
Cup!
Tiba-tiba saja Wati merasa sesuatu yang basah menyentuh pipinya, ya barusan itu adalah kecupan lembut dari Awan untuknya. Sontak saja Wati terkejut bukan main mendapati hal itu, ia menatap wajah Awan sembari memegangi pipinya seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan Awan.
Sementara Awan justru tampak terkekeh melihat ekspresi gadis itu, seolah tidak ada penyesalan sama sekali yang ia rasakan setelah mencium pipi Wati barusan. Ya Awan memang sengaja melakukan itu, sebab terlalu sulit baginya menahan rasa gemas dari wajah Wati barusan.
"Awan, kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu cium aku coba? Mana gak bilang-bilang dulu lagi, huh dasar!" kesal Wati.
Awan tersenyum tipis menatapnya, "Maaf Wati, abisnya kamu dilihat-lihat ternyata gemesin banget sih. Saya jadi gak tahan deh buat cium kamu tadi," ucapnya.
"Yeh bisa aja kamu, emang dasar cowok modus!" cibir Wati.
"Bukan modus, serius loh saya gak bisa nahan diri. Sekali lagi saya minta maaf ya? Kalau memang kamu tidak berkenan, lain kali saya tidak akan mengulangi itu lagi," ucap Awan.
"Kamu kenapa jadi formal gitu sih ngomongnya? Biasa aja kali, udah kayak lagi bicara di rapat penting aja," kekeh Wati.
"Hehe, itu biar kamu mau maafin saya Wati. Jadi gimana nih, kamu mau kan maafin saya?" ucap Awan sambil tersenyum.
Wati mengangguk pelan, "Iya Awan, aku maafin kamu kok. Kamu kan udah tolong aku semalam waktu aku jatuh," ucapnya.
"Makasih ya Wati? Oh ya, soal semalam itu kan padahal juga kesalahan saya tahu. Kalau saya bawa motornya hati-hati, mungkin saya gak akan tabrak kamu," ucap Awan menyesal.
"Ah gapapa, udah lupain aja. Eee kalo gitu aku mau berangkat dagang ya?" ucap Wati pamit.
"Okay, tapi apa kamu mau saya antar pakai mobil? Kalau iya, saya ambil dulu mobilnya di warung. Abis itu kita berangkat ke tempat kamu," tawar Awan.
"Eee ga—"
"Apa? Mau bilang gausah? Kamu mending nurut aja deh sama saya, kaki kamu kan masih sakit. Terus sepeda kamu juga masih ada di bengkel kan?" sela Awan memotong ucapan Wati.
Wati terdiam menunduk, tapi pada akhirnya ia mengangguk juga mengiyakan ajakan Awan. Ya tidak ada salahnya memang jika ia diantar oleh Awan saat ini, karena sepedanya pun sedang dibetulkan dan belum bisa dipakai untuk saat ini sebab semalam tertabrak.
"Wati?" keduanya dibuat kaget dengan suara parau yang memanggil nama gadis itu, Wati pun menoleh dan menemukan mamanya ada di depan pintu.
"Mama?" sontak Wati bergerak menghampiri mamanya itu diikuti oleh Awan di belakangnya.
"Assalamualaikum tante.." Awan mengucap salam dan mencium tangan mama dari Wati itu dengan lembut dan sopan.
"Waalaikumsallam, kok kamu gak bilang-bilang sih kalau ada tamu sayang? Apalagi tamunya nak Awan loh," ucap Syifa, mamanya Wati.
"Eee iya ma, aku lupa. Tadi soalnya bang Awan tiba-tiba aja datang kesini," ucap Wati gugup.
"Iya tante, saya emang kebetulan lewat sini. Jadinya saya milih mampir buat ketemu Wati, ya sebelum ke warung lah," sahut Awan.
"Oalah, eh gimana sama warung kamu Awan? Makin laris ya pasti?" tanya Syifa pada pria itu.
"Yah begitulah tante, namanya juga usaha ada laris ada sepinya juga. Tapi, saya bersyukur karena setiap hari selalu ada aja rezeki," jawab Awan.
