
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar kembali di telinganya, Alan yang kesal langsung berteriak keras kalau ia sedang tidak ingin diganggu. Namun, tanpa diduga pintu justru terbuka begitu saja dan menampakkan sosok Syera sang ibu yang ternyata datang kesana.
Sontak saja Alan merasa bersalah karena sudah membentak ibunya tadi, ia reflek bangkit dari duduknya dan menghampiri Syera yang tengah berdiri di dekat pintu. Alan langsung saja meraih tangan ibunya dan menciumnya lembut, ia meminta maaf atas perlakuannya barusan.
"Duh ma, aku minta maaf ya ma! Aku beneran gak tahu kalau yang datang itu mama, aku kira tadi karyawan aku atau orang lain gitu. Maafin aku ya ma?" ucap Alan penuh penyesalan.
Syera tersenyum tipis, "Gapapa sayang, mama wajar kok. Kamu begitu pasti karena kamu terlalu lelah bekerja kan?" ucapnya pelan.
"Ah ya gitu deh ma, aku lagi pusing banget ini. Makanya ruangan aku berantakan kayak gini, maaf ya ma? Aku gak tahu kalau mama mau datang kesini," ucap Alan pelan.
"Gak masalah, biar mama bantu beresin barang-barang kamu ini ya?" ucap Syera.
Alan terbelalak lebar, "Hah? Gausah ma, biar aku sendiri aja nanti yang beresin. Mama itu kan tamu, silahkan duduk ma!" ucapnya.
"Iya iya.." Syera menurut dan terduduk di sofa ruangan itu sambil tersenyum.
Alan pun ikut menyusul mamanya duduk disana, mereka kini berdampingan dan tampak saling menatap satu sama lain. Terlihat Syera cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya, ia yakin betul kalau Alan saat ini sedang mengalami masalah yang cukup berat.
"Kamu itu sebenarnya lagi ada masalah apa sayang? Cerita dong sama mama!" ucap Syera.
"Iya ma, aku habis pecat sekretaris aku kemarin. Sejujurnya aku gak tega, karena kinerja dia juga bagus banget di perusahaan ini," ucap Alan sambil menunduk lesu.
"Loh terus kenapa kamu pecat dia kalau kinerjanya bagus?" tanya Syera keheranan.
"Dia kemarin gak datang ke kantor, padahal lagi banyak masalah disini. Setelah aku cari tahu, ternyata dia malah asyik pacaran sama pacarnya. Gimana aku gak kesel coba ma?" jawab Alan.
"Ohh, mungkin kamu cuma salah paham. Bisa aja dia ada urusan lain yang kamu gak tahu, ya kan?" ucap Syera menenangkan.
"Enggak ma, aku gak salah paham kok. Aku pergokin sendiri dia lagi pacaran di warung bakso, kalau emang ada urusan penting harusnya dia izin dulu dong ke aku," ucap Alan tampak emosi.
Syera pun menaruh tangannya di pundak Alan, "Kamu sabar aja Alan! Udah ya jangan emosi terus, lagi bulan puasa loh!" ucapnya.
Alan manggut-manggut pelan, lalu Syera membawa putranya ke dalam pelukan sembari mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkan pria itu. Alan cukup terkejut, tapi ia merasa senang karena mamanya mau memeluknya setelah sekian lama.
"Aku sayang banget sama mama! Tapi, aku heran deh ma. Kenapa ya bang Saka selalu ketus sama mama?" ucap Alan di dalam pelukan.
Deg!
Syera sungguh terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan putranya itu, ia sangat bingung harus menjelaskan bagaimana pada Alan agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Tentu tak mungkin Syera akan mengatakan yang sejujurnya, ia khawatir Alan nantinya akan membencinya.
"Mama juga gak tahu sayang, itu semua cuma kakak kamu yang tahu. Tapi, kamu gak perlu mikirin soal itu karena sekarang kamu harus fokus sama perusahaan ini!" ucap Syera.
"Iya ma, aku cuma penasaran aja. Waktu itu aku tanya ke bang Saka langsung, eh dia malah gak mau jawab," ucap Alan.
