Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 73. Panggil mas


Fatimeh terkekeh pelan sembari mengusap rambut putrinya, Saka pun ikut tertawa kecil melihat reaksi lucu Sahira yang malu-malu saat ini. Baginya, Sahira terlihat begitu menggemaskan saat sedang bertingkah seperti ini, ia jadi lebih menyukai gadis itu dan tak ingin berhenti menatapnya.


"Eee tante, kalo gitu saya pamit dulu ya sama Sahira? Kayaknya sekarang udah waktunya deh buat kita dinner," pamit Saka.


"Oh iya iya, silahkan aja kalian pergi! Semoga lancar ya first date kalian!" ucap Fatimeh.


"Aamiin, tante tenang aja nanti kita pasti bawain makanan juga kok buat tante! Biar tante bisa rasain kebahagiaan kita," ucap Saka.


"Ya itu sih emang harus wajib kalian bawain makanannya juga buat saya!" kekeh Fatimeh.


"Hahaha..." mereka tertawa bersamaan, meski sebenarnya Sahira sangat malu.


Lalu, Saka menggandeng tangan Sahira dan menuntunnya berjalan menuju mobil. Mereka berdua memasuki mobil dan duduk berdua di kursi depan, tangan mereka masih tetap menyatu bahkan Saka tak henti-hentinya menatap wajah Sahira dari tempatnya duduk saat ini.


"Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu! Saya kan jadi malu tau," ucap Sahira.


"Maaf Sahira, tapi sepertinya saya gak bisa berpaling dari kamu. Wajah kamu sangat cantik dan menarik untuk dilihat, saya gak mungkin menyia-nyiakan itu," ucap Saka.


Sahira tersipu dan memalingkan wajahnya, ia menunduk malu dengan tangan saling menyatu. Saka yang ada di sebelahnya pun bergerak mendekat, satu tangannya menarik dagu Sahira dan menatapnya dari jarak dekat. Suasana jantung Sahira amat gugup, bahkan nafasnya sudah tak beraturan akibat perlakuan Saka ini.


"Sahira, kamu.." perlahan Saka mendekati wajahnya dan membuat Sahira terpejam seolah tahu apa yang akan dilakukan pria itu.


TOK TOK TOK...


Namun, sebuah ketukan di kaca mobilnya membuat mereka berdua reflek terkejut. Sahira pun mendorong tubuh Saka menjauh darinya, ia tidak mau seseorang di luar itu tahu apa yang baru saja ingin mereka lakukan, mungkin mereka akan dituduh berbuat yang tidak-tidak disana.


"Duh, siapa sih itu? Ganggu aja deh, baru juga kita mau cabut!" kesal Saka.


"Dibuka aja kacanya, pak. Soalnya dari sini kurang jelas juga mukanya," usul Sahira.


"Iya iya.." Saka mengangguk dan membuka kaca mobil tersebut.


Tampaklah sosok Awan berdiri disana dengan bunga yang ia bawa dan senyum di wajahnya, pria itu membungkuk sedikit lebih dekat ke arah Sahira yang kebetulan tepat berada di hadapannya. Sedangkan Sahira merasa gugup, ia khawatir terjadi keributan diantara kedua lelaki itu.


"Hai Sahira! Kamu mau pergi kemana sama bos kamu?" sapa Awan.


"Eee bang Awan ada apa ya? Kalau mau ketemu ibu, ada di dalam kok. Kebetulan aku sama pak Saka ada urusan di luar," ucap Sahira gugup.


"Oh gitu, urusan apa emangnya malam-malam begini? Terus gak biasanya loh kamu pakai pakaian kayak gini, pasti bukan pengen ngurusin pekerjaan kan?" ucap Awan menaruh curiga.


"Ah itu anu eee.." Sahira kebingungan menjawabnya, ia hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal sambil terus berpikir.


"Kami mau dinner berdua," sela Saka yang tiba-tiba mendekat dan memeluk Sahira di hadapan Awan sembari tersenyum lebar.


Deg!


"Apa??" Awan terkejut bukan main mendengarnya.


Sahira pun menatap wajah kekasihnya dan tampak tak setuju dengan apa yang dikatakan Saka barusan, menurutnya Saka terlalu terburu-buru dalam memberitahu tujuan asli mereka pergi malam ini. Namun, Saka seolah tak perduli dan menganggap bahwa apa yang ia lakukan itu benar.




