Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 143. Selingkuh?


Sahira baru kembali dari membeli sarapan dan kini ia tiba-tiba saja teringat pada pekerjaan yang sudah lama ia lupakan. Sahira pun merasa tidak enak pada Saka, karena pria itu telah memberinya pekerjaan yang enak dan ia malah dengan santainya pergi tanpa mengabari.


"Duh, kira-kira gimana ya sama pekerjaan aku? Rasanya aku gak enak sama mas Saka, dia kan udah bela-belain kasih pekerjaan buat aku sejak aku dipecat dari kantor Alan," lirih Sahira.


"Eh Sahira, dah balik lu?" tiba-tiba, Fatimeh muncul dari dalam rumahnya dan bergerak menemui putrinya yang masih terdiam disana.


"I-i-iya Bu, ini baru aja aku kembali. Tadi tempat nasi uduknya ternyata agak jauh, aku sampai harus muter-muter buat nyari. Ya untungnya kita masih kebagian dua bungkus," ucap Sahira.


"Ya syukurlah, yaudah yuk masuk kita makan sama-sama!" ajak Fatimeh.


Sahira mengangguk saja mengikuti kemauan ibunya, lalu mereka berjalan memasuki rumah dan bersiap melakukan sarapan bersama. Namun, Sahira masih saja memikirkan Saka serta pekerjaan yang telah lama ia tinggalkan. Jujur Sahira sangat tidak enak dengan itu, karena ia merasa telah mengecewakan Saka.


"Eh Sahira, lu tuh kenapa bengong terus sih? Daritadi gue lihat lu kayak lagi mikirin sesuatu, ada apaan sih, ha?" tanya Fatimeh menegur putrinya.


"Umm, gak ada kok bu. Aku cuma kepikiran sama pekerjaan aku di kantornya mas Saka, aku ngerasa gak enak aja karena aku main pergi tanpa pamit atau kasih tau mas Saka," jawab Sahira.


"Ya ampun, jadi karena itu lu bengong terus daritadi? Udah deh Sahira, mending lu lupain si Saka itu dan mulai hidup baru!" ujar Fatimeh.


"Tapi gimana, bu? Aku gak mungkin bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dalam waktu singkat, pastinya aku butuh waktu. Dan lagi kita kan harus cari uang buat biaya hidup," ucap Sahira.


"Terus maksudnya, lu pengen balik kerja di tempat si Saka gitu?" tanya Fatimeh.


"Eee..." Sahira terlihat gugup saat hendak menjawabnya, ia bingung dan tak tahu harus mengatakan apa pada ibunya.


"Udah, lu gausah mikirin soal kerjaan dulu! Sekarang mending kita makan, lagian lu kan bisa cari kerja di tempat lain nanti!" ucap Fatimeh.


"Dimana bu? Apa ada perusahaan yang mau terima aku? Aku ini gak profesional loh," ucap Sahira.


"Insyaallah ada, udah yuk kita makan!" Fatimeh coba menenangkan putrinya sembari terus mengusap punggungnya lembut.


"Iya bu, aku bakal coba buat lupain semua itu deh walau sulit," ucap Sahira lirih.


Baru saja mereka hendak melanjutkan langkah menuju meja makan, namun kemudian sebuah mobil muncul dan berhenti begitu saja di depan rumah mereka yang membuat keduanya tidak jadi melangkah ke dalam. Sahira bahkan berbalik, ia terbelalak lebar melihat mobil Alan alias mantan bosnya sudah berada di depan sana.


Tidak hanya Sahira, Fatimeh juga ikut terkejut ketika melihat Alan keluar dari mobil itu. Tentunya Fatimeh amat tidak suka dengan kehadiran pria itu disana, ia juga tak menyangka kalau Alan bisa datang ke rumahnya saat ini. Padahal mereka baru saja pindah kesana kemarin, namun Alan malah sudah berhasil menemukan lokasi mereka.


"Alan? Lah kok tuh anak bisa ada disini sih? Tahu darimana coba dia lokasi rumah baru kita?" ujar Fatimeh bertanya-tanya keheranan.


Sahira menggeleng pelan, "Gak tahu bu, kayaknya aku juga gak pernah kasih tahu ke pak Alan deh dimana lokasi rumah baru kita. Malahan aku gak pernah kasih tahu siapa-siapa," ucapnya.