Syera terdiam memandang wajah putranya sambil tersenyum dan terus mengusap punggungnya.
•
•
Disisi lain, Sahira berada di perusahaan milik Saka setelah ia menerima surat pemecatan dari Alan pagi tadi. Tampak Saka sangat senang dapat membawa gadisnya itu kesana, ia sudah tak sabar ingin mengangkat Sahira sebagai asisten pribadinya untuk mengurus semua keperluannya.
Kini Sahira dibawa ke dalam ruang pribadi Saka, gadis itu cukup terpukau dengan luasnya ruangan Saka yang bahkan lebih luas dari ruangan Alan sebelumnya. Namun, entah kenapa cukup sulit bagi Sahira untuk bisa melupakan momen dirinya bersama Alan yang merupakan mantan bosnya.
"Sahira, ini ruangan saya. Disini nih tempat saya bekerja sekaligus beristirahat dikala lelah melanda, gimana menurut kamu? Ruangan saya ini bagus atau enggak?" ucap Saka.
"Bagus kok pak, pasti enak ya punya ruangan seluas ini?" ucap Sahira.
"Jelas enak, disini nyaman dan adem banget. Kamu mau punya ruangan kayak gini juga?" ucap Saka tersenyum.
"Hah? Emangnya bisa saya dapat ruangan begini mas? Saya kan bukan siapa-siapa," ucap Sahira.
"Bisa dong sayang, kamu itu kan pacar saya. Saya bisa lakukan apapun untuk kamu, asalkan kamu mau menerima tawaran pekerjaan dari saya disini," ucap Saka.
"Kamu serius mau kasih kerjaan ke aku? Apa kamu gak akan nyesel nantinya?" tanya Sahira.
Saka mengangguk dengan kedua tangan ditaruh di pundak sang kekasih, "Serius dong sayang, masa iya saya bercanda sama kamu?" jawabnya mantap.
"Kamu mau kasih jabatan apa ke aku?" tanya Sahira lagi.
"Asisten pribadi saya, karena saya sedang butuh orang untuk posisi itu. Saya rasa kamu pantas dan cocok, kamu mau kan sayang?" ucap Saka.
"Aku sih mau-mau aja," ucap Sahira lirih.
Saka tampak bahagia mendengarnya, ia mengusap wajah gadis itu sambil terus tersenyum. Namun, ekspresi Sahira terlihat tidak terlalu senang seperti yang dialami Saka. Sontak Saka merasa bingung dengan sikap gadisnya, ia tak mengerti apa yang terjadi pada Sahira.
"Kamu kenapa sayang? Kamu gak senang udah jadi asisten pribadi saya?" tanya Saka keheranan.
"Bu-bukan begitu mas, eh pak. Sa-saya.." Saka langsung menangkup wajah Sahira dan memotong ucapannya.
"Jangan pak, mas aja kayak biasa!" sela Saka.
"Ya tapi kan saya sekarang udah jadi asisten kamu, masa iya saya gak panggil bapak? Berarti saya gak sopan dong," ucap Sahira.
"Gapapa, kamu kan pacar saya. Saya justru gak senang kalau kamu panggil saya pak lagi, karena itu sama aja kayak bukan pacaran. Kamu ngerti kan sekarang Sahira?" ucap Saka.
"I-i-iya mas, saya ngerti kok. Kalo gitu saya bisa mulai kerja dari sekarang mas?" ucap Sahira.
Saka mengangguk dan merangkul gadisnya dengan erat, "Gausah buru-buru, duduk dulu yuk kita santai!" ucapnya.
"Tapi, nanti kalau ada kegiatan kamu yang harus dikerjain gimana? Jadi asisten itu bukannya sibuk banget ya gak boleh nyantai?" ujar Sahira.
"Untuk kamu enggak, kamu gak perlu terlalu sibuk buat ngurus kerjaan ini. Santai aja kalau kerja sama saya mah," ucap Saka.
"Iya mas," singkat Sahira sambil menunduk.
