Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 96. Kejebak hujan


Alan kembali mengangguk, mereka pun melangkah bersamaan menuju mobil dengan Sahira yang juga ikut mengantarnya. Namun, baru saja mereka hendak masuk ke mobil, sudah ada sebuah mobil lain yang berhenti di dekat mereka dan seorang perempuan cantik turun dari mobil tersebut.


"Siapa tuh yang datang ke rumah kamu sayang?" tanya Saka pada gadisnya.


Sahira hanya bisa menggeleng bingung, karena ia pun juga tak mengenal siapa wanita tersebut. Tapi kemudian saat wanita itu menoleh, mereka bertiga kompak menganga dan mengenali siapa yang ada di hadapan mereka saat ini. Ya dia adalah Nawal, sang gadis yang dijodohkan dengan Alan.


"Ternyata benar kan kamu kesini, pantas aja aku cari kemana-mana gak ada. Ngapain sih kamu disini sayang? Kamu lupa ya kalau orang tua aku mau datang ke rumah kamu?" ujar Nawal.


"Nawal, gimana caranya kamu bisa kesini? Perasaan aku gak pernah kasih tau ke kamu dimana alamat rumah Sahira," tanya Alan keheranan.


"Itu hal mudah buat aku, Alan. Aku bisa tahu dimana rumah Sahira, karena aku kan punya banyak kenalan," jawab Nawal santai.


"Terus mau apa kamu kesini? Jangan kira aku mau ikut sama kamu ya Nawal, karena aku gak akan pernah mau menikah dengan perempuan pengkhianat seperti kamu!" ujar Alan.


"Kamu kok bicaranya begitu sih Alan? Aku sakit tau dengarnya," ucap Nawal cemberut.


"Bro, udah lah lu jangan terlalu kasar sama si Nawal! Kasihan dia tuh jadi sedih gitu, mending kita pulang bareng aja!" ucap Saka menyela.


"Lu gak perlu kasihan sama dia bang, dia itu pandai drama dan kesedihan dia itu gak nyata!" ucap Alan.


"Kamu jahat banget sih Alan! Aku gak pura-pura tau, aku emang sedih beneran. Kalau kamu gak percaya, nih lihat aja aku keluar air mata kan!" ucap Nawal mulai menangis.


Alan yang tak percaya hanya memutar bola matanya dan menghela nafas, ia tak perduli sama sekali dengan kesedihan yang dibuat-buat oleh Nawal. Sedangkan Saka serta Sahira hanya diam membiarkan Alan dan Nawal menyelesaikan masalah mereka berdua.


"Kamu kenapa diam aja sih Alan? Kamu gak perduli ya sama aku? Tega banget sih kamu!" ucap Nawal.


"Aku gak perduli, sudahlah aku mau pulang!" ucap Alan ketus.


Disaat Alan hendak masuk ke mobil, Nawal reflek mencekal lengan pria itu dan menahannya agar tidak pergi lebih dulu. Sontak Alan mulai terpancing emosi, tapi ia berusaha tenang karena tidak ingin melukai seorang perempuan. Nawal pun semakin mengeratkan cengkeramannya seolah tak membiarkan lelaki itu pergi.


Akhirnya Alan mengalah, ia mengurungkan niatnya dan menatap wajah sang gadis dengan emosi. Sedangkan Saka sudah menarik Sahira menjauh untuk tidak ikut campur, mereka mengamati saja perdebatan sepasang mantan kekasih itu dari jauh untuk berjaga-jaga jikalau nanti Alan lepas kendali dan melakukan hal yang buruk pada Nawal.


"Kamu mau apa lagi Nawal? Apa kamu kurang puas dengan kata-kata aku tadi? Aku pengen pulang, itu kan yang kamu mau?" tanya Alan kesal.


"Iya Alan, aku emang mau kamu pulang. Tapi, kita pulang bareng ya?" jawab Nawal.


"Kalau kita bareng, mobil kamu itu gimana?" tanya Alan.


