Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 55. Balikan aja


Sahira masih tak percaya mendengarnya, ia kembali menatap Saka yang saat ini sudah berada tepat di depannya. Saka sendiri terlihat bingung mengapa kedua gadis itu keheranan melihatnya, meskipun ia juga heran kenapa Sahira bisa bersama Wati saat ini.


"Hai! Ini kalian berdua ternyata saling kenal? Saya gak nyangka loh," ujar Saka.


"Pak, apa benar bapak yang semalam tolong Wati dan borong semua dagangannya?" tanya Sahira pada intinya.


"Ya betul, saya baru ketemu sama Mira semalam. Emangnya kenapa Sahira?" jawab Saka.


"Gapapa pak, apa betul juga kalau bapak ajak Wati ke bar semalam?" tanya Sahira lagi.


Saka tersenyum dan mencolek pipi Sahira, "Iya benar cantik, saya minta Mira temani saya minum di bar. Tapi, kita gak minum alkohol kok. Kenapa kamu kelihatan tegang begitu Sahira?" ujarnya.


"Saya gak percaya aja, kok bapak bisa bawa teman saya ini ke bar?" ucap Sahira.


Saka terdiam sesaat sambil terus memandangi wajah Sahira dan juga Wati, ia masih berpikir bagaimana caranya menjelaskan semua pada Sahira.


"Emangnya salah ya? Toh saya kan cuma ajak dia minum, gak yang aneh-aneh. Lagian Mira juga gak kenapa-napa kok," ucap Saka.


"Ya emang sih, tapi kan tetap aja yang namanya bar itu tempat gak aman buat perempuan kayak Wati. Saya takut aja dia kena masalah," ujar Sahira.


"Kamu gak perlu khawatir, semalam saya jaga dia kok dengan baik. Buktinya sekarang dia bisa ada di hadapan kamu tanpa terluka," ucap Saka.


"Iya Sahira, gue gapapa kok. Saka tuh baik banget sama gue semalam, tapi gue masih bingung deh kenapa lu bisa kenal sama Saka?" sahut Wati.


"Pak Saka ini kakaknya bos di tempat gue kerja, ya hitungannya dia bos gue juga," jawab Sahira.


"Oalah, dunia sempit banget dong ya? Gue bisa kenal sama Saka yang ternyata kakak bos lu," kaget Wati.


"Ya gitu deh, gue juga gak nyangka kalau ternyata kalian bisa ketemu dan malah saling berduaan di bar semalam," ucap Sahira terkekeh.


Tiba-tiba saja Saka meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya erat, membuat sang empu terkejut lalu reflek menoleh ke arahnya. Sedangkan Wati yang ada disana hanya terdiam mengamati tindakan pria di dekatnya.


"A-ada apa ya pak?" tanya Sahira tampak gugup.


"Saya mau bicara sama kamu Sahira, kita ke mobil saya sekarang yuk!" ajak Saka.


"Eee bicara soal apa?" tanya Sahira penasaran.


"Nanti saya jelaskan di mobil, kamu ikut aja dulu sama saya sekarang!" pinta Saka dengan sedikit memaksa.


"I-i-iya pak, yaudah Wati gue mau berangkat dulu ya? Sampai ketemu lagi nanti!" ucap Sahira pamit pada Wati.


"Okay, hati-hati ya di jalan Sahira!" ucap Wati melambaikan tangan.


Setelahnya, Sahira pergi bersama Saka menuju tempat mobil pria itu berada. Sedangkan Wati hanya tersenyum dan lanjut melangkah sambil mendorong sepedanya, Wati sedikit kecewa saat mengetahui ternyata Saka adalah orang yang cukup dekat dengan Sahira.


Kini Sahira telah berada di dalam mobil bersama Saka, ia duduk di kursi depan dengan Saka tepat di sampingnya. Sahira masih penasaran apa yang hendak dibicarakan pria itu padanya, akhirnya ia menoleh lalu bertanya lebih dulu pada Saka karena sudah tidak tahan lagi.


"Pak, sebenarnya apa sih yang bapak mau omongin sama saya?" tanya Sahira penuh rasa penasaran.


Saka menoleh sambil tersenyum, "Ya Sahira, saya mau sampaikan sesuatu ke kamu. Tapi, kamu jangan kaget ya Sahira!" ucapnya.


