
Alan menggeleng, "Entahlah pa, mungkin dia lagi asyik pacaran sama bang Saka. Sekarang kan mereka udah ada hubungan, tadi aja bang Saka langsung masuk ke dalam buat ajak Sahira pergi," ucapnya.
Alfian sontak mengernyit tak percaya, "Apa? Kok bisa sih Saka macarin sekretaris kamu itu?" ujarnya kaget.
"Aku juga bingung pa, selera bang Alan masa serendah itu ya?" ucap Alan.
"Lalu apa kamu cemburu karena mereka pacaran dan dekat sekarang?" tanya Alfian memancing.
"Apaan sih pa? Buat apa aku cemburu coba? Selera aku tuh tinggi, gak mungkin aku suka sama Sahira dan cemburu lihat dia dekat sama bang Saka. Papa ini ada-ada aja deh," ucap Alan.
"Bagus deh, jadi kamu bisa ada kesempatan untuk balikan sama Nawal. Dia itu wanita yang baik, jangan sampai kamu sia-siakan dia!" ucap Alfian.
"Papa gak tahu apa-apa soal Nawal, aku yang lebih kenal dia dibanding papa. Jadi, tolong papa jangan paksa aku buat balikan sama dia!" ucap Alan kesal.
"Ya ya ya, sudahlah ayo kita masuk ke dalam! Papa pengen lihat seperti apa gaya pacaran Saka dan Sahira itu sampai bikin kamu jadi jealous kayak gini," ucap Alfian terkekeh.
Alan menggeleng tak terima, "Enggak pa, aku gak jealous kok. Papa tuh aneh-aneh aja sih kalo bicara," ucapnya mengelak.
"Hahaha, terserah kamu aja. Oh ya, papa ajak Fatma juga buat ikut buka bersama disini. Gapapa kan Alan walau dia bukan karyawan di kantor kamu?" ucap Alfian sambil menatap wajah sekretarisnya.
"Gapapa dong pa, Fatma kan karyawan papa. Artinya dia juga masih bagian dari perusahaan ini, jadi dia berhak buat ikut kok," ucap Alan.
"Terimakasih pak Alan," ucap Fatma.
Alan hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka bertiga pun berniat masuk ke dalam kantor untuk menanti waktu berbuka. Namun, tanpa diduga sebuah mobil berhenti di depannya dan seorang wanita turun dari sana. Alan terbelalak, wanita itu ialah Nawal sang mantan yang sangat ia tak sukai.
"Nawal?" lirih Alan dengan wajah terkejut.
Alan sangat tak suka melihat kedatangan Nawal disana, ia melirik papanya yang sedang tersenyum seolah meminta penjelasan terkait kemunculan gadis itu. Padahal seingatnya, ia tidak pernah mengundang Nawal untuk datang ke kantornya dan melakukan buka bersama.
"Hai Alan! Hai om!" Nawal menyapa kedua pria itu sambil tersenyum renyah.
"Halo juga Nawal! Baguslah kamu datang kesini sekarang, jadi kita bisa buka bareng-bareng disini!" ucap Alfian.
"Ah iya om, makasih banyak ya atas undangannya tadi?" ucap Nawal.
"Apa? Undangan? Jadi, papa yang undang Nawal untuk datang kesini?" kaget Alan.
"Ya Alan, papa emang yang sudah mengundang Nawal. Memang apa salahnya kalau papa undang dia? Toh dia kan juga calon istri kamu, jadi kamu harus bisa terima dia disini," ucap Alfian.
"Gak bisa pa, dia bukan bagian dari perusahaan ini. Buka bersama yang aku adakan ini khusus untuk para karyawan disini," ucap Alan.
"Memang Nawal bukan karyawan disini, tapi dia kan calon istri kamu Alan. Masa iya kamu gak bolehin dia buat ikut buka bersama?" ucap Alfian.
"Apa sih pa? Dia bukan calon istri aku!" sentak Alan.
