Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 36. Fatimeh ternyata


"Lo gak boleh malas, masih ada wanita yang menanti lu buat jadi miliknya. Lo harus yakin sama kemampuan lu sendiri Yos!" ucap Cat.


"Siapa? Dari kemarin lu ngomong gitu terus, tapi lu gak pernah ngasih tau siapa orangnya!" ujar Yoshi.


"Gue Yos! Gue yang suka sama lu!" Cat berteriak dengan keras dan tegas sembari menaruh kedua tangannya di meja, tatapannya juga mengarah ke wajah Yoshi serta nafas yang memburu.


Yoshi tersentak kaget mendengar pengakuan Cat, suasana di warung mie ayam itu juga mendadak hening setelah apa yang terjadi barusan. Cat sendiri merasa malu sebab ia yakin semua orang mendengar kata-katanya tadi, ia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Permisi mas, mbak. Silahkan ini mie ayamnya dinikmati!" ucapan penjual itu membuyarkan suasana hening disana.


"Eh iya pakde, makasih!" ucap Cat sambil tersenyum.


Cat langsung beralih pada mangkuk berisi mie ayam yang menggodanya itu, ia tak perduli pada Yoshi yang masih terus menatapnya tajam dengan penuh pertanyaan di dalam dirinya.


"Yos, ayo dimakan mie nya!" suruh Cat.


"Tunggu Cat!" tiba-tiba Yoshi menggenggam tangan Cat dengan kuat.


Cat memandang bingung ke arah wajah Yoshi, "A-ada apa ya Yoshi?" tanyanya dengan gugup.


"Kamu serius sama omongan kamu tadi?" ucap Yoshi yang mendadak merubah gaya bicaranya menjadi aku-kamu.


"Lo gak salah nih Yos? Kok lu ngomong pake aku-kamu?" Cat coba mengalihkan pembicaraan.


"Jawab aja Cat! Beneran kamu suka sama aku?" pinta Yoshi.


"Umm gu-gue..." Cat sangat gugup untuk menjawab pertanyaan Yoshi, ia benar-benar bingung.


"Cat, Yoshi!" tiba-tiba saja ada wanita yang datang dan memanggil mereka, sontak Yoshi terkejut lalu reflek melepaskan tangan Cat dari genggamannya.


"Wati? Lo kok bisa ada disini sih?" tanya Cat pada Wati yang baru datang itu.


Ya wanita yang tadi menyapa mereka berdua adalah Mira alias Wati, si penjual bunga yang juga merupakan sahabat mereka di toko roti. Yoshi pun terpaksa melupakan sejenak apa yang ingin ia bahas bersama Cat, sebab tak mungkin ia bertanya kembali saat ada Wati disana.


"Hehe, iya nih Cat gue kebetulan abis jualan terus lewat sini. Eh gue dari luar malah ngeliat kalian berdua disini, yaudah gue samperin aja. Gue boleh join kan guys?" ucap Wati.


"Haish, ganggu aja sih lu Mira! Padahal dikit lagi gue sama Yoshi bisa jadian," batin Cat kesal.


Melihat Cat terdiam, Wati pun kembali berbicara. "Cat, gue boleh kagak nih join sama kalian? Enggak boleh ya? Yaudah deh gue cabut aja," ucapnya.


"Eh eh, kata siapa sih gak boleh? Udah sini duduk aja!" ucap Cat menyuruh Wati duduk di dekatnya.


"Asyik, thanks ya Cat!" Wati langsung merasa senang dan duduk di sebelah sohibnya itu.


Setelahnya, Wati pun turut memesan makanan disana tanpa tahu jika Cat dan Yoshi merasa terganggu dengan kehadirannya. Ya Yoshi masih terus memandangi wajah Cat, sorot matanya menunjukkan kalau ia saat ini sangat bingung apa Cat benar-benar mencintainya atau yang tadi dia katakan tidak benar.


"Ih ini kenapa pada diam-diam aja sih? Kalian bukannya tadi lagi ngobrol ya? Dilanjut dong ngobrolnya biar tambah asyik gitu!" ucap Wati.


"Enggak Wat, lagi makan itu gak boleh ngobrol nanti keselek. Mendingan kita fokus makan aja sampai habis," ucap Cat tersenyum tipis.