•
•
Alan mengantar ibunya keluar kantor karena Syera sudah berniat pulang, tampak Alan masih belum bisa melupakan Sahira yang baru saja ia pecat hanya karena cemburu itu. Syera pun tahu kalau putranya itu masih bersedih, sejujurnya ia juga tak tega meninggalkan Alan sendiri.
Namun, Syera juga harus meneruskan aksinya untuk mencari dan menemukan anaknya yang entah dimana. Sampai kapanpun Syera akan terus berusaha mencari tahu keberadaan anaknya, meski ia tak memiliki petunjuk sama sekali mengenai dimana putrinya saat ini.
"Alan sayang, kamu kenapa masih sedih aja sih? Kepikiran sama sekretaris kamu yang baru kamu pecat itu?" tanya Syera tampak prihatin.
Alan mengangguk perlahan, "Ya gitu deh ma, aku ada rasa menyesal sedikit karena udah pecat dia. Biar gimanapun, perusahaan ini butuh sosok orang seperti dia," jawabnya.
"Kalo gitu kenapa kamu gak tarik aja surat pemecatan itu dan biarin dia bekerja disini?" usul Syera.
"Gak bisa ma, malu lah aku kalau harus tarik lagi dia kesini. Nanti orang-orang mikirnya aku gak tegas sama karyawan yang udah melanggar peraturan kantor," ucap Alan.
Syera menggeleng sambil tersenyum, "Ada-ada aja kamu, yaudah sekarang semuanya terserah kamu. Mama bingung harus kasih tau apa lagi ke kamu supaya kamu gak sedih," ucapnya.
"Gapapa ma, emang aku aja yang aneh kok. Udah mama pergi aja kalau mau, gak perlu mikirin aku yang lagi sedih ini!" ucap Alan.
"Iya, ini mama mau pergi. Kamu yang semangat dong kerjanya, biar nanti banyak cewek-cewek yang ngantri!" ucap Syera tersenyum lebar.
"Ah mama bisa aja, aku mah lagi gak mau mikirin cewek dulu untuk sekarang. Aku ini kan masih pengen bahagiain mama sama papa," ucap Alan.
Syera pun menepuk pundak putranya, "Kamu emang anak yang berbakti sayang! Mama bangga sekali sama kamu, semoga cita-cita kamu itu terwujud ya sayang!" ucapnya.
"Aamiin ma, oh ya mama mau aku antar aja apa gimana nih?" ujar Alan.
"Gausah, mama kan bawa mobil sendiri. Kamu lupa ya kalau mama kamu ini bisa nyetir mobil?" ucap Syera.
"Hahaha, kali aja gitu mama capek terus pengen aku antar. Aku selalu siap buat mama mah," ucap Alan.
"Terimakasih sayang, tapi mama masih bisa sendiri," ucap Syera menolak.
Alan pun mengangguk dan tak memaksa mamanya untuk diantar, mereka lalu kembali melangkah menuju parkiran kantor untuk mengambil mobil sang mama. Akan tetapi, tanpa diduga ternyata Nawal masih saja datang ke kantor itu dan terlihat tersenyum menyapa keduanya.
"Selamat pagi tante, pagi Alan sayang!" ucap Nawal menyapa dengan ramah disertai senyuman.
Seketika Alan terbelalak, "Nawal? Kamu ngapain coba datang ke kantor aku lagi?" ujarnya.
Syera langsung menatap wajah putranya dan menegurnya, "Sayang, kamu gak boleh ah bicara begitu sama Nawal! Dia itu kan perempuan, kamu jangan kasar dong sama dia!" ucapnya.
"Iya ih Alan, kamu jangan galak-galak dong sama aku!" sahut Nawal dengan wajah cemberut.
"Iya iya, aku minta maaf ya Nawal? Terus kamu ada apa datang kesini? Ada keperluan apa gitu?" ujar Alan kembali bertanya pada gadis itu.
"Eee aku ada yang mau diomongin sama kamu Alan," ucap Nawal sambil tersenyum.