"Kamu gak bisa ngelak begitu Alan, biar gimanapun Nawal akan tetap jadi istri kamu. Kalian berdua harus segera menikah, papa tidak menerima penolakan Alan!" ucap Alfian tegas.
Alan menggelengkan kepalanya, ia sungguh kesal pada sikap papanya yang selalu saja memaksakan kehendak. Padahal ia sudah berulang kali mengatakan padanya kalau Nawal bukanlah wanita yang baik, namun entah kenapa Alfian tidak pernah percaya dengan apa yang ia katakan.
•
•
Disaat Cat dan Yoshi sedang asyik berbincang, tiba-tiba Wati muncul dari arah depan mengagetkan keduanya. Gadis itu terlihat ngos-ngosan dan menghampiri Cat serta Yoshi disana, tentu saja sepasang kekasih itu merasa heran melihat Wati datang dengan ekspresi seperti itu.
"Eh eh guys, ada informasi penting guys!" ucap Wati heboh sendiri sembari menggebrak meja kasir sehingga membuat Cat mengelus dadanya.
"Ya ampun Wati, lu kenapa sih datang-datang ngagetin aja? Lu pengen bikin kita jantungan ya? Atau lu malah mau hancurin toko roti ini? Sombong banget sih lu mentang-mentang udah punya kios sendiri, sampe mau rusak tempat lama lu kerja. Ingat Wati dulu lu juga cari uang disini tau!" ucap Cat menasehati sahabatnya.
"Yeh gak gitu kali, sorry kalo gue ngagetin! Gue cuma mau kasih tahu informasi penting ke kalian, pokoknya ini ajib banget deh dan kalian berdua harus tau!" ucap Wati.
"Soal apa sih emang?" tanya Cat penasaran.
"Tadi gue lihat tante Imeh pergi sama si laki-laki berkumis itu di depan," jawab Wati.
"Hah??" Cat dan Yoshi sama-sama terkejut mendengar cerita Wati barusan.
"Seriusan lu Wati? Berarti pas tadi kita pergi, mereka masih ada dong disana?" ujar Cat.
"Iya kayaknya, mungkin aja tante Imeh ajak si cowok kumisan itu masuk ke rumahnya," tebak Wati.
"Ih ngaco aja deh, masa iya tante Imeh kayak gitu?" ucap Cat tak percaya.
"Ya gue juga gak tahu, itu kan baru tebakan gue," ucap Wati.
Tiba-tiba Yoshi menyela karena penasaran sedari tadi, ia tak mengerti apa yang dibahas oleh kedua gadis itu yang terus membicarakan Fatimeh serta seorang lelaki berkumis. Yoshi pun ingin tahu siapa sebenarnya yang dimaksud mereka.
"Eh eh bentar deh, ini kalian lagi ngomongin siapa sih? Laki-laki kumisan yang sama tante Imeh itu siapa?" tanya Yoshi penasaran.
"Yeh dia sok ikut-ikutan, anak kecil mah gausah ikut campur urusan orang dewasa! Mending lu kerja aja itu yang bener, jangan gosip!" ucap Wati.
"Sialan lu! Buruan ah kasih tau, gue kepo banget ini pengen tahu!" ucap Yoshi kesal.
"Tenang sayang, kita berdua juga gak tahu kok siapa laki-laki yang lagi sama tante Imeh tadi. Tapi, kayaknya mah itu pacarnya tante Imeh deh. Soalnya mereka kelihatan dekat banget," ucap Cat.
"Masa iya sih sayang? Terus Sahira udah tahu belum tentang ini?" tanya Yoshi.
Cat menggeleng, "Mungkin belum, makanya tante Imeh sembunyi-sembunyi gitu tadi pas bawa tuh cowok ke rumahnya," ucapnya.
"Kayaknya emang Sahira belum tahu deh, buktinya tadi aja tante Imeh ngancem gue kok supaya gue gak buka mulut ke Sahira," sahut Wati.