Tapi tampaknya Sahira masih saja memikirkan tentang perasaan Awan yang tadi terlihat sangat murung setelah mengetahui hubungan mereka saat ini, entah kenapa Sahira merasa tak tega pada Awan sebab pria itu adalah sahabatnya sejak lama yang selalu menemaninya dari kecil hingga tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang ini.


"Sahira sayang, kamu lagi mikirin apa sih? Pacar kamu disini loh, kenapa kamu malah nunduk aja?" tanya Saka menegur gadisnya.


"Eh eee i-i-iya pak, saya minta maaf. Saya masih kepikiran aja sama bang Awan, saya khawatir dia bakal berbuat nekat karena saya lihat tadi dia sedih banget pak," jawab Sahira.


"Kamu perduli banget ya sama dia? Ayolah Sahira, jangan mikirin laki-laki lain saat sedang sama saya!" ujar Saka.


Sahira menggeleng dengan cepat, "Gak gitu pak, saya cuma gak pengen aja kalau bang Awan nekat ngelakuin sesuatu yang di luar nalar gitu. Bapak ngerti kan sama kekhawatiran saya?" ujarnya.


"Ya ya ya, itu sama aja kamu perduli sama dia sayang. Dan satu lagi, bisa gak kamu berhenti panggil saya pak?!" tegas Saka.


Glek


Sahira merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang saat itu juga, terlebih Saka justru mendekat lalu membelai rambut serta wajahnya dari jarak yang hanya beberapa senti saja. Sahira pun tak mengerti harus bagaimana, pasalnya ia belum berpengalaman dalam hal menjalin hubungan spesial sebelumnya.


"Te-terus sa-saya panggil bapak apa dong? Saya kan udah terbiasa kayak gitu, jadi susah buat ubahnya. Tapi, kalau emang bapak gak suka nanti saya usahakan kok," ucap Sahira gugup.


"Bagus, kamu usahakan panggil saya dengan sebutan mas ya!" pinta Saka.


"Mas?" Sahira terkejut dan matanya terbelalak.


"Iya, mas. Itu tuh panggilan yang cocok buat kamu ke saya, karena itu juga lebih baik dibanding kamu panggil saya pak," ucap Saka.


"Oh gitu ya pak? Yaudah deh, saya mau coba usaha panggil bapak pake sebutan mas," ucap Sahira.


"Yaudah, kamu jangan panggil saya bapak terus dong Sahira! Bosen tau!" ujar Saka.


"Saya kan masih belajar pak, jadi bapak maklum dong. Nanti lama-lama juga saya terbiasa buat enggak panggil pak lagi ke bapak," ucap Sahira.


"Belajar sih belajar, tapi dari sekarang dong Sahira! Jangan malah kamu keterusan panggil saya pak kayak gitu, berasa tua banget saya!" ucap Saka.


"Hehe, iya pak saya coba deh nanti," ucap Sahira.


Saka menggeleng pelan sembari memegangi keningnya, lama-kelamaan ia kesal juga karena Sahira tak kunjung mengerti apa yang ia inginkan dan malah terus memanggilnya dengan sebutan 'pak'. Sahira sendiri juga merasa tidak enak pada sang kekasih, akhirnya ia pun mencoba untuk menuruti kemauan pria itu.


"Mas Saka, jangan marah dong! Nanti kalau mas marah-marah kayak gitu, bisa cepet tua tau. Emang mau saya panggil kamu bapak lagi karena kamu sudah tua?" kekeh Sahira.


Saka tersenyum mendengarnya, ia reflek mencubit pipi Sahira dengan gemas dan membuat gadis itu tertawa kecil. Sungguh suasana yang jarang sekali Sahira dapatkan selama ini, ya sebab Sahira memang lebih mementingkan keluarganya dibanding kebahagiaan dirinya sendiri.


"Oh ya Sahira, saya ada sesuatu buat kamu yang mau saya tunjukkan," ucap Saka tiba-tiba.


Sahira seketika berubah kaget, ia penasaran sekali apa yang hendak diberikan lelaki itu padanya. Sedangkan Saka tampak mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan meletakkannya di meja, membuat Sahira tambah penasaran.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...