Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 155. Tak pantas lagi


Mereka tiba di restoran terdekat yang menurut Alan masakannya enak-enak. Alan pun beralih menatap Sahira sambil tersenyum, tangannya bergerak mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut. Namun, respon Sahira hanya biasa saja dan tak mengatakan apapun. Bahkan gadis itu langsung melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun, beruntung Alan bisa cepat menahan tangannya kali ini.


"Mau kemana sih buru-buru amat? Kita masih punya waktu buat berduaan disini," ujar Alan.


"Ngapain? Toh di dalam juga kita berduaan kan?" ucap Sahira terheran-heran.


"Ya iya sih, tapi kalo disini kan sensasinya beda tau. Kita bisa bebas ngapain aja tanpa takut ketauan orang, ya kan?" goda Alan.


"Lan, tolong kamu jaga sikap! Meski kita saudara, tapi kamu gak bisa kayak gini sama aku. Aku bisa loh laporin kamu atas tuduhan pelecehan," ucap Sahira kesal dengan tingkah lelaki itu.


"Okay okay.." Alan menurut dan akhirnya melepas tangan Sahira serta menjauh darinya.


Setelahnya, Sahira pun membuka pintu dan bergegas turun dari mobil lebih dulu. Alan mengumpat kesal, memukul jok mobilnya untuk melampiaskan kekesalan akibat perkataan Sahira tadi yang seolah-olah tidak takut terhadap dirinya. Barulah Alan memutuskan ikut turun menyusul Sahira yang sudah menunggu di luar sana.


Pria itu berusaha menenangkan diri, tentu agar hubungannya dengan Sahira tidak semakin menjauh. Ya saat ini Alan sedang ingin berjuang untuk mendapatkan hati Sahira, baginya tak ada perempuan lain di dunia ini yang bisa menggantikan Sahira di hatinya. Untuk itu Alan terus berusaha, meski ia tahu Sahira selalu saja menolak kehadirannya.


"Ra, aku mau tanya deh sama kamu tentang satu hal. Kira-kira kamu udah nemu jawaban belum dari pertanyaan aku waktu itu?" ucap Alan.


"Hah? Pertanyaan yang mana coba? Emang kamu pernah tanya soal apa?" heran Sahira.


"Ah masa kamu lupa sih Sahira? Itu loh yang soal perasaan aku ke kamu, pasti kamu ingat dong sama pertanyaan aku itu," ucap Alan.


"Ohh yang itu.."


"Iya benar, jadi gimana apa kamu sudah tahu jawabannya sekarang? Aku masih nunggu loh, kamu mau kan jadi pacar aku?" ucap Alan.


"Eee bisa gak kita bahas yang lain aja? Kita kan kesini mau makan, mending kita masuk ke dalam terus gausah bahas soal itu! Soalnya aku malas banget tau," ucap Sahira kesal.


"Terserah kamu deh, udah ayo kita masuk aja!" ucap Sahira mengalihkan pembicaraan.


Mau tak mau Alan terpaksa mengiyakan permintaan Sahira, mereka pun melangkah ke dalam restoran tersebut secara bersama-sama. Namun, langkah mereka terhenti ketika tanpa diduga Syera justru keluar dari restoran itu dan berpapasan dengan mereka. Ya keduanya tak menyangka jika mereka akan bertemu dengan Syera disana, padahal tempat itu sangat jauh dari rumah Alan maupun kantornya.


"Loh Alan, Sahira? Kalian datang kesini juga? Mama gak nyangka banget bisa ketemu kalian berdua disini, mama bahagia loh! Terutama kamu Alan, kamu darimana aja sih? Kenapa kamu gak pulang-pulang?" ucap Syera.


Sahira dan Alan kompak terdiam, mereka menatap tegang ke arah Syera dan masih tak percaya jika mereka akan bertemu wanita itu disana. Terutama Sahira, gadis itu masih heran mengapa bisa dirinya bertemu dengan ibu kandungnya di restoran yang sama. Jujur perasaan Sahira benar-benar bingung saat ini, ia tak tahu harus berbicara apa di hadapan ibunya yang sudah melahirkannya itu.


"Umm mama? Mama lagi apa disini? Terus papa mana?" tanya Alan berusaha tenang.


"Mama datang kesini sendiri karena ada janji sama teman mama, dan mama gak nyangka banget kalau bisa ketemu anak-anak mama disini! Kamu pulang sama mama ya Alan!" ucap Syera.


"Maaf ma, tapi aku gak bisa pulang sekarang. Aku masih kecewa sama mama dan yang lainnya, karena aku sudah dibohongi!" tegas Alan.


"Alan, tapi—"


"Udah cukup ma, tolong jangan paksa-paksa aku lagi buat pulang! Kalau mama mau, mama bisa ajak Sahira supaya dia bisa tinggal di rumah itu sama mama dan papa!" sela Alan.


Deg!


Sahira terkejut dengan ucapan Alan barusan, matanya terbelalak serta jantungnya berdetak cukup kencang karena gugup. Begitu juga dengan Syera, wanita itu spontan beralih menatap wajah putrinya yang sudah lama tak ia temui. Ingin rasanya Syera memeluk Sahira saat itu juga, akan tetapi Syera sadar kalau dirinya tak pantas lagi menyentuh Sahira setelah semua yang terjadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...