
Fatimeh sontak terkejut, ia menatap tajam wajah putrinya dengan penuh emosi dan tampak tak terima karena Sahira menanyakan hal itu lagi padanya. Ia menaruh bungkus makanan itu di meja, lalu fokus menatap Sahira sembari melipat kedua tangannya.
"Heh! Lo masih aja ya bahas itu, mau sampai kapan sih Sahira?!" ketus Fatimeh.
"Bu, tenang dulu Bu jangan emosi! Aku kan cuma minta penjelasan dari ibu, apa semua itu benar atau tidak?!" ucap Sahira.
"Gue jawab jujur juga percuma, pasti lu gak bakal percaya sama gue. Emang dari dulu tuh sikap lu selalu begini ke gue, lu gak suka kan sama gue!" sentak Fatimeh.
"Gak gitu Bu, aku suka kok sama ibu. Aku juga sayang sama ibu, tapi tetap aja aku gak rela kalau ibu turun ke dunia malam," ucap Sahira.
Plaaakk
Fatimeh malah menampar wajah putrinya dengan keras dan kuat, membuat Sahira nyaris terjatuh sembari memegangi pipinya yang tampak memerah. Sahira pun berusaha menenangkan dirinya, ia ingat pada pesan Saka tadi untuk tidak terpancing emosi pada sang ibu.
"Lancang banget lu ya kalo ngomong! Emang lu kira gue perempuan model apa yang tega masuk ke dunia malam?!" sentak Fatimeh.
"Bu, sabar Bu! Ibu jangan emosi kayak gini dong sama aku!" ucap Sahira.
Fatimeh menghela nafasnya dan pergi begitu saja dari sana meninggalkan Sahira yang masih memegangi pipinya, namun Sahira tak menyerah dan mengejar ibunya itu menuju meja makan. Sahira masih ingin kejujuran dari ibunya, ia mau Fatimeh mengaku kalau dia memang pergi ke bar malam itu bersama seorang lelaki tua.
"Bu, kenapa ibu pergi sih? Ibu kan belum jawab pertanyaan aku tadi, okay aku minta maaf kalau omongan aku nyakitin ibu. Tapi, aku disini cuma minta pengakuan dari ibu," ucap Sahira.
"Pengakuan apa? Lo masih gak percaya sama gue, ha?!" kesal Fatimeh.
"Bu-bukan gitu Bu, tapi aku masalahnya lihat sendiri foto ibu waktu di bar itu sama laki-laki yang aku gak kenal siapa," ucap Sahira.
"Hah? Lo lihat foto itu dari mana?" tanya Fatimeh.
"Itu gak penting Bu, sekarang jawab pertanyaan aku apa itu semua benar dan ibu ada disana waktu itu!" ucap Sahira.
Fatimeh menggeleng, "Mau gimanapun juga gue cerita sama lu, gue yakin lu gak bakal percaya. Jadi percuma aja gue kasih tahu ke lu," ucapnya.
"Bu, aku mohon Bu kali ini aja ibu jujur sama aku! Aku cuma pengen ibu kasih tau yang sebenarnya ke aku," ucap Sahira.
"Itu udah yang sebenarnya Sahira, lu gak percayaan amat jadi orang. Gue harus bilang berapa kali sih sama lu, ha?!" kesal Fatimeh.
"Tapi Bu, aku udah lihat langsung foto itu dan aku tahu kalau itu emang ibu. Ayolah ibu ngaku aja, aku gak akan marah kok!" ucap Sahira.
Fatimeh menggeleng cepat, "Terserah lu lah Sahira, gue capek ngomong sama lu! Gue bilang bukan juga tetap aja lu maksa gue buat ngaku," ujarnya.
"Ya karena itu emang ibu, aku heran deh kenapa sih ibu susah banget buat ngaku?!" ucap Sahira.
"Sekarang lu maunya apa? Lu pengen hukum gue gitu karena gue ke bar, iya?" tanya Fatimeh.