"Wah bagus dong, kapan-kapan tante sama Mira main ya ke warung kamu?" ucap Syifa.
"Siap tante, saya tunggu kedatangan tante dan Mira nanti disana. Justru saya senang banget kalau tante berkenan datang ke warung saya," ucap Awan sambil tersenyum.
Syifa pun ikut tersenyum dibuatnya, ia senang melihat putrinya terlihat dekat dengan Awan saat ini. Ya tampaknya Syifa berharap jika Wati dan Awan bisa bersatu dan menjadi sepasang kekasih, meskipun ia belum tahu apa hubungan mereka saat ini.
•
•
Dan benar saja dugaan Sahira, rupanya Fatimeh berada di dalam mobil itu. Fatimeh pun turun dari mobil bersama Bram yang menggandengnya, tentu saja Sahira langsung bergembira lalu menghampiri ibunya dengan penuh antusias. Namun, Sahira tak tahu kalau ibunya saat ini masih membencinya.
"Bu, syukurlah ibu pulang. Ibu darimana aja sih? Kenapa semalam ibu gak pulang ke rumah? Terus ibu tidur dimana?" tanya Sahira dengan cemas.
"Lo gausah sok perduli deh sama gue! Lo aja kemarin gak ada di rumah pas gue sampai, kemana lu? Rumah gelap banget kayak gak ada penghuninya, masa gue harus nunggu disini?" ucap Fatimeh ketus.
"Eee iya Bu, maaf semalam soalnya aku terima undangan mas Saka buat buka bersama di rumahnya. Aku mau ngabarin ibu, tapi hp ibu gak bisa dihubungi," ucap Sahira.
"Alasan aja lu, bilang aja lu emang udah gak anggap gue sebagai ibu lu!" geram Fatimeh.
"Gak gitu Bu, aku—"
"Ah udah lah, gue malas bicara sama lu!" potong Fatimeh yang kemudian langsung pergi begitu saja memasuki rumahnya.
Sontak Sahira menangis karena bentakan ibunya barusan, Saka pun memeluknya bermaksud menenangkan gadis itu agar tidak menangis lagi. Saka juga mengusap lengan dan bahu sang kekasih, ia sungguh merasa prihatin dengan apa yang dialami Sahira barusan.
Lalu, Sahira beralih menatap Bram yang kebetulan masih berada disana. Gadis itu tampak mendekat ke arah Bram dengan mata berkaca-kaca, Bram yang melihatnya pun dibuat gugup serta gemetar karena khawatir Sahira akan berbuat yang tidak-tidak padanya kali ini.
"Om, om itu abis bawa ibu saya kemana semalam?" tanya Sahira serak.
"Eee.." Bram jelas gugup dan kebingungan menjawabnya.
"Om gausah gugup gitu, terus terang aja sama saya biar saya tahu kemana om bawa ibu saya pergi semalam!" pinta Sahira.
"Tenang Sahira, saya cuma bawa ibu kamu ke tempat penginapan di dekat sini kok," ucap Bram.
Sahira langsung melotot dibuatnya, "Tempat penginapan? Terus kalian tidur sekamar gitu disana?" ujarnya kaget.
"Eh jangan salah paham dulu Sahira! Kami tidak tidur satu kamar kok, yang tidur di penginapan itu cuma ibu kamu, saya mah pulang ke rumah saya. Abisnya semalam kamu tidak ada di rumah sih," ucap Bram menjelaskan.
"Masa? Om gak bohong kan sama saya? Jujur aja deh om, kasih tahu ke saya semuanya!" ujar Sahira.
"Saya sudah jujur Sahira, sisanya terserah kamu aja mau percaya atau enggak. Sudah ya, saya harus pergi sekarang karena banyak urusan?" ucap Bram.
"Tunggu om!" Sahira kembali menahan pria itu.
"Apa lagi Sahira? Saya masih ada urusan lain yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan kamu itu," ucap Bram kesal.
