Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 104. Ngamuk sendiri


Dengan lembutnya, Saka mulai menghapus air mata di wajah kekasihnya itu sambil tersenyum menatapnya. Saka berharap sekali agar Sahira bisa lebih tenang dan tidak terus sedih seperti ini, meski ia tahu betapa sakitnya hati gadis itu karena sudah dikecewakan oleh ibunya sendiri.


"Kamu gak perlu cemas, ada aku disini yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu!" ucap Saka.


Sahira mendongak menatap wajah tampan Saka yang berada sangat dekat dengannya, hingga kemudian keduanya larut dalam sebuah pelukan hangat yang diawali oleh Saka. Sahira seolah tak ingin melepaskan pelukan itu, ia merasa sangat nyaman dan ingin terus bersamanya.


"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah lepasin kamu Sahira, kamu itu milik aku dan siapapun gak bisa rebut kamu dari aku!" ucap Saka posesif.


"Iya mas, aku juga sayang dan cinta sama kamu," balas Sahira dengan lembut.


Setelah dirasa Sahira berhasil ditenangkan, mereka pun akhirnya memutuskan pergi dari tempat tersebut karena sudah memasuki jam makan malam. Sahira menurut saja karena ia pun juga telah mulai merasakan lapar, keduanya sama-sama pergi menuju tempat makan yang ada di dekat sana.


Sesampainya di sebuah warung bakso, Saka langsung menarik kursi dan duduk disana bersama gadisnya. Tak lupa Saka memesan makanan serta minuman yang mereka inginkan, lalu pria itu menarik satu tangan Sahira dan digenggam dengan erat sambil memandanginya.


"Kamu yakin mau makan bakso? Gak kepengen makan makanan yang lain gitu?" tanya Saka.


Sahira menggeleng, "Enggak mas, aku udah lama gak makan bakso. Lagian panas-panas gini kan enaknya emang makan bakso," jawabnya.


"Okay, aku penasaran juga sama rasanya. Siapa tahu aku juga bisa suka," ucap Saka.


Disaat mereka tengah asyik berduaan, hal yang tak terduga justru terjadi hingga membuat keduanya sama-sama kompak menoleh ke arah seseorang yang tiba-tiba muncul mendekati mereka. Sontak Sahira terlihat panik, namun Saka tetap berusaha menenangkannya.


"Oh oh, jadi begini kerja kamu Sahira? Bukannya datang ke kantor yang sedang genting, kamu malah asyik-asyikan disini sama pacar kamu!" cibir si pria yang tak lain ialah Alan.


"Kamu itu gimana sih Sahira? Dimana pedoman kamu sebagai seorang karyawan? Disaat kantor sedang membutuhkan kamu, tapi kamu malah gak ada dan asyik-asyikan disini. Sekarang saya gak punya alasan untuk mempertahankan kamu lagi di perusahaan saya Sahira, saya kecewa sama kamu!" sambungnya.


Deg!


Sahira tersentak dan melongok lebar, "Pak, tolong dengarkan penjelasan saya dulu pak!" ucapnya.


"Halah saya gak butuh alasan apa-apa lagi dari kamu Sahira, semuanya sudah jelas sekarang! Saya kira kamu bisa dipercaya, tapi ternyata kamu tidak profesional Sahira!" geram Alan.


Sahira menggeleng dengan cepat, "Enggak pak, bukan begitu. Saya tadi ada urusan keluarga mendadak yang gak bisa saya lewatkan, lagipun saya kan sudah mengirim surat izin ke email perusahaan," ucapnya.


"Saya tidak menerima surat apapun dari kamu, jadi kamu tidak usah mengarang cerita! Mulai sekarang kamu saya pecat Sahira!" sentak Alan.


Saka yang tak terima pun beranjak dari kursinya dan mendekati sang adik, "Tenang dulu Alan, lu jangan kepancing emosi kayak gitu!" ucapnya.


Braakkk


Bukannya tenang, Alan justru semakin emosi dan malah menggebrak meja dengan keras. Saka sontak ikut terpancing dan langsung menarik kerah baju adiknya sambil bersiap memukulnya, namun Sahira dengan cekatan menghalanginya karena tak ingin terjadi keributan disana.


"Lo gausah ikut campur bang, ini urusan gue sama Sahira! Dia karyawan gue, dan lu udah melakukan kesalahan dengan bawa kabur dia tanpa seizin gue. Seharusnya lu minta maaf, bukan malah ikut emosi kayak gini!" sentak Alan.


"Apa lu bilang? Minta maaf? Cih, gue gak sudi minta maaf sama lu!" ujar Saka.


"Yaudah, kalo gitu lu jangan halangi gue buat pecah Sahira!" ucap Alan.