Seketika Sahira terkejut, "Berarti ibu beneran dong ke bar malam itu? Dan foto yang aku lihat itu juga benar ibu?" tanyanya memastikan.
"Iya itu gue, terus kenapa? Masalah buat lu?" ucap Fatimeh dengan ketus.
Sahira menggeleng tak percaya, mulutnya menganga dan ia reflek menutupinya dengan telapak tangan karena masih syok pada pengakuan Fatimeh barusan.
•
•
Saka tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat cantik itu dengan balutan blazer miliknya, Saka pun bergerak maju menyapa gadisnya sembari mengusap wajah sang kekasih. Sahira hanya bisa diam menunduk dengan senyum tipisnya, jujur ia tersipu diperlakukan seperti itu oleh Saka.
"Pak, ada apa bapak ke rumah saya pagi-pagi gini?" tanya Sahira keheranan.
"Loh kok kamu tanyanya begitu sih? Kamu gak senang dengan kedatangan saya? Terus juga kenapa kamu masih panggil saya bapak? Lupa kamu sama permintaan saya waktu itu?" ucap Saka dingin.
"Eee ma-maaf mas, iya saya tadi agak lupa karena kaget lihat mas disini," ucap Sahira gugup.
"Ya gapapa, tapi mulai sekarang kamu harus terbiasa ya lihat kehadiran saya di rumah ini? Karena saya akan terus kesini buat temuin kamu Sahira," ucap Saka.
"Kenapa ya kamu harus kesini terus?" tanya Sahira.
"Kamu nanya? Jelaslah saya kesini karena saya ini kan pacar kamu, jadi saya wajib dong jemput kamu setiap hari sayang," jawab Saka.
"Ohh, emangnya kalau orang pacaran tuh kayak gini ya mas?" tanya Sahira.
"Pastinya dong, supaya hubungan kita jadi lebih romantis dan langgeng terus. Biar kamu irit ongkos juga sayang," jawab Saka.
"Yaudah deh saya ngikut aja, kalo gitu ayo masuk dulu pak!" ucap Sahira.
"Eh gausah, saya disini aja. Nanti kalau kamu sudah siap, kita langsung berangkat ke kantor," ucap Saka menolak.
"Loh kenapa gak mau masuk mas? Masuk aja ayo minum dulu!" ajak Sahira.
Saka menggeleng, "Gak dulu deh sayang, saya masih gak enak sama ibu kamu. Saya takut ibu kamu marah-marah lagi sama saya kayak waktu itu," ucapnya.
"Oh iya, saya minta maaf ya mas atas kejadian waktu itu? Ibu saya mungkin emosi setelah saya tegur mengenai fotonya di bar," ucap Sahira.
"No problem, kamu sekarang mending masuk terus lanjut siap-siap! Saya tunggu disini ya cantik?" ucap Saka.
Sahira mengangguk setuju, ia mempersilahkan Saka duduk menunggu di depan rumahnya dan pria itu pun menurut. Lalu, Sahira masuk ke dalam membuatkan minuman sekaligus siap-siap pergi ke kantor bersama Saka. Sedangkan Saka tetap menunggu disana seorang diri.
Tak lama kemudian, mobil Alan justru muncul di halaman rumah Sahira. Sontak Saka yang tengah duduk itu terkejut dan spontan bangkit menatap ke arah mobil tersebut, ada rasa geram ketika melihat adiknya itu turun dari mobil lalu berjalan mendekatinya disertai senyuman tipis.
"Eh bang, ternyata ada lu juga disini. Lagi ngapain lu bang di rumah sekretaris gue? Kurang kerjaan amat lu," ucap Alan mengejek.
"Gue kesini mau jemput cewek gue, jadi harusnya gue yang tanya ke lu mau apa lu ke rumah cewek gue? Bukannya seorang bos itu wajarnya tunggu di kantor aja ya?" ucap Saka.
Deg!
Alan terkejut seketika mendengar pengakuan Saka mengenai Sahira.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...