Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 109. Sudah malas


"Pak Alan?" tiba-tiba saja Alan dikejutkan dengan suara wanita yang memanggilnya dan berada di dekatnya.


Sontak pria itu menoleh dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata, ia melihat sosok Sahira berdiri menatapnya dan membuat Alan panik serta langsung mengusap air matanya. Sedangkan Sahira tampak mendekatinya, lalu berdiri di sebelah lelaki itu sambil menatap ke langit yang gelap.


Alan terlihat gugup dibuatnya, ia khawatir Sahira mendengar semua keluhan yang tadi ia lontarkan disana. Alan pun berusaha menenangkan dirinya, meski sulit rasanya sebab ia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Alan sungguh tak menyangka jika Sahira bisa datang kesana saat ini.


"Sahira, kamu ngapain kesini? Bukannya kamu di rumah ya sama bang Saka?" tanya Alan gugup.


"Iya pak, saya emang sengaja mau susulin bapak kok. Soalnya saya lihat tadi begitu bapak pergi, bapak kelihatan seperti sedang memendam masalah. Ternyata benar kan dugaan saya, bapak menangis disini," jawab Sahira.


"Hah nangis? Yang benar aja kamu, saya gak nangis kok. Kamu kalau bicara jangan mengada-ada deh!" elak Alan.


"Ahaha, bapak mungkin bisa membohongi keluarga bapak tadi, tapi bapak gak bisa bohongin saya. Saya tahu kok bapak barusan abis nangis histeris disini," ucap Sahira.


"Kamu gausah sok tahu, saya itu gak nangis. Udah deh sana kamu kembali aja ke rumah, kasihan bang Saka nyariin kamu!" ujar Alan.


"Nanti aja pak, saya masih mau disini buat bantu tenangin bapak. Saya tahu bapak lagi ada masalah, makanya saya kesini buat bantu bapak. Jadi, bapak mau cerita kan sama saya?" ucap Sahira.


Alan menggeleng, "Enggak, saya gak ada masalah apa-apa," ucapnya mengelak.


"Pak, bercerita itu penting loh untuk bikin perasaan kita jadi lebih tenang. Masa bapak gak mau cerita sama saya sih?" ucap Sahira.


Alan terdiam sejenak seraya memalingkan wajahnya, ia mencoba menarik nafasnya dan berpikir keras apakah harus ia menyatakan cintanya pada gadis itu saat ini atau tidak. Jujur saja Alan penasaran dengan reaksi Sahira, tetapi ia juga tak ingin merusak hubungan Sahira dan Saka.


Sedetik kemudian, Alan kembali menatap wajah Sahira dengan lebih intens. "Baiklah, saya akan mengatakan semuanya ke kamu. Tolong kamu simak baik-baik ya Sahira!" ucapnya.


Sahira manggut-manggut saja seolah siap mendengar semua keluhan pria itu, sedangkan Alan sendiri masih tampak ragu walaupun di dalam hatinya dia sudah sangat siap dan ingin segera menyampaikan rasa cintanya pada Sahira, ya Alan memang terlalu lemah dalam urusan itu.


"Saya cinta sama kamu Sahira, saya gak bisa ngelupain kamu!" ucap Alan tegas.


Deg!


Sahira tersentak kaget mendengar penuturan Alan, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika tahu bahwa selama ini Alan alias bosnya itu mencintai dirinya. Sahira pun terdiam tak menyangka, sebab selama ini sikap Alan terlalu dingin dan ketus padanya, dan tak mungkin ada yang mengira jika Alan ternyata memendam rasa padanya.


"Ba-bapak serius bicara begitu? Sa-saya gak percaya kalau bapak cinta sama saya, bapak pasti lagi bercanda ya? Gak lucu tau pak, mending cerita yang bener aja!" ucap Sahira gugup.


Alan menggeleng, "Saya tidak sedang bercanda Sahira, itu kejujuran saya ke kamu," ucapnya.