"Oh iya sih bener, tapi kan makanan gue belum jadi. Ngobrol dulu gapapa lah ya? Yos, lu juga jangan diam aja dong!" ucap Wati.


"Iya iya.." Yoshi bersikap dingin dan membuat Wati benar-benar bingung dengan sikap kedua sohibnya yang mendadak berubah itu.




Sahira terkejut saat ada seseorang mengetuk pintunya pada malam hari seperti ini, ia pun dengan terpaksa bangkit dari duduknya dan meninggalkan sejenak pekerjaan yang harus ia kerjakan demi melihat siapa yang datang. Apalagi di rumah itu hanya ada dirinya, sebab Fatimeh sang ibu pergi dari habis isya dan belum kembali entah kemana.


Gadis itu membuka pintu, dan ia sangat kaget melihat Saka berdiri di hadapannya membawa setangkai bunga mawar merah. Sontak Saka tersenyum, lalu menyapa Sahira yang masih tampak syok itu. Sahira tak percaya jika Saka datang ke rumahnya malam-malam begini, padahal ini sudah waktunya untuk istirahat.


"Pak Saka? Ada apa ya bapak datang ke rumah saya malam-malam kayak gini?" tanya Sahira.


"Saya cuma mau main aja, emang gak boleh ya? Lagian ini belum terlalu malam kok menurut saya, masih jam setengah sepuluh juga," ucap Saka.


"Ya tapi kan saya masih ada pekerjaan pak, saya juga udah lumayan ngantuk nih," ucap Sahira.


"Kamu gak suka ya kalau saya datang kesini? Mungkin kalau yang datang itu Alan, pasti kamu suka dan gak protes kan?" ujar Saka.


Sahira membulatkan matanya, "Bukan begitu pak, saya senang kok bapak datang kesini. Yaudah, bapak mau duduk disini apa di dalam?" ucapnya.


"Gausah, takutnya nanti ada yang salah paham. Lebih baik saya disini aja," ucap Saka.


"Ah iya pak, kalo gitu silahkan duduk! Bapak mau minum apa nih?" ucap Sahira lembut.


"Air putih aja, malam-malam gini lebih sehat kalau kita perbanyak minum air putih. By the way, ibu kamu kemana Sahira? Sudah tidur?" ucap Saka sambil berjalan ke tempat duduk.


Sahira menggeleng, "Enggak pak, ibu saya masih di luar. Saya juga gak tahu ibu kemana, tapi emang udah biasa sih ibu keluar malam," ucapnya.


"Ohh..." Saka manggut-manggut paham.


"Yaudah, saya tinggal sebentar ya pak?" pamit Sahira yang kembali diangguki Saka.


Setelahnya, Sahira pun masuk ke dalam rumahnya untuk membuatkan minum. Sedangkan Saka tetap di tempatnya memikirkan apa yang ia lihat sebelum sampai kesana.


"Duh, kira-kira saya kasih tau Sahira gak ya soal tadi? Saya takut Sahira syok kalau tau ibunya ternyata wanita malam," gumam Saka.


Tak lama kemudian, Sahira kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya. Ia memberikan air itu kepada Saka dan meminta Saka meminumnya, Saka hanya mengangguk menurut lalu meminum seteguk air di gelas itu. Saka pun beralih menatap wajah Sahira dengan bingung.


"Ada apa sih pak? Kenapa bapak daritadi ngeliatin saya kayak gitu? Ada yang salah?" tanya Sahira.


"Eee gak kok Sahira, saya cuma kagum sama kamu. Sudah malam begini, tapi kamu masih tetap anggun dan cantik seperti siang tadi," jawab Saka.


"Ahaha, bapak bisa aja. Makasih atas pujiannya, tapi ini saya udah mau tidur kok jadi gak dandan. Cantiknya darimana coba?" ucap Sahira.


"Kamu itu cantik alami, Sahira. Saya aja sampai terpesona sama kecantikan kamu," ucap Saka.


Sahira menunduk sembari membelai rambutnya, ia mencoba menghindari tatapan mata Saka sebab rasa malunya. Namun, Saka malah meraih satu tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Sahira sontak mendongak, lalu heran saat Saka menatap tajam ke arahnya.


"Saya mau bicara sesuatu sama kamu Sahira," ucap Saka pelan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...