Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 123. Liburan dong


Alan sampai di parkiran hotelnya bersama Carol yang ternyata justru menerima ajakan pria itu, sontak mereka langsung turun dari mobil dan berniat memasuki area hotel. Namun sebelum itu, Alan tampak menyukai momen dimana mereka berduaan saat ini dan tak ingin kehilangannya.


Carol pun sama halnya dengan Alan, gadis itu juga mulai merasa nyaman ketika Alan menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Bahkan tanpa sadar, tangannya itu perlahan menyentuh telapak tangan sang lelaki dan mengusapnya. Hal itu sontak membuat Alan terkejut lalu reflek melirik ke arah tangan mereka yang saling bertaut.


"Ehem, nakal ya kamu? Masa baru kenal udah langsung pegang-pegang tangan saya?" goda Alan disertai senyum mengejek.


"Eee anu itu aku gak sengaja.." Carol spontan melepas tangan Alan dan langsung berpaling.


"Hahaha, gapapa kali kalo emang sengaja mah. Saya malahan suka disentuh sama perempuan, apalagi kalau perempuannya secantik dan semanis kamu Carol," ujar Alan.


"Aduh, ternyata kamu tukang gombal juga ya? Aku sampe heran deh dengarnya," ujar Carol.


"Bukan gombal sih, lebih tepatnya itu pujian buat kamu karena yang saya katakan tuh benar dan sesuai kenyataan," ucap Alan.


"Ya ya ya, terserah kamu deh. Ini terus kita mau kemana nih?" ucap Carol.


"Sesuai ajakan saya tadi, kita ke tempat makan dulu biar kamu gak sakit. Saya tahu kamu pasti belum sempat makan kan?" ucap Alan.


"Iya sih Lan, aku emang kebetulan lapar banget nih," jawab Carol sambil memegangi perutnya.


"Yaudah, kita masuk aja ke dalam! Biar cepat saya gandeng tangannya ya?" ucap Alan.


"Yeh bilang aja modus!" cibir Carol disertai bibir yang dimajukan.


Alan terkekeh sebentar sebelum langsung meraih tangan Carol dan menggenggamnya, lalu tanpa menunggu lama mereka pun mulai melangkah ke dalam hotel tersebut. Carol menurut saja karena memang ia sudah merasa lapar, meskipun ia sedikit risau karena ia baru mengenal pria itu.


Begitu sampai di restoran hotel, Alan dengan sikap jantannya membantu menarik kursi untuk Carol agar gadis itu mudah untuk duduk. Tentunya Carol dibuat meleleh dengan sikap manis Alan, padahal mereka baru saja saling mengenal beberapa jam yang lalu.


"Carol, kamu paling suka makan apa? Saya jamin disini semuanya enak-enak," tanya Alan.


"Eee aku kayaknya ngikut kamu aja deh Lan, soalnya jujur aku belum pernah makan di tempat mahal kayak gini. Jadinya aku gak tahu makanan apa aja yang aku suka," jawab Carol.


"Ohh, yaudah kamu tenang aja biar saya nanti yang pesenin makanan buat kamu. Terus kalau minumnya mau apa?" ucap Alan.


"Sama kayak tadi, aku ngikut kamu aja," ucap Carol.


Alan tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya, lalu kemudian ia mengangkat tangan ke arah pelayan dan meminta sang pelayan untuk datang agar pesanannya bisa segera dicatat. Tanpa menunggu lama, Alan segera menyampaikan semua yang ingin ia pesan kali ini.


"Loh Alan?" keduanya kompak terkejut saat seorang wanita tiba-tiba datang dan menyebut nama pria tersebut.


Sontak Alan tampak panik ketika melihat Floryn ada disana, matanya terbelalak seolah tak percaya karena sebelumnya ia telah memastikan bahwa Floryn tidak kembali ke hotel itu. Tapi sungguh aneh, Floryn justru tiba-tiba muncul dan membuat dirinya sungguh terkejut.