"Tuh kan, ini ada apa ya kira-kira? Kasihan tahu Sahira kalo kayak gini," ujar Cat.
•
•
Acara buka bersama telah selesai, Saka yang sudah tidak sabar ingin mengajak Sahira pergi dari sana pun memilih pamit lebih dulu pada papanya. Saka memang sedari tadi merasa risih karena tatapan dingin dari sang papa serta adiknya, itu sebabnya ia tak ingin berlama-lama ada disana.
"Pa, aku pulang duluan ya sama Sahira? Toh acaranya juga udah selesai," ucap Saka pamitan.
Alfian yang tengah menikmati minumannya sedikit terkejut mendengar ucapan putranya, ia menaruh sejenak gelasnya di meja dan menatap wajah Saka dengan dingin. Ia juga sesekali melirik ke arah Sahira yang memang berdiri tepat di samping pria itu, entah kenapa ia tak menyukai Saka terlalu dekat dengan Sahira disana.
Sementara Alan yang juga mendengar ucapan itu memilih diam sambil terus mengamati mereka, ia kini tengah bersama Nawal setelah papanya terus memaksa agar ia mau menerima Nawal di acara buka bersama itu. Alan pun tak ada pilihan lain selain menurut karena ia tidak punya banyak kuasa untuk menolak perintah papanya.
Saka sedikit khawatir saat papanya itu melihat ke arahnya dan juga Sahira, apalagi tatapan sang papa seperti orang yang hendak membunuh mangsanya. Namun, Saka mencoba menguatkan diri dan menghilangkan semua pikiran buruknya tentang Alfian itu dari kepalanya.
"Kenapa buru-buru sekali Saka? Kamu memangnya ada urusan apa sampai kamu mau pulang duluan begini?" tanya Alfian curiga.
"Enggak ada kok pa, aku paling cuma mau antar Sahira pulang karena sudah malam. Lagian acaranya kan sudah selesai pa," jawab Saka.
"Buat apa sih kamu pakai antar dia segala? Emang dia gak bisa pulang sendiri? Manja amat!" ujar Alfian.
"Bukan begitu pa, aku cuma gak mau aja terjadi sesuatu sama Sahira kalau dia pulang sendiri. Ini kan sudah malam pa, jadi sebagai kekasih aku pengen mastiin dia baik-baik aja sampai rumah," ucap Saka.
"Jadi benar yang dibilang adik kamu, sekarang kalian berdua sudah berpacaran?" tanya Alfian memastikan.
Saka mengangguk pelan, "Betul pa, aku dan Sahira emang sudah menjalin hubungan. Kami resmi berpacaran beberapa hari yang lalu, doain ya pa supaya hubungan kita langgeng!" ucapnya.
"Ya terserah kamu dah, papa yakin kamu sudah tahu apa yang terbaik buat kamu," ucap Alfian.
"Makasih pa, kalo gitu aku sama Sahira pamit pulang duluan ya?" ucap Saka.
Alfian mengiyakan saja ucapan Saka, lalu setelahnya Saka pun mengajak Sahira untuk segera pergi dari tempat tersebut. Sahira menurut saja karena memang ia juga tak memiliki pilihan lain, selain itu Sahira juga ingin pulang ke rumah dengan cepat dan memastikan kalau ibunya ada disana.
Di luar kantor, Saka berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobilnya. Ia bertatapan dengan Sahira dan saling tersenyum satu sama lain, tak lupa juga kedua tangan mereka yang bersatu seolah menandakan kalau mereka tidak bisa dipisahkan.
"Saya antar kamu sampai ke rumah ya Sahira? Saya juga mau ngobrol sama ibu kamu disana," ucap Saka.
"Hah? Kamu mau bicara apa sama ibu, mas?" tanya Sahira sedikit terkejut.
"Eee ya aku pengen bahas tentang hubungan kita, barangkali kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius kan?" jawab Saka.
"Apa? Kamu serius mau bahas soal itu sekarang? Apa gak kecepatan?" kaget Sahira.