Seketika Sahira terdiam, ia benar-benar tak habis pikir dengan pengakuan Alan barusan itu. Sahira pun memalingkan wajahnya, mencoba mencerna ucapan Alan yang sungguh membuatnya terkejut. Sedangkan Alan terlihat menyesali apa yang sudah ia katakan tadi, karena itu membuat Sahira sedih.


"Sahira, saya minta maaf. Harusnya saya gak bicara seperti itu, kamu jangan ambil pusing soal perkataan saya barusan ya!" ucap Alan gugup.


"Eee gapapa kok pak, bapak gak salah. Saya yang seharusnya minta maaf karena saya udah maksa bapak buat cerita ke saya," ucap Sahira.


"Kamu gausah khawatir, saya tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan bang Saka kok," ucap Alan.


"Bu-bukan masalah itu pak, saya merasa bersalah karena tidak bisa membalas cinta bapak. Saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira.


Alan tersenyum seraya menganggukkan kepala, "Gapapa, saya terbiasa kok seperti itu. Oh ya, lebih baik kamu kembali ke rumah aja takut bang Saka udah nungguin!" ucapnya.


"Kita bareng aja yuk pak! Bapak pasti juga mau pulang kan?" ajak Sahira.


Alan menggeleng pelan, "Saya belum pengen pulang, jujur aja saya gak kuat lihat kamu mesra-mesraan sama bang Saka," ucapnya.


"Hah? Berarti selama ini..."


"Ya Sahira, saya cemburu sama kalian. Saya gak kuat terus-terusan begini," sela Alan.


"Sa-saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira lirih.


"Kamu gausah minta maaf terus, bukan salah kamu kok. Saya aja yang kayaknya terlalu lebay, karena saya gak bisa tahan diri waktu lihat kamu dan bang Saka," ucap Alan.


Sahira menunduk bingung, ia sungguh merasa bersalah karena sudah membuat Alan tersakiti. Jika saja Sahira tahu Alan mencintainya sejak lama, maka mungkin Sahira tidak akan menerima cinta Saka. Ya karena Sahira juga merasakan perasaan yang sama dengan Alan.


"Sahira!" tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dan membuat Sahira serta Alan menoleh bersamaan ke asal suara tersebut.


Mereka sontak terkejut ketika melihat pria itu, "Saka?" seru keduanya.




Bruuukkk


Awan yang sedang mengendarai motornya, tak sengaja menabrak Wati saat wanita itu tengah berjalan menenteng sepedanya. Sontak Wati pun terjatuh bersama sepeda yang ia pegang tadi, Awan yang melihatnya langsung menghentikan motornya sejenak untuk menolong wanita itu.


Awan benar-benar cemas dengan kondisi Wati saat ini, ia menghampiri wanita itu dan mencoba membantunya untuk berdiri. Ia terlebih dahulu mengangkat sepeda milik Wati agar Wati tidak terlalu lama tertindih sepeda itu, barulah Awan kembali mendekati Wati dan berbicara padanya.


"Duh ya ampun! Wati, kamu gapapa kan? Ada yang luka gak atau sakit gitu?" tanya Awan cemas.


"Awhh sshh, gak ada kok. Ini cuma sedikit perih aja karena tadi kebentur aspal," jawab Wati seraya memegangi sikunya yang terlihat terluka.


"Itu sih luka Wati, harus segera diobati. Yaudah, kamu ikut saya ke warung ya!" ucap Awan.


Wati menggeleng pelan, "Gausah Awan, nanti malah ngerepotin kamu. Lagian ini lukanya gak parah kok, aku bisa obati sendiri nanti di rumah," ucapnya menolak.


"Hey, kenapa kamu nolak sih? Udah ayo gapapa saya bantu obati aja! Tadi kan saya yang tabrak kamu, jadi saya harus tanggung jawab lah!" ucap Awan sedikit memaksa.


"Ya terserah kamu deh, kalau kamu maksa aku juga gak bisa berbuat apa-apa," ucap Wati pasrah.