"Biarin dia disini, toh dia gak bakal hilang kan kalau diparkir di halaman rumah Sahira? Udah deh Alan, pokoknya aku mau bareng kamu!" ucap Nawal.


"Iya pak, insyaallah disini aman kok. Saya juga bisa bantu jaga mobil mbak Nawal nanti," sahut Sahira.


Alan menatap wajah Sahira dengan tajam, akhirnya ia tak memiliki pilihan lain selain mengiyakan kemauan Nawal dan mengajak gadis itu pergi bersamanya.




Hari Senin kembali tiba, Sahira pun berangkat ke kantornya dengan menggunakan transportasi umum karena entah kenapa Saka tidak datang untuk menjemputnya. Akan tetapi, dirinya malah terjebak dalam kemacetan yang luar biasa sampai ia harus terlambat datang ke kantor.


Akhirnya saat tiba di kantor, gadis itu langsung ditegur oleh Alan yang tampak sudah berdiri di depan ruangannya dengan tatapan tajam dan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Terlihat jelas Alan emosi, sebab sekretarisnya itu datang terlambat selama lima belas menit lebih.


"Waw keren ya kamu baru datang! Ngapain aja kamu Sahira? Lupa ya sama jam masuk kantor?" ucap Alan dingin.


"Eee saya minta maaf pak, tadi jalannya macet banget. Bus yang saya naikin aja sampe gak gerak loh pak, padahal saya sudah berangkat dari rumah seperti biasa kok," jawab Sahira.


"Gausah alasan kamu, macet mah setiap hari juga macet. Harusnya kamu bisa atasi itu dengan cara bangun lebih pagi!" ucap Alan.


"I-i-iya pak, saya janji besok saya tidak akan telat lagi dan saya akan bangun lebih pagi! Saya mohon jangan hukum saya pak!" ucap Sahira.


"Untuk kali ini saya maafkan, tapi lain kali kalau kamu terlambat lagi, saya tidak akan segan-segan untuk beri kamu sp!" ucap Alan mengancam.


"Baik pak, sekali lagi terimakasih karena bapak sudah mau memaafkan saya. Saya janji tidak akan kecewakan bapak!" ucap Sahira.


"Yasudah, sekarang apa jadwal saya?" tanya Alan.


"Umm bapak ada meeting di Bogor pak dengan klien besar kita," jawab Sahira.


"Okay, kamu siapkan semua keperluannya sekarang dan kamu ikut dengan saya!" pinta Alan.


"Tapi pak, saya—"


"Tidak ada tapi tapi, kalau kamu gak mau yasudah kamu keluar sana dan jangan pernah kembali ke kantor ini lagi!" sela Alan dengan tegas.


Sontak Sahira terkejut bukan main mendengar perkataan bosnya, karyawan mana yang ingin dipecat disaat ia sedang membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Akhirnya mau tidak mau Sahira pun terpaksa menuruti perintah Alan, karena ia tak ingin dipecat lebih cepat.


"Jangan gitu pak! Iya deh saya mau temani bapak nanti, kalo gitu saya permisi ya pak buat persiapkan semuanya?" ucap Sahira.


Alan hanya mengangguk kecil yang diartikan sebagai 'ya' oleh Sahira, tentu saja wanita itu pergi melewati Alan dan memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa. Alan tampak mengamati kepergian sekretarisnya itu dengan tatapan dingin, lalu setelah pintu tertutup Alan pun memilih pergi.


Sahira yang sudah berada di dalam, mengambil nafas lega sembari bersandar pada pintu. Gadis itu mengusap dadanya perlahan karena ia telah berhasil selamat dari amukan sang bos, ya walaupun tadi ia sempat sangat panik saat Alan terlihat begitu marah padanya.


Setelah merasa cukup, Sahira bergegas menuju mejanya untuk menyiapkan segala keperluan yang diminta Alan pada rapat mereka nanti. Kali ini Sahira akan bekerja dengan sungguh-sungguh, ia tidak ingin Alan memarahinya lagi dan mau membuat pria itu puas padanya.