Saka hanya tersenyum dan kembali menatap ke jalan, sungguh Sahira dibuat kesal sekaligus penasaran saat ini.




Alan langsung beranjak pergi dari sana menuju lift. Pria itu terlihat cukup emosi karena Nawal lagi dan lagi datang ke kantornya. Alan pun menaiki lift, bergerak cepat dengan perasaan kesal untuk segera bisa menemui Nawal di ruangannya. Ia sudah tak tahan lagi, Nawal memang harus diberi ketegasan bahwa dia tidak bisa datang kesana seenaknya.


Sesampainya di depan ruangan, Alan berhenti sejenak untuk mengambil nafas sebelum menaruh tangannya pada gagang pintu. Pria itu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, Nawal yang tengah terduduk santai pun terkejut lalu menoleh begitu Alan masuk kesana.


"Eh Alan, akhirnya kamu datang juga. Udah lama loh aku nungguin kamu," ucap Nawal tersenyum.


"Nawal, kamu ngapain sih ada disini? Diantara kita itu udah gak ada apa-apa," ujar Alan.


"Terus kalau emang kita udah putus kenapa? Apa aku gak boleh datang kesini?" tanya Nawal.


"Jelas enggak lah, kalau kamu datang kesini itu bikin aku makin susah buat lupain kamu!" jawab Alan dengan tegas.


Seketika Nawal terdiam, ada rasa bahagia di hatinya mengetahui bahwa Alan masih belum sepenuhnya melupakan dirinya. Namun, ia juga sadar bahwa hubungannya dan Alan tak akan pernah bisa kembali seperti dulu.


"Oh berarti kamu sampai sekarang belum bisa lupain aku ya Alan? Segitu cintanya kamu sama aku atau gimana sih?" tanya Nawal dengan ekspresi menggoda.


"Kamu biasa aja kali, gausah sok seksi kayak gitu! Jangan bikin aku kelewat batas nantinya!" pinta Alan.


"Emangnya kamu mau apa Alan? Selama pacaran kamu aja gak berani tuh ngapa-ngapain aku, apalagi sekarang pas kita udah putus. Makanya aku berani buat goda kamu," ujar Nawal.


Alan menggeleng pelan, "Dasar aneh kamu! Justru karena kita udah gak ada hubungan, aku jadi bisa lakuin hal yang buruk ke kamu karena aku gak perlu jaga kamu lagi," ucapnya.


"Ih kok gitu sih Alan? Gimana kalau kita balikan aja? Toh kamu juga masih cinta sama aku kan? Emang lebih pantas itu ya kita balikan," usul Nawal.


"Jangan ngaco deh! Kamu kan udah dijodohin sama laki-laki lain," ucap Alan.


"Asal kamu tahu Alan, aku gak cinta sama Royyan. Aku cintanya cuma sama kamu, makanya aku minta kamu buat balikan," ucap Nawal.


Alan bergerak mendekat ke arah Nawal, satu tangannya mendarat di wajah sang mantan dan perlahan mengusapnya. Nawal tersenyum saat mendapat perlakuan seperti itu dari Alan, ia senang dan berharap Alan mau menerimanya kembali sebagai kekasih.


"Kamu cantik banget Nawal, jujur aja aku juga gak bisa lupain kamu. Andai bisa, aku pasti mau kamu jadi istri aku Nawal. Tapi, semuanya sekarang hanya tinggal kenangan," ucap Alan.


"Maksud kamu gimana sih? Aku kan ajak kamu balikan, berarti masih ada harapan dong buat kita bersatu lagi seperti dulu. Ayolah, kamu gausah malu-malu begitu Alan!" ucap Nawal.


Tangan Nawal meraih telapak tangan Alan yang berada di wajahnya, lalu ia genggam dengan erat sambil terus tersenyum menatap wajah sang mantan. Nawal juga memajukan langkahnya lebih dekat pada Alan dan sedikit berjinjit, Alan merasa gugup ketika Nawal memajukan bibirnya seolah hendak mengajak berciuman.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar, membuat Alan terkejut bukan main dan ia reflek menjauh dari tubuh Nawal. Sontak raut wajah Nawal berubah kesal, apalagi saat Alan pergi meninggalkannya begitu saja.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...