"Saya masih pengen tanya lagi ke om, sebenarnya om itu serius atau cuma mau main-main aja sama ibu saya sih?" ucap Sahira melontarkan pertanyaan yang membuat Bram terkejut.
•
•
Alan perlahan-lahan sudah berhasil meluluhkan hati Floryn, ya gadis itu bahkan sekarang telah mau menceritakan apa yang dia alami pada Alan sampai bisa berada di hotel tersebut. Sontak Alan terkejut mendengarnya, karena ternyata Floryn sedang mengalami masalah yang cukup berat.
Sebelumnya Floryn memang mengatakan jika dirinya tidak akan mau menceritakan apapun mengenai dirinya, tapi kemudian Alan berhasil meyakinkan Floryn dan membuat gadis itu bercerita tentang masalah yang sedang dia alami saat ini sampai dia harus pergi ke hotel itu.
"Sabar ya Floryn! Aku bisa rasain apa yang kamu rasain kok, dijodohkan dengan orang yang tidak kita cintai itu memang sakit. Aku tahu rasanya," ucap Alan coba menenangkan Floryn.
"Iya, tapi masalahnya orang tua aku gak pernah mikirin sama sekali soal itu. Mereka cuma mau aku menikah demi kemajuan bisnis mereka, mereka gak perduli aku bahagia atau enggak dengan pernikahan itu," ucap Floryn.
"Kamu tenang aja dulu! Masalah pasti bisa diselesaikan kok, kamu udah coba bicara sama orang tua kamu tentang ini?" tanya Alan.
Floryn mengangguk lesu, "Udah sering, tapi mereka gak mau dengerin aku," jawabnya.
Selain berhasil membuat Floryn mau bercerita, Alan juga berhasil merubah gaya bicara Floryn yang sebelumnya agak kasar menjadi sedikit lembut. Alan pun cukup senang mendengarnya, entah kenapa suara Floryn terdengar lebih merdu ketika dia menggunakan aku-kamu.
"Eee aku juga bingung sih harus apa, karena sekarang aku sendiri lagi mengalami masalah perjodohan tanpa cinta itu. Mungkin kita bisa sama-sama saling memberi semangat?" ujar Alan.
"Okay, tapi kayaknya ada hal yang bisa lebih membantu deh. Kamu gak pengen kan dijodohin sama cewek itu?" ucap Floryn.
Alan mengernyit bingung, "Oh ya? Hal apa tuh? Jelas aku emang menolak keras perjodohan itu, aku gak cinta sama dia!" ucapnya.
"Gimana kalau kita pura-pura pacaran aja? Terus aku bakal bawa kamu ketemu orang tua aku, supaya perjodohan aku bisa dibatalkan. Nanti gantian deh, kamu yang bawa aku ke rumah kamu," jelas Floryn sambil tersenyum.
Deg!
Alan terkejut bukan main mendengar usulan yang diberikan Floryn, sungguh ia tak menyangka jika Floryn berani mengajaknya untuk berpura-pura menjalin hubungan. Padahal mereka baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu, tapi tentu Alan pun sangat senang mendengarnya.
"Itu usul yang bagus sih, tapi emang kamu yakin mau jadiin aku pacar pura-pura kamu?" ujar Alan.
Floryn mengangguk sambil tersenyum, "Iyalah, cuma itu satu-satunya cara supaya aku bisa terbebas dari perjodohan ini. Aku gak tahu lagi harus minta tolong ke siapa," ucapnya.
"Emangnya kamu gak ada teman cowok lain gitu yang bisa bantu kamu? Aku ini kan baru dikenal sama kamu beberapa jam lalu," ucap Alan.
"Ada sih yang mau, tapi dia minta uang bayaran mahal banget ke aku," ucap Floryn.
"Kenapa gak kamu bayar aja cowok itu?" tanya Alan lagi.
"Uangnya darimana? Ini aja buat sewa kamar disini, aku harus irit-irit duit supaya gak habis. Soalnya fasilitas aku semua ditarik sama papa," jawab Floryn.
