Sang Pangeran

Sang Pangeran
94. Delvin Curiga


Tidak mau memperdulikan terlalu serius urusan perempuan Rendra memilih mandi. Membersihkan diri dan bersiap pergi.


Meski hanya sedikit dan hanya 2,5 persen, Rendra termasuk salah satu pemegang saham di Nareswara. Rendra juga masih ada hubungan saudaraa dari mendiang ibu Aslan. 


Hari ini Aslan resmi dicopot dari jabatanya sebagai pemimpin, penentu kebijakan dan pemegang saham terbanyak. Dan hari ini juga penentuan siapa yang menggantikan Aslan. Karena Paul, dan Satya sama- sama keluarga dan memegang saham yang banyak, mereka berdua menjadi kandidat pengganti Aslan. 


Jadi hari ini Rendra berangkat hanya menghadiri rapat besar saja, karena Rendra juga akan mengundurkan diri. Begitu juga Aslan.


Di hari terakhirnya dia akan menyampaikan salam perpisahan dan permohonan maaf secara resmi kepada para mantan bawahanya. Aslan akan ikut berangkat. Rapat dimulai pukul 09.00. 


Setelah beberapa menit, rendra keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Rendra bersiul, memakai pakaianya dan menata rambutnya. Seperti biasa Rendra akan selalu tampan dan tampak dingin saat memakai jas dan dasi. 


Diambilnya jam tangan rolex di mejanya, dan dia lilitkan di tangan kekarnya. Setelah siap Rendra melirik ke kamar Aslan. Belum ada tanda kehidupan di kamar itu. Padahal Rendra sudah wangi dan rapi. 


Rendra kemudian berjalan ke kamar Aslan. Memastikan apa Aslan sudah siap.


“Bos...” panggil Rendra. 


Tidak ada jawaban tidak ada suara juga. 


“Bos...” panggil Rendra lagi.


Masih belum ada jawaban Rendra meraih gagang pintu dan memutarnya. Ternyata tidak dikunci, Rendra pun membuka pintunya dengan hati- hati. Meski itu apartemen Rendra dan Aslan yang menumpang, Rendra tetap menghormati Aslan. 


Dan, bamn.... Kamar masih gelap, horden masih tertutup rapat. AC menyala sangat dingin karena diatur dingin maksimal. Tampak gundukan sekujur tubuh manusia tidak tahu malu berada di bawah selimut. Semua tertutupi dari ujung kepala sampai ujung kaki, entahlah apa memang begitu posisi tidur kesukaan Aslan. 


“Haisshh” Rendra hanya bisa mendesis melihat kelakuan sepupunya itu. 


Rendra mandi jam 8, dandan bersiap- siap sekitar 30 menit, untuk sampai jam 9 hanya kurang 30 menit lagi. Padahal jalanan ke kantor suka macet. 


Kalau dipikir bodoh juga Rendra masih memanggil Aslan bos. Sudah menumpang tidak tahu diri, masih suka marah- marah lagi. Iya kalau Rendra masih digaji, sekarang kan gaji Rendra bukan dari Aslan lagi. 


Rendra kemudian menarik selimut Aslan kesal. 


“Woy bangun woy!”  teriak Rendra. 


Bukanya bangun Aslan malah menarik selimutnya lagi ke atas.


“Haiisssh benar- benar. Bagaiamana kalau anakmu melihat ini. Dasar!” omel Rendra tidak tahan. Lalu Rendra membuka horden dan membiarkan sinar matahari membuat silau Aslan yang masih bermalas- malasan. 


“Hrrrgggh. Ck! Sialan lo!” bukanya bangun Aslan malah marah- marah. 


“Bentar lagi rapat dimulai Bos, bangun! Lo nggak mau berangkat?” 


“Jam berapa sih sekarang?” jawab Aslan santai mengerjapkan mata. 


“Udah jam setengah sembilan, kita pasti telat” 


“Bodo amat,” jawab Aslan santai.


Setelah bertahun- tahun Aslan hidup dipaksa untuk disiplin kini Aslan seperti mau balas dendam ingin menikmati waktu malas dan sesukanya. Aslan bukan bangun hanya meregangkan badanya dan memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri.


“Intinya lo mau dateng nggak?” tanya Rendra. 


Aslan diam sesaat melihat penampilan Rendra dari atas sampai bawah. Kemudian Aslan tersenyum. Rendra pun sangat jengkel. Bukanya segera bangun dan mandi. 


“Lo kalau mau berangkat berangkat aja sana!” jawab Aslan enteng. 


“Oke” jawab Rendra.


Karena jengkel Rendra meninggalkan Aslan. Toh mobil mercedes mewah Aslan masih terparkir di bawah. Karena selama Aslan pergi dititipkan ke Rendra. 


Aslan pun tampak biasa saja ditinggalkan Rendra.


*****


Tidak seperti biasanya. Pagi ini di kantor tempat Kia bekerja terasa ada yang beda. Beberapa security dan petugas keamaanan terlihat berjaga. Parkiran pun lebih penuh dari biasanya. Sampai tempat biasa Kia memarkirkan mobil barunya sudah ditempati orang dan Kia parkir asal. 


Kia kemudian berjalan cepat menuju ke ruanganya. Baru pertama Kia menemui kantornya tampak sibuk begini. Bahkan Kia melihat beberapa wajah asing. Ya meski dari seluruh karyawan kantor itu banyak sekali juga. 


