Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 137. Tinggal bareng?


"Umm.." Carol benar-benar dibuat gugup, tapi sesaat kemudian Alan langsung menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Bahkan, Alan juga menutup dan mengunci pintu kamar itu dari dalam. Barulah ia mengajak Carol duduk disana berdua dengannya, yang membuat Carol hanya pasrah menurut tanpa melakukan pemberontakan apapun itu, karena menurutnya itu sia-sia saja sebab tenaganya kalah kuat.


"Lan, kamu kok nekat banget sih? Aku beneran loh gak bisa temenin kamu, ini sudah malam dan aku harus tidur. Kamu mending pulang deh, gak enak dilihat orang lain nanti!" ucap Carol panik.


Alan mendekat dan mendekap tubuh Carol sembari menarik dagunya, "Kamu kayaknya gak senang banget saya datang kesini, ada apa sih hm?" ucapnya dingin.


"Ih gak gitu Lan, aku suka kamu disini. Ya tapi jangan malam-malam begini, minimal besok pagi atau siang lah gitu!" ucap Carol mengelak.


"Saya butuh kamu sekarang, bukan besok. Kamu cukup dengarkan cerita saya aja disini, udah gitu aja! Masa kamu gak mau sih, Carol?" ucap Alan membujuknya.


"Ya tapi aku—"


"Udah gausah mikirin tetangga kost kamu atau yang punya kost, saya tadi sudah bicara sama mereka dan mereka gak keberatan kok kalau saya menginap disini," sela Alan mempererat dekapannya.


"Apa? Menginap??" tentu saja Carol terkejut, matanya membulat lebar dan berusaha melepaskan diri dari dekapan lelaki itu.


Namun, tenaga Alan yang kuat membuat Carol tidak bisa semudah itu lepas darinya. Alan justru tersenyum dan membawa tubuh Carol ke atas pangkuannya, tak lupa pria itu juga bersandar pada dinding dekat kasur itu sambil terus mendekap tubuh Carol yang tampak tidak bisa diam.


"Ish, Alan lepasin aku please! Aku gak bisa kayak gini nih, ini gak bener tau! Minimal kamu biarin aku lah buat ganti celana, aku beneran deh gak enak sama kamu!" ucap Carol.


"Gausah, saya suka kok kamu kayak gini. Kamu kelihatan lebih seksi tau," goda Alan.


Deg!


Jantung Carol langsung berdetak kencang mendengar ucapan sensual Alan di telinganya, terlebih tangan-tangan pria itu sudah bergerak mengusap tubuhnya dari atas sampai bawah disertai hembusan nafasnya yang terasa jelas pada kulit lehernya.


"Saya itu lagi ada masalah sama keluarga saya, itu makanya saya kesini dan temuin kamu. Kamu mau kan jadi tempat curhat saya?" ucap Alan.


"I-i-iya Lan, aku mau kok. Kamu gak perlu sungkan buat cerita sama aku, pasti aku bakal dengerin semua keluhan kamu kok!" ucap Carol.


"Bagus deh, beruntung banget saya punya sekretaris serba bisa seperti kamu!" puji Alan.


"Eee emangnya kamu ada masalah apa sih sama keluarga kamu? Terus apa mereka itu udah pada tahu kalau kamu kesini?" tanya Carol.


"Jelas enggak lah, saya sengaja kabur tanpa kasih tahu mereka. Soalnya saya mau tenangin diri, dan yang saya tahu ya saya cuma bisa tenang saat lagi sama kamu, Carol!" jawab Alan santai.


"Duh, kamu bisa aja deh Lan! Omong-omong bisa gak sih kamu jangan peluk aku terus begini? Jujur aku risih, Lan!" ucap Carol masih berontak.


"Udah diam aja! Mending begini atau mau saya tindih nih di kasur?" geram Alan seolah mengancam gadis di dekapannya itu.


"Hah??" tentu saja Carol terkejut dibuatnya.