"Oke, gue gak akan halangi lu. Lu boleh pecat Sahira sesuka hati lu, justru itu sebuah keuntungan buat gue. Nantinya Sahira bisa kerja di kantor gue buat jadi karyawan gue," ucap Saka santai.


Alan tersentak kaget, matanya melongok lebar tak menyangka Saka punya pemikiran seperti itu. Lalu, Saka pun melepaskan cengkeramannya pada kerah baju sang adik dan beralih menatap Sahira sambil tersenyum. Sahira merasa lega karena Saka mau menurut dengannya dan tidak jadi memukul Alan seperti yang dia inginkan tadi.


"Sahira, kamu tenang aja ya! Kalaupun dia pecat kamu, masih ada aku yang bisa kasih kerjaan bagus ke kamu," ucap Saka menenangkan.


"Eee.." Sahira terlihat kebingungan saat ini, ia memang merasa lega karena Saka mau memberi pekerjaan untuknya, tetapi jujur saja ia juga tidak enak jika harus berpisah dengan perusahaan Alan.


"Yasudah, surat pemecatan kamu akan saya kirimkan besok beserta pesangonnya ke rumah kamu Sahira," ucap Alan tegas.


Alan sempat melirik sekilas ke wajah kakaknya, "Saya pergi, permisi dan maaf mengganggu momen kalian!" ucapnya pelan.


Setelah mengatakan itu, Alan berbalik dan hendak pergi dari warung bakso tersebut. Namun, Sahira tiba-tiba saja berteriak memanggilnya seolah menahan pria itu untuk tetap disana. Sontak Saka yang berada di dekatnya pun merasa heran sekaligus tak suka.


"Pak Alan tunggu!" teriak Sahira yang dibarengi dengan lirikan dingin dari wajah kekasihnya, ya tentu Saka kesal lantaran Sahira malah menahan Alan disaat pria itu hendak pergi.


"Mau apa lagi kamu Sahira? Sudah jelas kan kata-kata saya tadi?" tanya Alan.


"Eee iya udah sih pak, tapi jujur saya gak mau dipecat sama bapak. Saya masih pengen bekerja di perusahaan bapak," jawab Sahira.


Deg!


Perkataan Sahira barusan itu sontak membuat Saka terperanjat, Saka benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Sahira yang malah berkata seperti itu pada Alan. Padahal tinggal sedikit lagi Sahira bisa bekerja di kantor Saka dan mereka akan dapat sering berduaan.


Sedangkan Alan yang mendengar perkataan Sahira juga dibuat terkejut, awalnya ia mengira Sahira akan setuju dengan keputusannya memecat gadis itu tadi, tetapi ternyata Sahira malah menolak keras pemecatan itu dan memilih tetap bertahan walau Saka sudah menawarkan pekerjaan padanya.


"Sahira, kamu kenapa bicara begitu? Biarin aja dia pecat kamu sayang!" ucap Saka.


Sahira menggeleng pelan, "Gak bisa mas, aku harus punya komitmen. Dari awal kan aku udah janji sama pak Alan, kalau aku akan buktikan ke dia bahwa aku ini mampu," ucapnya. Lalu, gadis itu beralih menatap bosnya. "Dan sekarang aku mau buat pak Alan yakin kalau dia tidak salah pilih aku sebagai sekretarisnya," sambungnya.


Saka membuang muka seraya memijat dahinya, "Terserah kamu deh sayang, aku terima setiap keputusan kamu. Tapi, kamu harus jaga diri kamu ya sayang!" ucapnya posesif.


"Iya pak, terimakasih." Sahira tersenyum singkat ke arah kekasihnya itu.


"Hadeh, kalian ini bicara seolah-olah saya masih ingin mempekerjakan Sahira di kantor saya. Padahal saya sudah memecat dia, dan keputusan saya itu tidak bisa diganggu gugat lagi!" ucap Alan tiba-tiba.


"Tapi pak, saya—"


"Tidak ada tapi tapi lagi Sahira, kamu dipecat dan kamu bukan sekretaris saya lagi!" sela Alan.


Deg!


Perasaan Sahira hancur seketika, kesedihan yang ia alami pun semakin mendalam setelah mendengar ucapan Alan barusan. Saka yang berada di dekatnya kembali terpancing dan berniat maju mendekati adiknya itu, tetapi Sahira menahan dengan telapak tangannya serta meminta Saka untuk tetap di sampingnya.


"Itu saja yang saya ingin sampaikan, silahkan kalian nikmati saja malam yang indah ini berdua! Permisi, sampai jumpa!" ucap Alan pamit untuk yang kedua kalinya.


Kali ini pria itu berbalik dan benar-benar pergi dari sana, Sahira tidak lagi menahannya karena menurutnya itu percuma saja. Sahira pun kembali terduduk di tempatnya bersama Saka yang terus mencoba menguatkannya, jujur Saka tak tega jika melihat gadisnya yang kembali bersedih.