"Hadeh, riweh deh urusannya kalo kayak gini! Ngapain sih dia datang kesini?" geram Fatimeh.


Tak lama kemudian, Alan sudah berada di hadapan mereka dan tersenyum menatap keduanya secara bergantian. Tampak Fatimeh terus memandang wajah pria itu dengan raut tak suka, sebab ia tahu kalau Alan tetap ada bagiannya dengan Syera. Sedangkan Sahira terlihat keheranan dibuatnya, karena gadis itu masih bingung darimana Alan bisa tahu alamat tempat tinggal barunya.


"Halo tante, halo Sahira! Assalamualaikum," ucap Alan menyapa mereka berdua sambil tersenyum.


"Waalaikumsallam, ngapain lu kesini? Terus tahu darimana lu kalau kita pindah ke rumah ini, hm? Siapa yang kasih tahu lu?" ujar Fatimeh.


"Tenang tante, saya gak ada maksud apa-apa kok. Saya cuma mau mastiin aja," ucap Alan.


"Mastiin apa maksud lu? Gue itu sengaja bawa Sahira pergi dari rumah lama, supaya dia gak bisa ketemu sama lu atau abang lu lagi. Eh ini lu malah datang kesini," ucap Fatimeh ketus.


"Maaf tante, abisnya saya gak bisa tenang kalau saya belum tahu dimana Sahira. Makanya saya kesini buat mastiin kalau Sahira emang benar ada disini, itu aja kok. Saya janji setelah ini saya akan pergi deh," ucap Alan.


"Kenapa harus setelah ini? Sekarang aja sana lu pergi, gue gak mau lu bawa pengaruh buruk ke Sahira anak gue!" sentak Fatimeh.


"Bu, jangan bicara begitu sama pak Alan! Biar gimanapun dia juga saudara aku, tolong ya ibu jaga perasaan dia! Ibu gak mau kan kalau aku pergi ninggalin aku?" ucap Sahira menyela.


"Lu apa-apaan sih, Sahira? Lu masih aja mau belain anaknya Syera ini?" kesal Fatimeh.


"Syera itu mama kandung aku, bu. Jelas dong aku gak akan pernah benci sama orang yang udah lahirin aku," ucap Sahira.


"Cukup ya Sahira! Gue gak mau dengar lu bilang begitu lagi di depan gue!" sentak Fatimeh.


Sahira terdiam, matanya melirik ke arah Alan dan merasa tidak enak hati padanya atas kelakuan sang ibu tadi. Sedangkan Fatimeh terlihat makin geram, ia langsung menggenggam tangan putrinya dan mengajaknya masuk ke dalam. Namun, tentu Sahira menolak karena ia masih ingin berada disana bersama Alan.


"Ayo Sahira, lu masuk ke dalam sama gue!" ucap Fatimeh memaksa.


"Gak mau bu, disini ada pak Alan. Aku gak enak lah kalau ninggalin dia gitu aja, apalagi pak Alan itu tamu disini. Jadi, kita sebagai tuan rumah harus menyambut dia dengan baik dong," ucap Sahira.


"Lu itu kenapa sih Sahira? Lu sekarang berani ngelawan gue, cuma gara-gara belain nih cowok? Kurang ajar lu ya!" geram Fatimeh.


"Maaf ibu, bukan maksud aku—"


"Ah udah lah terserah, gue kecewa sama lu!" ucap Fatimeh memotong dan langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Braakkk


Bahkan, Fatimeh menutup pintu dengan kasar sampai membuat Sahira terkejut. Tampaknya Fatimeh sangat marah kepadanya, tentu saja Sahira merasa tidak enak hati karena lagi-lagi ia sudah menyakiti hati ibunya. Akan tetapi, ia juga bingung harus bagaimana saat ini.


Alan kini bergerak perlahan mendekati gadis itu dan menyentuh pundaknya, "Sahira, saya minta maaf ya karena gara-gara saya kamu malah jadi ribut sama ibu kamu," ucapnya lirih.


"Gapapa pak, kita bicara dulu yuk di taman dekat sini!" ajak Sahira.


"Okay," Alan mengangguk setuju.


