
“Kamu yakin dengan apa yang kamu minta, Sayang? Kalau kamu berubah pikiran, katakan saja!” tutur Aslan pelan ke Kia.
“Abang, geli...! Minggir!” Kia tidak menjawab suaminya.
Kia justru menjauhkan kepalanya dari Aslan yang berdiri di belakangnya. Aslan menghujani leher Kia dengan kecupan dan membuat tiupan lembut yang membawa ratusan kupu- kupu yang menggelitik. Sekujur tubuh Kia pun merinding dibuatnya.
“Abang akan lakukan apa saja, untuk membalas sakit hatimu! Katakan saja!” lanjut Aslan masih belum mau pergi.
Aslan terus melilit pinggang istrinya dan menghirup dalam- dalam aroma tubuh Kia yang wangi setelah selesai mandi.
“Hh!” Kia mendengus karena risih.
Kia berusaha menguraikan tangan suaminya. Kemudian mendongakkan kepala menatap Aslan.
“Sekarang yang penting bawa Ipang pulang dulu, Bang! Kia mau pakai hijab, Abang janga terus nempel gini dong! Kia nggak bisa gerak! Kia nggak mau telat, terus nanti diserbu kamera ma netijen!” ucap Kia.
Aslan benar- benar melebihi Ipang manjanya. Sekarang sudah lewat maghrib. Di luar kamar, Fatimah dan Radit juga sudah siap ke acara Ipang, Mbok Mina dan Mbak Narti juga ikut.
“Makanya jangan, cantik- cantik jadi orang!” bisik Aslan lagi.
“Hissh!” desis Kia manyun mengibaskan tangan Aslan.
Kia beranjak menyambar kain segiempat besar, melipatnya rapih membentuk segitiga sama kaki. Kia kemudian membalutkan kain indah itu menutupi rambut cantiknya yang mempunyai daya pikat luar biasa bagi Aslan. Rambut yang membuat Aslan tak jemu memainkanya dan hanya dia yang bisa melakukan itu.
"Ya ya!" jawab Aslan.
Aslan hanya bisa menarik sudut bibirnya kecil. Bagi Aslan, hanya sekedar melihat Kia berdandan membuatnya bahagia. Setiap gerakan yang Kia lakukan membuat Aslan tak jemu memandangnya.
Aslan berfikir menunggu Kia di luar menghabiskan waktu sia- sia, Aslan lebih suka mengganggu Kia.
Mungkin hanya Aslan laki- laki yang suka menemani istrinya merias diri, bahkan sesekali mengambilkan apa yang Kia butuhkan. Aslan juga yang menentukan pewarna bibir yang hendak Kia pakai.
“Ayok berangkat!” ajak Kia ke Aslan, setelah memastikan penampilanya sesuai maunya.
"Ayok!" jawab Aslan.
Saat, Kia berjalan keluar kamar, Aslan sengaja mempersilahkan sang Dewinya itu beranjak lebih dulu. Sambil mengembangkan senyum kecil, Aslan menarik benda kotak nan ajaib dari sakunya.
“Apa semua sesuai rencana?” ketik Aslan ke anak buahnya.
“Semua tepat seperti yang anda minta Tuan!”
“Bagus!” jawab Aslan menutup ponselnya dan menyusul Istri cantiknya.
Entah apa yang Aslan rencanakan. Padahal siang tadi setelah Kia menangis sesenggukan, saat suaminya pulang menyediakan dada bidangnya sebagai tumpuhan melepaskan kesakitanya dan memberikan tawaran menebus sakitnya, Kia menjawab dengan sangat bijak.
"Kia tidak ingin ke media dulu Bang. Kia harus temui seseorang!" jawab Kia.
Kia mau sebelum go ke publik tentang bagaiamana Paul, Kia harus lebih dulu menemui istri Nicholas. Kia tidak mau dirinya atau suaminya yang membongkar tentang Paul ke media. Kia mau istri Nicholas yang menghakimi Paul.
Aslan semakin dibuat terpana dengan istri cantiknya itu. Kia tidak hanya menyimpan kecantikanya di balik pakaian panjang dan hijabnya. Kia juga menyimpan kecantikan hati yang tidak semua orang miliki.
“Kia tidak mau berurusan dengan media sosial atau pers. Kia bukan artis, Kia juga bukan sosialita ataupun orang berpengaruh, untuk apa Kia melakukan pembelaan itu di depan khalayak ramai? Kita bisa selesaikan dengan baik, kan?” tutur Kia lembut yang selalu Aslan ingat.