Pagi kembali tiba, Alan telah berada di kantornya dan seperti biasa ia langsung duduk bersantai di ruangan pribadinya. Namun, kali ini tatapan Alan terlihat berbeda. Ya pria itu nampak tengah merindukan seseorang yang tentunya adalah Sahira, meski baru satu hari dipecat tetapi Alan sudah sangat merindukan kehadiran gadis itu.


Alan pun membuka ponselnya, ia memandangi foto dirinya bersama sang gadis yang tersimpan di galeri miliknya. Alan tersenyum saat itu juga sembari mengusap wajah Sahira di dalam foto, ia juga membayangkan kenangan indah yang pernah mereka alami selama ini.


"Huh.. saya sejujurnya tidak mau memecat kamu Sahira, saya masih ingin kamu ada di kantor ini. Tapi, saya sakit hati lihat kamu terus bermesraan sama bang Saka sampai-sampai lupa dengan tugas kamu bekerja disini," gumam Alan.


TOK TOK TOK


Seseorang itu membuka pintu, "Permisi pak!" ucapnya yang ternyata adalah Keira, si resepsionis cantik di kantor itu yang ramah dan sopan.


"Ya Keira, ada apa?" tanya Alan sembari menaruh dua tangannya di meja.


"Eee saya cuma mau menyampaikan kalau surat pemecatan Sahira sudah dikirim beserta uang pesangonnya," jawab Keira.


"Baiklah, itu bagus. Kenapa kamu sampai harus datang kesini? Bukannya bisa ya tinggal telpon saya aja terus kasih tahu lewat telpon? Jadi, kamu tidak usah repot-repot kesini," ujar Alan.


"Eee saya takut gak sopan aja kalau menyampaikan ini lewat telpon, nanti bapak malah marahin saya," ucap Keira gugup.


"Yasudah, lupakan saja soal itu. Kamu sekarang bisa pergi dan kembali bekerja, jangan lupa juga panggilkan Ameera kesini karena saya ada perlu sama dia!" pinta Alan.


"Baik pak, siap! Kalo gitu saya izin permisi," ucap Keira pamit.


Alan menganggukkan kepala sembari sedikit membungkuk, lalu perlahan ia berbalik dan pergi dari ruangan pria itu sesuai arahan Alan. Sedangkan Alan sendiri tetap duduk di tempatnya sembari mengusap wajahnya, lagi-lagi bayangan wajah Sahira kembali terlintas di pikirannya.


"Aaarrgghh, kenapa saya sulit sekali buat lupain kamu Sahira? Rasanya wajah kamu selalu muncul di kepala saya," geram Alan.


Karena bingung bercampur kesal, Alan pun mencoba melampiaskan emosinya dengan cara mengacak-acak seluruh barang yang ada di mejanya dan membuangnya ke lantai. Alan benar-benar emosi, isi ruangannya sudah berantakan akibat ulahnya sendiri.


Hingga kemudian, seseorang bernama Ameera yang merupakan salah seorang staf di kantornya datang mengetuk pintu. Alan langsung menyuruh wanita itu untuk masuk sambil memegangi keningnya, ia merasa sangat pusing setelah semua yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.


Ceklek


Begitu pintu dibuka, Ameera benar-benar terkejut melihat kondisi ruangan bosnya yang begitu berantakan. Ameera berjalan menghampiri bosnya yang sedang berdiri memegangi kepalanya itu, ia merasa khawatir dan mencemaskan kondisi Alan karena terlihat begitu kacau.


"Duh bos, kenapa ini kok bisa berantakan begini? Perasaan gak ada gempa bumi atau angin topan deh," heran Ameera.


"Ya emang gak ada, semuanya saya yang lakukan. Saya sedang banyak masalah sekarang, itu makanya saya berantakan semua barang-barang ini. Maaf ya kalau kamu kurang nyaman," ucap Alan.


"Ah gapapa pak, saya mah udah terbiasa. Oh ya, ada apa bapak panggil saya?" ujar Ameera.


"Eee saya cuma mau minta kamu untuk menggantikan posisi Sahira sementara sebagai sekretaris saya, selagi sekretaris baru sedang dalam pencarian," pinta Alan.


"Oh gitu, baik pak saya bersedia jadi sekretaris bapak untuk sementara waktu. Kalau gitu tugas pertama saya apa pak?" ucap Ameera.


"Tolong kamu buatkan saya kopi! Kepala saya pusing banget rasanya," ucap Alan.


Ameera mengernyit heran, "Kopi? Emang bapak gak puasa? Maaf ya pak, tapi setahu saya kan bapak itu Islam," ujarnya kaget.


