
Sahira semakin gugup, tatapan dingin pria itu benar-benar membuatnya bertingkah tak karuan, terlebih ia baru sadar kalau ternyata Alan sudah memperhatikannya sedari tadi saat ia berdiri di depan ruangan Alan tanpa mengetuk pintu, sungguh Sahira merasa malu saat ini.
"Ada apa kamu ke ruangan saya? Gausah takut gitu, saya gak gigit kok!" tanya Alan.
"I-i-iya pak, saya cuma mau kasih berkas yang harus bapak tandatangani," jawab Sahira.
"Ohh, yasudah bawa masuk ke ruangan saya! Sekalian saya mau bicara empat mata sama kamu Sahira," perintah Alan.
"Tapi pak, saya—"
"Udah gausah banyak tapi tapi, ayo ikut saya dan kita bicara di dalam!" sela Alan yang langsung menarik paksa lengan Sahira.
Pria itu pun membawa sekretarisnya ke dalam, mereka duduk berdampingan pada sofa yang tersedia dengan tangan Alan masih mencengkram kuat lengan Sahira. Gadis itu meringis menahan sakit cengkraman Alan pada lengannya, ia berusaha meminta Alan melepaskannya.
"Pak, tolong lepasin tangan saya pak! Lama-lama sakit juga dicengkeram kayak gini, lagian saya kan juga cuma mau serahin berkas-berkas ini pak," ucap Sahira grogi.
"Emangnya sakit ya? Perasaan saya gak terlalu keras cengkramnya, kamu jangan bohongi saya deh supaya bisa keluar dari sini!" ucap Alan.
"Buat apa saya bohong pak? Tuh lihat aja lengan saya sampe merah, itu tandanya sakit pak. Tolong lepasin dong pak, please!" ucap Sahira.
Alan menggeleng dan akhirnya melepas lengan Sahira setelah menyadari bahwa perkataan gadis itu benar adanya, Sahira langsung menyerahkan berkas di tangannya kepada Alan agar ia bisa segera pergi dari ruangan itu dan kembali ke tempatnya.
"Ini pak berkasnya, nanti saya ambil lagi kalau bapak sudah tandatangani semuanya," ucap Sahira.
"Ya Sahira, itu urusan mudah kok. Sekarang saya mau bicara dulu sebentar sama kamu, saya minta kamu jawab dengan jujur!" ucap Alan.
"Memangnya bapak mau bicara soal apa sih?" Sahira penasaran sekali dibuatnya.
"Saya lihat-lihat tadi kamu kasih makanan ke Saka, itu maksudnya apa ya? Kamu ada hubungan spesial sama dia?" tanya Alan.
Sahira melotot lebar, ia terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alan barusan padanya. Ia juga tak menyangka kalau ternyata Alan melihat kejadian saat ia tadi memberikan sarapan untuk Saka, ia pun bingung harus menjawab apa saat ini.
"Hey, kenapa malah diam? Saya tanya itu dijawab, atau saya cengkram lagi nih tangan kamu?" tegur Alan.
"Ma-maaf pak, saya bingung aja mesti jawab apa. Soalnya saya sama pak Saka gak ada hubungan spesial kok pak," ucap Sahira.
"Ah masa? Terus apa maksudnya kamu kasih makanan ke dia? Sedangkan ke saya yang bos kamu aja, kamu gak pernah tuh kasih makanan kayak gitu," ujar Alan.
"Ohh bapak mau juga? Yaudah, besok saya siapin sarapan buat bapak deh ya?" ucap Sahira.
Alan menggeleng pelan, "Bukan itu yang saya maksud Sahira, kamu tuh jangan berlagak polos deh di depan saya!" ucapnya tegas.
"Gimana sih pak? Saya emang beneran gak ngerti loh, buat apa saya pura-pura polos?" ucap Sahira.
"Kamu ngaku aja ke saya kalau kamu memang ada hubungan sama Saka!" ucap Alan.
