Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 78. Dilabrak


"Gausah, saya aja yang belikan buat kamu. Kamu tunggu aja disini, nanti saya balik lagi bawain sarapan itu ya?" ucap Ari.


"Duh, jangan mas! Saya nanti jadi gak enak tau," ucap Wati menolak.


"Gapapa, kalau sama saya mah gausah gak enak begitu Mira," ucap Ari.


Akhirnya Wati mengangguk setuju, Ari pun berbalik kembali ke mobilnya dan melaju untuk mencari sarapan di sekitar sana. Sedangkan Wati terus membereskan dagangannya, semua tampak baik sampai tiba-tiba seorang gadis datang dan menggebrak meja di depannya dengan keras.


Braakkk


"Heh cewek kegatelan!" umpatan gadis itu terdengar amat menyakitkan bagi Wati, ya Wati tak mengenal siapa dia tetapi gadis itu malah mengatakan ia wanita gatal.


"Ma-maaf mbak, mbak ini siapa ya? Kenapa mbak tiba-tiba datang dan marah-marah ke saya kayak gini?" tanya Wati terheran-heran.


"Gausah banyak omong ya kamu! Maksud kamu apa tadi dekat-dekat sama pacar saya kayak gitu? Kamu selingkuhannya ya? Atau kamu memang cuma wanita penggoda?" ujar gadis itu.


"Hah? Pa-pacar mbak yang mana ya?" Wati kembali bertanya dengan wajah bingung.


"Halah pake pura-pura gak tahu lagi kamu! Yang tadi itu tuh pacar saya, kita udah berhubungan lama dan sekarang kamu berani godain dia!" sentak gadis itu.


Deg!


Jantung Wati berdetak kencang mendengar penuturan gadis itu, ia tak menyangka jika Ari sudah memiliki seorang kekasih. Seketika harapan Wati pupus untuk bisa mendapat cinta pria itu, tapi ia tepis semua pikiran aneh itu karena saat ini ia harus menghadapi Keira, sang pacar dari Ari.


"Mbak, kamu salah paham. Ceritanya gak seperti itu, saya gak godain pacar mbak kok. Kami juga gak selingkuh," ucap Wati.


"Halah omong kosong! Kamu pikir saya bakal percaya sama kata-kata kamu? Sama sekali enggak, justru saya makin benci sama kamu!" ucap Keira dengan lantang.


Wati pun menunduk bingung, ia tak mengerti harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Keira. Sedangkan Keira sendiri tampak terus terbakar emosi pada Wati, gadis itu tak berhenti menuduh Wati adalah wanita penggoda kekasihnya. Padahal Wati sama sekali tak pernah menggoda Ari, ya meski ia memiliki rasa terpendam pada lelaki itu.


"Kenapa diam kamu? Gak bisa bicara lagi kan sama saya? Makanya lain kali pikir-pikir dulu kalo mau godain cowok orang, saya bisa ya acak-acak lapak kamu ini kalau saya mau!" ujar Keira.


"Jangan mbak! Saya mohon jangan berantakin lapak saya mbak! Ini satu-satunya mata pencaharian saya mbak," mohon Wati.


"Kamu pikir saya perduli dan kasihan sama kamu? Kamu salah ya, karena saya justru makin jijik lihat kamu mohon-mohon kayak gitu di depan saya! Dasar wanita penggoda cowok orang!" ucap Keira.


"Saya minta maaf mbak, tapi saya beneran gak pernah godain mas Ari pacar mbak," ucap Wati.


"Bohong! Kalau kamu gak godain dia, terus ngapain dia tadi senyum-senyum sama kamu? Kalian berdua juga kelihatan akrab," ujar Keira.


"Eee mas Ari emang udah sering bantu saya mbak, termasuk dia juga yang suruh saya jualan disini dengan biaya sewa rendah. Tapi, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa kok mbak," ucap Wati.


"Ah aku gak percaya sama kata-kata kamu ya perempuan murahan!" sentak Keira.


