
"Yaudah, gue percaya sama lu. Lagian gak penting juga si Sahira masih ada di rumah apa enggak, palingan kan dia udah berangkat kerja," ucap Fatimeh.
"Iya sih, cuma kan saya jadi gak bisa ketemu Sahira tante," ucap Awan.
"Yah elah begitu aja sedih lu, emang mau ngapain sih lu ketemu sama anak gue? Suka lu sama dia?" ucap Fatimeh.
"Begitu deh tante, dari dulu kan saya emang udah suka sama anak tante yang cantik itu," ucap Awan.
"Hadeh, makanya lu kalo suka tuh jangan dipendam bego! Lo ungkapin dong langsung ke Sahira, biar dia gak diambil orang duluan. Tuh lihat sekarang, si Sahira udah dekat sama bosnya! Gue mah yakin mereka ada hubungan spesial," ucap Fatimeh.
"Masa sih tante? Tapi, kata Sahira dia masih single kok," tanya Awan tak percaya.
"Ya gue kagak tahu dah, intinya si Sahira lagi dekat sama bosnya itu!" jawab Fatimeh.
Awan pun memalingkan wajahnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, jujur ia takut ucapan Fatimeh benar dan kesempatannya untuk mendekati Sahira akan gagal. Terlebih ia juga lihat sendiri kalau memang Sahira sering diantar pulang oleh bosnya.
Tin Tin...
Tak lama kemudian, sebuah mobil muncul dan berhenti di depan warung itu. Seketika Fatimeh serta Awan menoleh ke arah mobil tersebut saat klakson dibunyikan, mereka terus menatap sampai menemukan seorang lelaki turun dari mobil yang tak lain ialah Saka.
"Nah, itu dia tuh bosnya Sahira yang lagi dekat sama Sahira. Gue yakin lu juga udah pernah ketemu sama dia kan?" ucap Fatimeh menunjuk Saka.
Awan hanya diam tak menggubris, sedangkan Saka sudah mendekat ke arah mereka sambil tersenyum. Saka menyapa Fatimeh serta Awan dengan ramah, tak lupa ia juga mencium tangan wanita itu sebagai tanda hormatnya.
"Halo tante! Tadi saya lihat tante tunjuk-tunjuk saya, ada apa ya tan?" ucap Saka.
Fatimeh tersenyum lebar sembari melirik wajah Awan, membuat lelaki itu mendengus kesal dan tak mau bertatapan langsung. Saka yang penasaran juga ikut menatap wajah Awan, tapi tak lama sebab ia langsung kembali menatap Fatimeh dan melanjutkan perbincangannya.
"Gapapa kok Saka, ini gue cuma ngasih tau ke si Awan kalo lu itu lagi dekat sama Sahira. Benar kan begitu?" ucap Fatimeh dengan santai.
"Eee sa-saya.."
"Udah lu gausah gugup gitu! Gue udah tahu kok lu pasti ada rasa sama anak gue. Ya wajar sih, Sahira kan cantik kayak gue jadi pasti banyak laki-laki yang naksir sama dia," sela Fatimeh.
"Terserah tante aja mau bilang kayak gimana, intinya saya datang kesini mau bicara berdua sama tante. Tante bisa kan bicara sama saya?" ucap Saka.
"Oh bisa bisa, udah lu duduk aja sini terus kita ngobrol disini!" ucap Fatimeh.
"Kayaknya jangan disini deh tante, lebih baik kita bicara berdua di tempat lain. Soalnya yang mau saya sampaikan ini menyangkut masalah pribadi tante," ucap Saka.
"Hah? Masalah pribadi apa? Lo jangan bikin gue deg-degan deh!" tanya Fatimeh.
"Ada tante, kalau tante mau tau ayo ikut saya dan kita cari tempat buat bicara berdua!" ucap Saka.
"Ah lu paling cuma mau modus aja kan? Padahal lu pengen berduaan sama gue, pake segala bawa-bawa masalah pribadi lu," cibir Fatimeh.