Singkat cerita, Alan dan Sahira telah selesai melakukan pertemuan dengan klien di Bogor. Kini mereka memilih langsung pulang ke Jakarta karena dirasa sudah tidak ada keperluan lagi disana, tapi alangkah sialnya mereka karena tiba-tiba hujan turun deras sekali dan membuat pandangan Alan terganggu.


Karena tidak ingin mengambil resiko, Alan memilih menepikan mobilnya sejenak ke sebuah halte yang terlihat cocok untuk dijadikan tempat meneduh. Tapi tentu saja Sahira merasa bingung karena baru kali ini ia tahu ada pengendara mobil yang meneduh karena hujan, padahal mereka tidak kehujanan karena tertutup atap.


"Ayo cepat turun! Kita neduh sebentar di halte itu," ajak Alan yang langsung membuka pintu dan turun dari mobil dengan cepat.


Sontak Sahira juga buru-buru turun dari mobil menyusul bosnya, mereka pun berdiri di halte berdampingan sambil mengusap-usap tubuh mereka yang terkena sedikit air hujan saat menuju ke halte tadi. Sahira juga terlihat kedinginan karena cuaca disana memang sangat dingin.


"Pak, kenapa kita mesti neduh sih? Bapak kan bawa mobil, kita gak bakal kehujanan pak. Kecuali kalau bapak bawa motor, nah baru pantas tuh kita neduh kayak gini," ujar Sahira.


"Kamu diam Sahira! Saya lagi gak mau banyak bicara," ucap Alan dengan ketus.


Sahira terkejut mendengar suara Alan yang terdengar galak itu, ia pun memilih diam karena khawatir Alan akan semakin marah nantinya. Lama-kelamaan Sahira merasa hawa dingin semakin menyeruak masuk ke dalam tubuhnya, ia terus saja memeluk tubuhnya sendiri seraya mengusap-usapnya dengan rahang bergetar menahan kedinginan.


Tanpa diduga, Alan yang peka langsung melepas jasnya dan memberikan itu pada Sahira. Ia memakaikan jas miliknya tersebut ke tubuh Sahira secara perlahan-lahan, tentu saja Sahira amat kaget dengan perlakuan Alan yang mendadak lembut itu. Sahira reflek menoleh lalu tak sengaja bertatapan dengan Alan, cukup lama mereka saling menatap satu sama lain seperti itu.


"Eee kamu jangan salah paham dulu! Saya cuma gak mau kamu sakit karena kedinginan, soalnya saya lihat kamu daritadi kayak menggigil gitu. Makanya saya pakein kamu jas saya," ucap Alan sembari menjauh dari gadis itu.


"Gapapa kok pak, saya justru makasih karena bapak udah perhatian sama saya," ucap Sahira.


"Sama-sama, tapi kamu jangan kege'eran ya! Saya lakuin itu cuma semata-mata untuk mencegah supaya kamu gak sakit, saya gak ada maksud apa-apa loh," ucap Alan memperingati.


"Iya pak, saya tahu kok. Lagian saya juga gak mikir yang aneh-aneh kok tentang bapak, jadi bapak tenang aja!" ucap Sahira sambil tersenyum.


"Gausah senyum-senyum, kamu pikir kamu lucu gitu kalau senyum begitu? Enggak, yang ada saya malah mau muntah lihatnya!" ujar Alan.


"Ah iya gak masalah kok pak, saya cuma mau beribadah. Kata orang kan senyum itu ibadah, jadi ya saya senyum aja deh," ucap Sahira.


Alan tak lagi menjawab, ia memalingkan wajahnya lalu mundur dan duduk pada kursi yang tersedia. Sedangkan Sahira memilih tetap berdiri pada tempatnya, ia tak mau lancang kalau ikut duduk di sebelah bosnya, apalagi jarak tempat duduk tersebut terlalu dekat.


"Kenapa kamu malah disitu aja sih Sahira? Ayo dong sini duduk dekat saya, kamu gak tahu apa kalau saya suka banget lihat senyum kamu?!" gumam Alan dalam hati.




