Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 138. Mencari Alan


Keesokan paginya, Carol terbangun dari tidurnya dan langsung terkejut saat melihat Alan masih tergeletak di sampingnya dengan tangan melingkar di atas perut ratanya. Ia pun mengingat-ingat apa yang terjadi pada mereka semalam, dan memang setelah percumbuan panas mereka kala itu, keduanya mulai mengantuk dan tak lama tertidur.


Carol menghela nafas lega sembari terus mengamati wajah Alan dari samping, entah mengapa ia selalu terpesona pada ketampanan pria itu dan tak ingin berhenti menatapnya. Tanpa sadar, gadis itu mengembangkan senyumnya dan satu tangannya seolah tergerak untuk mengusap wajah Alan dengan lembut.


Namun, tanpa diduga tangannya itu digenggam oleh Alan secara tiba-tiba yang sontak membuatnya terkejut. Lalu Alan pun membuka matanya dan tersenyum seketika, mata mereka kini saling berpandangan sampai Carol tak bisa menyembunyikan wajah merahnya itu dari Alan karena sangking gugupnya.


Cup!


"Good morning, Carol!" ucap Alan lembut sembari mengecup bibir mungil gadis itu, yang ia akui berhasil membuatnya tercandu-candu.


"Hah? Alan ih kamu lama-lama makin kurang ajar deh! Bisa-bisanya kamu cium aku kayak gitu, gak ada adabnya banget sih kamu! Lagian ini masih pagi tau," protes Carol.


"Kenapa sih marah-marah mulu? Gak puas apa semalam kamu udah maki-maki saya karena ambil first kiss kamu, hm?" goda Alan.


"Gak akan puas sebelum kamu sadar kalau yang kamu lakukan itu gak bener, Alan! Udah ah bangun, terus kamu pulang sana! Aku mau mandi sambil beberes, jadi tolong kamu jangan gangguin aku!" ucap Carol mengusir pria itu.


"Kok pulang sih? Apa kamu gak mau saya bantu beberes? Saya juga mau numpang mandi dong, badan saya lengket banget nih," ucap Alan.


"What? Kamu yang bener aja deh, Lan. Masa kamu mau numpang mandi di kostan aku? Enggak deh enggak, kamu mandinya di rumah aja sana! Aku gak mau kamu lama-lama disini," ucap Carol.


"Yah elah, santai aja kali! Toh dari semalam juga saya udah nginep disini," ucap Alan.


"Ya justru itu, kamu kan udah nginep di tempat aku, jadi kamu sekarang pulang ya Alan!" pinta Carol.


Alan menggeleng dan menggenggam dua tangan gadis itu, "Saya gak mau pulang, saya justru mau ajak kamu ke apartemen saya. Kita tinggal disana berdua ya?" ucapnya penuh tuntutan.


"Apaan sih Alan? Kamu gausah ngada-ngada deh, itu gak bener! Kita bukan suami-istri, mana boleh kita tinggal bareng?" ucap Carol menolak.


"Emang kamu mau saya nikahin?" tanya Alan.


Deg!


Saat itu juga jantung Carol berdegup sangat kencang, pipinya memerah dan nafasnya memburu tak karuan akibat ucapan asal Alan barusan. Ia tak menyangka Alan akan berani mengatakan itu, meski ia sendiri tahu kalau Alan pasti hanya bercanda dan tidak serius ingin menikahinya.


"Kenapa diam? Mau apa enggak saya nikahin? Jawab dong Carol!" ujar Alan.


"Dasar gak waras kamu Alan!" sentak Carol yang langsung menghentak tangannya dan bangkit dari kasur, lalu berjalan pergi.


"Hey Carol tunggu!" teriak Alan dengan lantang sembari mengejar gadis itu.


Alan pun berhasil mencekal lengan Carol dari belakang dan menahan pergerakan gadis itu, membuat Carol terpaksa menoleh menatap wajah Alan kembali. Kini Alan menangkup wajah Carol dan memandangnya dengan senyuman lebar, sehingga Carol cukup terpana dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Haish, kamu mau apa lagi sih Alan? Aku udah bilang aku mau mandi, sana ah kamu pulang!" ucap Carol tegas.