Alan terdiam, ia semakin merasa kasihan pada gadis di depannya itu.
•
•
Disisi lain, Ari sampai di tempat Wati biasa berdagang. Pria itu berniat memberikan parcel lebaran pada Wati karena sebentar lagi hari raya akan tiba, namun disana ia tak menemukan siapa-siapa dan bahkan tempat jualan Wati pun masih ditutup tak ada apapun.
Ari tampak kebingungan dan terus menatap ke sekeliling mencari gadis itu disana, tapi tetap saja Ari belum bisa menemukan Wati. Pria itu pun memilih duduk saja untuk menunggu Wati, ia berpikir kalau kemungkinan Wati memang belum sampai dan masih berada di jalan.
"Hm, tumben banget jam segini dia belum datang. Biasanya dia rajin loh jualannya, apa karena udah mendekati hari raya?" gumam Ari.
Tak lama kemudian, suara klakson mobil yang berhenti di depannya berhasil membuat Ari terkejut. Sontak pria itu reflek menatap ke arah mobil tersebut, lalu ia mendapati Wati keluar dari sana bersama seorang pria. Ari pun mengernyit bingung, ia penasaran juga siapa pria yang ada bersama Wati disana.
"Loh Mira, kok tumben kamu baru datang?" tanya Ari saat Wati menghampirinya.
"Eee iya nih mas, tadi soalnya ada urusan dulu di rumah. Oh ya, kamu ada apa kesini? Mau ketemu sama aku?" ucap Wati.
"Ah iya Mir, sekalian saya mau antarkan bingkisan ini untuk kamu," ucap Ari sembari menyerahkan parcel di tangannya kepada gadis itu.
"Ohh, terimakasih banyak ya mas? Saya jadi gak enak nih terimanya," ucap Wati.
"Gapapa Mira, saya memang sengaja buatkan itu untuk kamu. Semoga kamu suka ya dengan pemberian saya!" ucap Ari tersenyum.
"Iya mas, saya suka banget kok ini. Saya bersyukur bisa dapat semua ini," ucap Wati.
"Ehem ehem.." tiba-tiba Awan berdehem hingga membuat keduanya menoleh karena kaget.
Wati pun sampai hampir lupa jika ia tadi datang bersama Awan, sontak gadis itu menghampiri si pria yang mengantarnya dan mengajaknya maju menghampiri Ari di depan sana. Ya Wati berniat mengenalkan Awan pada Ari, karena ia rasa dua pria itu bisa saling mengenal satu sama lain.
"Eh ya mas, kenalin ini teman saya yang tinggal satu kampung sama saya, namanya bang Awan!" ucap Wati sambil tersenyum.
"Ohh, salam kenal ya Awan? Nama saya Ari," ucap Ari mengenalkan diri sembari mengulurkan tangan ke arah Awan dengan senyuman di pipinya.
"I-i-iya.." Awan terlihat gugup, tapi kemudian ia berjabat tangan dengan pria itu.
Hanya beberapa detik, mereka langsung saling melepas jabatan tangan itu dan kembali menatap Wati bersama-sama. Entah kenapa Ari seolah tak suka melihat ada laki-laki lain yang dekat dengan Wati, padahal Ari sendiri sadar kalau ia saat ini sudah memiliki kekasih, yakni Keira.
"Mira, kalo gitu yaudah ya saya pergi dulu? Saya masih ada urusan soalnya," pamit Ari.
"Ah iya mas, hati-hati ya di jalan! Sekali lagi terimakasih atas parcel nya, ini banyak banget loh isinya!" ucap Wati.
"Sama-sama Wati," singkat Ari.
Setelahnya, Ari memutuskan pergi dari sana dengan mobilnya karena tak kuat melihat Wati bersama laki-laki lain. Sedangkan Awan tetap berada disana menemani Wati, pria itu bahkan tersenyum ke arah Wati dan perlahan menyentuh bahunya dengan lembut.
"Mir, yang barusan itu siapa sih?" tanya Awan tiba-tiba pada Wati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...