Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 133. Kegaduhan


Sahira tiba di rumahnya bersama Saka yang tentu saja mengantarnya pulang setelah seharian bekerja. Gadis itu memang sudah berusaha menolak tawaran Saka, namun Saka selalu memaksa dan membuat Sahira tak mempunyai pilihan lain selain menurut saja.


Akhirnya kini mereka sampai pada tujuan, yakni rumah Sahira dan Fatimeh. Akan tetapi, Sahira begitu terkejut ketika ia mengetuk pintu sembari memanggil nama ibunya, dan ternyata sang ibu sedang tidak ada di rumah karena pintu yang terkunci serta tak ada jawaban dari dalam.


"Duh mas, ibu kayaknya lagi pergi deh. Gimana ya ini? Aku khawatir banget kalau ibu pergi sama om Bram lagi," ucap Sahira panik.


"Tenang sayang! Bukannya kamu pernah bilang ya kalau sekarang ibu kamu sudah janji gak akan temuin om Bram lagi? Kamu percaya aja sama ibu kamu, sayang!" ucap Saka menenangkan.


"Iya aku tahu mas, tapi tetap aja aku khawatir. Kemana coba ibu malam-malam begini?" ujar Sahira masih cemas.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu! Bisa aja ibu kamu cuma ke warung atau beli sesuatu kan? Kamu tunggu aja dulu, siapa tahu nanti ibu kamu pulang!" ucap Saka.


Sahira menggeleng cepat, "Enggak mas, aku harus cari ibu aku!" ucapnya tegas.


Disaat Sahira hendak pergi, dengan cepat Saka mencekal lengannya dan menahan gadis itu untuk tetap disana. "Eh tunggu Sahira! Kamu jangan gegabah, ini sudah malam loh!" ucapnya.


"Aku gak perduli, aku mau cari ibu dan bawa ibu pulang ke rumah! Apalagi kalau sampai ibu emang pergi sama om Bram, jelas aku gak terima!" ucap Sahira menyentak tangan kekasihnya.


"Aku ngerti kamu khawatir sayang, tapi jangan kayak gini dong! Yaudah, aku temenin kamu deh ya buat cari ibu kamu?" ucap Saka.


"Gausah mas, aku pergi sendiri aja. Kamu mending pulang aja deh sana, lagian ini udah malam dan takutnya kamu dicariin sama orang tua kamu!" ucap Sahira menolak.


"Hey, aku gak mungkin biarin kamu pergi sendirian. Ini terlalu bahaya buat kamu tau, jadi udah ya kamu biar aku antar aja?" bujuk Saka.


"Okay, terserah kamu!" ketus Sahira.


"Nah gitu dong, yaudah yuk kita ke mobil sekarang! Kita cari ibu kamu di sekitar sini dulu, siapa tahu ibu kamu emang ada disini. Jadi, kamu jangan panik ya sayang!" ucap Saka.


Sahira mengangguk saja, dan kemudian melangkah menuju mobil Saka bersama pria itu. Namun, tanpa diduga Cat justru muncul disana dan menyapa dirinya dengan antusias karena sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini. Tentunya Cat ingin melampiaskan kerinduannya pada Sahira yang merupakan sahabat lamanya itu.


"Halo Sahira! Ya ampun, gue kangen banget sama lu, my sahabat yang telah lama menghilang!" ujar Cat langsung memeluk sohibnya itu.


"I-i-iya Cat, tapi sorry ya gue gak bisa kangen-kangenan sama lu sekarang? Gue harus cari ibu gue dulu, gue khawatir ibu gue kenapa-napa!" ucap Sahira melepas pelukannya.


"Ih lu ngapain nyariin ibu lu? Emang tante Imeh gak bilang sama lu apa dia mau kemana?" tanya Cat.


Sahira menggeleng, "Ya enggak lah Cat, kalau ibu bilang pasti gue gak bakal sepanik ini. Lu gimana sih?" ucapnya.


