Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 83. Gak mau


Akhirnya Ari menemukan gadis yang ia cari, tanpa basa-basi ia langsung menghampiri tempat Keira berada dan memanggil gadis itu. Seketika Keira terkejut bukan main, ia tak mengira Ari bisa masuk ke kantornya disaat jam kerja masih berlangsung.


"Keira!" Ari menyapa gadisnya, bertatapan langsung dengan gadis itu sambil tersenyum.


"Ari, kamu ngapain sih kesini? Ada urusan apa kamu disini?" tanya Keira ketus.


"Sayang, aku mau bicara sama kamu. Mau ya kita bicara sebentar?" bujuk Ari.


Keira melirik ke arah teman-temannya, ia melihat para karyawan itu terus memandangnya dengan tatapan heran dan sinis saat melihat Ari datang ke kantor itu. Tentu Keira merasa risih, ia langsung saja bergerak menghampiri Ari dan berniat mengusirnya dari sana.


"Kamu apa-apaan sih Ari? Kamu gak tahu ya kalau aku lagi kerja disini? Kamu jangan ganggu aku dulu dong! Lagian aku rasa gak ada yang perlu diomongin lagi, semua sudah jelas!" ujar Keira.


"Belum sayang, aku masih mau jelasin semua ke kamu. Tolong kamu dengerin aku dulu Keira, kamu itu cuma salah paham sama Mira!" ucap Ari memohon pada gadisnya.


Tiba-tiba saja, Agus yang tadi ada di luar sudah berhasil menyusul Ari. Satpam itu pun berusaha membawa Ari keluar dari kantor karena tak ingin membuat kerusuhan, apalagi terlihat para karyawan di sekitar sana juga masih berkumpul mengamati mereka.


"Heh! Waduh, berani banget ya kamu tipu saya dan masuk kesini! Ayo kamu ikut saya, kamu itu gak boleh masuk kesini!" geram Agus.


"Ah bapak gausah ikut campur! Sana bapak mending keluar dulu, nanti kalau urusan saya udah selesai baru deh saya pergi," ucap Ari.


"Gak bisa, ayo kamu ikut saya keluar dari sini sekarang juga!" paksa Agus.


Saat tangan satpam itu hendak memegangnya, Ari dengan cepat langsung menepis tangannya dan bergerak menjauh. Ari juga meraih satu tangan Keira sambil kembali memohon padanya untuk mau bicara dengannya, sontak Keira dibuat bingung harus mengambil keputusan apa.


"Keira, kamu mau ya ngobrol sama aku sebentar aja!" ucap Ari memohon.


"Eee.." Keira terlihat berpikir keras sebelum menjawab perkataan kekasihnya itu.


"Mbak Keira, lebih baik mbak turuti saja kemauan pacar mbak ini! Supaya suasana disini lebih tentram dan gak mengganggu aktivitas para karyawan yang lain," usul Agus.


"Iya pak Agus, saya minta maaf ya atas kericuhan yang pacar saya buat?" ucap Keira merasa tidak enak.


"Gapapa mbak, ini bukan salah mbak kok. Sebaiknya masalah kalian segera diselesaikan aja ya dengan baik!" ucap Agus.


"Iya pak, saya akan selesaikan semuanya. Ayo Ari kita bicara di tempat lain!" ucap Keira mengajak kekasihnya itu pergi.


Ari tersenyum dan mengangguki perkataan Keira barusan, mereka pun pergi ke luar dari gedung tersebut untuk berbincang tanpa mengganggu para karyawan yang lain. Ari serta Keira kini saling berhadapan di depan gedung kantor, namun tampak Keira masih memberi tatapan ketusnya kepada sang kekasih disana.


"Apa lagi yang mau kamu jelasin sama aku sekarang? Tolong jangan lama-lama, karena aku harus kembali bekerja!" ucap Keira.


"Iya sayang, gak lama kok. Aku cuma pengen bilang kalau Mira bukan selingkuhan aku," ucap Ari.


Keira menggeleng seraya memutar bola matanya, "Terus siapa dong selingkuhan kamu, ha?" tanyanya pada sang kekasih.


Deg!


Ari terkejut, kini ia sadar bahwa ada yang salah dari kata-katanya barusan sehingga Keira malah bertanya seperti itu padanya. Ari pun menepuk jidatnya karena bingung harus bagaimana lagi cara untuk membuat kekasihnya percaya jika Wati bukanlah selingkuhannya.