"Oh iya, ya ampun saya sampai lupa kalau ini bulan puasa. Untung aja kamu ingetin Ameera, kalau enggak tadi saya udah minum tuh," ucap Alan.


"Hehe, iya gapapa pak. Terus kopinya jadi apa enggak nih pak?" ucap Ameera.


"Pake nanya lagi, ya enggak lah. Tugas kamu sekarang cukup susun jadwal saya untuk hari ini! Mengerti kan?" ucap Alan.


Ameera pun mengangguk, "Baik pak, saya mengerti!" ucapnya patuh.


"Yasudah, kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Bilang juga ke yang lain kalau saya sedang tidak ingin diganggu!" ucap Alan.


"Siap pak!" ucap Ameera tegas.


Setelahnya, Ameera melangkah keluar dari ruangan itu dan kembali ke tempatnya. Sedangkan Alan berniat duduk karena kepalanya yang mulai terasa pusing, lagi-lagi bayangan wajah Sahira terus meracuni pikirannya yang membuat Alan sulit sekali untuk bisa menenangkan diri.


"Akh! Kenapa susah sekali untuk saya melupakan Sahira? Ayolah Alan, kamu harus bisa hilangkan Sahira dari pikiran kamu!" geram Alan.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar kembali di telinganya, Alan yang kesal langsung berteriak keras kalau ia sedang tidak ingin diganggu. Namun, tanpa diduga pintu justru terbuka begitu saja dan menampakkan sosok Syera sang ibu yang ternyata datang kesana.


Sontak saja Alan merasa bersalah karena sudah membentak ibunya tadi, ia reflek bangkit dari duduknya dan menghampiri Syera yang tengah berdiri di dekat pintu. Alan langsung saja meraih tangan ibunya dan menciumnya lembut, ia meminta maaf atas perlakuannya barusan.


"Duh ma, aku minta maaf ya ma! Aku beneran gak tahu kalau yang datang itu mama, aku kira tadi karyawan aku atau orang lain gitu. Maafin aku ya ma?" ucap Alan penuh penyesalan.


Syera tersenyum tipis, "Gapapa sayang, mama wajar kok. Kamu begitu pasti karena kamu terlalu lelah bekerja kan?" ucapnya pelan.


"Ah ya gitu deh ma, aku lagi pusing banget ini. Makanya ruangan aku berantakan kayak gini, maaf ya ma? Aku gak tahu kalau mama mau datang kesini," ucap Alan pelan.


"Gak masalah, biar mama bantu beresin barang-barang kamu ini ya?" ucap Syera.


Alan terbelalak lebar, "Hah? Gausah ma, biar aku sendiri aja nanti yang beresin. Mama itu kan tamu, silahkan duduk ma!" ucapnya.


"Iya iya.." Syera menurut dan terduduk di sofa ruangan itu sambil tersenyum.


Alan pun ikut menyusul mamanya duduk disana, mereka kini berdampingan dan tampak saling menatap satu sama lain. Terlihat Syera cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya, ia yakin betul kalau Alan saat ini sedang mengalami masalah yang cukup berat.


"Kamu itu sebenarnya lagi ada masalah apa sayang? Cerita dong sama mama!" ucap Syera.


"Iya ma, aku habis pecat sekretaris aku kemarin. Sejujurnya aku gak tega, karena kinerja dia juga bagus banget di perusahaan ini," ucap Alan sambil menunduk lesu.


"Loh terus kenapa kamu pecat dia kalau kinerjanya bagus?" tanya Syera keheranan.


"Dia kemarin gak datang ke kantor, padahal lagi banyak masalah disini. Setelah aku cari tahu, ternyata dia malah asyik pacaran sama pacarnya. Gimana aku gak kesel coba ma?" jawab Alan.


"Ohh, mungkin kamu cuma salah paham. Bisa aja dia ada urusan lain yang kamu gak tahu, ya kan?" ucap Syera menenangkan.


"Enggak ma, aku gak salah paham kok. Aku pergokin sendiri dia lagi pacaran di warung bakso, kalau emang ada urusan penting harusnya dia izin dulu dong ke aku," ucap Alan tampak emosi.


Syera pun menaruh tangannya di pundak Alan, "Kamu sabar aja Alan! Udah ya jangan emosi terus, lagi bulan puasa loh!" ucapnya.


Alan manggut-manggut pelan, lalu Syera membawa putranya ke dalam pelukan sembari mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkan pria itu. Alan cukup terkejut, tapi ia merasa senang karena mamanya mau memeluknya setelah sekian lama.


"Aku sayang banget sama mama! Tapi, aku heran deh ma. Kenapa ya bang Saka selalu ketus sama mama?" ucap Alan di dalam pelukan.


Deg!


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...