Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 111. Mulai dekat


Alan yang semalaman tak pulang ke rumah, kini berada di salah satu hotel yang ia sewa semalam. Alan memang memilih tidur disana, sebab ia masih merasa tidak nyaman dengan perasaan yang ia rasakan saat ini mengenai Sahira. Pria itu juga belum bisa bertemu kembali dengan Sahira dalam waktu dekat ini, ia khawatir perasaannya justru semakin sulit untuk dihilangkan.


Setelah selesai mandi dan beberes, Alan memutuskan keluar kamar untuk mencari udara segar di area sekitar hotel. Akan tetapi, pria itu malah tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang baru hendak masuk ke kamarnya. Mereka pun saling bertatapan karena Alan sangat penasaran dengan penghuni di samping kamarnya.


"Hey, halo! Kamu nginep disini juga ya? Kenalin, saya Alan yang sewa kamar hotel ini. Eee nama kamu siapa ya?" ucap Alan menyapanya.


Gadis itu malah menatap sinis ke arahnya, "Maksudnya apa ya?" ujarnya ketus.


"Hah? Saya cuma ajak kamu kenalan kok, saya gak ada maksud apa-apa. Ya kita ini kan sebelahan nih kamarnya, jadi gak ada salahnya dong kalau kita saling mengenal?" ucap Alan sambil tersenyum.


"Okay, sorry gue emang agak sinis orangnya. Gue heran aja karena tiba-tiba lu ajak gue kenalan," ucap wanita itu.


Alan menggeleng pelan, "Gapapa, kalau kamu gak mau kenalan sama saya juga gak masalah kok. Saya gak mungkin maksa kamu," ucapnya.


"Jangan sedih gitu! Nama gue Floryn, salam kenal ya Alan!" ucap gadis itu mengenalkan diri sembari mengulurkan tangannya ke arah Alan disertai senyuman lebar.


"Wah nama kamu indah banget, seperti orangnya! Salam kenal juga ya Floryn, semoga kita bisa teman nantinya!" ucap Alan.


Wanita bernama Floryn itu menganggukkan saja kepalanya, "Yaudah, maaf ya gue harus masuk sekarang? Gue belum mandi, gak enak kalo lama-lama ngobrol sama lu," ucapnya.


"Oh ya? Kok bisa kelihatan cantik gini sih walau belum mandi?" goda Alan.


Floryn pun terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, "Bisa aja lu, emang dasar laki-laki tuh tukang gombal semua!" cibirnya.


"Saya gak gombal kok, kenyataannya emang begitu. Kamu itu gak perlu merendah atau malu gitu, kamu cantik banget loh Floryn!" ucap Alan.


"Ya ya ya, makasih atas pujiannya. Kalo gitu gue masuk dulu ya? Nanti kapan-kapan kita lanjutin ngobrol lagi," ucap Floryn.


"Okay," singkat Alan sambil tersenyum.


Setelahnya, Floryn masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Alan dengan cepat untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Alan memilih kembali juga ke kamar untuk menunggu Floryn selesai mandi, entah mengapa Alan merasa ingin lebih mengenal gadis itu lebih jauh.


Tak lama kemudian, Alan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Floryn setelah menghitung waktu lamanya gadis itu mandi. Dan betul saja tebakannya, Floryn langsung keluar membuka pintu dengan dress merah muda miliknya disertai rambut yang tergerai basah.


"Eh Alan, ada apa lu ketuk-ketuk pintu kamar gue?" tanya Floryn penasaran.


Alan terdiam saja memandang wajah gadis itu sambil tersenyum, tentu Floryn tampak keheranan serta kebingungan dengan kehadiran pria itu di depan kamarnya. Alan memang sepertinya sudah mulai tertarik pada Floryn, meskipun masih dalam tahap untuk sekedar ingin saling mengenal satu sama lain dan lebih dekat.


