Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 107. Dikenalkan ke orang tua


Alan terdiam, menatap wajah Nawal dengan serius karena penasaran apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh gadis itu padanya. Sedangkan Syera terlihat tersenyum dan berharap Alan bisa bahagia kembali bersama Nawal seperti dulu, apalagi sekarang kondisi pria itu sedang galau akibat telah memecat Sahira.


Nawal terus memandangi wajah mantan kekasihnya itu, jujur saja hingga kini ia belum bisa melupakan Alan sebab ia sangat mencintai pria itu dan tidak mungkin dapat jauh-jauh darinya. Namun, Alan tentu tak akan merubah keputusannya kalau hubungan antara dirinya dengan Nawal sudah berakhir sejak gadis itu kepergok tengah berduaan dengan lelaki lain di rumahnya.


"Kamu mau bicara apa? Buruan ngomong aja kalau emang penting, gausah basa-basi!" ujar Alan.


"Alan, kamu itu gimana sih? Nawal ini kan tamu, seenggaknya kamu ajak dia duduk dong di dalam. Bukan malah suruh dia bicara disini," ucap Syera menegur putranya.


"I-i-iya ma," Alan menurut pada ucapan mamanya dan mengajak Nawal masuk ke dalam. "Yaudah, ayo Nawal kita duduk di dalam!" sambungnya.


Nawal pun tersenyum lebar, "Hehe, makasih Alan. Kamu tuh emang masih yang terbaik deh, oh ya makasih juga ya tante?" ucapnya penuh bangga.


"Sama-sama sayang, kalian bicara aja ya di dalam! Mama mau pergi dulu, tapi nanti kalau ada waktu mama bakal balik lagi kesini," ucap Syera.


"Iya ma, hati-hati!" ucap Alan.


Syera mengangguk pelan, kemudian ia pun pergi dari sana meninggalkan Alan serta Nawal. Setelah Syera tak terlihat lagi, kini Alan kembali menatap gadis di sampingnya dengan tatapan dingin seolah menunjukkan tanda ketidaksukaan. Sedangkan Nawal justru senyum-senyum sendiri dibuatnya.


"Ada apa kamu ngeliatin aku begitu terus? Mulai naksir lagi ya sama aku?" goda Nawal.


Alan menggeleng, "Enggak, aku cuma heran aja sama kamu. Bukannya kamu udah dijodohin sama Royyan ya? Kenapa kamu masih aja deketin aku?" ujarnya keheranan.


"Iya sih, tapi aku kan udah bilang sama kamu kalau aku cuma cinta kamu Alan," ucap Nawal.


Alan memutar bola matanya malas sembari memegangi dahinya, sungguh ia bosan harus terus berurusan dengan gadis itu. Akhirnya Alan pun mengajak Nawal masuk agar bisa lanjut berbincang di dalam, tetapi tiba-tiba seorang pria datang dan meneriaki namanya.


"WOI ALAN!" sontak keduanya menoleh ke asal suara, dan saat itu juga Nawal terbelalak kaget melihat pria yang berdiri di depannya.


"Royyan?" lirih Nawal memandang pria itu.


Ya benar pria itu adalah Royyan, atau pria yang dijodohkan dengan Nawal oleh kedua orang tua mereka. Royyan pun mendekat dan berhenti tepat di hadapan Alan serta Nawal dengan tatapan tajam penuh emosi, tangannya terkepal seolah hendak memukul wajah pria tersebut.


"Mau apa kamu datang ke kantor saya? Jika hanya ingin membuat keributan, lebih baik kamu pergi sebelum saya memanggil security untuk mengusir kamu!" ucap Alan santai.


"Cih, kamu benar-benar sialan Alan! Kamu bilang kamu tidak mencintai Nawal lagi, tapi kamu masih saja dekat dengan dia sekarang!" geram Royyan.


"Kamu tidak usah asal bicara, bukan saya yang mendekati dia, tetapi Nawal lah yang datang kesini untuk menemui saya. Jadi, kamu jangan salah paham!" ucap Alan.


