Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 151. Lamaran


Sahira tengah bersama Bayu di dalam mobilnya, gadis itu terpaksa menerima ajakan Bayu untuk pergi jalan-jalan dengannya kali ini karena ia tak memiliki pilihan lain. Sebenarnya Sahira khawatir jika kedekatannya dengan Bayu akan membuat pria itu salah paham, namun ia juga tak mungkin bisa menolak permintaan Bayu di cafe tadi.


Kini keduanya pergi bersama-sama menuju tempat yang entah apa itu, sebab Bayu tidak memberitahu apa-apa pada Sahira mengenai tempat yang akan mereka tuju saat ini. Sahira pun lebih banyak diam kali ini, karena ia tak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Sedangkan Bayu sendiri tampak ragu untuk mengobrol dengan Sahira, dan akhirnya mereka berdua malah sama-sama terdiam tanpa ada yang berani berbicara.


"Umm Bay, sebenarnya lu mau bawa gue kemana? Maaf nih ya, soalnya gue belum tahu jalanan sekitar sini. Gue jadi bingung deh kita ini mau kemana," tanya Sahira penasaran.


Bayu tersenyum tipis sembari menoleh ke arah Sahira, "Ya Sahira, ini gue mau ajak lu ke tempat yang seru. Kayak mall gitu, ya emang mall sih sebenarnya. Tapi, tempat ini lebih asyik daripada mall biasanya," jawabnya.


"Ohh, tapi kan kalau mall pasti tempat belanja dong? Gue gak punya uang Bay, lu mah ada-ada aja sih kalo ajak gue pergi!" ucap Sahira.


"Ahaha, udah ah lu gausah mikirin yang kayak gitu! Soal uang dan belanjaan serahin aja ke gue, gue jamin lu bisa beli apapun yang lu mau tanpa perlu khawatir!" ucap Bayu.


"Hah? Duh Bay, gausah kayak gitu deh gue gak mau. Yang ada gue malah ngerepotin lu, mending kita ke tempat lain aja ya?" ucap Sahira.


"Gapapa, lu kayak sama siapa aja sih. Lagian gue tuh emang sengaja kok pengen nyenengin lu, karena gue tahu kalau lu lagi banyak masalah. Benar kan yang gue bilang?" ucap Bayu.


"Eee lu tahu darimana?" tanya Sahira keheranan.


Bayu malah tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Sahira, tentu saja Sahira jadi penasaran dan khawatir kalau Bayu ternyata tahu apa yang sedang ia alami saat ini. Ia juga berpikir keras, apakah ibunya yang sudah menceritakan semua kepada Bayu sebelumnya. Namun, Sahira tetap mencoba berpikir positif kalau tidak mungkin ibunya melakukan tindakan seperti itu.


"Lu penasaran ya? Selow, gue gak tahu kok masalah lu apaan. Gue cuma tebak aja kalau lu lagi punya banyak masalah, dan ternyata benar tebakan gue," ucap Bayu tersenyum lebar.


"Hadeh, lu mah bikin gue panik aja! Jadi, lu jebak gue nih ya? Huh dasar nyebelin!" cibir Sahira.


"Sorry Ra, jangan marah gitu dong!" kekeh Bayu.


Sahira memutar bola matanya dan beralih menatap ke arah lain, tiba-tiba saja ia membulatkan mata ketika tak sengaja melihat sesuatu di luar sana. Sontak Sahira langsung meminta Bayu untuk menghentikan mobilnya, dan tentu Bayu terkejut dengan itu karena dia sedang fokus menyetir. Untung saja Bayu bisa mengerem dengan baik tanpa membuat kecelakaan.


"Eh Bay, berhenti Bay!" teriak Sahira sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.


Ciiittt


Bayu langsung menginjak pedal rem dengan kuat saat Sahira meminta itu, nafasnya tersengal-sengal disertai detak jantung yang tak karuan akibat terkejut. Masih untung ia bisa mengerem dengan selamat, dan kini matanya menatap ke arah Sahira yang justru terlihat santai sembari menatap ke luar kaca mobil.