"Eee..." Saka sampai tak bisa berkata-kata akibat kepedean Fatimeh yang setinggi langit itu.
"Yaudah, ayo kita cabut!" ajak Fatimeh yang sudah beranjak dari kursinya.
Akhirnya Saka bersama Fatimeh pergi dari sana menggunakan mobil pria itu, sedangkan Awan ditinggal sendirian disana.
•
•
Sontak Nawal serta Alan langsung menoleh ke asal suara, dan disana lah mereka menemukan sosok Royyan berdiri menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam. Nawal pun panik dan kebingungan sendiri saat melihat Royyan disana, ia merunduk mencoba mencari alasan yang tepat.
"Maksud kamu bicara begitu ke dia apa Nawal? Kamu mau balikan lagi sama dia?" tanya Royyan pada Nawal.
"Eee kamu jangan salah paham dulu Roy! Balikan yang aku maksud disini itu sahabatan lagi gitu, kan sekarang aku sama Alan masih musuhan karena kita udah putus," jawab Nawal berbohong.
"Kamu masih bisa bohong sama aku Nawal? Padahal aku udah dengar dengan jelas yang kamu bilang ke Alan tadi," ujar Royyan.
"Apa yang kamu dengar itu gak seperti yang kamu pikirkan Roy, aku minta balikan sama Alan cuma untuk sekedar berteman kembali," ucap Nawal.
"Aku gak percaya sama kamu Nawal, aku yakin kamu minta balikan karena kamu masih cinta sama dia!" ucap Royyan menatap ke arah Alan.
"Gak gitu Roy, percaya dong sama aku!" ujar Nawal.
"Gimana caranya aku bisa percaya sama kamu? Kalau kamu aja berduaan sama Alan disini, pasti kamu emang masih cinta sama dia kan? Itu sebabnya kamu gak bolehin aku buat ikut masuk ke dalam tadi," ucap Royyan tegas.
Nawal terdiam, ia tak bisa berbicara apa-apa lagi untuk menjawab pertanyaan Royyan. Sedangkan Alan bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah sepasang kekasih itu, tampaknya Alan sudah tak tahan mendengar perdebatan diantara Nawal dan Royyan itu.
"Sudah sudah, jangan pada ribut di kantin saya! Kalian kalau mau debat, sana pergi biar gak ganggu orang-orang disini!" ujar Alan.
"Heh! Kamu itu benar-benar kurang ajar ya! Kamu udah bikin saya sama tunangan saya ini ribut, tapi kamu malah gak mau tanggung jawab. Seharusnya kamu bantu jelaskan dulu ke saya!" sentak Royyan.
"Apaan sih? Hubungan kalian itu ya urusan kalian, saya gak mau ikut campur!" ucap Alan tegas.
Alan berniat pergi dari sana dengan perasaan jengkel, namun Royyan cepat mencekal lengan pria itu dan tak mengizinkan Alan pergi begitu saja. Kedua lelaki itu pun saling tatap dipenuhi kabut emosi.
"Kenapa kamu tahan saya? Kamu tidak bisa paksa saya untuk tetap disini, lebih baik kamu lepasin saya atau saya panggil security!" ucap Alan.
"Gak, saya gak akan lepasin kamu. Kamu harus tanggung jawab karena kamu sudah bikin hubungan saya dan Nawal jadi berantakan kayak gini!" ucap Royyan tegas.
"Kamu sudah gak waras ya? Bukan saya yang salah, tapi kamu aja yang cemburuan!" ujar Alan.
"Kurang ajar!" geram Royyan.
Alan langsung menepis tangan Royyan hingga pria itu terdorong dan menabrak meja kantin, setelahnya Alan pun pergi begitu saja meninggalkan Royyan serta Nawal disana. Disaat Royyan hendak mengejar Alan, Nawal sang kekasih menahannya dan tak membiarkan pria itu pergi.