"Baiklah!" jawab Aslan mengikuti apa mau istrinya.
Dengan bukti yang terkumpul, seharusnya sekarang juga Kia dan Aslan bisa, menghancurkan Paul ataupun Alena dalam sekejap mata.
Kia tetaplah Kia, dia tidak memilih jalan yang sama dengan yang Paul lakukan. Bagi Kia media ataupun dunia luar itu bukan hidupnya. Kia tidak berurusan dengan masyarakat banyak atau orang lain.
Kia hanya memikirkan bagaimana agar anaknya mendapatkan hak bahagianya. Kia memilih diam. Kalaupun nanti ada yang membuka aib Paul di media, Kia ingin bukan dirinya yang melakukan. Kia hanya ingin memeluk putranya dan kembali merajut jalan indah bersama.
Kia hanya ingin Tuhan mengampuni dosanya. Sakit yang Kia rasakan sekarang, Kia artikan sebagai bayaran atas dosa yang dia lakukan di masa lampau. Kia berharap cacian yang orang berikan sekarang sebagai pembersih dosa Kia karena dulu mengambil jalan dan keputusan yang seharusnya tidak ia tempuh. Kia ikhlas dicaci.
"Ayuk, berangkat!" ajak Kia ke keluarganya.
Kia, Aslan, Fatimah, Radit, Mbok Mina dan Mbak Narti dengan semangat berangkat ke ITV. Mereka tidak sabar melihat Pangeran dan membawa Pangeran pulang.
****
Studio ITV
Alena dan Ipang kini dipertemukan kembali dalam ruangan tempat mereka bersiap- siap dan bermake up. Bagi Ipang, Alena adalah kakak tiri seperti yang disampaikan Daffa sepupunya. Sementara bagi Alena, Ipang adalah seseorang yang harus disingkirkan karena merebut perhatian ayahnya.
“Alena, Pangeran, kalian tunggu di sini ya! Kaka akan ambil kostum kalian dulu!” tutur designer mereka meninggalkan Ipang dan Alena berdua.
Kini kedua anak itu berhadapan. Orang dewasa lain sibuk dengan pekerjaan masing- masing.
“Huh!” dengus Alena memalingkan muka dari Ipang.
“Jangan panggil aku Kak, aku bukan kakakmu!” jawab Alena ketus.
“Tapi kan, ayah kita sama kak Alena, itu berarti kita sekarang saudara!” tutur Ipang lagi dengan polos dan hati bersihnya.
“Tidak! Aku tidak mau punya saudara menyebalkan sepertimu! Dia hanya daddyku bukan ayahmu!” jawab Alena lagi.
“Sekarang kan ayah dan ibu sudah menikah Kak! Kak Alena jadi kakakku!” tutur Ipang lagi.
Ipang mengatakan itu dengan tulus dan hati gembira. Ipang berniat baik, ingin merajut ikatan saudara pada Alena. Sayangnya Alena memberi respon berbeda.
“Apa? Menikah? Tidak mungkin!” tanya Alena dengan mulut tercekat dan tidak percaya.
Alena tau apa arti menikah, karena dia juga beberapa kali menghadiri dan melihat acara pernikahan. Alena mengepalkan tanganya kesal.
Alena ingin marah, tapi sayang, dia tidak punya pelindung di situ. Mereka berada di keramaian. Semua orang asing, tidak ada yang mempunyai ikatan darah denganya.
“Iya, ayah juga sekarang tinggal bersamaku. Kak Alena sekarang jadi kakakku. Kita saudara Kak! Kak Alena ikut aku saja, kita tinggal bersama!” tutur Ipang lagi dengan polosnya.
Sayangnya ketulusan Ipang, justru menjadinpedang yang menghunus hati Alena. Orang yang dia anggap kakak.
Hati Alena hancur mendengar Daddynya sungguh memilih orang lain menjadi anak dan istrinya. Selama ini Alena cukup kesakitan karena ayahnya selalu bersikap acuh padanya.
Alena selalu mendekati Aslan. Alena juga selalu berusaha mengambil perhatian Dadynya itu. Aslan memang tidak pernah kasar pada Alena, tapi Alena bisa merasa, Aslan tetap cuek. Aslan tidak memperdulikanya.