"Oh iya ya, hehe.." Cat terkekeh saja sembari menggaruk kepalanya.


"Huft, yaudah ya gue pergi dulu? Maaf banget gue gak bisa lama-lama sama lu!" ucap Sahira.


"Eh tunggu dulu Sahira! Tadi tuh tante Imeh sempat ketemu sama gue dan dia bilang kalau dia mau ke rumah bos lu itu," ucap Cat.


"Apa??" Sahira tersentak kaget dibuatnya.


"Eee kamu serius Cat? Gak salah dengar kan?" tanya Saka menyela.


Cat menggeleng cepat, "Ya enggak lah pak, gue jelas banget dengar jawaban tante Imeh tadi," jawabnya.


"Terus ibu ada kasih tahu lu gak, dia mau apa datang ke rumah bos gue?" tanya Sahira.


"Enggak Ra, sorry ya kalau soal itu gue gak tahu? Mungkin aja nyokap lu tuh cuma mau main atau silaturahmi aja gitu," jawab Cat.


"Huft, yaudah deh makasih ya? Kalo gitu gue sama mas Saka mau pergi dulu, sekali lagi makasih atas infonya?" ucap Sahira pamit.


"Iya iya..." Cat mengangguk singkat dan membiarkan sahabatnya itu pergi.


Sahira bersama Saka pun melangkah menuju mobil yang terparkir disana, mereka masuk secara bersama-sama dan bergegas pergi. Ya Sahira memang sudah sangat khawatir, ia tidak bisa berlama-lama lagi karena tahu kalau saat ini ibunya ada di rumah Alan dan entah berbuat apa.




Floryn yang mendapat kode seperti itu dari mata Alan pun tampak kebingungan, ia juga melihat ke arah Alfian serta Syera dan masih belum mengerti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Alan. Namun, kemudian ia baru menyadari kalau tindakannya tadi akan membuat orang tua Alan semakin curiga kalau mereka hanya pura-pura saja.


"Umm, ya tapi aku tahu kok sayang. Walaupun kamu jarang peluk atau elus aku, tapi aku yakin kamu itu cinta banget sama aku. Benar begitu kan?" ucap Floryn dengan manja.


Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya benar dong sayang, dan setelah ini aku juga pastiin kalau aku akan lebih sering peluk kamu. Terlebih setelah kita menikah nanti, pasti bakal lebih sering banget," ucapnya.


"Ahaha, iya aku juga gak sabar sayang!" ucap Floryn sambil tersenyum lebar.


"Ehem ehem.." Alfian tiba-tiba berdehem kasar membuat sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya dengan bingung.


"Ada apa, pa? Katanya papa minta bukti kalau kita emang pacaran, giliran aku sama Floryn mesra-mesraan eh papa malah gangguin," tanya Alan keheranan.


"Minimal tahu tempat lah, masa di depan orang tua sendiri malah kayak gitu? Kamu gak anggap papa sama mama disini?" ujar Alfian.


"Eee..." Alan terlihat kebingungan saat ini.


"Sudah sudah, yuk kita mulai makan aja! Kasihan loh itu makanannya dianggurin daritadi, nanti dia protes loh!" sela Syera.


Alan manggut-manggut saja menyetujui ucapan mamanya, sedangkan Floryn tampak mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi untuk diberikan pada Alan. Tentu saja hal itu Floryn lakukan agar bisa membuktikan pada orang tua Alan kalau mereka memang memiliki hubungan.


"Nah, ini buat kamu sayang. Makan yang banyak ya biar makin kuat dan sehat!" ucap Floryn.


"Makasih sayang, kamu juga makannya yang banyak biar agak gedean dikit!" kekeh Alan.


"Ih kamu mah!" Floryn cemberut kesal, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah mendapat persetujuan dari keluarga itu.