Kia pikir ada event tertentu. Daripada Kia penasaran sendiri mending nanti tanya ke Delvin. Dan setelah naik lift beberapa menit Kia sampai di ruanganya. Teman- teman Kia juga tampak bergerombol dan bergosip. 


“Seneng banget ya jadi Bu Paul, mau aku kali jadi kaya dia” 


“Iya sih, siapa sih yang mau rumah tangganya cerai” 


“Tapi ngomong- ngomong kenapa mereka cerai ya? Mereka kan nggak pernah diterpa gosip apapun?” 


“Apa mungkin orang ketiga? Orang ketiga dari pihak siapa nih?” 


“Tapi kalau dilihat dari kasusnya kayaknya dari Tuan Aslan deh. Secara kan dia yang hengkang, berarti mungkin dia yang lakuin kesalahan” 


“Iya ya? Kasian Tuan Aslan, namanya udah besar harus pergi, lagian punya istri cantik gitu masih nggak bersyukur ya” 


“Ya biar aja, laki- laki mah harus digituin. Biar kapok. Dimana-mana laki-laki yang berselingkuh akan hancur” 


“Iya bener, pinter tuh, Nyonya Paul bisa ditiru” 


“Biar kapok tuh pelakor dapet miskinya Tuan Aslan” 


“Hahahaha” 


Kia berjalan dan duduk mengepalkan tanganya. Kia menelan ludahnya menahan emosi agar tidak meledak. Benar- benar rasanya pingin ambil korek dan menyalakan dinamit di kepalanya. 


Bisa- bisanya teman- temanya pada ngobrol, bergosip dan berasumsi sendiri padahal mereka tidak tahu apapun. Dasar lambe turah, netijen sok tau.


“Meniru Paul? Hoh, apanya yang ditiru? Gila, ternyata selama ini, image orang di layar kaca penuh dengan kebohongan publik,” batin Kia jengah. 


Tapi Kia tidak kuasa menjelaskan ataupun membantah pernyataan teman- temanya. Hubungan kedekatan Aslan dan Kia saja masih Kia tutupi, hanya orang- orng terdekat yang tahu siapa ayah Ipang. Kiapun memilih diam mengambil posisi aman. 


Setelah Kia duduk Delvin datang. Mereka pun saling menyapa seperti biasanya. 


“Pagi Ki” sapa Delvin. 


“Pagi!” jawab Kia, tidak mau menyiakan kesempatan Kia mendekat ke Delvin dan bertanya. 


“Di loby bawah ramai banget penjagaanya. Ada event apa sih?” tanya Kia berbisik. 


“Lagi ada rapat akbar” jawab Delvin. 


“Hoh? Rapat akbar?”


“Emang kamu belum dengar?” 


“Apa?” 


“Tuan Aslan kan mengundurkan diri dari Nareswara. Dan hari ini resminya. Sekaligus penentuan siapa pengganti beliau,” ucap Delvin jelas. 


Mendegar penuturan Delvin Kia menelan salivanya. Jantungnya berdegup kencang, meski Kia sudah diberitahu sekilas, tapi kini pernyataan Delvin terasa lebih nyata. 


Jadi benar, Aslan benar- benar meninggalkan Paul dan semuanya. Lalu dimana Aslan. Kia langsung tercekat tenggorokanya. Kia ikut penasaran apa hal yang membuat Aslan akhirnya melakukan ini. Benarkah untuk dirinya? Kia ingin mendengar jawaban itu sekarang. 


“Lo kenapa mendadak pucet gitu?” tanya Delvin. 


“Ehm, nggak apa- apa.” 


“Denger- denger sih, Tuan Aslan pergi dan menyerahkan semua yang dia punya untuk istrinya karena mereka bercerai.” imbuh Delvin lagi. 


“Oh gt?” jawab Kia. 


Delvin yang ingat tugas khususnya memata- matai tanda lahir Kia, menatap Kia intens. Pada saat itu Delvin dan Putri menaruh curiga ke Kia, kenapa Pak Rendra menyuruhnya memata- matai Kia. Dan mengenai Ipang, jika diperhatikan mata Ipang sama dengan mata Aslan.


“Are you okay?” tanya Delvin lagi dengan tatapan menyelidiki. 


“Yeah, aku baik- baik saja!” jawab Kia salah tingkah merasa ditatap aneh oleh Delvin. 


“Gawat, kalau perceraian Aslan sudah diketahui banyak orang, nggak ada yang boleh tau tentang Ipang, tapi kasian Aslan, aku harus menemuinya, kalau dia bukan bos di sini, berarti kontrak kerjaku di sini juga tidak berlaku lagi. Apa artinya aku bisa keluar dari sini?” batin Kia kemudian. 


“Menurut kamu kenapa Tuan Aslan sampai bercerai?” pancing Delvin lagi.


Ternyata malam itu, saat Kia di sekap di ruangan Aslan. Delvin dan putri tau, bahkan mereka sempat melihat Kia dan Aslan jalan berdua keluar dari lift khusus petinggi. Karena saat itu ada barang yang ketinggalan mereka kembali ke kantor, dan mereka melihat Aslan mengejar Kia.


“Hah?” tanya Kia tersentak.