Setelahnya, mereka berdua melangkah menuju taman di dekat rumah itu. Sahira hendak membicarakan sesuatu pada Alan kali ini, yang juga merupakan saudara tirinya. Gadis itu percaya kalau Alan bukanlah orang jahat, dan ia tidak akan pernah bisa memusuhinya.




Kini mereka tiba di taman, Alan pun duduk di bangku bersama Sahira yang berada tepat di sebelahnya. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya Sahira menundukkan wajahnya, namun Alan tak terima dan meraih tangan gadis itu untuk digenggam erat.


Sahira terkejut dibuatnya, ia reflek menoleh menatap wajah Alan dengan tajam. Namun, Alan tak perduli dan tetap mencengkram kuat tangan Sahira yang sudah dirindukannya. Alan merasa begitu senang saat menyentuhnya, karena sudah cukup lama ia tidak merasakan itu.


"Biarkan tetap begini, okay? Aku sudah lama tidak pegang tangan kamu, lagian kita kan saudara. Jadi, gak masalah dong?" ucap Alan.


"Pacar? Berarti kamu masih anggap bang Saka itu pacar kamu?" tanya Alan terkejut.


Sahira mengangguk perlahan, "Iya, meskipun ibu sudah berulang kali minta aku buat putus sama Saka, tapi aku tetap gak bisa melakukan itu. Aku masih cinta sama dia," jawabnya.


"Oh ya? Bang Saka itu kan juga saudara kamu loh, mana mungkin kalian bisa bersatu? Benar kata ibu kamu, lebih baik kamu putusin dia!" ucap Alan.


"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Sahira heran.


"Ya karena menurut aku, kamu itu gak pantas punya pacar kayak bang Saka. Kamu masih bisa dapat yang lebih baik dari dia, aku yakin kok!" jawab Alan santai.


"Maksudnya, kamu bilang kalau mas Saka tuh gak baik gitu?" tanya Sahira.


"Aku gak bilang gitu, aku cuma bilang kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari dia. Kamu paham kan maksud aku?" ucap Alan.


"Enggak, aku gak ngerti. Udah deh, kamu gak perlu ikut campur soal hubungan aku!" ucap Sahira.


"Eits, bukan begitu maksud aku, Sahira. Aku perduli loh sama kamu, aku gak mau kamu disakitin sama bang Saka. Itu aja kok," ujar Alan membujuknya.


"Emang apa sih yang terjadi, sampai kamu bisa bicara begitu tentang Saka?" tanya Sahira.


Alan beralih membuang muka, ia ragu untuk menceritakan semua yang ia lihat sebelumnya tentang Saka kepada Sahira. Tapi tentu Sahira bukan orang yang mudah menyerah, gadis itu terus saja memaksa Alan untuk bercerita dan bahkan berani menarik wajah Alan agar kembali menatap ke arahnya sembari mencengkeramnya kuat.


"Alan, ayo kamu cerita sama aku! Aku yakin kamu tahu sesuatu, iya kan?" paksa Sahira.


"Kamu beneran nih mau tau, hm? Kamu gak akan menyesal gitu nantinya setelah aku ceritain semua itu ke kamu?" tanya Alan memastikan.


"Iya aku serius, udah cepat kamu cerita sekarang sama aku dan jangan banyak omong!" ucap Sahira.


"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya. Aku bakal kasih tahu kamu kalau bang Saka itu selingkuh sama perempuan lain, dan kamu tahu perempuan itu siapa?" ucap Alan.


Sahira menggeleng, "Enggak, aku gak tahu tuh. Emang siapa wanitanya?" ucapnya.


"Dia Floryn, orang yang jadi pacar pura-pura aku. Awalnya aku juga gak percaya, tapi kemarin aku tahu semuanya langsung," jawab Alan.


"Hah? Masa sih mas Saka begitu? Apalagi sama Floryn, rasanya gak mungkin," ucap Sahira.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak, intinya aku udah cerita sejujurnya ke kamu," ucap Alan.


Sahira terdiam saja, rasanya ia masih belum percaya dengan kata-kata Alan kalau ternyata Saka berselingkuh di belakangnya. Apalagi Saka dikatakan memiliki hubungan dengan Floryn, ya tentu saja sulit bagi Sahira untuk percaya, sebab Sahira yakin Saka tidak akan begitu.




