuk menolak, banyak perempuan dari sekolah lain di sekitarnya, malulah dia jika ketahuan pelit.
Rosi tersenyum dan Kani memperhatikan seorang laki-laki di seberang, jauh di sana, sedang bersitegang dengan dua pria menyeramkan. Kani mengenalinya jelas. Dua pria itu bahkan menekan bahu pemuda tersebut bahkan mencengkeram bajunya kemudian pemuda itu pergi setelah memberikan uang.
“Kani mau ke mana?” Rosi menahan karena Kani akan menyeberang tak lihat kanan-kiri.
“Sebentar, aku ada urusan.” Kani pergi dan Rosi menggaruk kepala.
“Rosi! Dia mau ke mana?” teriak Yana dari seberang dan Rosi menggeleng.
Kani terus melangkah dan melihat Toko itu tutup, Kani melihat mobil yang biasa di dalam garasi terparkir kini sudah keluar dan Abahnya Amarendra masuk bersama satu pria. Sementara Amarendra yang melihat Kani lekas menutup pintu mobil dan Kani mendekat.
“Kenapa kamu di sini? Dengan siapa? Aku nggak bisa mengantar kamu pulang,” ucapnya sambil melirik ke mobil. Sadar Abahnya membuka kaca mobil agar dia lekas masuk.
“Aku nggak minta diantar, aku hanya ingin memastikan saja kamu baik atau nggak. Ini jelas bukan masalah salah paham karena kamu memberi mereka uang, kenapa nggak pernah menceritakan sedikit saja apa masalahmu, Maren. Aku temanmu, bukan?” ujar Kani mendesak dan Amarendra menggeleng. Dia terganggu dengan sikap mengotot gadis itu yang ingin tahu bagaimana rumit kehidupannya.
“Pulanglah, aku harus pergi.” Pemuda itu melangkah tapi Kani menarik lengannya. Jelas, Amarendra yang sedang pusing terpancing emosi, “Kani, aku sedang buru-buru.” Suaranya meninggi.
“Bilang dulu, ada masalah apa?” Kani terus menatap dan tak mau melepaskan tangannya. Amarendra terpaksa menepis karena Abahnya sudah memanggil. “Maren, tunggu.” Kani mengejar, tetap tak membiarkannya pergi.
“Pergi begitu saja tak mau bilang ke mana, untuk apa, bahkan tak pamit padaku?” Suara Kani masih lembut penuh tuntutan karena sikap lain Amarendra, pemuda itu mengembuskan napas berat.
“Aku jelaskan nanti, aku akan menghubungimu,” tegasnya dan Kani tetap mengeyel, merengek meminta semua jawaban atas pertanyaannya, tak melihat kondisi bahwa laki-laki itu tak memiliki banyak waktu untuk meladeninya. Sampai akhirnya Amarendra marah. “Biarkan aku pergi dan jangan terus bertanya. Tak semua yang ingin kamu ketahui harus aku ceritakan, ini privasi, kehidupanku!” bentaknya dan Kani terkesiap, refleks menjauhkan diri.
Sama-sama diam untuk beberapa saat, kemudian Kani ikut kesal dan memukul dada Amarendra.
“Kenapa kamu harus marah? Aku hanya bertanya.” Ia menatap galak dan Amarendra mengatupkan rahangnya kuat-kuat. “Privasi? Kamu dengan bebas bertanya tentang masalah hidupku tapi untuk mengetahui sedikit apa yang terjadi padamu, aku tak berhak? Kenapa harus begini? Apa gunanya kita berteman kalau salah satunya sibuk menyembunyikan kehidupannya. Kamu tak mau berbagi denganku atau, ya, kamu takut aku tak bisa dipercaya?” Suaranya berat dan Amarendra melemah. Dia salah, tak sepatutnya membentak karena Kani hanya bisa dihadapi dengan kelembutan.
“Kani, aku bisa jelaskan nanti? Biarkan aku pergi sekarang, oke?” Ia terus menatap wajah Kani yang begitu masam lebih ketus dari perjumpaan mereka di awal. Gadis itu bahkan tak mau menatapnya.
“Enggak usah! Aku nggak mau mendengar apa pun. Pergilah.” Kani mendelik jengkel dan Amarendra menatapnya. Kani mengalihkan pandangan pada Amarendra dan keduanya sama-sama diam.
Di luar dugaan Kani, dia kira Amarendra akan membujuknya agar tak marah tapi laki-laki itu malah berlalu pergi dan masuk ke dalam mobil. Kani menghela napas, tak percaya. Sungguh, Amarendra tak mau berbagi apa pun dengannya? Laki-laki itu bahkan tak pernah membahas keluarganya. Dia hanya khawatir dan ingin tahu, merasa hubungan mereka sudah sangat dekat dan sepatutnya saling terbuka tapi nyatanya?
Kani pasrah dan berlalu ke arah berlawanan. Dia merasakan rasa tak nyaman karena diabaikan oleh Amarendra, dia pergi tapi tubuhnya bereaksi lain, terus berbalik dan matanya tak bisa dia tahan untuk melihat mobil itu melaju, dan di dalam mobil laki-laki yang sudah membuatnya sesak itu sedang memperhatikan dari kaca spion sambil memijat keningnya.
Amarendra dengan cepat merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, dia menelepon Kani tapi tak bisa, dia mengirimkan pesan pun... nomornya di blokir langsung oleh gadis itu. Isi kepalanya sekarang hanya tentang khawatir pada Kani, hatinya tak tenang, dia menoleh ke belakang tapi percuma.
Bab: Diabaikan Dan Balas Mengabaikan
“Kamu dari mana saja, Kani?” Yana kesal bukan main. Takut juga terjadi sesuatu.
“Ada urusan,” jawab Kani dengan suara yang sedikit sumbang. Rautnya tak seperti tadi. Begitu muram, membuat Yana dan Rosi memandang saling bertanya.
Ketiganya berjalan pergi, sambil menikmati Bakso mereka yang mereka makan dengan cara diseruput, Rosi tertawa melihat Yana kepanasan dan Kani di antara mereka diam tak semangat.
Besoknya, Kani datang pagi-pagi ke sekolah, berdiam diri di kelas walaupun setelah ketiga yang mengaku temannya mendekat dan mengajaknya keluar, ia menolak. Kani merebahkan kepala di atas meja, pipi menempel di sana, kemudian membuka Hp. Melihat nomor Amarendra yang dia blokir...semua pesan darinya. Ia mendesis lalu menghapusnya.
“Ia tak mau aku tahu apa-apa, bukan? Jadi, tak perlu saling mengenal. Aku akan menganggapnya asing karena selama ini dia pun menganggapku begitu,” lirihnya berbisik dan meletakkan ponselnya kemudian menutup matanya.