
Tiba-tiba saja Saka meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya erat, membuat sang empu terkejut lalu reflek menoleh ke arahnya. Sedangkan Wati yang ada disana hanya terdiam mengamati tindakan pria di dekatnya.
"A-ada apa ya pak?" tanya Sahira tampak gugup.
"Saya mau bicara sama kamu Sahira, kita ke mobil saya sekarang yuk!" ajak Saka.
"Eee bicara soal apa?" tanya Sahira penasaran.
"Nanti saya jelaskan di mobil, kamu ikut aja dulu sama saya sekarang!" pinta Saka dengan sedikit memaksa.
"I-i-iya pak, yaudah Wati gue mau berangkat dulu ya? Sampai ketemu lagi nanti!" ucap Sahira pamit pada Wati.
"Okay, hati-hati ya di jalan Sahira!" ucap Wati melambaikan tangan.
Setelahnya, Sahira pergi bersama Saka menuju tempat mobil pria itu berada. Sedangkan Wati hanya tersenyum dan lanjut melangkah sambil mendorong sepedanya, Wati sedikit kecewa saat mengetahui ternyata Saka adalah orang yang cukup dekat dengan Sahira.
Kini Sahira telah berada di dalam mobil bersama Saka, ia duduk di kursi depan dengan Saka tepat di sampingnya. Sahira masih penasaran apa yang hendak dibicarakan pria itu padanya, akhirnya ia menoleh lalu bertanya lebih dulu pada Saka karena sudah tidak tahan lagi.
"Pak, sebenarnya apa sih yang bapak mau omongin sama saya?" tanya Sahira penuh rasa penasaran.
Saka menoleh sambil tersenyum, "Ya Sahira, saya mau sampaikan sesuatu ke kamu. Tapi, kamu jangan kaget ya Sahira!" ucapnya.
"Emang soal apa sih pak? Kenapa saya bisa kaget?" tanya Sahira.
Saka hanya tersenyum dan kembali menatap ke jalan, sungguh Sahira dibuat kesal sekaligus penasaran saat ini.
"Pak, kok bapak malah buang muka sih? Jangan bikin saya penasaran dong pak!" ujar Sahira.
"Hahaha, santai aja Sahira gausah tegang gitu kali! Saya akan ceritakan semuanya ke kamu," ucap Saka disertai kekehan kecil.
"Ya mana? Cerita sekarang aja dong pak!" pinta Sahira.
"Kamu yakin mau diceritain sekarang? Kamu gak akan kaget atau marah kan nanti? Soalnya ini sedikit menyinggung gitu loh," tanya Saka memastikan.
"Maksudnya gimana sih? Udah bapak cerita aja gak perlu ragu!" pinta Sahira.
"Okay, jadi saya itu sebenarnya cuma mau kasih tau ke kamu kalau semalam saya ajak Mira ke bar karena saya mau pastiin apa benar ibu kamu ada disana atau enggak," ucap Saka.
"Hah? Ibu??" Sahira tersentak dengan mulut menganga, siapa yang tidak kaget jika mendengar kalimat seperti itu tentang ibunya.
"Ya Sahira, saya lihat lagi ibu kamu ada disana bareng sama laki-laki tua. Tapi, kali ini laki-laki itu beda dibanding sebelumnya," jawab Saka.
Sahira menggeleng tak percaya, "Bapak gausah ngarang deh! Gak mungkin ibu saya ada di tempat begitu, apalagi sama laki-laki tua. Saya gak percaya sama perkataan bapak!" ucapnya.
"Saya serius Sahira, bahkan saya juga punya foto saat ibu kamu di bar itu semalam dengan si laki-laki tua berkumis," ucap Saka penuh yakin.
"Apa? Kalo gitu mana fotonya pak? Tunjukin dong ke saya, saya mau lihat!" ujar Sahira.
"Sabar Sahira, disini bukan tempat yang tepat. Nanti saya akan perlihatkan foto itu setelah kita tiba di kantor, supaya kamu bisa lebih rileks dan gak kaget seperti tadi," ucap Saka.