Wati tersentak dan mengeluarkan air mata saat Keira mengatakan itu, entah kenapa ia sedih sekali dan tidak terima dengan perkataan Keira. Tampaknya Keira juga semakin emosi dan hendak menampar wajah gadis itu, namun Ari lebih dulu datang lalu berteriak keras.


"KEIRA!!" teriak Ari dengan lantang.




"Loh kok ada pak Alan juga? Datang sejak kapan pak?" tanya Sahira keheranan.


"Iya Sahira, saya baru datang kok. Saya gak nyangka ada Saka disini," jawab Alan.


"Oh tadi emang pak Saka datang katanya mau jemput saya, pak. Kalau bapak sendiri ada apa ya kesini?" ucap Sahira.


"Ya sama, saya juga mau jemput kamu. Hari ini kita ada meeting kan jam delapan?" ucap Alan.


Sahira mengangguk, "Iya benar pak, tapi kan kita bisa berangkat bareng nanti dari kantor. Bapak gausah repot-repot ke rumah saya kayak gini," ucapnya.


"Loh kenapa? Salah ya kalau saya ke rumah kamu? Kamu maunya bang Saka aja yang jemput kamu gitu, iya?" tanya Alan.


"Eee bu-bukan gitu pak!" Sahira mengelak.


"Udah lah Sahira, kamu akui aja yang sebenarnya ke dia!" sela Saka.


"Maksud bapak gimana ya?" tanya Sahira heran.


"Ya kamu bilang ke dia kalau kita ini udah jadian, supaya dia tahu apa alasan saya kesini. Jadi, dia gak mengharap ke kamu lagi sayang," jawab Saka sambil merangkul Sahira di hadapan Alan.


Seketika Alan melotot tak percaya, hatinya terasa sesak melihat pemandangan itu.


"I-i-iya pak, tapi gak kayak gini juga kali. Gak enak lah ada pak Alan di depan kita, saya malu tau dilihat pak Alan," ucap Sahira berusaha menyingkir.


Akan tetapi, Saka seolah tak mau melepaskan Sahira dari pelukannya. Pria itu malah semakin mengeratkan pelukan dan membuat Sahira merasa gugup, sedangkan Alan hanya bisa terdiam mengamati sepasang kekasih yang tengah dimadu asmara itu.


"Kamu gak perlu malu sayang, namanya hubungan itu harus ditunjukkan ke orang-orang. Biar aja Alan tahu kalau kita sudah resmi pacaran, jadi dia bisa jaga jarak dari kamu sayang," ucap Saka.


"Lo gak perlu takut gitu bang, gue juga tau batasan kali. Sahira kan cuma sekretaris gue, lu santai aja!" ucap Alan menyela.


"Ya baguslah, awas ya kalau gue lihat lu deketin Sahira lagi kayak biasanya! Pokoknya mulai saat ini lu harus jaga jarak dari dia, lu cuma boleh bahas kerjaan sama Sahira!" ucap Saka.


Alan tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Terserah apa kata lu aja bang, gue kan udah bilang gue anggap Sahira cuma sebagai sekretaris. Gausah lebay deh lu!" ucapnya.


"Yaudah, sekarang lu pergi sana! Sahira berangkat bareng gue, karena dia sekarang pacar gue," ucap Saka.


"Gak perlu diulang-ulang terus kali kata-katanya, gue udah dengar dan ingat kalau Sahira ini pacar lu. Jangan terlalu bangga bang, dia itu kan cuma seorang sekretaris yang gak ada apa-apanya!" ucap Alan mengejek.


Sahira reflek menunduk dengan wajah sedihnya, Saka yang melihat itu tampak emosi dan sudah mengepalkan tangan seperti hendak memukul adiknya itu. Sedangkan Alan langsung berbalik dan pergi dari sana tanpa pamit, pria itu sudah terbakar cemburu dan tidak kuat lagi berada disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...