Disisi lain, Saka datang ke kantor adiknya untuk mengecek apakah Sahira ada disana atau tidak. Ia terlihat sangat panik, sebab hingga kini Sahira tidak bisa dihubungi dan pesan yang ia berikan juga tak kunjung dibalas oleh gadisnya itu. Akhirnya Saka pun memutuskan mendatangi kantor tempat Sahira bekerja, karena ia khawatir terjadi sesuatu pada sang kekasih disana.


Namun, sesampainya disana ia justru diberitahu oleh Keira bahwa Sahira tengah pergi bersama Alan untuk melakukan meeting di Bogor. Tentu saja Saka terkejut, sebelumnya Sahira tidak ada mengatakan apa-apa mengenai kepergiannya ke Bogor bersama Alan. Ia pun merasa Sahira tak menganggap dirinya sebagai seorang kekasih.


"Kamu serius Keira, mereka pergi ke Bogor? Kamu gak lagi bohongin saya kan?" tanya Saka memastikan.


"Iya pak, saya gak bohong kok. Sahira dan pak Saka memang sedang meeting di Bogor, mereka berangkat pagi tadi. Seharusnya sih sekarang mereka sudah pulang, tapi saya tidak tahu kenapa mereka belum kembali kesini," jawab Keira.


"Apa? Mereka pergi dari pagi, dan sekarang belum pulang juga. Kemana sebenarnya si Alan itu bawa Sahira? Ini gak bisa dibiarkan, jangan-jangan terjadi sesuatu sama Sahira!" ujar Saka panik.


"Tenang dulu pak, mungkin saja memang meeting nya belum selesai!" ucap Keira menenangkan.


"Gak mungkin, mana ada meeting sampai selama ini. Pasti si Alan sengaja bawa Sahira pergi, supaya saya gak bisa deketin Sahira lagi!" ucap Saka.


"Eee kalau itu saya tidak tahu pak, tapi coba bapak tenang dulu aja!" ucap Keira.


"Gimana saya bisa tenang? Pacar saya dibawa pergi entah kemana sama si Alan itu, ya jelas saya panik lah! Coba deh kamu hubungi si Alan, siapa tahu kalau sama kamu dia mau angkat telponnya!" ucap Saka.


"I-i-iya pak," Keira mengangguk gugup dan mulai menelpon nomor Alan sesuai perintah Saka.


Akan tetapi, nomor Alan tetap tidak bisa dihubungi dan membuat Saka semakin merasa cemas. Saka yang terbawa emosi sampai memukul meja resepsionis itu dengan kasar, sontak Keira yang berada tepat di dekatnya merasa kaget lalu tampak takut melihat kemarahan di wajah Saka saat ini.


"Sialan emang si Alan! Mau main-main dia sama saya, awas aja ya kamu Alan!" geram Saka.


Tak lama kemudian, Alfian sang ayah pun muncul disana dan melihat putranya yang tengah berdiri dengan emosi. Tentu saja Alfian langsung menghampiri Saka disana karena merasa penasaran, ia terheran-heran karena melihat putranya itu tampak sangat emosi.


"Saka, ada apa ini? Kenapa kamu sampai emosi gitu dan gebrak gebrak meja? Gak biasanya loh kamu kayak gini," tanya Alfian keheranan.


"Saya emosi aja pa, abisnya si Alan itu bawa pergi Sahira gak tahu kemana. Terus hp nya juga gak bisa dihubungi, kan saya jadi tambah kesal pa. Saya panik banget takut Sahira kenapa-napa!" jelas Saka.


"Hah? Cuma karena perempuan itu, kamu sampai semarah ini sama adik kamu sendiri Saka?" kaget Alfian.


Saka hanya diam memalingkan wajahnya, ia paling tidak suka jika harus berdebat dengan papanya. Apalagi saat ini ia sedang dalam kondisi emosi, sehingga ia khawatir justru akan menyakiti perasaan papanya nanti.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA+KOMEN YA GES YA!!!...