
Alan mengangguk setuju, lalu mereka mulai melangkah bersama-sama menuju halaman rumah gadis itu. Akan tetapi, mereka justru dicegat oleh seorang pria yang berdiri di hadapan mereka sambil menatap ke arah keduanya.
"Hai Sahira! Kamu kok udah malam begini baru pulang sih?" ujar si pria yang tak lain ialah Awan.
Sahira pun sedikit terkejut melihat kehadiran pria itu di hadapannya, seketika ia gugup dan bingung sendiri harus menjawab apa pada Awan. Namun, sejenak ia berpikir untuk apa ia harus gugup padahal yang bertanya barusan hanyalah Awan yang tentunya bukan siapa-siapa dirinya.
"Ohh, iya tadi aku abis kerja lembur bang. Emang kenapa ya? Bang Awan cariin aku?" ucap Sahira setelah menenangkan diri.
"Kamu lembur? Gak biasanya, apa ibu kamu udah tahu kalau kamu lembur hari ini?" tanya Awan.
"Apaan sih bang? Namanya lembur ya pasti gak setiap hari lah, lagian apa urusannya coba sama bang Awan?" kesal Sahira.
"Emang gak ada urusannya sama saya, tapi saya penasaran aja apa kamu benar-benar lembur atau malah pergi berdua sama dia?" ujar Awan dengan mata mengarah ke Alan.
"Bang Awan ini kenapa sih? Aku beneran lembur untuk kerja kok, gausah mikir yang aneh-aneh deh ya!" elak Sahira.
"Terus kenapa pulangnya bisa sama dia?" tanya Awan yang membuat Sahira semakin geram.
"Terserah aku dong mau pulang sama siapa, apa hak kamu tanya begitu ke aku? Bang Awan juga ngapain sih ada di rumah aku? Mau ketemu ibu atau siapa?" ujar Sahira.
"Tadinya saya mau ketemu kamu dan ajak kamu jalan Sahira, tapi ibu kamu bilang kamu belum pulang padahal udah malam. Beliau juga khawatir loh sama kayak saya," ucap Awan.
"Iya ini kan aku udah pulang, nanti aku bisa jelasin ke ibu secara langsung kok," ucap Sahira.
"Baguslah, tapi kamu mau kan jalan sama saya malam ini Sahira? Kita kan udah lama gak pergi berdua kayak dulu lagi," ucap Awan.
Sahira terdiam sejenak menimang ajakan Awan itu, ia melirik ke wajah Alan dan benar-benar dibuat bimbang apakah ia harus menerima ajakan Awan atau tetap disana bersama Alan. Jujur saja Sahira tidak enak jika harus menolak kedua pria itu, sebab mereka sama-sama sering membantunya.
"Kamu kenapa bingung Sahira? Kamu takut kalau bos kamu yang arogan itu gak suka kita pergi berdua? Biarin aja Sahira, dia kan bukan siapa-siapa kamu!" ucap Awan.
"Bang, tolong ya jangan bicara yang enggak-enggak!" pinta Sahira.
"Loh apa salah saya Sahira? Yang saya bicarakan barusan benar kan? Bos kamu itu bukan siapa-siapa kamu, dia cuma bos yang menurut saya terlalu ikut campur ke dalam urusan pribadi kamu Sahira," ucap Awan.
"Enggak ya bang, pak Alan itu gak kayak gitu. Justru kamu yang terlalu ikut campur ke dalam urusan aku!" sentak Sahira.
"Kamu lebih belain bos kamu itu daripada saya? Hey Sahira, ingat loh dia cuma orang baru di hidup kamu!" ujar Awan.
"Ya aku tahu, tapi pak Alan ini orangnya baik dan dia gak seperti apa yang kamu tuduhkan. Jadi, kamu mending diam deh bang!" ucap Sahira.
"Okay saya diam, tapi kamu harus ikut sama saya malam ini!" paksa Awan.
Awan bergerak maju dan hendak meraih tangan Sahira, namun dengan segera Alan menepis tangan Awan dan berdiri tepat di hadapan Sahira seolah melindungi gadis itu.
"Anda gak bisa paksa Sahira untuk ikut dengan anda, kalau dia tidak mau!" tegas Alan.