"Salah paham gimana? Jelas-jelas kamu sama Nawal deketan begitu, emang dasar gak bisa dipercaya!" kesal Royyan.


"Cukup Roy! Kamu tuh apa-apaan sih? Kamu gak pantas marah-marah begini ke Alan, lagian kamu itu kan bukan siapa-siapa aku!" ucap Nawal tegas.


Deg!


Seketika perasaan Royyan hancur mendengar perkataan Nawal, ia pun semakin dibuat geram dan berniat menghajar Alan dengan keras.




Saka mengajak Sahira ke taman dekat air mancur di samping perusahaannya yang selama ini selalu ia jadikan tempat untuk merenung dikala sedang sedih atau mendapatkan masalah, Saka pun sengaja membawa gadisnya kesana untuk menceritakan semua yang tengah ia rasakan.


Sahira benar-benar dibuat terpukau dengan keindahan di tempat tersebut, sungguh baru kali ini ia melihat taman air mancur yang begitu indah ada di sebuah perusahaan. Padahal di tempat Alan saja ia tidak bisa menemukan taman seperti itu, sehingga Sahira langsung terpesona melihatnya.


"Nah, ini dia nih tempat saya merenung ketika ada masalah keluarga atau kerjaan. Tempat ini tuh benar-benar indah, hati saya rasanya tenang setiap kali saya duduk disini," ucap Saka.


"Wah indah banget mas! Ini sih bisa jadi tempat favorit saya juga, soalnya jarang banget saya bisa nemu tempat seindah ini," ucap Sahira.


Saka mendekat lalu merangkul pundak Sahira dari sampingnya sembari tersenyum lebar, "Bagus kalau memang kamu suka, jadinya kita berdua nanti bisa kumpul disini bareng-bareng menikmati indahnya dunia," ucapnya.


"Ah kamu bisa aja mas, yaudah sekarang kita balik ke dalam aja yuk!" ajak Sahira.


"Loh kenapa? Kamu gak mau puas-puasin dulu berduaan disini sama saya? Katanya kamu suka tempat ini, kenapa kamu malah buru-buru banget pengen pergi?" tanya Saka keheranan.


"Ya saya gak enak aja sama yang lain, mereka pada kerja, masa kita malah disini?" jawab Sahira.


"Iya sih, kamu itu kan orangnya memang selalu gak enakan begitu," ucap Saka.


"Hehe, abisnya saya kan karyawan baru disini mas. Saya cuma gak mau ada yang salah paham atau gak senang sama saya," ucap Sahira.


Tiba-tiba saja Saka menggenggam tangan Sahira dan menatapnya serius, "Oh ya, soal yang tadi di dalam sama Amel itu beneran gak ada apa-apa? Saya kok lihatnya dia kayak sinis gitu ke kamu, cerita aja ke saya Sahira!" ucapnya cemas.


"Eee iya mas, kita tadi tuh cuma kenalan kok. Mungkin dia emang anaknya sinis atau jutek gitu kali," ucap Sahira berbohong.


"Masa sih? Perasaan yang saya tahu Amel gak gitu deh, ayolah jujur aja sayang!" pinta Saka.


Sahira terdiam seraya memalingkan wajahnya, jujur ia bingung haruskah menceritakan semuanya pada Saka kalau tadi Amel dan temannya memang tak suka pada dirinya atau tidak. Sedangkan Saka yang menanti jawaban gadisnya itu pun merasa yakin jika Sahira memang menyembunyikan sesuatu.


"Sayang, cerita sama saya ayo! Saya gak akan biarin kamu pergi, sebelum kamu cerita yang sejujurnya ke saya sekarang!" ujar Saka.


"Ih kamu mau dengar cerita apa sih mas? Udah aku bilang kalau gak ada apa-apa, kenapa kamu gak percaya banget sama pacar kamu sendiri?" heran Sahira.


"Bukan begitu, tapi dari gelagat kamu tuh saya yakin kalau ada yang kamu sembunyikan. Jadi, ayo cerita ke saya Sahira!" ucap Saka.


