
"Saya ini harus tegas Sahira, saya kan bos!" ucap Alan.
"Ya saya tahu pak, saya kan cuma minta bapak gak bersikap kasar seperti awal saya datang kesini. Bapak memang harus tegas, tapi gak sampai menindas saya juga," ucap Sahira.
"Emang kapan saya tindas kamu? Kamu ini jangan melebih-lebihkan ya!" elak Alan.
"Huft, terserah pak Alan deh. Sekarang bapak masih marah gak nih sama saya?" tanya Sahira.
"Loh saya gak marah sama kamu kok, memangnya sejak kapan saya marah sama kamu Sahira?" jawab Alan terheran-heran.
"Ah masa sih bapak gak marah ke saya? Terus tadi kenapa bapak pergi duluan ninggalin saya hayo?" tanya Sahira memancing.
"Itu karena saya buru-buru aja pengen ke ruangan saya, emang salah ya?" jawab Alan.
"Eee ya gak salah sih pak, tapi seenggaknya bapak ngomong dulu kek gitu ke saya biar saya gak salah paham jadinya," ujar Sahira.
"Harus?" tanya Alan singkat.
"Ya enggak juga, tapi kan—"
"Sahira!" ucapan wanita itu terpotong ketika namanya disebut oleh seseorang dari belakangnya.
Sahira sontak menoleh dan menemukan Saka berdiri disana memandang ke arahnya, melihat pria itu datang membuat Alan semakin geram menandakan bahwa ia tidak suka kakaknya terus-terusan mendekati Sahira. Bahkan tanpa sadar, kini tangan Alan sudah sepenuhnya terkepal menahan emosi.
"Eh pak Saka, iya pak kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sahira penasaran.
Saka melangkah mendekati Sahira dan Alan, ia tersenyum ke arah gadis itu sambil membelai rambut bagian depan Sahira yang tentu saja semakin membuat Alan geram.
"Hari ini kamu tambah cantik aja ya Sahira? Saya sampai gak ngira kalau tadi itu kamu loh," ucap Saka memuji kecantikan gadis di depannya.
"Ah bapak bisa aja, terimakasih banyak pak atas pujiannya. Iya sebetulnya hari ini saya memang dandan agak berbeda dari kemarin-kemarin sih pak, jadi saya senang kalau semuanya bisa suka sama dandanan saya," ucap Sahira tersenyum.
"Pasti dong, saya suka banget sama penampilan kamu yang kayak gini. Kamu kelihatan lebih cantik dan anggun dari biasanya," ucap Saka.
"Ehem ehem.." Alan berdehem membuat keduanya sama-sama terkejut.
Sontak Saka beralih menatap adiknya itu, ia tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan. "Lu kenapa Alan? Gak senang ya lihat gue sama Sahira akrab?" ujarnya mengejek.
"Jelas gue gak suka, Sahira itu harus kerja. Jadi, lu gak boleh gangguin dia!" tegas Alan.
"Okay, gue gak ganggu dia kok. Gue kesini cuma mau bicara sama dia," ucap Saka.
"Oh ya? Bicara apa? Kalau gak penting mending jangan deh, daripada cuma ganggu waktu Sahira kerja!" ketus Alan.
"Kok lu jadi protektif gitu sama Sahira? Bukannya dulu lu gak mau ya dia kerja disini?" heran Saka.
"Harus dong, Sahira kan karyawan gue. Dia disini itu kerja sama gue, jadi ya gue berhak buat larang dia ini itu kalau lagi waktu kerja. Gue yakin sebagai penasehat lu jauh lebih tau soal itu, jadi lu jangan lagi dah tuh ganggu Sahira!" ucap Alan.
Sahira benar-benar bingung, sedari tadi ia terus beralih menatap wajah Alan maupun Saka secara bergantian. Sampai ia memutuskan angkat bicara untuk menengahi keduanya.
"Ih udah dong, jangan pada ribut! Masa kakak adik berdebat karena hal sepele sih?" ujar Sahira.
"Sepele kamu bilang? Ini bukan hal sepele Sahira, kamu jangan anggap remeh ya yang kayak gini ini!" ucap Alan tegas.
"I-i-iya pak," gugup Sahira.
Saka menggeleng, lalu pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Kali ini Alan yang tersenyum penuh kemenangan melihat abangnya pergi, sedangkan Sahira hanya kebingungan sekaligus merasa tidak enak pada Saka.