Wati mengangguk saja dan mengulurkan tangannya agar memudahkan Awan untuk mengangkat tubuhnya, Awan pun berhasil menarik Wati dan kini keduanya sudah sama-sama berdiri. Awan sebetulnya agak sungkan menyentuh tubuh Wati, tetapi ia tak memiliki pilihan lain.


"Maaf ya, saya gak ada maksud buat sentuh kamu kayak gini. Saya cuma mau bantu kamu, karena tangan kamu kan lagi luka," ucap Awan.


"Gapapa kok Wan, justru aku makasih banget karena kamu mau bantu aku," ucap Wati sambil tersenyum.


"Sama-sama, ini kan kesalahan saya jadi ya saya juga yang harus tanggung jawab. Yuk ah kita langsung jalan aja sekarang!" ucap Awan.


Wati mengangguk pelan menyetujui perkataan Awan, tapi tampaknya kakinya pun juga terluka sehingga sulit untuk digerakkan. Wati langsung meringis saat itu juga, sontak Awan ikut merasa khawatir dan menatap wajah Wati menandakan kalau ia mencemaskan wanita itu.


"Eh Wati, kamu gapapa? Apanya yang sakit?" tanya Awan penuh kecemasan.


"Umm, iya nih kaki aku sakit banget susah buat digerakin," jawab Wati sambil meringis.


"Waduh, ini pasti efek ketiban sepeda tadi! Yaudah, biar saya gendong aja ya sampai atas motor?" ucap Awan.


"Eh jangan! Kayaknya kita jalan kaki aja deh, aku belum tentu kuat buat naik motor," ucap Wati.


"Iya bener juga sih, kalo gitu saya gendong sampai ke warung saya ya? Nanti disana saya langsung antar kamu ke rumah sakit buat diobatin, takutnya kaki kamu kenapa-napa," ucap Awan.


"I-i-iya Wan," ucap Wati lirih.


Akhirnya tanpa basa-basi lagi, Awan langsung membopong tubuh Wati secara perlahan dan lembut agar gadis itu tidak kesakitan. Awan pun mulai bergerak membawa Wati di dalam gendongannya menuju warung, sontak saja Wati merasa gugup saat berada dalam gendongan pria itu, suasana hatinya kini berdebar-debar tak menentu akibat perlakuan manis pria itu.


"Haish, kok gue malah jadi baper gini sih digendong sama si Awan? Ayolah Wati, lu gak boleh kege'eran kayak gini!" gumam Wati dalam hatinya.


Dari sisi yang tak jauh, tampak Cat serta Zahra tak sengaja melihat Wati dan Awan yang sedang berjalan di depan sana. Kedua gadis itu pun merasa heran, sebab Wati kini digendong oleh Awan tak seperti biasanya. Mereka dibuat kebingungan dan juga penasaran.


"Eh eh, itu si Wati kenapa digendong sama Awan ya? Apa mereka sekarang udah pacaran makanya main gendong-gendongan?" ujar Zahra keheranan.


"Gak tahu, mungkin aja iya. Ya tapi biarin ajalah, toh mereka kan sama-sama single. Kecuali kalau Wati ngerebut laki orang, baru dah tuh kita sebagai sahabat harus nasehatin dia!" ucap Cat.


"Iya juga sih.." Zahra manggut-manggut paham.




Disisi lain, Fatimeh tiba di rumahnya bersama Bram yang merupakan pria idamannya. Namun, ia tampak heran ketika melihat kondisi di depan sana yang begitu gelap seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apalagi ia tak menemukan sandal atau apapun di teras rumahnya, yang menandakan jika mungkin saja Sahira belum pulang ke rumah.


Sontak Fatimeh dibuat kebingungan, ia coba mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama putrinya dari sana, tetapi tak kunjung ada jawaban. Fatimeh juga mencoba mengintip melalui jendela, dan hasilnya pun tetap sama karena ia tidak menemukan siapa-siapa di dalam sana, terlebih di dalam rumahnya itu sangat gelap.