Saka hanya mengangguk disertai senyuman tipis, sedangkan Sahira terus menganga lebar masih tak menyangka dengan ucapan pria itu.
•
•
Alan yang melihat Saka dan Sahira pergi dari kantor, memutuskan untuk mengejar mereka ke luar. Namun, baru saja ia bangkit dari duduknya dan hendak berjalan, Nawal sudah lebih dulu menghadangnya dan tak membiarkan Alan untuk pergi menyusul Saka serta Sahira.
Tentu Alan tampak kesal melihat Nawal merentangkan dua tangannya dan berdiri tepat di hadapannya, ia sedang tidak ingin berdebat atau berkelahi dengan gadis itu, sebab ada sang ayah juga disana yang pastinya akan lebih membela Nawal dibanding dirinya.
"Kamu apa-apaan sih Nawal? Ngapain kamu berdiri disitu? Aku mau lewat, kamu minggir dulu dong! Lagian tadi kan kamu lagi duduk, kenapa malah tiba-tiba bangun?" ujar Alan.
"Ya kamu juga ngapain bangun? Udah sih kamu duduk aja lagi, kita nikmati malam ini sama-sama sayang!" ucap Nawal.
"Jangan ngaco deh kamu! Kita udah gak ada hubungan, jadi kamu stop panggil aku sayang kayak gitu!" ujar Alan.
"Apa salahnya sih Alan? Papa kamu aja bilang tadi kalau hubungan kita tetap lanjut, kenapa kamu malah kayak gini? Aku laporin loh nanti ke papa kamu kalau kamu menolak," ucap Nawal.
"Silahkan, laporin aja semuanya yang kamu mau laporin ke papa! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah mau nikah sama kamu!" tegas Alan.
"Cih, pasti karena kamu suka sama Sahira kan? Ayolah Alan, lupain Sahira! Dia udah jadi pacar abang kamu loh, masa mau diembat juga?" ucap Nawal.
"Gausah bawa-bawa Sahira, kamu gak tahu apa-apa dan mending kamu diam!" ujar Alan.
"Kata siapa aku gak tahu apa-apa? Aku tahu kok kalau kamu suka sama dia, aku kan dengar sendiri waktu itu. Emang sih kamu ngelak waktu itu, tapi aku yakin kok sama apa yang aku dengar," ucap Nawal tersenyum.
"Terserah, sekarang tolong minggir karena aku mau lewat!" ucap Alan.
"Mau kemana sih kamu? Udah sih sini aja sama aku, masa kamu tega tinggalin aku sendirian? Oh atau kamu mau nyusul Sahira sama abang kamu itu ya?" ucap Nawal.
"Sekali lagi aku bilang minggir, kamu jangan bikin aku emosi deh Nawal! Minggir atau aku akan bertindak kasar ke kamu!" kesal Alan.
"Gak akan!" tegas Nawal.
Alan semakin kesal dibuatnya, Nawal justru tidak ingin berpindah walau sedikitpun dan tetap berdiri di depannya. Akhirnya Alan memilih mendorong tubuh Nawal ke pinggir secara paksa hingga gadis itu terjatuh, sontak suara rintihan Nawal membuat seisi kantor terkejut dan menatap kesana.
"Akh awhh!!" pekik Nawal memegangi lengan serta pinggulnya.
Alfian yang melihat itu merasa geram, ia beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Alan serta Nawal. Ia meneriaki putranya yang hendak pergi begitu saja, tentu Alan menghentikan langkahnya karena tak mau membuat Alfian semakin emosi lalu mengambil semua fasilitasnya.
"Alan!" sentak Alfian yang kini berada di dekat Alan dan juga Nawal.
"Kamu kenapa kasar begitu sama Nawal?" sambungnya bertanya pada sang putra.
Alan memutar bola matanya malas, ia yakin apapun yang ia jelaskan pada papanya itu tidak akan mungkin dipercaya olehnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...