Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 70. Ada apa?


"Apa? Mbak kira saya takut sama mbak? Dengar ya, saya sudah bilang tadi kalau saya ini bukan pelakor dan saya gak ada hubungan apa-apa sama pak Alan! Kami cuma sebatas bos dan karyawan, kalau kami dekat ya wajar dong," ucap Sahira.


"Lancang kamu ya!" Nawal emosi dan berniat menampar wajah Sahira, tapi dengan reflek Sahira menahan tangan gadis itu.


"Mbak mau apa? Tampar saya? Jangan main kekerasan dong mbak, nanti dibalas nangis!" sentak Sahira yang langsung menghentak tangan Nawal dengan kasar.


"Awhh, ish awas ya kamu! Kamu benar-benar bikin saya emosi! Lihat aja, saya akan bikin hidup kamu menderita!" geram Nawal.


"Saya gak takut sama ancaman mbak, karena saya gak salah. Mbak itu cuma salah paham gara-gara dibutakan oleh cinta, mending mbak mikir dulu deh sebelum bertindak!" ucap Sahira.


"Hahaha, pelakor mana ada yang mau ngaku Sahira? Kamu sudah ketangkap basah lagi berduaan sambil pegangan tangan disini sama Alan, tapi masih aja ngelak," ucap Nawal.


"Terserah mbak deh mau ngomong apa, saya capek bahas soal ini terus!" kesal Sahira.


Sahira mengambil tas serta barang-barangnya disana, lalu bergegas pergi dari ruangan itu meninggalkan Nawal. Ia tak perduli dengan teriakan gadis itu yang mencoba menahannya, tetapi dengan sengaja kaki Nawal mengait telapak kaki Sahira sehingga Sahira pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai dengan posisi miring.


Bruuukkk


"Awhh, akh!" rintih Sahira sembari memegangi kakinya yang mungkin terkilir akibat ulah Nawal.


"Ups jatuh deh, sakit ya pasti? Makanya jangan main-main sama saya!" ujar Nawal.


Sahira mendengus kesal, dengan langkah cepat Nawal bergerak mendekati Sahira lalu mencengkram rahang gadis itu dan menatapnya tajam.


"Kalau kamu masih mau hidup tenang, ikuti kata-kata saya dan jauhi Alan!" ucap Nawal.


Setelah mengatakan itu, Nawal langsung melepas cengkeramannya dan pergi begitu saja tanpa perduli dengan kondisi Sahira yang masih terduduk di lantai. Sahira pun hanya bisa merutuki kelakuan Nawal di dalam hati, rasanya ingin sekali ia menjambak dan mengacak-acak rambut gadis itu jika saja ini bukan di kantor.


"Akh sialan emang pacarnya pak Alan itu! Cocok sih emang mereka, soalnya sama-sama galak dan kasar. Untung aja kaki gue gak terlalu luka," gumam Sahira mencoba bangkit.


Disaat ia hendak berdiri kembali, tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menjalar di pergelangan kakinya yang membuat ia tidak kuat untuk berdiri. Akibatnya, Sahira kembali terjatuh dan reflek berteriak sekeras mungkin sembari memegangi kakinya yang sakit itu.


Keira yang kebetulan baru selesai menyerahkan laporan pada HRD, tak sengaja melihat Sahira tergeletak di lantai seperti itu dengan meringis menahan sakit. Tentu saja Keira langsung mendekat dan coba menolong Sahira karena ia merasa tak tega pada gadis itu.


"Ya ampun, Sahira kamu kenapa? Kok bisa sampe jatuh kayak gini sih? Apa yang terjadi?" tanya Keira cemas.


"Eh Keira, duh kebetulan banget kamu ada disini. Tolongin aku dong Keira!" pinta Sahira.


"Iya iya Sahira, ini aku juga mau tolong kamu kok. Yuk kita berdiri!" ucap Keira.