"Tapi pak, saya udah penasaran banget. Saya pengen tahu apa benar ibu saya ada di club malam atau tidak!" ucap Sahira.
Saka tersenyum tipis sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain, sontak Sahira menggeram kesal dan batinnya terus berpikir apakah semua yang dikatakan Saka itu benar.
•
•
Akhirnya Fatimeh naik ke atas motor Awan, dan pria itu juga mulai menyalakan mesin motornya bersiap mengantar Fatimeh pergi. Namun, baru saja mereka hendak melaju, sudah ada seseorang yang menghalangi laju motor Awan dengan berdiri tepat di hadapan mereka.
"Waduh tante, ada orang tuh! Kayaknya dia mau halangi kita deh, tuh buktinya dia berdiri aja di depan kita. Dia siapa ya tante? Saya baru lihat dia ada di kampung ini deh," ujar Awan.
"Mana gue tau? Dari pakaiannya sih kayaknya dia pengemis, lu kasih aja duit receh gih!" ujar Fatimeh.
"Oh gitu ya tan? Yaudah deh, tante tunggu sebentar ya disini?" ucap Awan.
"Iya, udah sana ah lu buruan usir tuh pengemis gak jelas!" suruh Fatimeh.
"Siap tante!" Awan langsung turun dari motor dan menghampiri sosok lelaki dengan pakaian serba kotor itu sembari membawa selembar uang.
"Eee mas, ini saya ada uang sedikit buat masnya. Diterima ya? Tapi, tolong minggir karena saya mau lewat!" ucap Awan menyerahkan uang itu.
Bukannya menyingkir, pria itu justru menatap tajam ke arahnya dengan mata melotot lebar. Sontak Awan terkejut bukan main, ia sampai gemetar ketakutan melihat tatapan tersebut.
"Tante, gimana ini? Dia kok malah kelihatannya marah begitu sih?" tanya Awan pada Fatimeh.
"Mana gue tau, lu lakuin apa kek supaya dia minggir dan gak halangi jalan kita!" suruh Fatimeh.
"I-i-iya tante," Awan tampak sangat gugup, terlebih ia harus berhadapan langsung dengan pria aneh di depannya saat ini.
"Aduh, ini gue harus gimana ya? Serem banget lagi tuh orang," gumam Awan pelan.
Perlahan Awan mencoba mendekati pria di depannya yang terus saja menatap tajam ke arahnya, ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu dan mau apa dia menghalangi jalannya saat ini. Padahal sebelumnya Awan tak pernah bertemu atau melihat pria tersebut.
"Hey, kamu itu sebenarnya siapa dan mau apa kamu hadang kita? Apa kita pernah ada salah sama kamu? Saya rasa sih enggak, karena saya aja baru sekarang ketemu sama kamu," ujar Awan.
"Diam!" bentak pria itu sambil menunjuk ke arah Awan dengan mata melotot.
"Hah? Kamu itu kenapa sih? Katakan aja apa mau kamu, biar saya turuti nanti!" kesal Awan.
Pria itu hanya diam dan kemudian berbalik pergi begitu saja dari sana, sontak Awan dibuat bingung dengan keanehan pria tersebut. Namun, ia memilih melupakannya begitu saja dan menghampiri Fatimeh yang masih berada di motornya.
"Eh gimana? Kenapa tuh orang malah lari kayak gitu? Lu bilang apaan sama dia?" tanya Fatimeh penasaran.
"Gak bilang apa-apa tante, saya cuma tanya ke dia maunya apa. Eh dia malah lari gitu aja tanpa jawab pertanyaan saya," ucap Awan.
"Ohh, gak jelas banget sih tuh orang. Yaudah yuk kita pergi aja sekarang ke warung lu!" ujar Fatimeh.
"Iya tante, palingan juga yang tadi itu orang gila. Ya walau saya belum pernah dengar dan tahu kalau ada orang gila di kampung kita," ucap Awan.