Saat itu juga Alan tersenyum melihat reaksi menggemaskan dari gadis itu, dengan sengaja ia meletakkan tubuh Carol di atas kasur dan menatapnya dari jarak dekat serta mengambil posisi seperti bersiap menindihnya. Tentu saja Carol terkejut, ia tak terima dan berusaha bangkit sembari menghalau Alan yang ingin menindihnya disana.


"Ih Alan cukup ya! Aku akui aku emang bukan perempuan baik, tapi sumpah aku gak pernah ngelakuin yang kayak gitu selama ini! Aku itu masih suci, kamu jangan rusak aku dong!" tegas Carol.


"Heh, kamu kalo bicara suka sembarangan aja! Emang siapa yang mau rusak kamu? Saya tuh cuma pengen ajak ngobrol kamu, jangan berpikiran negatif dong Carol! Lagian saya juga lelaki baik-baik tau," ucap Alan membela diri.


"Ya terus tadi ngapain kamu mau tindih aku? Itu apa namanya kalo bukan merusak?" tanya Carol.


"Tindih kan bukan berarti saya bakal rusak kamu, itu biar lebih enak aja ngobrolnya. Ya tapi kalau kamu gak mau, saya juga gak akan maksa kok Carol," jawab Alan santai.


Carol memutar bola matanya malas, "Iyain, terserah kamu aja deh. Kalo gitu buruan kamu cerita sekarang!" ucapnya agak ketus.


Alan kembali mendekati Carol dan perlahan menidurkannya di atas ranjang milik gadis itu, tak lupa Alan juga berbaring tepat di samping Carol sembari terus memegangi wajahnya. Carol sungguh berdegup kencang, ia tak pernah membayangkan akan bisa tidur berdua dengan lelaki seperti Alan saat ini.


"Lan, ka-kamu.." ucapan Carol terjeda saat Alan tiba-tiba menempelkan jarinya di bibir gadis itu dan memberikan tatapan dingin ke arahnya.


"Jangan bicara dulu! Ini saatnya saya buat cerita, kamu diam dan dengarkan ya!" pinta Alan.


Carol mengangguk saja mengikuti kemauan pria itu, meskipun rasa gugup di hatinya terus membara karena kedekatan yang diberikan Alan padanya. Beberapa saat kemudian, Alan mulai menghembuskan nafasnya dan beralih menatap langit-langit kamar tersebut dengan menaruh satu tangan di atas perutnya.


"Huft, jadi saya baru tahu kalau ternyata mama yang selama ini merawat saya dan menyayangi saya sepenuh hati, itu bukan mama kandung saya. Jujur saya sakit banget dengarnya, saya benar-benar gak nyangka!" ucap Alan lirih.


Carol mengernyit kaget mendengar cerita pria itu, "Apa? Kok bisa sih kamu baru tahu sekarang? Emang mama kamu itu gak bilang, atau minimal papa kamu lah?" tanyanya heran.


"Iya Carol, makanya saya kesal banget karena saya sudah dibohongi selama ini," jawab Alan.


"Eee kamu sabar ya Alan! Aku tahu perasaan kamu kayak gimana, tapi kamu gak boleh benci ya sama mama kamu itu! Dia kan tetap loh yang udah rawat kamu selama ini," ucap Carol.


"Saya gak benci sama mama, saya kecewa aja karena mama sudah bohongi saya selama ini. Itu yang saya kesalkan," ucap Alan.


Carol benar-benar kebingungan harus bagaimana untuk menenangkan Alan, karena ia sendiri sangat jarang memberikan solusi pada setiap orang yang curhat padanya. Namun, tanpa diduga Alan bergerak dan berganti posisi menjadi tengkurap di dekat gadis itu. Saat Carol menoleh, pria itu langsung mengecup bibirnya dan menahan tengkuknya cukup lama untuk menyatukan kedua bibir mereka.


Cup!