"Duh mas, ini kayaknya anak aku belum pulang deh. Aku panggil-panggil daritadi gak nyaut, terus di dalam juga gelap banget. Gimana ya ini aku tidurnya nanti?" ujar Fatimeh tampak panik.


"Kamu tenang, kan ada aku disini. Aku bisa sewakan kamar untuk kamu malam ini, gimana?" ucap Bram memberi solusi.


"Wah ide yang bagus tuh mas, yaudah kita cari hotel di dekat sini yuk!" ucap Fatimeh.


Bram mengangkat pelan, lalu menggandeng tangan Fatimeh dan membawanya ke mobil untuk diajak mencari hotel terdekat. Namun, mereka berdua malah bertemu dengan Cat dan Zahra yang kebetulan lewat di depan sana. Sontak dua gadis itu tampak bingung ketika melihat Fatimeh tengah bersama seorang lelaki berkumis itu.


"Eh tante, mau kemana nih malam-malam begini? Terus itu siapanya tante?" tanya Cat penasaran.


"Heh! Lo kalo gak kepo sama urusan orang lain sekali aja bisa gak sih?! Atau jangan-jangan nanti lidah lu bisa kepanasan ya kalau gak mau tau urusan orang lain?" sentak Fatimeh.


"Duh, kok tante marah sih? Saya cuma nanya loh, emang gak boleh ya kalau saya nanya ke tante?" ujar Cat.


"Pertanyaan lu itu gak penting untuk dijawab, udah sana lu pergi aja deh! Gue mau kemana dan sama siapa kek itu urusan gue, lu sebagai anak kecil gausah ikut campur!" ucap Fatimeh.


"Tapi tante, kita berdua gak ada niatan ikut campur kok. Kita cuma penasaran aja," celetuk Zahra.


"Sama aja, udah udah gue mau pergi. Kalian emang gak ada urusan lain apa yang lebih penting selain ngurusin urusan orang?" ujar Fatimeh.


"Yeh banyak lah tante, iya deh ini kita berdua mau pergi kok," ucap Cat mengalah.


"Yaudah, sana pergi! Jangan bikin gue makin emosi ya sama kalian berdua!" geram Fatimeh.


Cat dan Zahra saling memandang satu sama lain, sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi dari sana. Walaupun Cat tampak masih sangat penasaran dengan hubungan antara Fatimeh dan om-om berkumis itu, ya tetapi Cat juga tak ingin memaksa Fatimeh menjawabnya.


Setelah kepergian dua gadis itu, kini Fatimeh kembali menatap Bram dan mengajak pria itu untuk segera pergi. Tanpa berlama-lama lagi, Fatimeh dan Bram pun masuk ke dalam mobil lalu bergegas melaju mencari penginapan di sekitar sana yang cocok untuk Fatimeh.


"Imeh, kamu gak mau coba telpon anak kamu dulu? Atau tadi kenapa gak kamu tanya ke dua gadis itu? Siapa tahu mereka bisa kasih tahu kita dimana anak kamu," ujar Bram.


"Ah gausah mas, aku gak perduli sama dia. Biarin aja dia mau kemana kek itu urusan dia, lagian aku udah malas banget sama tuh anak!" ucap Fatimeh.


"Hey, gak boleh gitu! Gimanapun juga kan selama ini dia yang urus kamu, tanpa dia mungkin aja kamu akan kesulitan," ucap Bram.


"Iya sih, tapi tetep aja aku malas sama anak kayak gitu. Kalau ngeliat dia, pasti aku selalu teringat momen perselingkuhan papanya yang bikin aku sangat kecewa itu!" ucap Fatimeh.


Bram tersenyum dan mengusap wajah Fatimeh, "Sabar ya! Kalo gitu sekarang aku antar kamu ke penginapan dekat sini," ucapnya.


"Okay mas," lirih Fatimeh.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...