Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 99. Sempat debat


Syera mengangguk lemah, "Mama gapapa, ya tapi mama cuma selalu kepikiran sama kamu dan kakak kamu disini. Mama rindu sekali sama kalian sayang," jawabnya.


"Oh ya, kakak kamu dimana? Kalian kok pulangnya gak bareng sih sayang?" tanya Syera.


"Umm, aku juga gak tahu ma. Aku sama bang Saka kan gak pergi bareng, mungkin aja dia masih di rumah ceweknya," jawab Alan.


Sontak Syera terkejut, "Ceweknya? Maksud kamu pacar? Saka sudah punya pacar?" ujarnya.


"Iya ma, baru beberapa Minggu sih. Dia macarin karyawan kantor aku, aneh kan?" ucap Alan.


"Hah serius? Kok bisa Saka pacaran sama karyawan kamu? Gimana ceritanya sih sayang?" tanya Syera terkejut seolah tak percaya.


"Panjang deh ma, intinya bang Saka emang udah tergila-gila sama tuh cewek dari lama," jawab Alan dengan malas.


"Ada-ada saja abang kamu itu," Syera menggeleng dan beralih merengkuh pinggang Alan dari samping berniat mengajaknya masuk ke dalam.


"Udah yuk kita ke ruang tamu aja! Mama pegel nih berdiri terus," ajak Syera.


Alan pun tersenyum dan menuruti permintaan mamanya, ia lalu melangkah bersamaan dengan sang mama menuju ke ruang tamu tempat dimana Alfian sudah berada. Tampak Alfian langsung tersenyum lebar melihat kedekatan istrinya dengan sang anak, ia juga berharap Saka nantinya mau menerima Syera sebagai ibunya seperti yang dilakukan Alan saat ini.


"Wah wah wah, ada yang udah ketemu nih? Gimana Alan, kamu senang gak sama kejutannya?" ujar Alfian sambil terkekeh.


"Jelas senang banget pa, papa kenapa gak bilang dari awal sih kalau mama udah pulang? Tahu gitu tadi aku kan pulangnya lebih cepat, biar supaya aku bisa ketemu mama," ucap Alan.


"Ya papa lupa, tapi papa udah minta Saka loh buat kasih tahu kamu. Emang kalian gak ketemu sebelumnya?" ucap Alfian.


Alan menggeleng, "Enggak pa, aku gak ketemu sama bang Saka sih. Ya mungkin karena itu kali ya dia gak kasih tahu aku?" ucapnya.


"Bisa jadi," singkat Alfian.


Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Saka pulang dan masuk ke dalam rumah dengan santainya. Ia melirik ke ruang tamu dan menemukan keberadaan mama serta papanya disana, tapi bukannya berniat menghampiri mereka justru Saka malah ingin naik ke kamarnya.


Alfian yang melihatnya sontak berteriak memanggil putranya itu, "Saka!" teriaknya lantang yang membuat Saka terhenti.


"Ada apa sih pa? Aku capek banget nih mau istirahat," ucap Saka ketus.


"Loh kamu gimana sih? Ini ada mama kamu loh baru pulang, sini dulu dong kita kumpul bareng!" ujar Alfian.


Saka yang memang tak menganggap Syera mamanya, merasa bahwa kata-kata papanya barusan itu tiada gunanya. Saka tetap pada pendiriannya kalau ia tidak akan pernah mau berkumpul dengan Syera, sebab di dalam hatinya hanya ada satu mama.


"Gak perlu pa, aku capek pengen tidur. Lagian kan udah ada si Alan tuh, biarin dia aja yang temenin mamanya disini," ucap Saka ketus.


Alfian menggeleng kesal, "Kamu jangan begitu dong Saka! Hargai dulu mama Syera, sini kamu minimal harus cium tangannya!" ucapnya.


"Buat apa? Aku gak ada kewajiban pa buat cium mamanya si Alan, lagian aku udah capek dan males debat," ujar Saka.