"Eee gak ada apa-apa sih, saya cuma mau ajak kamu keliling-keliling di hotel sini. Kamu mau gak ya temenin saya gitu?" ucap Alan.


"Hah??" Floryn sedikit terkejut dengan keberanian Alan, padahal mereka baru saja saling berkenalan beberapa saat yang lalu. Namun, pada akhirnya Floryn pun mengangguki permintaan Alan barusan.




Singkat cerita, Alan telah bersama Floryn di area taman hotel yang cukup indah itu. Mereka tampak mengelilingi taman tersebut sambil saling berbincang-bincang kecil, ya walau Alan terlihat sedikit canggung saat hendak memulai pembicaraan dengan Floryn, wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu itu.


Floryn sendiri juga tampak bingung harus berbicara apa dengan Alan saat ini, terlebih ia akui kalau dirinya memang seorang yang pemalu dan jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Namun, tak dapat dipungkiri pula kalau Floryn lumayan tertarik dengan pria seperti Alan yang berani to the point mengajaknya jalan berdua walau baru kenal.


"Umm, kamu kira-kira suka sama bunga gak? Kalau iya, kita duduknya disana aja yuk yang ada banyak bunganya! Soalnya dari sini udah kelihatan indah banget tuh," ucap Alan memberi usul.


Floryn manggut-manggut saja dengan senyum tipis merekah di wajahnya, "Terserah lu, gue kan cuma mau temenin lu aja," ucapnya agak dingin.


"Oh ya, aku mau tanya deh. Kamu itu kerja apa sih dan terus nginep di hotel ini karena apa? Mau liburan atau emang ada hal lain?" tanya Alan.


Wanita itu sontak menatap ke arahnya, "Kenapa lu mau tau urusan gue? Masih untung gue mau temenin lu, jadi gausah banyak tanya deh!" ucapnya ketus yang membuat Alan syok.


Bahkan, Floryn juga pergi begitu saja meninggalkan Alan dengan langkah cepat. Sontak Alan merasa sedih dan ingin menyerah saja saat ini, rupanya memang sulit sekali menemukan wanita pengganti yang tepat untuk bisa melupakan sosok Sahira dari hatinya yang sangat ia cintai itu.


Akhirnya Alan memutuskan mengejar gadis itu karena ia masih penasaran dengannya, "Eee tunggu dong Floryn, kamu mau kemana sih buru-buru amat?" ucapnya menahan si wanita.


"Sorry, gue agak bete aja sama lu karena lu terlalu kepo urusan gue. Gue mau apa disini itu ya terserah gue dong," ucap Floryn ketus.


"Iya deh iya, aku minta maaf sama kamu kalau aku udah bikin kamu gak nyaman. Tapi, aku gak ada maksud buat kepo kok. Aku cuma pengen lebih akrab aja sama kamu," ucap Alan.


"Kenapa gitu? Kita kan baru kenal," tanya Floryn.


"Justru karena baru kenal, makanya aku pengen tahu tentang kamu. Siapa tahu aja kita bakal jadi teman ke depannya, ya kan?" jawab Alan santai.


Floryn hanya menghela nafas dan memutar bola matanya, "Lu pengen banget ya temenan sama gue?" ujarnya pede.


Alan manggut-manggut sambil tersenyum, "Iya, soalnya aku jarang banget punya teman wanita. Kebanyakan teman-teman aku itu laki-laki," ucapnya.


"Ohh, tapi masa sih lu gak pernah deket sama perempuan? Gue lihat-lihat lu lumayan ganteng kok, ya pasti ada lah yang naksir sama lu," ujar Floryn sembari mengamati tubuh Alan.


"Ahaha, bisa aja kamu bikin aku ge'er. Aku emang pernah dekat sama cewek, bahkan sampai jatuh cinta. Tapi, dia sekarang malah udah jadi milik orang lain," ucap Alan.


Floryn mengernyit heran, "Maksudnya gimana? Lu belum sempat jadian sama dia gitu?" tanyanya.