Alena juga tahu Daddynya sering bertengkar dengan Mommynya. Alena ingin Daddy dan Mommyanya akur, tapi sekarang apa? Alena menelan ludahnya dengan pahit.
“Tidak... aku tidak mau punya adik, kamu bukan adikku! Aku tidak mau! Dady tidak mungkin menikah lagi!” jawab Alena dengan mata yang sudah tergenang air sambil menggelengkan kepala.
Kabar yang Ipang maksudkan sebagai ajakan persaudaraan, bagi Alena adalah kabar yang merampas dan meluluh lantakan harapannya. Impian Alena untuk disayangi ayahnya kini hilang dan menjauh.
Air mata kejujuran dan kepolosan Alena yang selama ini tertutupi dengan sifat angkuhnya keluar. Alena menangis tanpa ia minta.
Sebagai anak yang normal, lebih dari menjadi bintang atau uang yang banyak, Alena ingin disayangi Daddyny. Alena ingin dipuji Daddy-nya karena berprestasi, bukan ditinggalkan. Semua yang Alena lakukan untuk mencari perhatian Daddy_nya.
Alena juga memimpikan kehidupan seperti teman- temanya. Daddy dan Mommynya bersama, memberikan perhatian dan kasih sayang utuh ke Alena.
“Kak Alena kenapa menangis?” tanya Ipang bingung.
Ipang mendekat ingin menghibur, tapi Alena mendorong Ipang menjauh sampai Ipang tersungkur jatuh.
Di pikiran Ipang, seharusnya Alena bahagia bertemu dengan saudaranya dan punya teman bermain. Ipang yang selama ini kesepian tidak mengenal kata iri, karena Ipang memimpikan keluarga yang hangat dan ramai.
Ipang diam tidak melawan. Ipang berdiri dengan teguh menahan sakit. Untungnya saat itu terjadi, Daffa didampingi Manda segera datang.
“Alena, Pangeran! Apa yang kalian lakukan?” tanya Manda segera melerai.
Daffa langsung membantu Pangeran. Sementara Manda mendekati Alena menenangkan.
“Kenapa kamu menangis Alena?” tanya Manda pelan.
Manda tahu permasalahan keluarga kakaknya, tapi kan, kata suami Manda Alena dan Ipang disterilkan dari berita. Seharusnya kedua anak itu tidak mendengar apapun dan baik-baik saja.
“Alena cantik. Pangeran yang pintar. Sebentar lagi kalaian kan akan tampil, kalian jangan bertengkar ya! Yuk siap- siap, yuk!” ajak Manda pelan.
Manda mengkode Daffa dan Ipang untuk berjalan mandiri. Sementara Manda menuntun Alena.
Alena memang pernah tinggal satu rumah dengan Manda. Alena jadi patuh pada Manda, tapi Alena tetap tidak terbuka dan diam seribu bahasa.
Sepanjang didandani dan diberi pengarahan Alena diam seribu bahasa. Padahal biasanya Alena ceria dan centil.
Pelatih mengira Alena diam karena dheg- dhegan. Mereka pun cuek pada Alena yang murung.
Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mendengar tangisan yang begitu menyayat di hati Alena. Hanya Alena seorang yang bisa merasakanya.
Alena begitu percaya pada Mommynya, jika Alena jadi juara, Daddy nya akan menyayanginya. Mommy-nya selalu bilang Alena anak Daddy, Ipang anak haram.
Sekarang kenyataanya, Daddy Alena tetap menikah dengan orang lain, bahkan selama di karantina Dadynya tak pernah menjenguknya. Mommy yang Alena percaya juga tetap sibuk dan cuek. Janji Mommy Alena tidak ada yang ditepati.
“Mommy bohong! Mommy bohong!” batin Alena, pedih.
Masih di backsatge, di depan meja rias, Alena mengedarkan pandanganya. Alena mencari Mommynya, tapi sosok itu tidak ada. Alena justru melihat sesuatu yang semakin mengoyak hatinya.
Alena melihat dengan mata kepalanya sendiri, tangan Daddynya menggenggam tangan perempuan berhijab dengan mesra. Alena jelas tahu itu bukan Mommynya. Alena juga tahu, Daddynya tidak pernah menggenggam tangan Mommynya seperti itu.
“Daddy ....” lirih Alena dalam kesepianya
Tanpa terasa bola mata Alena yang sudah dihias cantik kembali mengeluarkan buliran air mata beningnya.