Gadis itu pun terbelalak lebar dibuatnya, ini kali pertama bibirnya disentuh oleh bibir pria seperti itu dan dalam waktu yang cukup lama. Baru saja Carol hendak berontak, namun tangannya juga sudah lebih dulu dicengkeram oleh Alan yang tampak menikmati momen tersebut.




"Floryn tunggu!" Saka berteriak dari dalam mobil berupaya menahan pergerakan Floryn yang melangkah begitu cepat sambil menangis terisak.


Sontak gadis itu terkejut, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping menatap Saka yang berada di dalam mobil. Tampak Saka menghentikan mobilnya di pinggir dan turun dari sana, pria itu lalu menghampiri Floryn dengan senyum merekah di wajahnya.


"Eh tunggu!" Floryn menghentak tangannya lepas dari genggaman pria itu dan membuat Saka menoleh keheranan.


"Ada apa? Kamu gak mau bicara sama saya? Sebentar aja kok, ini penting dan kamu harus bantu saya!" ucap Saka agak memaksa.


Floryn menggeleng pelan, "Bukan begitu, taksi yang aku pesan tuh sebentar lagi sampai. Kalau aku ikut kamu, nanti gimana sama taksi aku?" ujarnya.


"Lupain aja taksinya, cancel kan bisa! Saya butuh kamu sebentar, please!" bujuk Saka.


"Mana bisa sih? Gak enak lah aku kalau harus cancel abangnya, dia kan udah dekat. Mending lain kali aja ya kita ngobrolnya? Lagian ini udah malam juga," ucap Floryn menolak.


"Duh, tapi ini penting banget loh! Apa gak baiknya kamu ikut dulu sama saya gitu?" ucap Saka.


Floryn terdiam dan berpikir sejenak, tapi kemudian sebuah mobil muncul dan berhenti di dekat mereka sambil membunyikan klakson. Sontak Floryn serta Saka langsung menoleh ke arah mobil tersebut, dan rupanya itu adalah taksi yang datang menjemput Floryn saat ini.


"Dengan mbak Floryn? Saya Darsa, taksi online yang mbak pesan," ucap supir itu.


"Oh iya iya, saya Floryn. Sebentar ya pak?" ucap Floryn.


Gadis itu pun kembali menatap Saka, "Umm, maaf ya aku harus pulang sekarang? Kalau kamu mau bicara, besok mungkin bisa," ucapnya.


"Gak bisa, harus sekarang Floryn! Biar saya yang bicara sama supirnya," ucap Saka.


Floryn terkejut dengan perkataan pria itu, tapi kemudian Saka berjalan ke arah mobil mendekati sang supir. Tentu saja Floryn yang penasaran, memilih mengikuti langkah Saka karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan Saka kepada supir taksi itu.


"Umm pak, saya mohon maaf karena Floryn ada urusan sama saya. Bapak gak perlu antar dia, tapi tenang saya akan bayar bapak dua kali lipat kok sebagai gantinya. Gimana pak, setuju gak?" ucap Saka pada supir itu.


"Yah kalau saya sih terserah aja ya pak, yang penting orderan saya ini gak batal," ucap supir.


"Baik pak, ini ya uangnya? Terimakasih atas kerjasamanya!" ucap Saka menyerahkan sejumlah uang pada supir itu.


"Sama-sama pak, makasih juga ya uangnya?" ucap supir itu terlihat bahagia.


Saka mengangguk saja, lalu supir itu pun melaju pergi meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan Floryn bersama Saka. Sontak Floryn menghampiri Saka dengan wajah kesalnya, terlihat jelas kalau gadis itu hendak melampiaskan emosinya kepada si pria.


"Kamu apa-apaan sih? Terus sekarang gimana coba aku pulangnya kalau kayak gini? Susah tau dapetin taksi jam segini, nyebelin banget sih jadi orang!" geram Floryn.


"Tenang aja, nanti saya antar kamu pulang! Yuk ikut sama saya sekarang!" ucap Saka menenangkan.