Disaat mereka hendak menikmati makanan masing-masing, tiba-tiba suara teriakan wanita dari arah luar membuat keempatnya terkejut dan mengurungkan niat untuk makan. Ya mereka kompak penasaran siapa sebenarnya yang datang ke rumah mereka dan berteriak memanggil-manggil nama Syera dengan keras.


"SYERA! KELUAR KAMU SYERA!"


"Siapa sih ya itu? Gak sopan banget teriak-teriak di rumah orang!" geram Alan.


"Mama juga heran, dia teriakin nama mama kayak marah begitu. Biar mama cek ke depan deh ya? Kamu sama Floryn disini aja, nikmati makan malamnya ya!" ucap Syera.


"Eh jangan ma! Aku khawatir yang di luar itu orang jahat, kalau mama keluar nanti mama malah dijahatin lagi sama dia," cegah Alan.


"Udah gapapa sayang, mama bisa handle kok. Kamu tunggu disini aja dulu, nanti mama pasti kembali!" ucap Syera.


"Enggak ma, aku gak bisa biarin mama keluar sendiri. Aku akan temenin mama, jadi kalau terjadi sesuatu aku bisa dengan cepat melindungi mama!" ucap Alan tegas.


"Iya sayang, sudah kamu dengerin aja ucapan Alan! Biar dia temani kamu, aku juga akan menyusul nanti," ucap Alfian.


"Yaudah, ayo deh!" ucap Syera pasrah.


Akhirnya Syera mau menurut dan melangkah ke depan bersama Alan, sedangkan Alfian tetap disana berdua dengan Floryn. Ya Alfian sengaja menunggu disana selama beberapa detik agar ia bisa banyak bertanya pada gadis itu, tentunya Alfian ingin tahu apakah sebenarnya Floryn memang memiliki hubungan dengan putranya atau mereka hanya main-main saja.


"Floryn, kamu bisa duduk kembali sekarang! Om mau bicara empat mata dengan kamu," suruh Alfian.


"I-i-iya om.." Floryn yang gugup menurut saja dan kembali duduk di tempatnya.


Duduk berdua dengan Alfian, entah kenapa Floryn tampak sangat gugup dan tidak berani bertatapan langsung dengan pria itu. Sungguh Floryn tidak enak hati dibuatnya, pasalnya ia dan Alan sedang bekerjasama untuk membohongi Alfian serta Syera, tentunya itu adalah perbuatan yang jahat.


"Saya mau tanya sama kamu, apa kamu ini memang kekasih anak saya? Atau kalian cuma ingin mempermainkan saya dan istri saya?" tanya Alfian dengan dingin.


Deg!


Jantung Floryn berhenti berdetak saat itu juga, matanya membulat kaget saat Alfian menanyakan hal itu padanya. Floryn pun kebingungan harus menjawab apa kali ini, ia benar-benar tidak tahu dan bingung meminta bantuan pada siapa, sebab Alan sedang berada di luar dan tidak mungkin membantunya saat ini.


"Duh, gue jawab apa ya ini? Gue paling gak bisa nih kalo udah ditekan kayak gini," gumam Floryn.




Disisi lain, Fatimeh terus berteriak memanggil nama Syera dan meminta wanita itu untuk keluar. Ia juga memaksa masuk ke dalam halaman rumah besar tersebut, meskipun ia sudah dihadang oleh dua satpam yang bertugas disana. Ya kemarahan Fatimeh kali ini sudah tak bisa ditahan lagi, karena ia harus bertindak demi menyelamatkan putrinya dari jerat cinta anak wanita itu.


"Syera, keluar kamu Syera! Jangan jadi pengecut dan ayo temui saya! Kamu itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan dulu kepada saya!" teriak Fatimeh dengan lantang.


"Bu, tolong tenang Bu! Jangan buat keributan disini, kami minta ibu untuk tenang atau kami terpaksa usir ibu dari sini!" ucap satpam.


"Ah lu diem deh! Lu gak tahu persoalannya, disini gue tuh korban tau. Majikan lu itu pelakor, dia udah ngerebut suami gue! Masa iya gue harus diam aja, ha?" ucap Fatimeh.