"Udah gausah dipikirin, ayo buruan bawa nih motor biar kita bisa segera pergi dari sini!" suruh Fatimeh.
"Siap tante!" Awan patuh pada ucapan wanita itu dan naik ke motornya.
Lalu, akhirnya Awan melajukan motornya dengan cepat sesuai arahan Fatimeh. Mereka menuju warung Awan karena Fatimeh khawatir bertemu dengan Sahira di rumahnya.
•
•
Nawal pun setuju saja dan malah ia senang lantaran Alan mau mengajaknya kesana untuk berbincang dengannya, Nawal masih terus tersenyum menatap wajah pria di hadapannya sambil mengaduk-aduk sendok minuman yang sudah ia pesan sebelumnya bersama makanan kecil.
"Kamu ngapain tatap saya begitu sambil senyum-senyum? Mau goda saya? Mentang-mentang tadi saya kegoda, terus kamu mau godain saya lagi?" ujar Alan.
"Iya dong, aku kan pengen kita balikan Alan. Lagian kamu kenapa jadi pake bahasa formal gitu sih? Santai aja kali kayak biasanya!" ucap Nawal.
"Aku cuma gak mau aja kalau kamu terus minta kita buat balikan, karena itu semua gak mungkin terjadi. Tolong ya kamu berhenti berharap kayak gitu ke aku!" ucap Alan.
"Apa? Emangnya salah ya kalau aku berharap sama kamu?" tanya Nawal.
"Jelas salah, apalagi kamu sekarang udah mau nikah sama laki-laki lain," jawab Alan.
"Aku kan udah bilang ke kamu, aku gak cinta sama dia. Aku cintanya cuma sama kamu Alan," ucap Nawal sambil meraih satu tangan pria itu.
"Terserah kamu, tapi ayolah kamu jangan kayak gini terus! Aku gak mau pacar kamu salah paham nantinya," ucap Alan.
"Dia bukan pacar aku, dia cuma orang yang dijodohin sama orang tua aku buatku," ralat Nawal.
"Apapun itu, intinya tetap dia ada hubungan sama kamu kan? Jadi, stop berharap kalau kita akan balikan lagi!" ucap Alan.
"Kenapa sih Alan? Aku tuh masih sayang sama kamu, dan kamu juga bilang kan kalau kamu belum bisa lupain aku?" ujar Nawal.
"Emang iya Nawal, tapi aku sadar kita gak akan bisa seperti dulu lagi," ucap Alan.
"Alah bullshit! Kita masih bisa kok balikan kayak dulu, asalkan kamu nya mau aja!" ucap Nawal.
Alan menggeleng pelan sembari mengerutkan keningnya, ia menunduk dan menghela nafas karena harus menghadapi gadis seperti Nawal yang sulit sekali diberitahu baik pelan maupun keras.
"Kamu kenapa malah diam? Mau ya balikan sama aku?" tanya Nawal dengan menggoda.
"Nawal, mau sampai kapan sih kamu kayak gini terus? Udah deh, aku mau lanjut kerja dan kamu mending pulang sana!" ujar Alan.
"Aku gak mau pulang sebelum kamu mau balikan sama aku!" kekeuh Nawal.
"Harus berapa kali sih aku bilang? Aku tuh gak cinta sama kamu, Nawal. Tolong kamu ngerti dong dan jangan paksa aku!" ucap Alan.
"Masa sih? Tadi aja kamu bilang belum bisa lupain aku, gausah bohong deh!" ucap Nawal.
"Ya terserah kamu, udah ah aku mau kerja aja!" ucap Alan sambil langsung bangkit dari duduknya.
"Eh tunggu Alan, kamu jangan pergi dulu aku belum selesai bicara! Aku mau kita balikan sayang, please!" bujuk Nawal.
"Apa??" tiba-tiba saja suara seorang pria terdengar di telinga keduanya.
Sontak Nawal serta Alan langsung menoleh ke asal suara, dan disana lah mereka menemukan sosok Royyan berdiri menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.