"Aih Sahira, lu tuh kenapa sih minta berhenti mendadak kayak gitu? Kalau kita tadi celaka gimana? Gue juga yang repot Ra, pasti ibu lu bakal nyalahin gue!" ucap Bayu emosi.


"Eh eh, ma-maaf ya Bay? Gue tadi lihat ada lowongan kerja disana, makanya gue minta lu buat berhenti. Gue pengen cek dulu kesana, siapa tahu gue bisa kerja disitu. Soalnya gue lagi butuh banget pekerjaan tau Bay," ucap Sahira.


"Hah lowongan? Bukannya kata ibu kamu, kamu itu udah kerja di perusahaan besar ya? Kok kamu malah mau lamar kerja sih?" heran Bayu.


"Eee panjang ceritanya Bay, nanti kapan-kapan kalau ada waktu bakal gue ceritain deh ke lu," ucap Sahira gugup.


"Terus sekarang gimana nih? Lo masih mau turun terus tanya ke toko itu?" ucap Bayu bertanya dengan wajah herannya.


Sahira mengangguk sambil tersenyum, "Iya Bay, sebentar kok. Lu tunggu aja disini, nanti gue balik lagi kok!" ucapnya pelan.


"Okay, good luck Ra!" ucap Bayu singkat.


Gadis itu tersenyum saja, kemudian turun dari mobil dan bergegas menuju toko tempat dimana ia melihat lowongan pekerjaan tadi. Sedangkan Bayu duduk diam menunggu di dalam mobil sembari memperhatikan Sahira yang tengah melangkah, menurutnya Sahira memang tipe wanita yang cantik dan siapapun pasti akan tergoda padanya.




Floryn tersenyum dan ikut duduk di sebelah pria itu, tak lupa ia juga memesan satu gelas es susu sama seperti yang dipesan oleh Alan. Sontak Alan menoleh ke arahnya dan tampak kebingungan, pasalnya dia baru tahu kalau Floryn juga suka minum di warung pinggir jalan seperti ini. Padahal warung itu merupakan tempat yang jarang didatangi oleh orang sekelas Floryn.


"Kamu kenapa pesan susu juga? Mau ngikutin aku ya?" tanya Alan bermaksud menggoda.


"Ah enggak, emang aku kepengen aja. Abisnya ngeliatin kamu minum tuh kayak enak banget gitu, yaudah aku ikutan pesan," jawab Floryn.


"Sama aja dong, artinya kamu pesan karena ngikutin aku. Emang ya cewek itu sukanya ngikut cowok mulu?" goda Alan.


"Dih gak juga sih, sok tahu banget sih kamu!" elak Floryn seraya mengembungkan pipinya.


"Eh eh, btw kamu abis darimana mau kemana ini? Atau emang kamu sengaja keliling-keliling buat cari aku, kangen ya?" ucap Alan.


"Ya iya sih aku emang pengen cari kamu, tapi bukan berarti aku kangen sama kamu. Aku tuh mau bantuin bang Saka aja, karena dia kasihan banget tau kebingungan nyariin kamu," jawab Floryn pelan.


"Oh ya? Eh omong-omong, kamu sama bang Saka itu ada hubungan apa sih? Kayaknya kalian berdua dekat banget ya aku lihat-lihat?" tanya Alan.


"Maksud kamu? Ki-kita gak ada hubungan apa-apa kok," heran Floryn.


"Kamu jangan bohong, Flo! Aku tahu kamu dan bang Saka diam-diam menjalin hubungan, buktinya kamu tahu kalau dia sekarang lagi bingung cari aku. Itu tandanya kalian punya sesuatu, ya kan?" ucap Alan tegas.


Deg!


Floryn menggeleng pelan tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan pria itu, sedangkan Alan masih terus menatap ke arah Floryn meminta wanita itu jujur padanya saat ini. Akhirnya Floryn terpaksa membuang muka, ia merasa tak tahan jika terus bertatapan dengan Alan dalam posisi seperti ini. Ia khawatir nantinya justru ia akan mengatakan yang tidak-tidak pada pria itu.


"Aku tahu Lan, aku juga gak mungkin pacaran sama bang Saka. Aku itu cuma bantu dia buat cari kamu, please lah kamu percaya dong sama aku jangan kayak gini!" ucap Floryn kesal.