"Kami tidak mau tahu apa urusan ibu dengan majikan kami, disini kami hanya ingin melaksanakan tugas kami," ucap satpam.


"Haish, emang kalian gak ada yang perduli soal perasaan perempuan! Coba bayangin kalau ini terjadi ke ibu atau saudara kalian, apa kalian bakal diam aja kayak gini?" ucap Fatimeh.


"Bu, tolong jangan bicara kemana-mana! Kami kan hanya minta ibu untuk tenang, biar kami panggilkan bu Syera nantinya!" ucap satpam.


"Yaudah, sana panggil!" suruh Fatimeh.


"Baik Bu, tapi tolong sekali lagi ibu jangan buat keributan disini ya! Kami takut suara teriakan ibu tadi mengganggu suasana di dalam, karena majikan kami sedang melaksanakan acara penting yang tidak bisa diganggu," ucap satpam itu.


"Ya okay, gue bakal nurut dan gak teriak lagi. Udah sana panggil tuh si Syera suruh dia keluar temuin gue!" ucap Fatimeh.


"Iya Bu, eh kamu jagain ibu ini disini ya jangan sampai dia kemana-mana!" ucap satpam.


"Okay!" sahut satpam yang lainnya.


Disaat satpam itu hendak pergi memasuki rumah, tiba-tiba Syera sudah keluar lebih dulu bersama Alan. Begitu melihat keberadaan Fatimeh disana, Syera pun mendadak panik dan khawatir kalau Fatimeh akan membongkar semuanya di hadapan keluarganya saat ini.


"Eh kebetulan bu Syera sudah keluar, jadinya saya tidak perlu masuk ke dalam," ucap satpam.


"Iya pak Eko, ini ada apa ya? Kenapa tadi saya dengar ada suara teriakan gitu kayak manggil-manggil nama saya?" tanya Syera penasaran.


"Eee itu Bu, ada ibu Fatimeh yang datang dan ingin bertemu dengan ibu. Sepertinya beliau terlihat sangat emosi," jelas satpam itu.


"Apa? Kenapa tante Imeh bisa emosi banget sama mama? Memangnya ada masalah apa diantara tante Imeh dan mama?" heran Alan.


"Mama juga gak tahu," elak Syera.


"Jadi bagaimana Bu? Apa ibu mau bertemu dengan bu Fatimeh? Kalau tidak, maka biar saya usir beliau dari sini," ucap satpam itu.


"Jangan pak! Biarin aja tante Imeh masuk, kalian jangan usir dia ya!" sela Alan.


"Baik den!" satpam itu akhirnya pergi untuk memanggil Fatimeh.


Sementara kini Alan terlihat makin penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya yang sedang disembunyikan oleh mamanya itu mengenai Fatimeh, ia yakin sekali kalau ada sesuatu yang membuat Fatimeh begitu marah sampai berani mendatangi rumahnya dan berteriak seperti tadi.


"Ma, tolong mama jelasin ke aku sekarang! Sebenarnya ada apa sih ini? Gak mungkin kalau mama gak tahu, ya kan?" ucap Alan.


"Eee sebaiknya kamu masuk saja ke dalam, temani kekasih kamu itu! Biar mama disini yang temui bu Fatimeh, ya?" ucap Syera.


"Enggak ma, aku akan tetap disini. Aku mau tau apa yang mama sembunyiin dari aku," ucap Alan tegas.


Syera terdiam kebingungan, ia tak ingin tentu Alan mengetahui masa lalunya yang adalah seorang pelakor. Pastinya Alan akan sangat membenci dirinya, dan Syera tidak mau itu semua terjadi karena ia sangat menyayangi Alan meski ia tahu Alan bukanlah anak kandungnya.


"Heh Syera!" tiba-tiba saja Fatimeh menegur wanita itu, ya kini Fatimeh telah berada di hadapan mereka dan tampak sangat emosi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...