"Floryn, kamu kok bisa ada disini? Bukannya kamu udah gak nginep disini lagi?" tanya Alan terkejut.


Floryn malah tersenyum dan mendekati keduanya, ia berhenti tepat di sebelah Carol yang tengah duduk sembari memandanginya. Floryn merasa bingung siapa sebenarnya Carol itu dan kenapa dia bisa bersama Alan disana, padahal Alan sudah berjanji akan membantunya.


"Iya Lan, aku kesini karena mau ketemu kamu. Ternyata benar kan kamu ada disini, untung aja aku datangnya pas banget," ucap Floryn santai.


"Tapi, gak ada hal yang penting kan Flo? Kenapa gak hubungi aku lewat telpon aja?" ujar Alan.


"Emangnya kenapa sih kalau aku datang langsung kesini? Takut ganggu kamu yang lagi berduaan sama pacar kamu ya?" goda Floryn.


"Hah??" Alan tersentak kaget dengan mulut menganga begitu mendengar perkataan Floryn.


"Udah gausah tegang gitu, santai aja kali! Aku juga gak mungkin ganggu kamu sama pacar kamu, lagian kita kan cuma pura-pura," ucap Floryn.


"Eee tapi—"


"Yaudah, aku kesini cuma mau sampein ke kamu kalau besok kamu ditunggu sama papa aku buat datang ke rumah. Nah kebetulan ada pacar kamu disini, aku bisa minta izin deh ke dia," sela Floryn.


"Flo, dia bukan pacar aku. Kamu dengerin aku dulu dong!" ucap Alan.


"Apa sih Alan? Gapapa kali akui aja, kasihan loh pacar kamu masa gak diakui sih cuma gara-gara ada aku disini," kekeh Floryn.


Alan menggelengkan kepala seraya mengusap wajahnya, ia sungguh bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Floryn agar dia percaya kalau Carol memang bukan kekasihnya. Padahal Alan saja baru mengenal Carol, bagaimana mungkin ia menjalin hubungan dengan gadis itu.


Sementara Floryn kini beralih menatap Carol dan mengulurkan tangannya, "Hai! Aku Floryn, pacar pura-pura nya Alan. Kamu gausah cemburu, karena aku sama Alan cuma bohongan kok," ucapnya.


"Eee i-i-iya, aku Carol.." balas gadis itu seraya meraih tangan Floryn.


"Wih namanya bagus banget! Kamu beruntung Alan, dia udah cantik terus ramah lagi! Semoga langgeng ya kalian!" ucap Floryn sambil tersenyum.


"Flo, mending kamu duduk dulu deh dan kita bicara disini!" pinta Alan.


"Mau ngapain Alan? Aku gak mau ah gangguin kalian pacaran, nanti yang ada aku cuma jadi nyamuk lagi. Lagian urusan aku sama kamu tuh udah selesai kok," ucap Floryn.


"Gapapa Flo, ayo kita ngobrol sini biar jelas! Kamu itu salah paham, Carol ini bukan pacar aku!" ucap Alan tegas.


"Ah kamu mah masih aja malu-malu gitu, akuin aja kali kalo dia pacar kamu!" ujar Floryn.


"Umm mbak Floryn, beneran kok aku ini bukan pacarnya Alan. Kami aja baru saling kenal tadi beberapa jam yang lalu, itu juga karena Alan udah nolongin aku," ucap Carol tiba-tiba.


Seketika Floryn mengernyitkan dahinya, "Loh jadi bener toh kalian bukan pacaran?" ujarnya kaget.


Carol mengangguk sebagai jawaban, Floryn pun merasa bersalah karena sudah mengira mereka menjalin hubungan. Tentu saja Floryn langsung menatap Alan dan tersenyum lebar sebagai tanda rasa malunya, tetapi Alan hanya menaikkan bahunya sembari sedikit tersenyum.


"Sorry banget ya? Aku tadi ngotot bilang kalian pacaran, hehe abisnya kalian kelihatan dekat banget sih," ujar Floryn.