"Iya deh iya, tadi emang Amel itu kelihatan gak suka gitu mas sama aku. Pas diajak kenalan juga dia kayak gak mau, malahan dia bujuk Silvia buat musuhin aku," ucap Sahira akhirnya jujur.


"Hah??" Saka tersentak kaget dengan mata melotot lebar.




Kebetulan juga Cat saat ini sendirian tak ditemani Yoshi, karena pria itu juga mendapat tugas mengantar pesanan roti. Tentu saja Cat merasa ketakutan dan bingung harus apa, tak mungkin ia bisa mengalahkan keempat lelaki itu sendirian, terlebih ia tengah membawa banyak belanjaan.


"Ka-kalian mau apa? Jangan macam-macam ya! Lagian gue gak punya apa-apa, kenapa kalian cegat gue sih?" ujar Cat.


"Halah pake bohong lagi lu! Jelas-jelas itu di tangan lu ada banyak barang, siniin tuh barang dan kita bakal lepasin lu tanpa harus pake kekerasan!" ucap si preman.


"Eh jangan! Ini barang bukan punya gue, tapi bos gue. Kalau kalian ambil ini dari gue, nanti gue bisa dimarahin sama si bos," ucap Cat.


"Apa perduli gue? Lo ini yang dimarahin bukan kita, jadi sekarang lu serahin tuh barang atau nyawa lu yang bakal kita ambil!" sentak si preman.


"Waduh, jangan dong bang preman! Gue beneran gak mau kena marah sama bos gue, gue masih butuh kerjaan ini," ucap Cat memelas.


"Ah kita gak perduli! Kalau lu gak mau serahin itu, kita bakal hajar lu sekarang juga!" ancam si preman dengan tampang seram itu.


Cat sontak melongok kaget mendengarnya, "Jangan bang, please kasihani gue kali ini aja! Lain kali kalo gue ada banyak rezeki, gue kasih ke kalian deh!" ucapnya memohon.


"Kita gak mau lain kali, maunya sekarang!" tegas si preman.


Cat berpikir sejenak sembari menatap mereka satu persatu, ia menghela nafas berusaha menguatkan diri demi mempertahankan barang-barang yang ia bawa saat ini. Meskipun ia sedikit takut, tapi kemudian ia mulai memukul si preman yang maju mendekatinya dengan menggunakan tas miliknya.


Bugghhh


"Ih rasain nih, mampus lu! Preman sialan!" maki Cat sembari terus memukuli mereka.


"Eh apa-apaan nih? Mau cari ribut lu?" sontak tiga preman lainnya langsung maju memegangi tubuh Cat dan merampas paksa barang itu darinya.


"Aaaaa jangan ambil itu! Balikin ke gue anj!" umpat Cat masih berusaha mempertahankan barangnya.


Namun, salah seorang preman itu malah berhasil mendorong Cat hingga tersungkur ke jalan dengan posisi duduk. Mereka juga berhasil mengambil barang belanjaan Cat yang cukup banyak itu dan tertawa puas seraya menatap tubuh Cat di bawah sana seolah meledeknya.


"Hahaha, segitu aja kemampuan lu? Lemah banget sih lu jadi cewek, lihat nih barang-barang lu sekarang ada di kita!" ucap si preman.


"Sialan! Lu beraninya keroyokan anjir, sini satu lawan satu sama gue!" tantang Cat.


"Gak mau ah, kita kan udah dapat apa yang kita pengen. Jadi, bye cewek lemah!" ledek si preman.


Disaat preman-preman itu hendak pergi, tiba-tiba Yoshi datang dengan gagahnya dan menghentikan mereka semua untuk membela kekasihnya. Cat pun langsung tersenyum dibuatnya begitu menyadari Yoshi telah datang di dekatnya, ia kini bangkit dan bersiap menghadapi preman itu bersama sang kekasih.


"Sayang, kamu gapapa? Mereka apain kamu tadi?" tanya Yoshi panik.


"Aku baik-baik aja Yos, tapi kayaknya mereka harus diberi pelajaran deh. Tuh lihat barang yang aku beli diambil sama mereka, ayo kita hajar aja mereka sayang!" ucap Cat.