"Tunggu Royyan! Kamu tuh apa-apaan sih? Udah biarin aja Alan pergi, gak perlu dikejar!" ucap Nawal.
"Aaarrrgghhh emang sialan! Lihat aja, aku pasti bakal bikin perhitungan sama dia!" umpat Royyan.
Nawal melongok mendengarnya, ia berusaha menenangkan pria itu agar tidak terbawa emosi dan mau menurut dengannya.
•
•
Namun, sungguh naas nasibnya sebab ia malah bertabrakan dengan Alan yang baru keluar dari kantin. Beruntung Alan sigap menangkap tubuh Sahira agar tidak terjatuh ke lantai, mereka pun bertatapan selama beberapa menit disana karena saling tak menyangka dengan kejadian itu.
"Eee pak Alan? Bisa tolong lepasin saya gak pak? Gak enak dilihat sama orang-orang pak, nanti mereka mikir yang enggak-enggak lagi tentang kita," ucap Sahira.
"Ah iya, maaf." Alan langsung melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Sahira.
"Gapapa pak, saya yang harusnya minta maaf karena tadi saya jalan gak lihat-lihat," ucap Sahira.
"It's okay, kalo gitu yuk kamu ikut saya kita pake lift khusus yang gak ramai!" ajak Alan.
"Gausah deh pak, saya mah naik lift yang biasa aja. Saya gak mau nanti karyawan yang lain jadi salah paham sama saya," ucap Sahira.
"Ayolah Sahira, kamu itu gak perlu malu-malu kalo sama saya! Ikut aja sama saya ya!" paksa Alan.
"Tapi pak, beneran deh saya gak enak banget. Saya kan disini cuma karyawan, masa saya naik lift khusus atasan?" ucap Sahira.
"Kamu kan sekretaris saya, gak ada salahnya kamu ikut naik lift itu. Udah gausah banyak bicara lagi, ayo kamu ikut sama saya!" ucap Alan.
"Pak, saya gak mau jadi bahan gosip para karyawan yang ada disini," ucap Sahira.
Alan tersenyum dan maju mendekati gadis itu, ia menangkup wajah Sahira sampai membuat Sahira merasa gugup dan deg-degan. Sahira menelan saliva nya dengan susah payah, matanya terus menatap wajah Alan yang sudah sangat dekat dengannya saat ini seperti tidak ada jarak.
"Kamu dengerin saya ya, jangan perdulikan omongan orang-orang yang gak bener itu! Disini kamu kerja untuk saya, jadi seharusnya kamu dengerin saya aja jangan orang lain! Paham kamu?" ucap Alan dengan tegas.
"I-i-iya pak, saya paham. Tapi, tolong lepasin wajah saya pak!" ucap Sahira gugup.
"Kamu kenapa jadi gugup banget kayak gini dah? Kamu belum pernah emang diginiin sama laki-laki tampan seperti saya?" tanya Alan.
"Ih apa sih bapak? Saya cuma gak mau jadi bahan omongan orang-orang disini, nanti mereka pada salah paham tentang kita pak," jawab Sahira.
"Tuh kan, baru juga tadi saya bilang buat jangan perduli sama omongan mereka. Kenapa sekarang kamu malah kayak gitu lagi?" ujar Alan.
"Hehe, saya gak bisa deh kayaknya kalo gak perduli sama omongan orang," kekeh Sahira.
"Yaudah, kita langsung ke lift aja ya!" ajak Alan sambil menggandeng tangan Sahira sesudah melepaskan wajah gadis itu.
"Eh eh pak, saya bisa jalan sendiri. Gausah pake gandengan segala kayak gini ya?" ujar Sahira.
Namun, Alan sama sekali tak menggubris ucapan Sahira. Pria itu malah terus berjalan sampai tiba di depan lift, ia masih saja menggandeng tangan Sahira seolah enggan melepaskannya.