"Gapapa mbak, justru tadi aku juga ngira kalau mbak ini pacarnya Alan. Terus mbaknya mau ngelabrak kita," kekeh Carol.


"Hahaha, ya enggak lah. Aku mah bukan pacarnya Alan, kita cuma pura-pura ada hubungan aja di depan orang tua masing-masing," ucap Floryn.


"Maksudnya?" tanya Carol yang tak mengerti.




Syera merasa terkejut saat Fatimeh menemuinya yang baru saja menumpang ke kamar mandi, tiba-tiba Fatimeh sudah berdiri di depannya dan menatapnya tajam dengan kedua tangan terlipat. Sontak Syera benar-benar bingung harus bagaimana dan hanya bisa terdiam.


"Eee bu Imeh, ada apa ya? Saya salah atau kenapa?" tanya Syera tampak gugup.


Fatimeh menghela nafas singkat, "Jelas banget kamu punya banyak salah sama saya, dan saya yakin kamu masih ingat itu Syera! Itu pun kalau kamu tidak pikun," jawabnya.


Deg!


Lagi-lagi Syera dibuat gemetar dengan perkataan Fatimeh, ia kembali mengingat masa lalunya yang kelam saat bersama suaminya dulu. Padahal justru Syera tidak sengaja merebut suami Fatimeh, sebab ia sendiri tak tahu jika suaminya telah memiliki istri dan ia dibohongi olehnya.


"Iya saya ingat kok Bu, saya minta maaf untuk itu. Tapi sekali lagi saya tekankan, saya kala itu tidak ada niatan untuk merebut suami ibu," ucap Syera.


"Haha, memangnya ada pelakor yang mau mengakui dosanya? Sudahlah Syera, saya juga tidak perduli dengan masa lalu yang telah berlalu itu!" ucap Fatimeh tegas.


"Baiklah, terus kenapa ibu masih kelihatan kecewa dengan saya? Bahkan sampai ibu juga bersikap ketus ke Saka," tanya Syera heran.


"Iya saya mengerti dengan itu, tapi tolong jangan campurkan semua itu ke hubungan Saka dan Sahira! Mereka tidak tahu apa-apa, saya mohon untuk itu Bu!" ucap Syera.


"Saya tidak pernah melakukan itu, hanya saja setiap kali saya melihat wajah Saka yang muncul di bayangan saya itu kejadian dua puluh tahun lalu dimana kamu merebut suami saya!" ucap Fatimeh.


"Saya mohon Bu, biarkan mereka bahagia dan jangan usik mereka!" pinta Syera.


"Siapa kamu berani atur-atur saya? Saya tidak akan pernah merestui hubungan mereka, karena mereka memang tidak bisa bersatu!" ucap Fatimeh.


Syera tersentak kaget, "Apa maksud ibu bicara seperti itu?" tanyanya penasaran.


"Ah sudahlah, belum saatnya kamu tahu Syera. Intinya kamu harus bisa menjauhkan mereka, dan jangan sampai mereka terus berhubungan seperti sekarang!" ucap Fatimeh dengan tegas.


"Kenapa Bu? Tolong jelaskan semuanya ke saya, supaya saya tahu apa alasan ibu melarang mereka berhubungan!" ucap Syera.


"Dengar ya Syera, saya sudah bilang kalau belum saatnya kamu tahu semua itu. Jadi, kamu nurut saja dan lakukan apa yang saya minta tadi!" ucap Fatimeh sembari mengacungkan telunjuknya.


"Tapi bu—" ucapan Syera terhenti lantaran Fatimeh melarangnya bicara.


"Saya sudah tidak ada waktu untuk bicara sama kamu, ayo kita kembali ke depan supaya tidak ada yang curiga dengan kita!" sela Fatimeh.


"I-i-iya bu.." Syera mengangguk menuruti kemauan Fatimeh dan mulai berjalan kembali menuju sofa, meskipun ia masih terus diselimuti rasa penasaran.