Sahira manggut-manggut, Keira pun menyodorkan tangannya ke arah Sahira dan coba membantu gadis itu berdiri. Setelah bersusah payah, akhirnya Sahira berhasil bangkit walau kondisi kakinya masih terasa sangat sakit. Keira juga memapah Sahira menuju kursi di dekat sana lalu membantu Sahira duduk dengan hati-hati.


"Awhh, makasih banyak ya Keira! Kalau gak ada kamu, gak tahu deh bakal gimana," ucap Sahira.


"Sama-sama Sahira, tapi omong-omong kenapa kamu bisa kayak gini?" tanya Keira.


"Eee..."




Setelah kejar mengejar selama beberapa menit, akhirnya Alan menyerah dan memilih berhenti saat ia hendak masuk ke mobil. Alan berbalik menatap wajah papanya yang saat ini juga ada di depannya, ia mengambil nafas panjang sebelum mulai berbicara pada sang ayah disana.


"Ada apa lagi sih pa? Papa tadi usir aku kan dari kantor ini? Giliran aku pergi, kenapa papa malah kejar aku?" heran Alan.


"Kita belum selesa bicara Alan, tapi kamu sudah main pergi gitu aja! Anak macam apa sih kamu? Perasaan papa gak pernah ajarin kamu buat selingkuh seperti ini," geram Alfian.


"Selingkuh apa sih pa? Aku sama Nawal udah gak ada hubungan lagi, dia duluan yang putusin aku waktu itu karena dia udah dijodohin sama laki-laki lain. Lagian aku sama Sahira juga cuma sebatas bos dan karyawan, gak lebih!" tegas Alan.


"Kamu pikir papa bakal percaya gitu aja sama kata-kata kamu? Gak mungkin lah Nawal dijodohin, dia kan pacar kamu. Sekarang lebih baik kamu ke dalam dan minta maaf sama dia!" ucap Alfian.


"Aku gak mau pa, ini bukan salah aku. Papa mending diam deh gausah ikut campur!" ujar Alan.


"Kurang ajar! Kamu benar-benar memancing emosi papa, Alan!" ucap Alfian penuh emosi.


Tangan Alfian sudah terangkat ke atas bersiap memukul putranya, bahkan Alan juga telah pasrah dan menutup matanya bersiap menerima pukulan sang papa. Akan tetapi, suara teriakan Nawal menghentikan niat Alfian dan malah beralih menatap gadis itu.


"Cukup om! Jangan sakiti Alan!" teriak Nawal dengan lantang.


"Nawal, kamu kenapa halangi om buat hajar pria kurang ajar ini? Dia harus diberi pelajaran, dia sudah berani melawan papanya!" sentak Alfian.


"Enggak om, aku mohon om jangan lakukan itu! Aku gak mau Alan terluka, biar gimanapun aku masih sayang sama dia," bujuk Nawal.


"Ya Nawal, om gak akan pukul Alan demi kamu," ucap Alfian mengalah.


"Makasih om," Nawal tersenyum senang mendengar perkataan Alfian barusan.


Alfian pun kembali menatap putranya yang masih berdiri di dekat mobil, "Tuh kamu dengar kan yang dibilang Nawal? Dia masih perduli sama kamu, walaupun kamu sudah selingkuh dari dia. Harusnya kamu malu Alan!" ucapnya.


"Aku gak percaya pa, dia itu pandai berkamuflase. Papa jangan gampang percaya sama kata-kata yang keluar dari mulut dia karena semuanya itu dusta!" ucap Alan.


Alfian menggeleng heran dengan sikap putranya, ia masih mencoba menahan emosinya karena tidak ingin membuat Nawal sedih. Alan pun berniat masuk ke mobil dan pergi, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya yang membuat Alan tidak jadi pergi dari sana.


Saka muncul dari dalam mobil tersebut, ia turun lalu melangkah mendekati Alan serta Alfian disana dengan senyum di wajahnya. Saka juga terlihat bingung ketika melihat ketegangan di wajah tiga orang itu, ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.


"Ini ada apa pa, Alan? Kok pada tegang banget kayak gini sih?" tanya Saka penasaran.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...