"Saya berani sumpah pak, saya dan pak Saka itu gak ada hubungan apa-apa. Kenapa sih bapak curiga banget sama saya kayak gitu? Bapak cemburu?" ujar Sahira.
Alan melotot terkejut, memang benar ia cemburu dan tak menyukai kedekatan Sahira dan Saka. Namun, pria itu terlalu gengsi untuk mengatakannya pada Sahira sehingga ia hanya bisa diam memalingkan wajahnya dan membuat Sahira terheran-heran.
•
•
"Om!" Nawal memanggil Alfian dengan antusias disertai raut wajah sedihnya.
"Eh Nawal, kamu udah duluan aja disini. Pasti kamu mau ketemu sama Alan kan?" ujar Alfian.
"Iya om bener banget, tapi sayangnya Alan udah gak mau ketemu lagi sama aku om. Dia tadi malah usir aku dan bilang supaya aku gak kembali lagi kesini," ucap Nawal dengan nada dibuat-buat.
"Apa? Kurang ajar sekali Alan itu, bisa-bisanya dia usir pacarnya sendiri yang sebentar lagi akan jadi istrinya!" ucap Alfian menggeleng heran.
"Itu dia om, aku juga bingung kenapa sikap Alan jadi berubah gini sama aku gak kayak dulu," ucap Nawal.
"Kamu tenang ya sayang! Nanti om pasti akan bicara lagi sama anak itu, om juga gak suka dia begini sama kamu sayang. Sekarang kamu ikut om yuk temuin dia!" ucap Alfian.
"Beneran om? Tapi, aku takut Alan gak suka dan malah marah-marah lagi nanti," ucap Nawal.
"Tenang aja, kan ada om yang temenin kamu. Om itu maunya Alan nikah sama kamu Nawal, bukan sama yang lain," ucap Alfian.
"Aku juga maunya gitu om, tapi kayaknya Alan udah gak suka lagi deh sama aku," ucap Nawal.
"Kamu tahu darimana soal itu sayang? Emangnya dia bilang begitu?" tanya Alfian.
"Aku dengar sendiri om, tadi Alan bilang kalau dia itu sekarang suka sama wanita lain yang gak lain sekretarisnya sendiri om," jawab Nawal.
"Hah? Kamu serius Nawal? Masa iya Alan suka sama sekretarisnya?" kaget Alfian.
"Ya awalnya aku juga kaget om, tapi kenyataannya emang begitu," ucap Nawal sambil merengut.
Alfian benar-benar tak percaya jika putranya itu tega mengkhianati Nawal, padahal ia sudah sangat percaya jika hubungan mereka akan terus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Alfian pun berjanji pada Nawal akan berbicara pada Alan dan membuat pria itu menyesal.
"Yasudah, ayo sayang ikut om ke ruangan Alan!" ajak Alfian.
"Iya iya om," Nawal mengangguk cepat menyetujui perkataan Alfian dan mengikuti pria itu menuju ruangan Alan.
Sesampainya di depan ruangan Alan, mereka langsung saja berniat masuk ke dalam sana. Alfian dengan cekatan membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu, Nawal pun juga ikut saja dengan pria itu karena ia sudah tak sabar ingin bertemu Alan disana.
Ceklek
Begitu pintu dibuka, Alfian serta Nawal dibuat kaget saat melihat Alan tengah berdua bersama Sahira di dalam sana dan terduduk di sofa sambil terlihat sangat dekat. Alfian menggeleng tak percaya, ternyata putranya itu memang ada hubungan khusus dengan sekretarisnya sendiri.
"Alan!" bentak Alfian disertai mata yang melotot tajam ke arah putranya tersebut.
Sontak Alan serta Sahira menoleh secara bersamaan ke asal suara itu, mereka sangat syok melihat keberadaan Alfian disana. Mereka bahkan langsung bangkit dari sofa menatap wajah Alfian seolah-olah tak percaya, tanpa sadar tangan mereka masih saling bertaut dan membuat Alfian berpikir yang tidak-tidak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...