"Kamu mandi, terus saya ngapain dong? Saya temenin aja ya kamu mandi, seram loh sendirian di kamar mandi. Biasanya itu kan tempat kumpulnya makhluk-makhluk halus," ucap Alan.


"Gak perlu di kamar mandi kali, disini juga udah ada makhluk halusnya," ucap Carol seraya menyingkirkan tangan Alan dari wajahnya dan menatap ketus ke wajah pria itu.


"Hahaha, maksudnya apa nih?" kekeh Alan.


"Kamu pikir aja sendiri!" ketus Carol sembari membalikkan tubuhnya, tetapi lagi-lagi Alan berhasil menahannya dan malah memeluknya.


"Duh, kamu tuh lucu banget sih! Andai aja kamu jadi istri saya, pasti hari-hari saya bakalan bahagia banget. Eee gimana kalau kita pacaran aja, hm?" goda Alan.


"Hah? Ka-kamu udah gak waras ya Alan? Kita ini baru kenal, bisa-bisanya kamu bicara kayak gitu santai banget!" ucap Carol.


"Emang kenapa kalau baru kenal? Gak boleh gitu kita pacaran atau nikah? Perasaan gak ada larangannya deh, yang penting itu kita saling mencintai dan menyayangi. Benar begitu kan Carol?" ucap Alan santai.


Cup!


Belum sempat menjawab, Alan sudah langsung mengecup bibir mungil itu kembali yang menjadi candu baginya. Entah kenapa Alan selalu tidak bisa menahan diri saat berhadapan dengan Carol, terlebih setelah Alan berhasil mencuri ciuman pertama Carol semalam yang memabukkan dan membuat keduanya hilang kendali.


"Lan, bisa gak kamu berhenti cium-cium bibir aku? Aku gak mau kita terus kayak gini, ini salah tau!" protes Carol.


"Apa salahnya sih? Cium bibir kamu itu bikin saya tenang tau," ucap Alan membela diri.


"Ya gak harus bibir aku juga kali, kamu kan bisa cium Floryn atau siapa kek gitu," ucap Carol.


"Aku maunya kamu, gimana dong?" ucap Alan dengan santai sambil tersenyum lebar.


Carol memutar bola matanya, Alan yang gemas kembali mengecupi seluruh wajah gadis itu seolah tak ingin berhenti. Pria itu juga mendorong tubuh Carol sampai menempel pada dinding, dua tangan gadis itu ditaruh di atas kepala dengan Alan mencengkeramnya. Setelah itu, tentunya Alan kembali membungkam bibir Carol dengan bibirnya dan memberikan ciuman yang panas.


Mau tidak mau, Carol mengikuti saja irama yang diberikan Alan melalui lidahnya. Meski Carol masih awam akan hal itu, namun Alan justru merasa bangga karena ia menjadi pria pertama yang mencuri ciuman gadis itu. Alan juga bertekad akan mengajarkan Carol sampai gadis itu dapat menjadi pencium yang handal, sebab bibir Carol memang sangat menyenangkan baginya.


"Mmhhh, kamu benar-benar nikmat sayang! Rasanya saya gak bisa berhenti mencium kamu, kita mandi bareng ya? Kamu mau kan sayang?" ucap Alan sesudah menyelesaikan ciumannya.


Carol sontak menggeleng sembari menggerakkan dua tangannya agar lepas dari genggaman pria itu, tetapi usahanya sia-sia karena Alan tak sedikitpun meregangkan cengkraman tersebut dan membuat Carol tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan Alan kini beralih ke area leher gadis itu yang begitu mulus dan bersih, meski dia belum mandi.


"Kamu sudah bikin saya tercandu-candu, Carol. Saya tidak akan melepaskan kamu," ucap Alan.


"Lan, kamu—" belum sempat Carol selesai bicara, Alan sudah lebih dulu menempelkan telunjuknya pada bibir gadis itu.


