
"Pertanyaan apa sih? Gue heran sama lu, datang kesini bukan ngucap salam malah langsung ngegas begitu. Gak ada etika banget sih lu!" ucap Awan.
"Yeh lu sendiri buka warung saat orang-orang lagi pada puasa, punya etika gak sih lu?!" balas Wati.
"Buset deh malah dibalikin! Yaudah, lu mau nanya apaan emang Wati?" ucap Awan.
"Ish, itu loh mobil yang ada di depan tuh mobil siapa? Terus orangnya mana orang?" tanya Wati.
"Ohh, santai aja kali gausah panik gitu! Itu tuh mobil orang, gue juga gak tahu siapa. Dia numpang parkir disitu tadi katanya sebentar," jawab Awan.
"Orang siapa? Masalahnya gue pernah lihat nih mobil waktu gue mergokin tante Imeh sama cowoknya, ini pasti mobil tuh cowok. Benar kan yang gue bilang?" ucap Wati.
"Mana gue tahu, dia gak ngenalin dirinya kok. Terus dia juga sendirian gak sama tante Imeh," ucap Awan menggeleng.
"Serius? Terus dia kemana?" tanya Wati.
"Pergi tadi kesana, tapi gue gak tahu perginya kemana. Emang kenapa sih lu heboh banget? Kalau emang ini mobil cowoknya tante Imeh, terus apa hubungannya sama lu?" ucap Awan heran.
"Ya enggak ada, gue cuma pengen tahu aja sih. Kalo gitu gue cari dia dulu ya?" ucap Wati.
Disaat Wati hendak pergi, seseorang justru datang ke warung tersebut dan mengagetkan keduanya. Wati bertambah kaget ketika menyadari yang datang itu adalah Bram alias si lelaki berkumis yang dekat dengan Fatimeh, ya Wati tentu masih ingat dengan wajah lelaki tersebut.
"Permisi semua, saya cuma mau ambil mobil saya. Terimakasih ya sudah dibolehkan parkir disini, soalnya kalau dibawa ke dalam agak sempit jalannya," ucap Bram.
"Ah iya gapapa kok pak, disini mah bebas kok," ucap Awan sambil tersenyum.
Lalu, pria itu tampak mengeluarkan sejumlah uang dan diberikan kepada Awan. "Eee ini ada sedikit uang untuk kamu, anggap saja biaya parkir," ucapnya.
"Hah? Biaya parkir mah gak sebanyak ini pak, lagian saya gak masang tarif kok. Gausah deh pak," ucap Awan menolak.
"Gapapa, diambil aja ya!" ucap Bram memaksa.
"Oh gitu, yaudah deh kalau bapak maksa." Awan tersenyum dan mengambil uang tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
Wati menggeleng serta memutar bola matanya, saat Bram hendak pamit, ia pun mencegahnya sebab ia mempunyai niat untuk berbicara dengan pria itu. Sedangkan Awan sudah tak perduli lagi, ia terlihat gembira setelah mendapat cukup banyak uang dari lelaki itu.
"Tunggu dulu om, saya mau tanya sesuatu dong sama om. Om ada waktu kan?" ucap Wati.
Bram sontak mengurungkan niatnya, ia berbalik menatap Wati dari atas sampai bawah dengan wajah bingung. Ia mengernyitkan dahinya, ia merasa seperti mengenali wanita itu sebelumnya karena memang mereka sudah pernah bertemu sebelum ini.
"Oh iya, kamu mau tanya apa emangnya? Jangan lama-lama ya, soalnya saya masih ada urusan lain nih!" ucap Bram.
"Gak lama kok om, saya cuma pengen tanya aja om abis darimana? Rumah tante Fatimeh ya?" ucap Wati bertanya pada intinya.
"Iya betul, terus kenapa ya?" ucap Bram heran.
"Gapapa sih om, mau mastiin aja sebenarnya ada hubungan apa diantara kalian?" ucap Wati.