•
•
Saka membawa Fatimeh ke sebuah taman di kampung tempat tinggal wanita itu, atau biasa disebut dengan rptra. Mereka duduk pada kursi yang tersedia, kebetulan suasana disana cukup sepi sehingga mereka bisa mengobrol dengan leluasa tanpa perlu khawatir ada yang mengganggu.
"Lu itu sebenarnya mau ngobrol apa sama gue? Mau ngelamar gue ya?" tanya Fatimeh dengan percaya diri.
"Ahaha, gak tante. Kali ini saya mau bahas sesuatu yang serius sama tante, terkait apa yang tante lakukan setiap malam. Karena jujur aja saya udah dua kali lihat tante bersama pria tua waktu malam-malam," ucap Saka.
Seketika wajah Fatimeh langsung berubah panik, "Maksud lu apa sih? Lu nuduh gue kerja jadi wanita gak bener gitu? Pasti gara-gara lu juga nih, makanya si Sahira jadi curiga sama gue," ucapnya.
"Eee tante sabar dulu tante, kita bicarakan ini baik-baik ya jangan pakai emosi!" pinta Saka.
"Apa yang mau dibicarakan? Gue gak pernah sama sekali jalan sama cowok tua ya!" sangkal Fatimeh.
"Tapi tante, saya lihat sendiri kok waktu itu tante masuk ke mobil sama cowok berkumis. Saya yakin kalau itu tuh emang tante," ucap Saka.
"Hadeh, ya terserah lu aja deh mau bilang apa. Intinya gue udah kasih tahu ke lu kalau gue bukan wanita kayak gitu," ujar Fatimeh.
Fatimeh emosi dan bangkit dari duduknya, ia berniat pergi meninggalkan Saka karena sudah malas berbincang dengan pria itu lagi. Tapi tentu Saka tak membiarkan Fatimeh pergi lebih dulu, ia ikut bangkit menahan wanita itu dan memintanya tetap disana sebentar.
"Tunggu dulu tante, tolong tante jangan kemana-mana dulu!" pinta Saka.
"Lo mau apa lagi sih, ha? Gak cukup yang gue bilang tadi? Gue bukan perempuan malam seperti yang lu sangka, jadi stop bilang gue main sama om-om!" tegas Fatimeh.
"Iya tante, saya minta maaf deh karena sudah tuduh tante. Kalau emang itu bukan tante, okay saya berarti salah lihat," ucap Saka.
"Yaudah, lepasin gue dong!" ucap Fatimeh.
"Sebentar aja tante, saya mau bicara sama tante. Saya masih ada sesuatu yang mau saya tunjukkan ke tante," ucap Saka.
Fatimeh mengusap wajahnya dan berkata, "Lo mau tunjukin apa lagi Saka? Gue lama-lama malas deh bicara sama lu, dasar aneh."
"Ini serius tante, tolong duduk dulu biar saya bisa kasih lihat sesuatu yang saya punya!" ucap Saka.
Fatimeh menghela nafasnya, ia pun menurut dan duduk kembali di bangku bersama Saka. Ia menatap wajah pria itu seolah meminta dan bertanya apa yang akan ditunjukkan oleh lelaki itu.
"Mana lu mau tunjukin apa?" tanya Fatimeh.
Saka tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Saka pun menunjukkan sebuah foto yang ia ambil semalam saat berada di bar kepada Fatimeh, seketika wanita itu terkejut dan tak menyangka bahwa Saka memiliki foto dirinya yang tengah bersama seorang pria tua.
"Gimana tante? Ini benar tante kan? Saya gak sengaja semalam lihat tante disana, jadi langsung saya foto aja buat jadi bukti," ujar Saka.
Fatimeh pun menatap tajam ke arah Saka, ia emosi dan geram sebab Saka seolah-olah hendak menjatuhkannya. Ia juga bingung harus bagaimana saat ini menghadapi pria itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...