Setelah selesai bersiap-siap, Sahira mendatangi kamar ibunya berniat mengajak sang ibu untuk tarawih bersamanya. Namun, suasana di dalam sana terdengar hening dan Sahira tidak dapat mengetahui apa yang tengah dilakukan ibunya. Gadis itu pun mengetuk pintu dan memanggil sang ibu, ia berharap Fatimeh dapat menjawab ucapannya lalu membuka pintu.


TOK TOK TOK...


"Bu, ibu lagi apa? Kita shalat tarawih yuk! Besok udah puasa loh bu, kita gak boleh ketinggalan malam pertama di bulan Ramadhan!" ucap Sahira.


"Ogah, lu aja sana yang ke masjid sendiri! Gue lagi capek banget ini mau istirahat, lu jangan ganggu gue!" sentak Fatimeh.


"Astaghfirullahaladzim.." Sahira menunduk terkejut sembari memegangi dadanya, ia tak menyangka ibunya akan menolak ajakannya barusan.


"Bu, tapi ini malam pertama loh bu. Biasanya ibu paling semangat dulu buat ajak aku ke masjid dan tarawih bareng-bareng, kenapa sekarang ibu malah gak mau?" ucap Sahira.


Keheningan yang Sahira dapat, tapi tak lama kemudian ia mendengar suara langkah kaki dan pintu kamar ibunya itu terbuka. Sahira pun tersenyum lebar, ia mengira ibunya berubah pikiran dan mau pergi shalat tarawih bersamanya ke masjid.


Ceklek


"Alhamdulillah, pasti ibu mau ikut shalat bareng aku kan? Yaudah, ayo bu kita sama-sama ke masjid ya!" ucap Sahira.


"Lo kalo ngomong dijaga! Gue keluar bukan mau ikut shalat sama lu, gue justru pengen usir lu dari sini karena gue pusing denger ocehan lu! Sana gih lu shalat ya shalat aja, gausah ajak-ajak gue!" ucap Fatimeh dengan tegas sembari mendorong Sahira.


"Awhh, jangan gitu dong bu! Biasanya setiap Ramadhan kita selalu shalat tarawih bareng, masa tahun ini aku shalat sendirian? Gak enak dong bu, ayolah bu!" bujuk Sahira.


"Lo itu maunya apa sih Sahira? Kenapa sekarang lu jadi sering banget maksa-maksa gue? Apa karena lu udah kerja bagus, terus lu merasa paling berkuasa di rumah ini, iya?" geram Fatimeh.


"Ya ampun bu, aku gak begitu. Aku cuma pengen ajak ibu tarawih kok, aku gak maksud buah sok berkuasa disini. Lagian aku juga masih menghormati ibu sebagai ibu aku," ucap Sahira.


"Gue bukan ibu lu, gue cuma orang yang disuruh bapak lu buat jagain lu!" kesal Fatimeh.


Seketika Sahira meneteskan air mata, ia kembali diingatkan pada momen menyedihkan itu setelah bertahun-tahun ia berupaya melupakannya. Namun, Fatimeh tak perduli dengan itu dan malah kembali mendorong tubuh putrinya secara kasar tanpa rasa kasihan.


"Udah sana lu pergi, gausah drama di depan gue! Lo kalo mau jadi anak alim, yaudah gak perlu pake ajak-ajak gue segala!" ujar Fatimeh.


"Tapi Bu, aku cuma—"


"Ah gue gak mau dengar apapun itu dari lu, gue lagi pusing banget ini!" sela Fatimeh semakin kesal dan langsung berbalik masuk kamarnya.


Sahira reflek terpejam saat Fatimeh membanting pintu kamarnya, jantungnya berdetak kencang diiringi tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia sangat sedih kali ini, sebab sang ibu ternyata masih belum menganggap dirinya sebagai anak kandungnya.


"Hiks hiks, kenapa ibu tega banget ngomong kayak gitu sama aku? Padahal aku udah anggap ibu seperti ibu kandung aku sendiri, tapi ibu malah kayak gitu," batin Sahira.


"Sahira!" gadis itu dikejutkan saat suara seorang pria memanggil namanya dari arah luar.


Sontak Sahira menoleh, ia terkejut karena ternyata Saka sudah berdiri di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar itu. Ia spontan menghapus air mata di pipinya karena tak mau Saka melihat kesedihannya itu, tapi terlambat sebab Saka sudah lebih dulu maju dan menahan lengan Sahira.


"Jangan berhenti! Menangis saja Sahira, jika itu bisa mengobati kesedihan kamu!" ucap Saka sambil tersenyum menatap tulus wajah kekasihnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...