"Iya benar, menyatakan cinta aja baru bisa kemarin setelah dia menjalin hubungan dengan lelaki lain. Huft, makanya saya menginap disini untuk bisa lupain dia," jawab Alan.


Entah mengapa mendengar cerita Alan sedikit membuat Floryn tersentuh, gadis itu ikut merunduk sedih membayangkan sakitnya menjadi Alan. Sedangkan Alan juga tampak meneteskan air mata saat mengingat wajah Sahira, jujur saja sulit baginya melupakan wanita pertama yang ia cintai.


"Sahira, saya cinta banget sama kamu!" batin Alan.




Saka pun mengernyit heran, "Loh emangnya ibu kamu kemana Sahira? Kenapa mesti dicariin?" tanyanya penasaran.


"Waduh, emang ibu kamu gak kasih kabar sama sekali gitu ke kamu?" tanya Saka terkejut.


Sahira menggeleng pelan, "Enggak mas, saya telponin daritadi juga gak diangkat. Saya bingung deh harus cari ibu kemana lagi," jawabnya.


"Eee yaudah kamu sabar aja ya Sahira! Mungkin ibu kamu lagi ada urusan di luar, kita tunggu aja sampai ibu kamu pulang," ucap Saka menenangkan.


"Kita mau tunggu sampai kapan mas? Aku khawatir banget sama ibu, apalagi kalau sampai ibu dibawa pergi sama om Bram itu," ucap Sahira.


"Ya kalau itu sih kemungkinan besar iya, soalnya kemarin kita terakhir ketemu ibu kamu kan pas lagi sama si om Bram. Kita berdoa aja supaya ibu kamu gak diapa-apain sama tuh orang," ucap Saka.


"Aamiin, tapi tetap aja aku khawatir mas. Aku harus cari ibu sekarang!" ucap Sahira kekeuh.


Saka pun mencekal lengan gadisnya itu, "Kamu mau cari kemana sayang? Emangnya kamu tahu kemana ibu kamu pergi? Enggak kan? Udah lah, kita tunggu disini aja dulu!" ucapnya.


"Emang aku gak tahu ibu kemana, tapi seenggaknya aku mau coba cari dulu ibu di sekitar sini. Kalau mas Saka gak mau nemenin, yaudah biar aku cari ibu sendiri," ucap Sahira.


"Eh eh, iya deh iya saya anterin ayo!" ucap Saka terpaksa menurut.


Disaat mereka hendak melangkah, tiba-tiba saja mobil milik Bram berhenti tepat di halaman rumahnya dan membuat langkah mereka terhenti. Tentu saja sangat senang melihatnya, ia berharap di dalam sana ada ibunya yang sudah pulang dan kembali ke rumahnya.


"Mas, itu kayaknya ibu deh. Kita tunda dulu ya pencariannya?" ucap Sahira antusias.


"Iya sayang, semoga aja itu ibu kamu!" ucap Saka.


Dan benar saja dugaan Sahira, rupanya Fatimeh berada di dalam mobil itu. Fatimeh pun turun dari mobil bersama Bram yang menggandengnya, tentu saja Sahira langsung bergembira lalu menghampiri ibunya dengan penuh antusias. Namun, Sahira tak tahu kalau ibunya saat ini masih membencinya.


"Bu, syukurlah ibu pulang. Ibu darimana aja sih? Kenapa semalam ibu gak pulang ke rumah? Terus ibu tidur dimana?" tanya Sahira dengan cemas.


"Lo gausah sok perduli deh sama gue! Lo aja kemarin gak ada di rumah pas gue sampai, kemana lu? Rumah gelap banget kayak gak ada penghuninya, masa gue harus nunggu disini?" ucap Fatimeh ketus.


"Eee iya Bu, maaf semalam soalnya aku terima undangan mas Saka buat buka bersama di rumahnya. Aku mau ngabarin ibu, tapi hp ibu gak bisa dihubungi," ucap Sahira.