•
•
Wati masih berkeliling menjajakan dagangannya di sekitar jalan raya, walau hari sudah malam namun Wati tidak putus asa sebab bunga yang ia jual masih cukup banyak dan ia bisa dimarahi oleh sang pemilik jika bunga-bunga tersebut belum laku, tentunya ia juga tidak akan mendapatkan uang.
Karena lelah, akhirnya Wati memutuskan beristirahat sejenak pada tempat duduk yang tersedia di pinggir jalan raya itu. Wati tampak ngos-ngosan setelah berjalan hampir seharian, namun hingga kini bunganya baru laku beberapa dan tentu Wati sangat kecewa pada dirinya.
"Huft, kapan ya bunga-bunga ini bisa laku? Gimana gue bisa bayar kontrakan kalau gini terus? Buat makan aja kayaknya gak cukup deh," gumam Wati.
"Ehem ehem.." deheman berat mengacaukan Wati yang sedang menghitung uang di tangannya.
"Hehehe, pas banget nih dingin-dingin kita dapat santapan yang kayak gini," ujar si preman.
"Ka-kalian mau apa? Kenapa kalian deketin gue? Jangan macam-macam ya!" ucap Wati cemas.
"Gausah takut cantik, kita gak mau jahatin kamu kok. Kita tadi gak sengaja lihat kamu lagi duduk disini, makanya kita samperin aja. Gak baik tau cewek duduk sendirian disini," ucap si preman.
"Gue udah biasa sendiri, kalian tolong jangan aneh-aneh!" ucap Wati.
"Tenang aja cantik, kalau kamu gak mau kita aneh-aneh yaudah nurut aja!" ucap si preman.
"Apa yang kalian mau? Gue gak punya apa-apa, kalian salah sasaran!" ujar Wati.
"Hahaha, masa sih cantik? Tadi apa tuh yang kamu sembunyiin, ha? Sini dong kasih ke kita sayang, biar kita aja yang pegang!" ucap si preman.
"Jangan! Itu uang gue, kalian kalau mau uang ya kerja dong!" ucap Wati.
"Ini kita kan lagi kerja, buruan serahin tuh uang ke kita atau kamu yang akan kita bawa ke markas!" pinta si preman.
"Gue bisa teriak, kalian pergi sekarang sebelum orang-orang datang!" ancam Wati.
"Teriak aja, gak bakal ada yang bisa tolong kamu sayang!" tantang si preman.
Wati bangkit dari duduknya, memegang erat barang dagangan miliknya dan berusaha juga melindungi uangnya agar tidak diambil oleh ketiga preman tersebut. Namun, langkahnya dihadang oleh tiga pria itu sehingga Wati pun tidak bisa pergi kemana-mana.
"Eits, kamu mau kemana cantik? Serahin dulu semua uang kamu, baru kamu bisa pergi dengan selamat. Kalau enggak, ya kita bakal kasar ke kamu sayang!" ucap si preman.
"Jangan! Gue mohon jangan apa-apain gue! Gue bakal lakuin apapun yang kalian mau, tapi tolong biarin gue pergi dari sini!" rengek Wati.
Seketika tiga preman itu langsung berubah ekspresi, mereka saling pandang dan tersenyum seolah merencanakan sesuatu. Tentu saja Wati semakin ketakutan, ia mencoba menjauh dari tiga preman itu meskipun jalan di sekitarnya sudah tertutup oleh mereka.
"Kamu yakin mau ngelakuin apa aja yang kita mau? Kamu siap kalau harus puasin kita bertiga demi keselamatan kamu?" tanya si preman.
Glek
Wati menelan saliva nya dan semakin dibuat cemas, perlahan ketiga preman itu terus mendekat dengan tatapan mesum mereka. Wati benar-benar menyesali perkataannya tadi.
"Ja-jangan! Jangan deketin gue! Gue gak mau!" teriak Wati.
"Hahaha... hahaha..." ketiganya tertawa bersamaan sembari terus mendekat ke arah Wati.
"Aaaaa jangan!" Wati berteriak keras sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ayo sayang, ikut sama kita yuk!" ajak seorang preman yang sudah tepat di depan wajah Wati.
Ketika tangan preman itu hendak menyentuh tubuh Wati, tiba-tiba saja seseorang berteriak dan mendorong preman itu menjauh dari Wati.
Bruuukkk
"Sial!" umpat si preman sembari menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...