•
•
Cat menghampiri Yoshi yang tengah membersihkan meja tempat menaruh roti, gadis itu tersenyum lalu mengambil secarik tisu dan mengusap wajah Yoshi dengan tisu tersebut. Cat nampaknya ingin menyeka keringat di dahi serta seluruh wajah pria itu, sontak perlakuan Cat membuat Yoshi merasa senang.
"Sayang, kamu ngapain sih pake lap keringat aku segala? Aku kan bisa lakuin sendiri tau, pake ngerepotin kamu segala," ujar Yoshi.
"Gapapa dong sayang, emang gak boleh ya kalau aku lap keringat pacarku ini?" ucap Cat.
"Boleh sih, tapi aku gak enak aja sama kamu sayang. Harusnya kan aku yang lap keringat kamu, bukan malah sebaliknya," ucap Yoshi.
"Ih gak masalah tau, mau siapapun itu yang lap intinya kita tetap pacaran," ucap Cat tersenyum.
"Hahaha, ada-ada aja kamu. Oh ya, boneka yang semalam itu gimana? Kamu suka gak?" tanya Yoshi.
"Suka lah sayang, apalagi itu kan hasil kerja keras kamu semalam," jawab Cat.
"Bagus deh, jadinya aku gak perlu repot-repot buat beliin kamu boneka dengan harga yang mahal. Ternyata cuma modal duit sedikit aja udah bisa dapat boneka yang kamu suka," ucap Yoshi.
"Iya itu dia, makasih banyak ya sayang? Kamu emang pinter banget deh!" ucap Cat.
Yoshi tersenyum, kemudian menarik dan menahan tengkuk Cat sambil mengecup kening gadis itu. Cat sedikit kaget merasakan kecupan dari sang kekasih, namun tak lama ia tersenyum senang sebab ini kali pertama Yoshi mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Udah kamu balik kerja lagi sana! Gak enak nanti kalo dilihat sama manajer," ucap Yoshi.
"Iya sayang, kamu semangat ya kerjanya! Nanti pulang kerja kita jalan-jalan berdua lagi, okay?" ucap Cat.
"Okay, apapun yang kamu mau sayang. Kalo gitu aku kerja dulu ya?" ucap Yoshi seraya mengusap puncak kepala gadisnya.
Cat pun tersenyum mendapatkan sentuhan lembut dari sang kekasih, lalu ia berbalik dan pergi ke tempatnya semula untuk lanjut bekerja. Namun, ia malah dihadang Ivan yang muncul tiba-tiba sambil tersenyum lebar ke arahnya. Sontak Cat dibuat keheranan dengan tingkah pria itu.
"Lo ngapain sih berdiri di depan gue? Awas gue mau lewat!" ucap Cat.
"Galak banget lu Cat, giliran sama Yoshi aja tadi baik banget," kekeh Ivan.
"Beda lah Ivan, si Yoshi kan cowok gue. Nah kalo lu itu siapa gue hayo?" ujar Cat.
"Buset dah parah amat lu sama gue, mentang-mentang udah pacaran sama Yoshi terus gue dilupain. Gak inget lu dulu siapa yang temenin lu tiap hari?" ucap Ivan.
"Ah berisik lu! Udah ah gue mau kerja, bye!" ucap Cat yang langsung melangkah melewati Ivan.
Ivan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, lalu beralih mendekati Yoshi yang sedang bekerja disana. Ivan menegur pria tersebut dan menyentuh pundaknya dari belakang, membuat Yoshi sedikit kaget dan reflek menoleh ke arah Ivan.
"Yeh lu ternyata, gue pikir siapa. Ngapain sih lu ngagetin gue? Emang lu gak ada kerjaan apa?" ucap Yoshi.
"Santai bro, gue cuma pengen nanya sama lu. Gimana sih perasaannya punya pacar yang satu kerjaan sama kita?" ucap Ivan.
Yoshi terdiam saja dan memilih kembali lanjut bekerja, sedangkan Ivan masih setia menunggu jawaban dari Yoshi dan terus menatap wajah pria tersebut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...