Setelah mengatakan itu, Saka pun pergi begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya. Ia berjalan dengan cepat hingga membuat Alfian semakin kesal, Alfian mencoba meneriaki putranya itu berharap Saka mau berubah pikiran, tetapi usahanya sia-sia dan tak mengubah apapun.


"Kenapa ya bang Saka selalu begitu sama mama? Ada apa sih ini?" gumam Alan dalam hati.




Keesokan paginya, Alan yang sudah bersiap untuk berangkat kerja pun menemui mama serta papanya berniat pamit pada mereka. Tampak Alfian serta Syera memang sedang duduk bersantai di sofa sambil saling melepas rindu, ya cukup lama memang mereka tidak bertemu karena jarak yang memisahkan.


Melihat kehadiran putranya, sontak Alfian langsung tersenyum melepas pelukannya sejenak. Begitu juga dengan Syera yang terlihat senang karena Alan putranya itu datang dengan pakaian rapih, sedangkan Alan sendiri berdiri tepat di hadapan mereka sambil mencium tangan keduanya.


"Pa, ma, selamat pagi! Aku berangkat kerja dulu ya? Soalnya ada meeting nih bentar lagi, buat bahas proyek besar yang lagi aku urus," ucap Alan pamit.


"Iya sayang, kamu hebat deh sekarang udah jadi bos dan bikin mama sama papa bangga! Gak nyesel dulu mama dan papa ajarin kamu sampai kamu sukses begini," ucap Syera.


"Iya ma, makasih ya udah ajarin aku dari kecil?" ucap Alan.


"Oh ya, kakak kamu mana sayang? Dia bukannya harus kerja juga ya pagi ini?" tanya Syera.


"Umm, aku gak tahu ma. Mungkin dia masih tidur, atau dia hari ini gak ada kerjaan. Coba aja nanti mama cek ke kamarnya," jawab Alan.


"Gausah, yaudah kamu hati-hati ya di jalan sayang! Jangan ngebut loh!" ucap Syera.


"Iya ma, aku pergi dulu ya?" Alan kembali mencium punggung tangan mamanya, lalu beralih menatap Alfian dan juga menciumnya. "Pa, aku berangkat." sambungnya.


"Ya Alan, hati-hati kamu!" ujar Alfian.


Alan pun berbalik dan hendak pergi, tetapi tiba-tiba Saka muncul berniat pamitan pada kedua orangtuanya. Sontak Alan mengurungkan niatnya untuk pergi dan menunggu sejenak kakaknya yang baru turun itu, ia ingin memastikan kalau Saka tidak akan menyakiti mamanya lagi.


"Nah, ini dia si Saka datang. Selamat pagi Saka, pasti kamu mau berangkat kerja juga ya?" ucap Syera sambil tersenyum.


Namun, Saka tak berbicara sepatah katapun pada Syera. Ia malah membuang muka dan beralih menatap papanya, ia mencium tangan serta pamit untuk berangkat kerja. Tentu saja Syera merasa sedih karena tak dianggap, yang membuat Alan juga tampak kesal.


"Pa, aku berangkat kerja dulu ya?" ucap Saka sembari mencium tangan papanya.


"I-i-iya Saka, tapi kenapa kamu tidak mencium tangan mama kamu juga? Ayolah, kamu gak boleh begitu Saka!" ucap Alfian.


"Eee pa, aku lagi buru-buru nih. Kapan-kapan aja ya aku cium mama?" ucap Saka beralasan.


Alfian yang terlanjur kesal, mencekal lengan putranya itu dan meminta dia untuk tetap disana sebelum dia mau mencium tangan Syera dan pamit padanya. Ya Alfian memang masih terus berusaha agar Saka bisa menerima Syera sebagai ibunya, meski sangat sulit.


"Papa apaan sih? Aku lagi buru-buru pa dikejar waktu, kenapa papa malah halangi aku kayak gini?" protes Saka.


"Cuma cium tangan aja kok, sebentar juga beres. Kamu jangan membantah ya Saka!" tegas Alfian.


"Mas, udah gapapa kalau Saka gak mau ya gausah dipaksa. Biarin aja Saka berangkat, kasihan nanti dia terlambat," ucap Syera.