"Sebenarnya kenapa Bu Imeh melarang Saka dan Sahira berhubungan? Apa karena dia mengira kalau mereka itu saudara? Berarti Sahira memang benar anak saya yang hilang?" gumam Syera dalam hati.


"Ibu!" lamunan Syera terhenti ketika ia mendengar seseorang menyebut kata 'ibu' di dekatnya, dan orang itu tentu adalah Sahira yang tengah memanggil ibunya.




Wati bersama Awan kini tampak semakin dekat, mereka berdua bahkan pergi ke salah satu tempat wisata di kota untuk menikmati waktu liburan. Mereka hanya pergi berdua, sebab Awan ingin lebih dekat dengan Wati dan sekaligus akan mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam kepada gadis itu disana.


Mereka terus berkeliling di tempat tersebut sembari melihat-lihat binatang yang ada di sekitar mereka, ya tentu sudah bisa ditebak kalau mereka saat ini berada di kebun binatang. Mereka sangat menikmati momen itu, meskipun suasana disana cukup ramai oleh pengunjung yang juga ingin berlibur di hari raya ini.


"Wati, kamu mau lihat binatang apa lagi? Kayaknya masih banyak deh yang belum kita lihat," tanya Awan di sela-sela langkah mereka.


"Umm, aku ngikut kamu aja bang. Aku juga bingung mau lihat apa," jawab Wati pelan.


Awan tersenyum seraya membelai rambut gadisnya, "Yaudah, gimana kalau kita ke kandang harimau aja?" ucapnya memberi usul.


"Boleh, kebetulan aku emang suka lihat harimau. Dia itu udah gagah, terus berkharisma lagi. Coba aja ada cowok yang mirip kayak gitu," ucap Wati.


"Maksud kamu gimana? Emangnya aku gak mirip kayak harimau?" tanya Awan.


Sontak Wati menoleh ke arah Awan dan tersenyum, "Ahaha, jauhlah bang. Kamu itu bukan mirip harimau, tapi mirip zebra tuh," ucapnya sembari menunjuk ke kandang zebra.


"Oh gapapa, zebra juga kan makhluk yang kuat dan gak cengeng. Meskipun dia terus diburu sama predator, tapi dia tetap semangat hidup tuh," ucap Awan sambil tersenyum.


"Iya sih, tapi tetap aja lebih keren harimau," ucap Wati.


"Terserah kamu aja deh, yaudah yuk kita ke tempat harimau sekarang! Takutnya kalo kelamaan, nanti harimaunya keburu tidur," ucap Awan.


"Hahaha, iya iya.." Wati terkekeh kecil dan lalu mengikuti langkah kaki Awan pergi dari sana.


Setibanya di kandang harimau, mereka cukup kesulitan untuk bisa melihat hewan tersebut dari dekat, sebab banyak sekali orang yang berkerumun disana dan tengah berfoto ria. Sontak saja Wati merasa kecewa dengan itu, ia pun merengut dan membuat Awan yang melihatnya ikut sedih.


"Hey Wati, kamu jangan sedih gitu dong! Kita tunggu sampai mereka selesai ya, paling juga sebentar lagi ada yang pergi karena bosan," ucap Awan membujuk gadisnya.


Wati manggut-manggut saja, ia masih kecewa karena orang-orang disana belum ada yang pergi dan tak memberinya ruang sedikitpun. Namun, setelah ia menunggu cukup lama akhirnya ada segerombolan orang yang meninggalkan tempat itu dan membuat Wati tersenyum.


"Eh bang, itu disana udah kosong tuh. Ayo kita kesana, aku mau lihat harimaunya lebih dekat!" ucap Wati antusias.


"Iya Wati iya," ucap Awan menurut.


Disaat mereka sedang asyik melihat harimau yang berlalu lalang di depan mereka itu, tiba-tiba saja seseorang dari belakang menepuk pundak Awan dan membuat pria itu terkejut. Awan pun reflek menoleh, begitu juga dengan Wati yang penasaran ingin tahu siapa orang tersebut.