Bram terdiam sejenak memandangi wajah Wati, hal itu membuat Wati sedikit gugup sekaligus takut dan berpikir Bram akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Namun, sedetik kemudian pria itu malah berbalik dan pergi meninggalkan warung begitu saja tanpa menjawab apapun.
"Lah kok dia malah pergi? Ish, aneh banget sih jadi orang!" geram Wati yang tampak kesal sendiri dibuatnya.
•
•
Sore harinya, Saka tiba di rumah sang kekasih dengan mobil yang ia tumpangi. Pria itu turun dari mobil disertai senyuman lebar, ia berjalan menuju teras rumah sembari merapihkan pakaian yang ia kenakan itu dan berharap Sahira akan suka jika melihatnya nanti.
Begitu sampai di teras, Saka pun langsung mengetuk pintu dan mengucap salam agar orang di dalam sana bisa mendengarnya. Tak lama pintu terbuka memperlihatkan Sahira yang tampak lebih cantik dari biasanya, sontak Saka dibuat kagum oleh penampilan gadisnya itu saat ini.
"Eh mas Saka, ada apa kamu datang ke rumah aku sore-sore gini?" tanya Sahira penasaran.
"Wow luar biasa, kamu cantik sekali Sahira! Saya kira tadi yang muncul itu bukan kamu, tapi bidadari. Eh ternyata saya salah kira, karena ini memang benar kamu," ucap Saka merayu.
Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Apa sih mas? Bukannya jawab pertanyaan aku malah ngegombal," ucapnya tersipu.
"Gak gombal kok sayang, emang kamu cantik banget loh. Kayaknya pas deh diajak jalan-jalan sore, kita ngabuburit bareng yuk cantik!" ucap Saka.
"Hah? Jadi, kamu kesini tuh mau ajak aku ngabuburit ya mas?" tanya Sahira memastikan.
"Ya gitu deh, saya pengen menikmati sore hari yang indah ini sama kamu. Saya yakin kamu juga mau kan Sahira?" jawab Saka.
"Aku sih mau-mau aja mas, aku nurut sama apa kata kamu," ucap Sahira.
"Bagus, yaudah ayo kita jalan sekarang aja mumpung masih sore!" ajak Saka.
"Jangan sekarang juga dong mas! Aku harus siap-siap dulu sebentar," ucap Sahira.
"Mau siap-siap kayak gimana lagi sih? Ini aja kamu udah cantik banget loh, begini aja saya udah demen kok lihatnya sayang," ucap Saka.
Sahira dibuat senyum-senyum dengan wajah memerah akibat perkataan pria itu, Saka yang gemas akhirnya reflek mencubit kedua pipi Sahira secara bertubi-tubi hingga membuat Sahira menghindar karena sakit. Sahira pun mengembungkan pipinya seraya menatap wajah Saka dengan kesal.
"Kamu kenapa sih hobi banget cubitin pipi aku? Kalau melar nanti gimana? Udah mana sakit lagi," ucap Sahira protes.
"Hahaha, abisnya saya gemas sih sama wajah kamu itu sayang. Saya gak tahan lihatnya deh," ucap Saka tersenyum.
"Ehem ehem!" tiba-tiba suara deheman muncul dan mengejutkan sepasang kekasih itu, mereka reflek menoleh lalu menemukan Fatimeh berdiri disana.
"Eh tante, assalamualaikum tante!" ucap Saka menyapa wanita yang merupakan ibu dari gadisnya itu.
"Waalaikumsallam, kamu sejak kapan ada disini Saka?" tanya Fatimeh.
"Baru kok Bu, niatnya saya mau ajak Sahira ngabuburit cari-cari angin di sekitar sini gitu. Soalnya kita kan belum pernah jalan-jalan bareng di bulan puasa kayak gini," jawab Saka.
"Ohh, yaudah kalian berdua hati-hati ya! Kalau pulang nanti jangan lupa bawain bukaan buat ibu, biar kita bisa buka bersama disini!" ucap Fatimeh.