"Kita pacaran mulai sekarang, okay?" ucap Alan.


"Hah? Ka-kamu jangan ngada-ngada deh! Lepasin aku Lan, aku mau mandi!" rengek Carol.


Tanpa aba-aba, Alan langsung menggendong tubuh Carol seperti karung beras dan membawanya menuju kamar mandi yang ada di kost tersebut. Carol berteriak sembari memukul-mukul punggung Alan meminta untuk diturunkan, namun Alan tak mendengar dan malah menyunggingkan senyum saat memasuki kamar mandi, lalu mengunci pintunya.




Disisi lain, Sahira sudah bersiap pergi dari rumah bersama ibunya. Mereka juga telah menyiapkan barang-barang milik mereka dan menaruhnya ke dalam koper, tampak Fatimeh seperti buru-buru sekali mengajak Sahira untuk segera pergi seolah ada yang sedang dia takutkan.


Sebagai seorang anak, Sahira manut saja pada permintaan ibunya untuk pergi dari rumah itu. Meski sebetulnya Sahira agak ragu meninggalkan rumah yang sudah banyak memberi kenangan baginya, namun mau gimana lagi karena Fatimeh tidak mungkin bisa ditolak jika sudah berkehendak.


"Bu, serius ini kita mau pergi sekarang juga? Gak bisa besok atau nunggu Minggu depan aja gitu?" tanya Sahira penuh harap.


"Iya serius lah Sahira, lu kira gue bercanda gitu? Gue kan udah bilang, kita harus pergi dari rumah ini secepat mungkin! Gue gak mau tuh si Syera sama anak-anaknya terus ganggu kita," jawab Fatimeh.


"Aku ngerti Bu, tapi kenapa kita harus pergi dan ibu kelihatan takut banget gitu? Bukannya disini ibu gak salah, ya?" heran Sahira.


"Gue emang gak salah, dan disini gue yang jadi korban si Syera. Tapi, gue jujur gak mau pisah dari lu, Sahira. Gue yakin banget, setelah tahu kalau lu anak kandungnya, si Syera itu pasti bakal berusaha buat rebut lu dari gue," ucap Fatimeh tegas.


Mendengar itu membuat Sahira terkejut bukan main, ia tak percaya jika ternyata Fatimeh begitu perduli padanya dan sampai tidak ingin kehilangan dirinya. Namun, biar bagaimanapun juga Sahira sebenarnya sangat merindukan mama kandungnya yang memang tak lain adalah Syera. Karena sudah cukup lama Sahira berpisah dengan wanita itu.


"Bu, makasih banget ya udah mau perduli sama aku dan sayang sama aku? Selama ini aku kira ibu gak sayang loh sama aku," ucap Sahira terharu.


"Udah gausah lebay, sekarang ayo kita cabut sebelum si Syera datang kesini!" ajak Fatimeh.


"Tapi Bu, mobilnya kan belum datang. Barang-barang kita juga masih pada ada di dalam," ucap Sahira.


"Ah biarin aja, gak perlu pake mobil segala, kelamaan tau! Kita naik angkot aja, dan biarin barang-barang itu tetap disini!" ucap Fatimeh.


"Loh kok gitu sih, Bu? Terus kita nanti di rumah baru gak ada barang-barang dong?" ujar Sahira.


"Tenang aja, gue udah urus semuanya! Lo cukup ikutin kata-kata gue dan jangan banyak bantah! Ngerti kan lu sekarang?" pinta Fatimeh.


"I-i-iya Bu.." Sahira manut saja dibuatnya.


Akhirnya Fatimeh dan Sahira sama-sama melangkah dari rumah itu dengan membawa koper mereka masing-masing, Fatimeh juga berharap agar kepergian mereka ini bisa membawa ketenangan bagi hidupnya dan tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu mereka.


Akan tetapi, tampak dari jauh bahwa Cat serta Wati tak sengaja melihat keberadaan Fatimeh dan Sahira yang sedang terburu-buru itu. Tentu saja mereka tampak heran, mereka sungguh penasaran hendak kemana kedua orang itu pergi dan mengapa terlihat sangat buru-buru.