"Nah kan bener, lu Awan si tukang bully dulu waktu di sekolah!" ujar seorang lelaki yang tadi menepuk pundak Awan sambil terkekeh.


"Hah Yesha? Ya ampun, udah lama banget kita gak ketemu!" rupanya pria tersebut adalah teman lama Awan, sontak saja mereka pun berpelukan disana untuk melepas rindu.




Tak hanya Awan dan Wati yang menikmati libur mereka di kebun binatang, tampak Kini Ari serta Keira juga melakukan hal yang sama dan di tempat yang sama. Ya sepasang kekasih itu juga berada di kebun binatang, tempat dimana Awan serta Wati berada saat ini.


Tapi tentu, baik Keira maupun Ari sama sekali tak membuat janji dengan Wati atau Awan. Ini adalah sebuah kebetulan saja, lagipula mereka juga belum bertemu atau minimal berpapasan dengan Awan atau Wati disana. Sehingga mereka masih belum tahu jika Awan dan Wati ada di tempat itu.


"Sayang, kita makan dulu yuk! Aku mendadak lapar banget nih," ucap Keira tiba-tiba seraya mengusap perutnya yang terus berbunyi.


Ari pun tersenyum dibuatnya, "Ahaha, sayangnya aku lapar nih? Pantas aja daritadi aku kayak dengar suara perut orang bunyi nih, eh ternyata dari perut kamu. Yaudah, ayo kita cari tempat makan di dekat sini ya sayang!" ujarnya.


"Iya sayang, aku lagi pengen makan bakso nih. Boleh kan?" pinta Keira.


Pria itu menatap wajah Keira dan mencoleknya lembut, "Apa sih yang enggak buat kamu sayang? Jangankan bakso, apapun juga pasti bakal aku beliin buat kamu," ucapnya.


"Ah kamu mah bisa aja, yaudah ayo kita cari tempat makan bakso dekat sini!" ucap Keira.


Ari mengangguk sambil tersenyum, "Ya sayang, gak sabaran amat sih kamu. Udah lapar banget ya pacarku ini?" ujarnya menggoda.


"Iya nih, soalnya kan udah lama aku gak makan," ucap Keira merengut.


"Duh kasihan banget sih pacarku ini, ayo ayo kita pergi sekarang ya cantik!" ucap Ari.


Ari langsung menggandeng tangan kekasihnya itu dan mengajaknya pergi mencari tempat makan di dekat sana, karena tampaknya Keira juga sudah tidak tahan lagi ingin segera mengisi perutnya dengan makanan. Terlebih sejak tadi pagi makan dengan ketupat, Keira belum makan kembali hingga saat ini.


Begitu sampai di tempat makan yang mereka cari, tanpa berpikir panjang Ari pun meminta Keira duduk menunggu di kursi yang tersedia, sedangkan Ari sendiri akan memesan makanan. Keira menurut saja, gadis itu menunggu disana seorang diri sembari melihat sekitar dan terus memegangi perutnya yang meronta-ronta minta diisi.


Disaat ia sedang asyik melihat-lihat, matanya malah menemukan keberadaan seorang lelaki yang sepertinya ia kenali. Karena penasaran, Keira pun beranjak dari kursi dan bergerak mendekati pria tersebut. Benar saja dugaannya, ternyata memang ia mengenali pria itu dan Keira sungguh tak menyangka akan bertemu dengannya disana.


"Hah? Itu kan Aldi, kenapa dia bisa ada disini? Oh iya, ini kan tempat wisata. Siapa aja pasti bisa datang kesini buat liburan, duh tapi gawat nih kalau aku lama-lama disini! Bisa-bisa nanti dia malah lihat aku juga," gumam Keira lirih.


"Sayang?" gadis itu benar-benar terkejut saat Ari memanggilnya, ia pun reflek berteriak dan membuat sosok pria yang ia perhatikan tadi menoleh ke arahnya.


"Keira?"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...