Yoshi pun beralih menatap preman-preman itu, "Hey! Berani banget kalian ganggu cewek saya, mau cari mati?!" ujarnya menantang.


Bukannya takut, keempat preman itu malah menertawakan Yoshi seolah meremehkan pria itu karena memang dia tampak kurus dan hanya sendiri disana. Namun, mereka tak tahu jika Yoshi adalah pendekar hebat yang sedang menyamar dan bisa menghabisi mereka semua.


"Hahaha, lu mau apa? Sini maju dan lawan kita kalau lu bisa dan emang pengen belain cewek lu itu!" tantang si preman.


"Oke, siap-siap aja kalian!" ucap Yoshi mendekat.


Cat tersenyum senang melihat keberanian kekasihnya, kemudian Yoshi mulai maju dengan berani menyerang preman-preman itu. Akan tetapi, tanpa diduga Yoshi malah langsung terkena pukulan bertubi dari preman tersebut sampai dia terjatuh ke jalan.


"Hah Yoshi??" Cat yang kaget berupaya menolong kekasihnya itu dari kekejaman si preman.


Akhirnya Cat terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuannya dan menghajar satu persatu preman tersebut sampai mereka semua tersungkur ke jalan, sedangkan Yoshi hanya terduduk disana mengamati perkelahian Cat yang benar-benar luar biasa.




Sepulang dari kantor, Saka sengaja membawa Sahira ke rumahnya untuk mengenalkan gadis itu pada kedua orangtuanya, sekaligus melakukan buka bersama disana. Ya Saka memang memiliki niat serius untuk mengajak Sahira menikah, itu sebabnya ia membawa Sahira kesana.


Melihat kedatangan Saka bersama seorang wanita, sontak membuat Syera yang ada di ruang tamu kebingungan. Syera pun beranjak dari kursinya, lalu menegur Saka karena penasaran dengan siapa perempuan yang dibawanya itu. Saka akhirnya terpaksa berhenti melangkah, walau ia sangat tidak ingin berbicara dengan mama tirinya itu.


"Saka, kamu bawa siapa sayang? Pacar kamu? Kenapa kamu gak pernah kasih tahu mama kalau kamu punya pacar?" tanya Syera penasaran.


Saka yang tidak menyukai mamanya, kini terpaksa berpura-pura bersikap lembut agar Sahira tidak curiga dan juga untuk melancarkan sesi perkenalan yang Saka inginkan. Tentu Saka tak mau ada keributan nantinya, maka dari itu Saka memilih melupakan sejenak kebenciannya.


"Eee iya ma, ini pacar aku. Kenalin, namanya Sahira!" jawab Saka sambil tersenyum dan kemudian menatap gadisnya. "Nah sayang, kamu kenalin ya ini mama aku!" sambungnya.


"Ah halo tante!" Sahira langsung menyapa Syera dan bersalaman dengannya.


Entah kenapa saat bersentuhan tangan dengan Sahira, membuat Syera merasakan sesuatu yang tidak asing dari gadis itu. Terlebih ketika mata mereka saling bertatapan, Syera seolah tengah menatap putrinya yang telah lama hilang. Namun, Syera menyingkirkan semua pemikiran itu karena belum tentu Sahira adalah putrinya.


"Enggak, gak mungkin Sahira ini putriku. Pasti aku cuma kepikiran aja, karena pastinya sekarang putriku sudah seumuran Sahira," gumam Syera dalam hati.


Syera pun tersenyum dan mengusap wajah Sahira dengan lembut, "Halo juga Sahira! Salam kenal ya? Kamu cantik banget deh!" ucapnya memuji.


Dengan malu-malu Sahira berkata, "Tante bisa aja, tante juga cantik kok. Pantas aja Saka ganteng banget, ternyata mamanya cantik begini," ucapnya sembari melirik sang kekasih.


Seketika Saka terdiam, "Dia bukan mama kandung aku Sahira, seandainya kamu tahu," batin Saka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...