"Tapi Syera—"


"Mas!" Syera memotong ucapan suaminya dan menenangkannya.


"Tuh kan pa, dengar sendiri kan yang dibilang mama Syera? Aku pergi dulu ya, assalamualaikum?" ucap Saka pamit.


"Waalaikumsallam," ucap Alfian pelan.




Kini di halaman rumah, Alan tampak mencegat kakaknya yang hendak memasuki mobil. Alan menaruh tangannya di pundak Saka sehingga Saka terpaksa berhenti sejenak untuk menatapnya, Saka pun terlihat penasaran dengan keberadaan sang adik yang membuat langkahnya terhenti itu.


Saka pun mengurungkan niatnya sejenak, ia menatap wajah Alan dengan serius dan bertanya apa yang diinginkan pria itu darinya. Meski sebenarnya Saka malas sekali harus berbicara lagi dengan adiknya itu, apalagi kemarin Alan sempat membawa Sahira pergi begitu saja.


"Tunggu bang, gue mau bicara sebentar sama lu," pinta Alan.


"Haish, lu mau apa ha? Gue gak punya banyak waktu, gue sibuk!" ketus Saka.


"Santai dong bang, lu gak perlu marah-marah kayak gitu sama gue! Gue ini cuma mau tanya sesuatu ke lu, kenapa sih lu bersikap dingin kayak tadi ke mama? Ada masalah apa lu sama mama?" ujar Alan terlihat penasaran.


"Lo gak akan percaya kalo gue ceritain semua ke lu nanti Alan, jadi lu diem aja dan biarin gue pergi!" ucap Saka emosi.


"Yah elah bang, lu kata gue anak kecil apa. Gue bisa ngerti semua yang lu ceritain, ayolah ceritain aja ke gue bang!" pinta Alan.


"Gak bisa, gue lagi ada urusan buru-buru. Udah ya gue cabut dulu?" ucap Saka pamit.


Alan tidak bisa lagi menahan abangnya itu, ya Saka sudah terlanjur membuka pintu dan masuk ke mobilnya dengan cepat. Setelahnya, Saka pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah karena ia tak mau Alan bertanya lagi mengenai sikap dinginnya pada Syera sejak dulu hingga sekarang.


"Haish, tuh orang kenapa sih ya? Ditanya baik-baik malah gak mau jawab, kalo bukan saudara pasti udah gue abisin tuh dia!" geram Alan.


Akhirnya Alan turut masuk ke mobilnya untuk bergegas menuju kantor, ia mengurungkan niatnya menjemput Sahira karena hari yang sudah siang dan ia yakin jika mungkin saja Sahira telah berangkat ke kantor lebih dulu. Ya meski Alan sangat menyesal karena gagal menemui Sahira.


Akan tetapi, baru saja Alan hendak menancap gas mobilnya, tiba-tiba tanpa diduga Nawal muncul di hadapannya dan menghalangi jalannya. Sontak Alan memaki karena kesal, ia terpaksa turun dari mobil untuk menemui Nawal yang muncul dan membuatnya sangat geram.


"Nawal, kamu ngapain sih berdiri di depan mobil aku kayak gitu? Kalau tadi aku gak nyadar dan nabrak kamu gimana? Pasti aku juga yang repot, terus aku yang disalahin," kesal Alan.


"Hehe, iya iya Alan. Aku minta maaf ya udah bikin kamu kaget dan kesal?" ucap Nawal tersenyum.


"Gapapa, terus sekarang kamu mau apa? Kenapa sih kamu masih aja datang kesini? Aku kan udah bilang, jangan pernah kesini lagi!" sentak Alan.


"Aku gak bisa Alan, aku terlalu cinta sama kamu. Boleh ya aku temenin kamu ke kantor pagi ini?" ucap Nawal memohon dengan manja.


Alan hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala, ia kembali ke mobil dan diikuti oleh Nawal di belakangnya.




Sementara itu, Saka tiba di desa tempat tinggal Sahira untuk menjemput kekasihnya itu. Namun, ia malah bertemu dengan Sahira di jalan yang sedang berjalan kaki. Karena merasa tidak tega melihat kekasihnya berjalan, lalu Saka pun berhenti dan turun dari mobilnya.