"Insyaallah tante, saya dan Sahira nanti belikan makanan buka buat kita bertiga. Saya juga mau ngerasain gimana sih rasanya buka bersama di rumah calon istri dan calon mertua," ucap Saka.
Sahira dibuat melongok akibat perkataan Saka barusan, ia tak menyangka pria itu akan mengatakan hal tersebut pada ibunya yang membuat Fatimeh tersenyum lalu reflek menatap putrinya dengan antusias.
•
•
Nawal yang berada tepat di samping Alan terus tersenyum memandangi wajah lelaki tersebut dari tempatnya terduduk, sesekali ia menaruh tangan di lengan Alan dan mengusapnya perlahan. Namun, karena risih akhirnya Alan menepis tangan Nawal dengan kasar sampai gadis itu merintih.
"Awhh, kamu apa-apaan sih Alan? Kok kasar banget sih sama aku? Kamu lupa ya sama omongan papa kamu tadi? Kamu harus bersikap lembut sama aku," protes Nawal.
"Kamu gausah banyak omong Nawal! Masih mending aku mau ajak kamu jalan sesuai perintah papa, jadi kamu diam aja dan jangan banyak mau! Atau aku bakal turunin kamu disini sekarang juga!" ancam Alan.
"Jangan dong Alan! Masa kamu tega nurunin bidadari kayak aku di jalan begini? Nanti kalau aku digodain orang iseng gimana?" ucap Nawal.
"Kamu kalau bicara jangan ngada-ngada kayak gitu deh! Bidadari mana yang suka adu domba anak sama ayahnya sendiri?" sindir Alan.
"Emangnya siapa yang ngadu domba kamu sama papa kamu? Semua yang aku bilang ke papa kamu itu benar adanya tau," ucap Nawal tak terima.
"Terserah kamu deh, kalau bukan karena papa pasti udah aku buang kamu ke sungai Ciliwung!" kesal Alan.
Nawal terbelalak kaget, "Ih kamu kok jahat banget sih jadi orang?!" ujarnya cemberut.
"Biarin aja, abisnya aku kesal banget sama wanita kayak kamu! Kok bisa ya ada perempuan seperti kamu di dunia ini? Aku bingung deh, harusnya kamu tuh dimusnahkan aja!" ujar Alan.
"Gak boleh gitu Alan, gini-gini juga kamu masih cinta kan sama aku?" goda Nawal.
"Hah? Aku gak pernah ya bilang kalau aku masih cinta sama kamu, jadi jangan kepedean deh!" elak Alan.
"Ah masa? Aku yakin kamu sebenarnya masih cinta sama aku, tapi kamu malu aja buat bilangnya ke aku dan papa kamu," ucap Nawal.
"Iyain, yang penting kamu senang. Ini terus sekarang kita mau kemana?" tanya Alan.
"Umm.." saat Nawal sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Alan, tiba-tiba sebuah klakson panjang terdengar di telinga mereka.
Tin tin tin...
Sontak mereka menoleh ke arah kanan secara bersamaan, terdapat sebuah mobil melaju disana yang menyalip mobil mereka dan berhenti mendadak di depan mereka. Tentu saja Alan dengan sigap menginjak pedal rem, untungnya masih tepat waktu sehingga mereka tidak bertabrakan.
"Haish, siapa sih tuh orang?! Lagi puasa mancing-mancing emosi orang aja!" kesal Alan.
"Sabar Alan! Kita coba turun aja dulu, siapa tau dia ada urusan sama kita!" ucap Nawal.
"Yaudah, tapi kamu disini aja! Aku takut dia orang yang punya niat jahat," ucap Alan.
Nawal tersenyum mendengar perkataan Alan, ia kini tahu bahwa ternyata Alan memang masih menaruh rasa perduli padanya. Setelahnya, Alan pun turun dari mobil dengan keadaan kesal dan berjalan menghampiri seseorang yang keluar dari mobil di depan sana.
"Heh! Lu siapa? Mau apa lu cegat mobil gue?" tanya Alan pada si pria itu dengan tegas.