"Okay, yaudah gausah marah-marah begitu! Aku percaya kok sama kamu, tapi tolong jangan kasih tahu bang Saka soal keberadaan aku!" ujar Alan.


"Kenapa sih Lan? Kamu kok gak mau banget pulang ke rumah? Kasihan loh orang tua kamu, mereka kangen banget sama kamu! Ayolah, kamu pulang ya Lan!" bujuk Floryn.


Alan menggeleng perlahan, "Gak mau, aku masih pengen tenangin diri dulu. Kecuali kamu mau jadi pacar beneran aku," ucapnya.


Deg!


"Uhuk uhuk uhuk!!" Floryn tersedak dan batuk-batuk dibuatnya akibat mendengar ucapan Alan barusan.


"Eh kamu kenapa malah batuk? Pertanyaan aku tadi bikin kamu kaget ya? Sorry, aku gak bermaksud begitu! Aku cuma pengen bilang ke kamu kalau aku beneran sayang sama kamu," ucap Alan sembari mengusap bahu gadis itu.


Floryn beralih menatap Alan dengan tatapan tak percaya, jujur apa yang dikatakan Alan barusan sungguh membuat Floryn terkejut. Namun, Floryn tahu jika Alan pasti berbohong dan dia tidak benar-benar mencintai dirinya. Bahkan Alan saja tega mempermainkan Carol, jadi tak mungkin kalau Alan memiliki sosok perempuan yang ia cintai.


Entah mengapa sejak mengetahui Alan menginap di tempat tinggal Carol, membuat Floryn mendadak ilfeel dan hilang respek pada lelaki itu. Tadinya Floryn mengira Alan adalah pria yang berbeda, tapi ternyata semua pria memang sama saja dan tidak ada yang dapat dipercaya. Untuk itu saat ini Floryn memilih cuek, ia anggap perkataan Alan tadi hanya sebuah omong kosong belaka.


"Hey, kamu kenapa sih malah diam aja? Apa kamu gak mau jadi pacar beneran aku?" tanya Alan lagi.


Floryn menggeleng pelan dan menunduk lesu, "Bisa gak kita bahas yang lain aja? Misalnya tentang kamu pulang ke rumah, supaya orang tua kamu gak khawatir terus," ucapnya.


"Hadeh, justru aku malas banget bahas soal itu terus! Aku tuh pengen minta kamu jadi pacar beneran aku, please Flo!" ucap Alan memelas sembari meraih dua tangan gadis itu.


"Aku gak bisa jawab sekarang, lebih baik kamu pulang dulu deh! Nanti kalau sudah waktunya, aku mungkin bisa jawab pertanyaan kamu," ucap Floryn sambil tersenyum.


"Itu bukan pertanyaan, Flo. Tadi itu sebuah permintaan, dan aku gak mau kamu tolak kemauan aku itu!" ucap Alan kekeuh.


Floryn menarik tangannya lepas dari genggaman pria itu, membuat Alan merasa jengah seolah tak terima dengan apa yang dilakukan Floryn. Namun, gadis itu sepertinya cukup serius dan beranjak dari duduknya saat ini bersiap untuk pergi. Sontak Alan berusaha mencegahnya, karena tentu Alan tak ingin gadis itu pergi dari sana.




Hari berganti, begitu Sahira membuka pintu dirinya langsung berhadapan dengan sosok Alan yang ternyata sudah berdiri di depan sana menunggunya sambil tersenyum. Tentu saja Sahira amat tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini, ia tak percaya jika ternyata Alan dapat datang ke rumahnya pagi-pagi seperti ini disaat ia hendak pergi mencari lowongan pekerjaan.


Melihat Sahira berpenampilan seperti itu, sontak Alan sedikit terkejut dibuatnya. Alan yakin kalau Sahira saat ini sedang membutuhkan pekerjaan, sebab tampilan gadis itu menunjukkan kalau dia tengah berusaha melamar pekerjaan di suatu tempat. Alan pun tak ingin membiarkan gadis itu bekerja di tempat lain, karena ia selalu ingin Sahira lah yang menjadi sekretarisnya.