•
•
"Huh panas banget sih Jakarta siang ini! Tapi giliran hujan gak berhenti-henti, sampe bikin jalanan banjir dimana-mana," gumam Wati.
Tiba-tiba saja, seseorang muncul dan menegurnya. Sontak Wati terkejut dan reflek menurunkan kakinya dari kursi itu lalu coba membersihkannya dengan telapak tangan, namun pria itu mencegahnya dan mengatakan kalau dia tidak masalah dengan apa yang Wati lakukan tadi.
"Udah gapapa, gak perlu dibersihin juga kali. Aku udah biasa duduk di tempat umum kayak gini," ucap pria itu sambil tersenyum.
"Oh gitu ya? Yaudah, silahkan aja kamu duduk kalo gitu!" ucap Wati.
"Iya." pria itu mengangguk dan lalu duduk di sebelah Wati, sedangkan Wati sudah bergeser agak menjauh sembari terus mengipas-ngipas.
"Eee kamu jualan bunga ya?" tanya si pria saat melihat sepeda Wati yang dipenuhi bunga.
"Eh iya nih, kebetulan panas jadi aku mau istirahat dulu gitu niatnya sebentar," jawab Wati.
"Oalah, cantik-cantik ya bunganya? Sama kayak yang jual," ujar si pria.
"Ahaha, bisa aja masnya!" Wati terkekeh untuk menutupi rasa malunya.
"Namaku Ari, jadi panggil Ari aja gausah pake kata mas!" ucap si pria.
"Iya mas Ari," singkat Wati dengan malu-malu.
"Kalau kamu sendiri namanya siapa? Aku boleh tau kan?" tanya Ari penasaran.
"Saya Mira, mas." Wati menjawab pelan.
Ari sampai melongok mendengar nama gadis itu, ya karena ia kurang mendengar suara Wati yang terlalu pelan. Meski begitu, Ari tahu bahwa Wati menyebutkan nama Mira. Hanya saja Ari ingin sedikit modus sekaligus mengerjai gadis itu, sebagai lelaki ia memang harus begitu.
"Apa? Aku kurang dengar nih, kamu bisa ngomong ulang gak nama kamu siapa?" pinta Ari sambil mendekati wajahnya ke wajah Wati.
"Nama saya Mira, mas Ari yang baik." Wati mengulang kalimatnya dengan lebih keras.
"Oh Mira? Waw nama kamu itu sama cantiknya dengan wajah kamu, salam kenal ya Mira yang cantik!" ucap Ari memuji gadis itu.
Wati pun tersipu malu, "Makasih mas, masnya juga ganteng kok." balasnya dengan malu-malu.
"Hahaha, kalo gitu berarti kita pas dong ya? Kamu cantik aku ganteng, kenapa kita gak jadian aja gitu biar kayak orang-orang?" sarkas Ari.
Wati terkejut sampai melotot menatap wajah Ari, ia tak percaya jika baru saja ia ditembak oleh orang yang baru dikenalnya. Sedangkan Ari sendiri justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Wati yang terlalu polos, dia yakin kalau Wati ini gadis desa yang memang berbeda pergaulan dengan para wanita lainnya.
"Kamu tuh lucu banget sih, gausah kaget gitu kali Mira! Aku tadi cuma bercanda, yakali aku ngajak pacaran cewek yang baru aku kenal. Gak mungkin dong Mira?" kekeh Ari.
"Eee iya mas, saya juga tahu kok masnya cuma bercanda. Soalnya mas daritadi ketawa terus, tapi tetap aja saya kaget dengarnya," ucap Wati.
"Hahaha, boleh aku lihat gak dagangan kamu? Barangkali ada yang cocok, terus saya bisa beli buat pacar saya nanti," ucap Ari.
"Oh masnya udah punya pacar?" tanya Wati.
"Iya udah, namanya Keira dan dia kerja di salah satu perusahaan besar dekat sini. Ini saya tadinya mau ajak dia makan siang bareng, eh tapi dianya gak bisa karena terlalu sibuk," jawab Ari.
"Ohh, pasti sakit ya mas pacaran sama orang yang sibuk? Jadi gak ada waktu buat kita?" ujar Wati.
"Ya gitu deh, namanya juga hubungan." Ari berkata sambil terkekeh kecil.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...