Gadis itu tak memiliki pilihan lain, akhirnya ia terpaksa mengikuti permintaan Saka dan melangkah masuk ke dalam mobil pria tersebut. Ya dengan segera Saka memacu mobilnya membawa Floryn ke tempat yang pas untuk membicarakan mengenai hubungan gadis itu dengan Alan.




Keesokan paginya, Carol terbangun dari tidurnya dan langsung terkejut saat melihat Alan masih tergeletak di sampingnya dengan tangan melingkar di atas perut ratanya. Ia pun mengingat-ingat apa yang terjadi pada mereka semalam, dan memang setelah percumbuan panas mereka kala itu, keduanya mulai mengantuk dan tak lama tertidur.


Carol menghela nafas lega sembari terus mengamati wajah Alan dari samping, entah mengapa ia selalu terpesona pada ketampanan pria itu dan tak ingin berhenti menatapnya. Tanpa sadar, gadis itu mengembangkan senyumnya dan satu tangannya seolah tergerak untuk mengusap wajah Alan dengan lembut.


Namun, tanpa diduga tangannya itu digenggam oleh Alan secara tiba-tiba yang sontak membuatnya terkejut. Lalu Alan pun membuka matanya dan tersenyum seketika, mata mereka kini saling berpandangan sampai Carol tak bisa menyembunyikan wajah merahnya itu dari Alan karena sangking gugupnya.


Cup!


"Good morning, Carol!" ucap Alan lembut sembari mengecup bibir mungil gadis itu, yang ia akui berhasil membuatnya tercandu-candu.


"Hah? Alan ih kamu lama-lama makin kurang ajar deh! Bisa-bisanya kamu cium aku kayak gitu, gak ada adabnya banget sih kamu! Lagian ini masih pagi tau," protes Carol.


"Kenapa sih marah-marah mulu? Gak puas apa semalam kamu udah maki-maki saya karena ambil first kiss kamu, hm?" goda Alan.


"Gak akan puas sebelum kamu sadar kalau yang kamu lakukan itu gak bener, Alan! Udah ah bangun, terus kamu pulang sana! Aku mau mandi sambil beberes, jadi tolong kamu jangan gangguin aku!" ucap Carol mengusir pria itu.


"Kok pulang sih? Apa kamu gak mau saya bantu beberes? Saya juga mau numpang mandi dong, badan saya lengket banget nih," ucap Alan.


"What? Kamu yang bener aja deh, Lan. Masa kamu mau numpang mandi di kostan aku? Enggak deh enggak, kamu mandinya di rumah aja sana! Aku gak mau kamu lama-lama disini," ucap Carol.


"Yah elah, santai aja kali! Toh dari semalam juga saya udah nginep disini," ucap Alan.


"Ya justru itu, kamu kan udah nginep di tempat aku, jadi kamu sekarang pulang ya Alan!" pinta Carol.


Alan menggeleng dan menggenggam dua tangan gadis itu, "Saya gak mau pulang, saya justru mau ajak kamu ke apartemen saya. Kita tinggal disana berdua ya?" ucapnya penuh tuntutan.


"Apaan sih Alan? Kamu gausah ngada-ngada deh, itu gak bener! Kita bukan suami-istri, mana boleh kita tinggal bareng?" ucap Carol menolak.


"Emang kamu mau saya nikahin?" tanya Alan.


Deg!


Saat itu juga jantung Carol berdegup sangat kencang, pipinya memerah dan nafasnya memburu tak karuan akibat ucapan asal Alan barusan. Ia tak menyangka Alan akan berani mengatakan itu, meski ia sendiri tahu kalau Alan pasti hanya bercanda dan tidak serius ingin menikahinya.


"Kenapa diam? Mau apa enggak saya nikahin? Jawab dong Carol!" ujar Alan.


"Dasar gak waras kamu Alan!" sentak Carol yang langsung menghentak tangannya dan bangkit dari kasur, lalu berjalan pergi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...