Melihat sebuah mobil berhenti di depannya, sontak Sahira ikut menghentikan langkahnya. Ya Sahira tahu bahwa itu adalah mobil Saka, kekasihnya. Dan betul saja dugaannya, Saka pun muncul dari dalam mobil tersebut dan berjalan ke arahnya dengan senyum merekah di wajahnya.


"Hai Sahira, morning!" sapa Saka dengan satu tangan melambai ke arah gadisnya.


"Hai juga mas! Kamu ngapain pagi-pagi ada disini? Bukannya kamu juga harus kerja ya? Oh atau kamu ada urusan lain?" heran Sahira.


Saka merasa gemas dan mencolek pipi gadisnya, "Iya, urusan saya ya jemput kamu manis. Yuk kamu berangkat ngantornya bareng saya aja!" ucapnya.


"Emang kamu gak ada urusan lain gitu? Aku takutnya ganggu kamu tau," ucap Sahira.


"Hey, gak ada yang lebih penting dari kamu sayang. Bagi saya, kamu itu yang terpenting dari segalanya!" ucap Saka seraya menangkup wajah gadisnya.


Sahira tersipu malu mendengar ucapan kekasihnya, wajahnya memerah semu akibat ulah Saka barusan. Saka pun semakin dibuat gemas melihat ekspresi Sahira saat ini, ia terus mencubit dan mengusap wajah gadis itu sehingga Sahira hanya senyum-senyum menahan malu.


"Yaudah, aku mau deh bareng sama kamu. Tapi, bener ya gak ada urusan lain?" ucap Sahira.


"Iya benar sayangku," ucap Saka sembari mencubit gemas hidung gadisnya.


Disaat mereka hendak masuk ke mobil bersama-sama, tiba-tiba Saka tak sengaja melihat seorang lelaki yang tengah jalan berlawanan arah dengan mereka. Saka menatap tajam ke arah pria tersebut, ia seolah mengenali siapa pria yang ada di depannya saat ini.


"Eh tunggu deh sayang," ucap Saka tiba-tiba.


"Hah? Kamu kenapa sih mas? Ngeliat apa kamu?" tanya Sahira keheranan.


"Itu loh, kamu lihat kan laki-laki yang jalan di depan sana?" ucap Saka menunjuk ke si pria.


"Ohh, iya aku lihat kok. Terus kenapa?" tanya Sahira lagi.


"Saya tahu siapa dia, saya masih hafal sama wajahnya," jawab Saka.


"Emangnya dia siapa mas?" tanya Sahira.


"Dia itu laki-laki yang saya lihat di bar bareng ibu kamu, masa kamu gak hafal sih? Saya aja yang cuma lihat sekali masih ingat kok," jawab Saka.


"Oh ya? Tapi itu kan om Bram, temannya ibu. Emang dia juga yang ada di bar bareng sama ibu ya?" kaget Sahira.


"Loh loh, kamu kok bisa tahu namanya sih sayang?" heran Saka.


Sahira manggut-manggut pelan, "Iya mas, jadi dia itu pernah ke rumah bareng sama ibu. Terus aku diminta kenalan deh sama dia," jelas Sahira.


"Terus terus gimana? Dia ngaku kalau dia ada hubungan sama ibu kamu?" tanya Saka.


"Ya mereka bilangnya cuma temen, tapi kayaknya ada yang disembunyiin deh dari aku. Apalagi barusan kamu bilang kalau dia laki-laki yang sama ibu di bar," ucap Sahira.


"Emang iya kok, kamu percaya deh sama saya. Coba aja yuk kita temuin dia!" ajak Saka.


Sahira terkejut, namun menurutnya ada benar juga yang diucapkan Saka karena dengan menghampiri lelaki tersebut maka mereka bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi diantara Bram dan juga Fatimeh. Jujur saja Sahira sangat penasaran dengan hal itu dan berusaha mencari tahu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...VOTE JUGA YAAA...