Tampak pemilik mobil tersebut berbalik dan menunjukkan wajahnya, sontak Alan makin terkejut saat mengetahui bahwa pria di depannya itu adalah Royyan alias lelaki yang dijodohkan dengan Nawal.
"Lo Royyan kan? Mau apa lu cegat mobil gue tadi?" tanya Alan lagi padanya.
•
•
Saka sudah berada di jalan bersama gadisnya, Sahira. Mereka berdua duduk di dalam mobil dan saling tersenyum satu sama lain, perasaan keduanya sangat bahagia karena bisa pergi berdua seperti sekarang ini di bulan yang penuh berkah dan ampunan tersebut.
Sahira juga tampak senang dengan momen ini, sebab ini merupakan kali pertama ia menjalin hubungan dengan laki-laki sampai sedekat ini. Sebelumnya Sahira sudah seringkali ditembak oleh banyak lelaki, namun ia tolak dan hanya Saka lah yang mampu membuatnya menerima lelaki itu untuk hadir di hidupnya.
"Sahira, kamu senang gak bisa jalan-jalan sama saya sekarang kayak gini?" tanya Saka dengan senyum lebarnya.
"Senang aja kok, aku malah bahagia karena bisa jalan sama kamu. Besok-besok kita masih bisa kayak gini juga kan mas? Soalnya aku bosan kalau cuma di rumah aja pas hari libur begini," ucap Sahira sambil tersenyum.
"Iya bisa dong sayang, saya justru emang pengen begitu. Saya mau ajak kamu setiap hari jalan berdua kayak gini, tapi itu juga kalau kamu gak kecapekan sih," ucap Saka.
"Insyaallah aku gak capek kalau pergi sama kamu, kan kita perginya naik mobil," ucap Sahira.
"Oh iya juga ya, lagian kalau kamu capek juga bisa saya pijat nanti biar kamu gak capek lagi," ucap Saka.
"Kamu mah ada-ada aja ah mas! Gak boleh lah kamu pijat aku, kita kan belum nikah," ucap Sahira.
"Hahaha, tenang aja kali Sahira! Saya juga tahu diri kok, gak mungkin saya begitu karena saya ini kan sayang sama kamu," ucap Saka.
"Yaudah ah mas, kita cari tempat yang enak aja yuk buat jalan-jalan!" usul Sahira.
"Okay, kelihatannya di depan juga rame tuh banyak penjual makanan. Kamu minat gak mampir kesana? Barangkali ada sesuatu yang pengen kamu beli atau buat ibu kamu gitu," ujar Saka.
"Boleh deh, kayaknya seru juga tempatnya disitu dan rame juga," ucap Sahira.
Saka mengangguk, lalu mengarahkan mobilnya menuju tempat yang tadi ia tunjuk. Mereka pun turun dari mobil bersama-sama dan tampak tersenyum seraya melihat ke arah tempat tersebut, tak lupa pula Saka meraih tangan gadisnya untuk digenggam dengan erat sebelum berjalan.
"Umm mas, kayaknya gak perlu pake gandengan tangan segala deh. Aku ngerasa gimana gitu, apalagi dilihat banyak orang," ucap Sahira.
"Kenapa sih Sahira? Kamu malu karena kita dilihat sama banyak orang?" tanya Saka.
"Iya gitu deh mas, mending kita kayak biasa aja gak perlu gandengan kayak gini. Lagian ini kan bulan puasa, gak baik juga begini mas," jawab Sahira.
"Yaudah, saya nurut aja sama kamu. Kalo gitu kita masuk ke dalam yuk!" ajak Saka.
Sahira mengangguk sambil tersenyum, ia senang karena Saka mau menurut dan melepaskan tangannya. Mereka pun lanjut melangkah ke dalam tempat tersebut, tapi tanpa diduga mereka justru berpapasan dengan pasangan kekasih yang juga kebetulan berada disana.
"Loh Sahira??"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...