Sementara itu, Saka juga mendatangi kampung tempat Sahira tinggal sebelumnya. Pria itu memang belum tahu jika Sahira sudah pindah dari sana dan tidak ada lagi di tempat itu, oleh karenanya Saka kini datang kesana bermaksud mengecek kondisi Sahira yang sudah dua hari ini tidak pergi ke kantor untuk bekerja.


Saka bergegas turun dari mobilnya, ia melangkah mendekati rumah itu sembari menatap sekitar. Ia merasa heran, sebab disana cukup sepi seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan dalam rumah Sahira terlihat sangat gelap, tidak biasanya tentu Sahira tak menyalakan lampu di siang hari seperti ini, apalagi sandal-sandal yang biasanya tergelatak di depan, kini tidak ada lagi.


"Loh, kok rumah Sahira kosong begini ya? Dia kemana coba? Apa jangan-jangan, Sahira sama tante Imeh udah pindah?" gumam Saka kebingungan.


Disaat ia tengah bingung memikirkan hal itu, tiba-tiba mobil lainnya muncul disana dan berhenti tepat di belakang mobil Saka. Sontak Saka menoleh ke arahnya, ia penasaran siapa yang datang saat ini. Tak lama, tampak seorang wanita turun dari mobil itu dan tersenyum menatapnya.


"Floryn?" ya, yang dilihat Saka adalah Floryn. Gadis itu lah yang datang kesana.


"Halo bang!" Floryn menyapa pria itu sembari melambai dan tersenyum, membuat Saka salah tingkah kali ini.


"Eh iya, halo Floryn! Ka-kamu kok bisa ada disini sih?" tanya Saka keheranan.


"Iya bang, tadi gak sengaja aja aku lihat mobil kamu lewat kencang banget. Karena aku penasaran, yaudah deh aku ikutin buat mastiin kalau kamu baik-baik aja," jelas Floryn.


"Oalah, saya kira kamu emang sengaja datang kesini karena mau ketemu Sahira," ujar Saka.


"Umm, emangnya ini rumah siapa bang? Aku aja belum tahu daerah ini, baru sekarang aku datang kesini," ucap Floryn.


"Oh gitu, iya ini tuh rumahnya Sahira sama ibunya. Saya kesini buat temuin mereka, tapi ternyata mereka udah gak ada disini," ucap Saka.


"Loh mereka pindah? Emangnya kamu gak tahu?" tanya Floryn.


Saka menggeleng, "Sahira gak bilang apa-apa sama aku, padahal aku ini pacarnya. Udah berapa hari ini juga aku gak ketemu sama dia, entah dia marah atau kenapa sama aku," jawabnya.


"Kamu jangan salah sangka dulu! Bisa aja Sahira lagi ada urusan lain, coba deh kamu hubungi nomor dia sekarang!" usul Floryn.


"Boleh." Saka setuju dengan usulnya.


Lalu, Saka mengambil ponselnya dan coba menghubungi nomor Sahira. Akan tetapi, telponnya itu malah direject dan membuatnya semakin kalut kali ini. Saka berpikir kalau Sahira sengaja menghindar darinya, karena tak biasanya Sahira berani menolak telponnya seperti itu.


"Kenapa bang?" tanya Floryn penasaran.


"Direject, ini sih fix Sahira emang lagi menghindar dari aku. Kayaknya semua gara-gara masalah malam itu deh," ucap Saka.


"Duh, yaudah kamu yang sabar aja ya! Mungkin kita bisa cari Sahira di sekitar sini, atau tanya-tanya ke warga yang tinggal disini. Siapa tahu mereka ada yang bisa bantu kamu," ucap Floryn.


"Oh iya benar, kalau gitu aku mau cari orang dulu deh disini. Eee kamu mau ikut atau enggak?" ucap Saka.


"Ah ikut!" jawab Floryn cepat.


"Oke, yaudah yuk kita jalan kaki aja! Mobilnya biarin disini dulu, insyaallah aman kok," ucap Saka.


"Iya bang," ucap Floryn singkat.


Mereka pun pergi dari sana untuk menanyakan mengenai Sahira kepada orang-orang di kampung itu, jujur Saka sangat panik dan tidak bisa tinggal diam begitu saja setelah tahu Sahira pergi dari tempat tersebut. Sedangkan Floryn memang sengaja ingin menemani Saka, sebab hari ini gadis itu tidak memiliki kegiatan apa-apa di hidupnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...