"Itu kan Sahira, dia mau kemana ya?" ujar Cat terheran-heran.


"Gak tahu deh, tapi kelihatannya kayak mau pergi jauh deh. Tuh lihat mereka pada bawa koper gede kayak gitu, ya kan?" ucap Wati.


"Iya sih, kira-kira kemana ya mereka pergi?" ucap Cat kebingungan.




Siang ini, Saka masih terus berusaha mencari dimana adiknya berada karena dari semalam hingga kini Alan memang belum kunjung pulang ke rumah. Padahal berkali-kali sudah Saka coba menghubungi pria itu dan memintanya pulang, tetapi Alan malah menonaktifkan ponsel miliknya sehingga Saka tak tahu adiknya itu ada dimana.


Saka yang ditemani Floryn, saat ini berusaha mendatangi tempat-tempat yang biasa didatangi oleh Alan selagi bersedih. Kebetulan Floryn juga tahu tempat tersebut, sebab Alan pernah memberitahu padanya dan seringkali curhat kepada gadis itu dikala sedih. Ya betul sekali, tempat yang dimaksud adalah taman hotel yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka kala itu.


"Flo, kamu yakin disini tempatnya? Saya kok gak yakin kalau Alan datang kesini ya?" tanya Saka pada gadis itu.


"Eee ya sebenarnya aku juga kurang yakin sih, tapi sebelumnya Alan pernah bilang kalau dia lagi ada masalah tuh dia kadang suka kesini. Kita coba cari aja dia dulu di dalam, siapa tahu dia emang ada disini!" jawab Floryn.


"Oke deh, gimana kalau kita mencar? Soalnya taman ini kan luas banget, bakal makan waktu kalau kita berdua terus kayak gini. Kamu setuju kan?" usul Saka.


Floryn mengangguk cepat, "Iya setuju, aku kesana ya? Kamu kesana aja!" ucapnya menunjuk arah.


"Okay." Saka setuju dengan arah yang ditunjuk Floryn barusan, mereka pun bergegas pergi ke arah yang berlawanan untuk menemukan Alan.


Tampak Floryn mencari ke tempat dimana biasa Alan berbincang dengannya, tetapi disana tidak terlihat ada tanda-tanda keberadaan pria itu sama sekali. Floryn pun kebingungan saat ini, ia terus menoleh ke kanan dan kiri sembari berharap dapat bertemu dengan Alan disana.


"Duh Alan, kamu dimana sih? Kamu gak tahu apa kalau aku sama kakak kamu tuh lagi pusing banget nyariin kamu?" gumam Floryn.


Drrttt drrttt...


Tiba-tiba saja, ponsel milik gadis itu berbunyi dan sontak Floryn mengambilnya dari saku celana untuk memastikan siapa yang menelpon. Dan ternyata itu adalah telpon dari Alan, tentunya Floryn meloncat girang melihatnya karena inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Tanpa menunggu lama lagi, Floryn segera mengangkat telpon tersebut.


📞"Halo Alan! Kamu lagi dimana sekarang? Kasih tahu aku dong, please jangan bikin aku khawatir! Kamu ditelpon gak bisa, dichat gak dibalas. Bikin panik aja tau!" ucap Floryn tegas.


📞"Hahaha, segitunya ya kamu khawatir sama saya? Cie cie, kayaknya ada yang sayang beneran nih sama saya. Aduh Flo, tau gitu saya datengin kamu deh dari semalam! Maaf ya sayang, jangan cemas gitu dong!" ucap Alan menggoda.


Deg!


Floryn melongok seketika, ia baru sadar kalau kata-katanya barusan terlalu lebay dan membuat Alan salah paham. Floryn pun menepuk jidatnya, seharusnya ia memang tidak sepanik itu saat berbicara pada Alan tadi, terbukti sekarang Alan malah sengaja menggodanya dan membuat dirinya tersipu sendiri.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...