Alan terdiam, menatap wajah Nawal dengan serius karena penasaran apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh gadis itu padanya. Sedangkan Syera terlihat tersenyum dan berharap Alan bisa bahagia kembali bersama Nawal seperti dulu, apalagi sekarang kondisi pria itu sedang galau akibat telah memecat Sahira.
•
•
Sahira terlihat tengah mengelilingi kantor barunya bermaksud untuk beradaptasi disana karena ini pertama kalinya ia bekerja, selain itu Sahira juga berniat mengenalkan diri pada seluruh karyawan yang ada di tempat itu. Tentu Sahira ingin memiliki banyak teman kerja baru disana.
Namun, ada beberapa karyawan judes yang dengan sengaja membicarakan dirinya di belakang. Sepertinya mereka tak menyukai kehadiran Sahira disana karena mereka belum mengenal jelas siapa Sahira itu, meski begitu masih tetap ada juga yang mau menyambut Sahira dengan baik.
"Jadi nama kamu Sahira? Kalo gitu kenalin ya, aku Silvia!" ucap wanita bernama Silvia.
"Iya, aku Sahira. Salam kenal ya Silvia?" balas Sahira.
Mereka pun saling berjabatan tangan, sampai tiba-tiba dua orang wanita berambut pendek datang mendekat dan mengakhiri paksa jabat tangan mereka dengan wajah tak suka. Ya kedua wanita itu memandang sinis ke arah Sahira seolah menandakan kalau mereka membencinya.
"Ish Silvia, kamu ngapain sih pake kenalan segala sama dia? Kamu itu sebenarnya dukung kita atau dia sih Silvia?" tegur salah seorang wanita yang bernama Amel itu.
"Amel, kamu itu kenapa gak suka banget sama Sahira? Dia orangnya baik kok, ramah lagi. Coba deh kamu kenalan sama dia!" ucap Silvia.
"Hah apa? Aku kenalan sama dia? Sorry ya, gak level!" cibir Amel.
"Eee maaf, ini sebenarnya ada apa ya? Kenapa kalian bisa gak suka sama aku? Emangnya aku ada salah apa sama kalian?" tanya Sahira keheranan.
"Gak kok Sahira, kamu gak punya salah apa-apa. Mereka aja yang iri sama kamu, karena kamu dekat sama pak bos Saka," ucap Silvia.
"Heh! Sembarangan aja kamu kalo ngomong, ngapain aku iri sama dia?!" elak Amel.
"Udah lah Amel, kamu stop bersikap kayak gitu ke Sahira! Emangnya kamu mau ucapan kamu didengar sama pak Saka, terus kamu dihukum?" ucap Silvia.
Amel langsung terdiam memalingkan wajahnya, sedangkan Sahira terlihat menunduk dengan dua tangan menyatu. Silvia pun mendekati Sahira dan merangkulnya, seketika Sahira tersenyum karena merasa masih ada orang yang menyukai dirinya disana walau jarang sekali.
"Okay, sekarang kamu boleh berkhianat Silvia. Awas ya kalau kamu berani dekat-dekat lagi sama kita!" ujar Amel.
Silvia menggeleng heran, "Kamu tuh kenapa sih Amel? Apa salahnya coba kalau kita berteman aja sama Sahira? Toh dia juga karyawan disini, ya kan?" ucapnya.
"Gak, dia itu gak pantas ditemenin. Dia juga gak pantas kerja di kantor ini, kalau bukan karena pak Saka aku gak yakin dia bisa masuk sini!" cibir Amel.
"Ehem ehem.." tiba-tiba deheman berat dari seorang pria mengagetkan mereka semua, keempat wanita itu kompak menoleh dan melihat Saka tengah berdiri dengan tatapan tajamnya.
"Halo! Ada apa ini? Kenapa muka kalian kelihatan tegang sekali?" ujar Saka tampak penasaran.
Sahira terdiam saja karena bingung dan takut saat hendak berbicara, tak mungkin ia berani mengatakan yang sejujurnya pada Saka, bisa saja nanti ia akan semakin dibenci oleh Amel dan teman-temannya kalau ia melakukan itu. Namun, tentu saja Saka tahu jika sedang terjadi sesuatu disana yang menimpa gadisnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...