"Eh Ra, kamu mau kemana rapih banget kayak gini? Terus itu berkas apa yang kamu bawa? Oh aku tahu nih, pasti kamu lagi pengen cari kerja ya? Atau malah udah dapat dan sekarang kamu mau pergi interview?" tanya Alan.


Sahira memalingkan wajahnya, "Itu bukan urusan kamu, lagipula ngapain coba kamu kesini sekarang?" ucapnya ketus.


"Aku kesini karena aku kangen sama kamu, aku gak bisa hidup tanpa kamu sayang!" ucap Alan.


"Hah? Ya ampun, kamu gak perlu lebay deh Alan! Sekarang tolong minggir, karena aku harus pergi dan gak punya banyak waktu lagi buat ladenin kamu!" ucap Sahira.


Alan menahan Sahira dan memegang tangan gadis itu dengan kuat, "Kamu mau kemana sih? Kalau kamu mau pergi, yaudah aku antar ya? Aku masih pengen ngobrol sama kamu, mau ya sayang!" ucapnya membujuk gadis itu.


"Apaan sih? Gausah sayang-sayang bisa gak? Lagian aku bisa naik ojek, aku gak butuh kamu!" sentak Sahira dengan kesal.


"Ayolah Sahira, aku mau kamu bareng sama aku! Kali ini aja aku butuh bicara sama kamu, please!" ucap Alan memelas.


"Kenapa kamu jadi maksa banget sih? Daripada kamu maksa buat anterin aku, mendingan kamu pulang deh ke rumah sana!" ujar Sahira.


"Hah? Ngapain jadi bawa-bawa aku pulang sih? Itu urusan aku sayang, kamu gak perlu ikut campur! Sekarang kamu ikut aku, biar aku yang antar kamu pergi!" ucap Alan tegas.


"Kalau aku gak mau gimana? Lagian ini urusan aku, jadi sebaiknya kamu jangan ikut campur deh!" ucap Sahira menolaknya.


Alan malah tersenyum dan mendekap erat tubuh Sahira dari samping, ia tetap kekeuh memaksa agar Sahira mau ikut bersamanya karena ia ingin berada selalu di dekat gadis itu. Karena paksaan dari Alan yang tak kunjung berhenti, akhirnya Sahira menyerah dan mengiyakan saja ajakan Alan untuk masuk ke mobilnya meski sesungguhnya Sahira malas sekali berduaan dengan Alan.


Di dalam mobil, Sahira pun lebih banyak diam dan tak ingin berbicara apapun pada pria itu. Ia tampak fokus menatap ke jalan dan berusaha menenangkan dirinya sebelum sampai di toko tempat ia akan melakukan wawancara nantinya, ya sebelumnya Sahira sudah menaruh surat lamaran disana dan kini ia dipanggil oleh pihak toko untuk diwawancarai sebelum mulai bekerja.


"Ra, kamu yakin nih mau kerja di tempat baru? Kenapa kamu gak balik aja jadi sekretaris di kantor aku? Dengan begitu, aku juga bisa pulang ke rumah loh sayang," ucap Alan.


Sahira menggeleng pelan, "Gak mau, aku udah kapok jadi sekretaris kamu. Orang kamu aja galakin aku terus kok, lagian waktu itu kan kamu udah pecat aku. Ngapain coba kamu malah minta aku balik kesana?" ucapnya.


"Oh gitu, yaudah deh terserah kamu. Semoga kamu betah ya kerja di tempat baru kamu!" ucap Alan.


Sahira manggut-manggut saja mengiyakan ucapan pria itu, setelahnya ia kembali diam tanpa bicara apapun pada Alan lagi. Menurutnya, tak ada gunanya ia berbicara dengan pria yang sudah sangat dibenci olehnya. Sedangkan Alan tampak tersenyum seringai dan sesekali melirik ke arah gadis itu tanpa diketahui.


"Kamu gak tahu aja Sahira, kalau tempat yang mau kamu tuju itu adalah milik saya. Dan saya sengaja pasang plang lowongan disana, supaya kamu bisa lihat," gumam Alan dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...