"Alasan aja lu, bilang aja lu emang udah gak anggap gue sebagai ibu lu!" geram Fatimeh.


"Gak gitu Bu, aku—"


"Ah udah lah, gue malas bicara sama lu!" potong Fatimeh yang kemudian langsung pergi begitu saja memasuki rumahnya.


Sontak Sahira menangis karena bentakan ibunya barusan, Saka pun memeluknya bermaksud menenangkan gadis itu agar tidak menangis lagi. Saka juga mengusap lengan dan bahu sang kekasih, ia sungguh merasa prihatin dengan apa yang dialami Sahira barusan.


Lalu, Sahira beralih menatap Bram yang kebetulan masih berada disana. Gadis itu tampak mendekat ke arah Bram dengan mata berkaca-kaca, Bram yang melihatnya pun dibuat gugup serta gemetar karena khawatir Sahira akan berbuat yang tidak-tidak padanya kali ini.


"Om, om itu abis bawa ibu saya kemana semalam?" tanya Sahira serak.


"Eee.." Bram jelas gugup dan kebingungan menjawabnya.




Cup!


Tiba-tiba saja Wati merasa sesuatu yang basah menyentuh pipinya, ya barusan itu adalah kecupan lembut dari Awan untuknya. Sontak saja Wati terkejut bukan main mendapati hal itu, ia menatap wajah Awan sembari memegangi pipinya seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan Awan.


Sementara Awan justru tampak terkekeh melihat ekspresi gadis itu, seolah tidak ada penyesalan sama sekali yang ia rasakan setelah mencium pipi Wati barusan. Ya Awan memang sengaja melakukan itu, sebab terlalu sulit baginya menahan rasa gemas dari wajah Wati barusan.


"Awan, kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu cium aku coba? Mana gak bilang-bilang dulu lagi, huh dasar!" kesal Wati.


Awan tersenyum tipis menatapnya, "Maaf Wati, abisnya kamu dilihat-lihat ternyata gemesin banget sih. Saya jadi gak tahan deh buat cium kamu tadi," ucapnya.


"Yeh bisa aja kamu, emang dasar cowok modus!" cibir Wati.


"Bukan modus, serius loh saya gak bisa nahan diri. Sekali lagi saya minta maaf ya? Kalau memang kamu tidak berkenan, lain kali saya tidak akan mengulangi itu lagi," ucap Awan.


"Kamu kenapa jadi formal gitu sih ngomongnya? Biasa aja kali, udah kayak lagi bicara di rapat penting aja," kekeh Wati.


"Hehe, itu biar kamu mau maafin saya Wati. Jadi gimana nih, kamu mau kan maafin saya?" ucap Awan sambil tersenyum.


Wati mengangguk pelan, "Iya Awan, aku maafin kamu kok. Kamu kan udah tolong aku semalam waktu aku jatuh," ucapnya.


"Makasih ya Wati? Oh ya, soal semalam itu kan padahal juga kesalahan saya tahu. Kalau saya bawa motornya hati-hati, mungkin saya gak akan tabrak kamu," ucap Awan menyesal.


"Ah gapapa, udah lupain aja. Eee kalo gitu aku mau berangkat dagang ya?" ucap Wati pamit.


"Okay, tapi apa kamu mau saya antar pakai mobil? Kalau iya, saya ambil dulu mobilnya di warung. Abis itu kita berangkat ke tempat kamu," tawar Awan.


"Eee ga—"


"Apa? Mau bilang gausah? Kamu mending nurut aja deh sama saya, kaki kamu kan masih sakit. Terus sepeda kamu juga masih ada di bengkel kan?" sela Awan memotong ucapan Wati.


Wati terdiam menunduk, tapi pada akhirnya ia mengangguk juga mengiyakan ajakan Awan. Ya tidak ada salahnya memang jika ia diantar oleh Awan saat ini, karena sepedanya pun sedang dibetulkan dan belum bisa dipakai untuk saat ini sebab semalam tertabrak.


"Wati?"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...