Sang Pangeran

Sang Pangeran
43. Hujan part 2


"Hujan Tuan" tutur Randi, sopir Aslan khusus ketika berada di kota Y.


"Hemm" jawab Rendra dingin.


Mereka sampai di depan kantor polisi. Sebagai bawahan yang patuh dan setia Rendra melakukan apa yang Aslan perintah. Meskipun terasa melelahkan dan menyebalkan.


Baru kemarin sore Rendra memasukan laporan hari ini di suruh ambil dan menariknya lagi.


"Dasar Aslan" gerutu Rendra. Dia asik-asikan berduaan, eh bertiga dengan Ipang. Rendra7 yang harus kedinginan hujan-hujan bolak balik kantor polisi.


"Selamat siang, Pak" sapa Rendra ke petugas.


"Siang Pak, silahkan duduk" jawab petugas.


Kemudian Rendra mengutarakan niatnya. Mencabut tuntutan yang kemarin sore dia antar. Meskipun yang Rendra lakukan adalah hak sebagai pengadu dan sah dilakukan, tapi tetap saja itu tidak sopan.


"Pak. Bapak ini mempermainkan kami atau bagaimana?" tanya petugas tersinggung.


"Mohon maaf Pak"


"Bapak itu sama saja menghina dan mengerjai kita, kita itu lembaga masyarakat yang serius Pak" omel petugas ke Rendra merasa dibuat mainan.


"Maaf, maksud pihak kami bukan begitu? Ada sesuatu hal yang membuat tuan kami menarik kembali aduan ini" jawab Rendra sopan sambil menelan ludah.


Dalam hati Rendra. "Sialan kenapa malah gue yang disemprot polisi begini"


"Kemarin bapak memburu-buru kami untuk segera bertindak, kami sudah melakukan tugas kami. Nah ini bapak malah tiba-tiba cabut tuntutan. Bapak ini gimana sih? Lembaga kami bukan lelucon Pak! Kami lembaga resmi yang berintegritas" omel polisi lagi.


Rendra menelan ludahnya lagi mendengarkan. Aslan benar-benar mengerjainya. Apes.


"Baik Pak. Saya mengerti, kami salah. Kami mempercayai pihak bapak sudah menunaikan tugas dengan baik dan kami percaya itu. Kami mohon maaf" ucap Rendra sopan.


Kemudian dengan karismanya sebagai sekertari bos besar. Rendra mengeluarkan identitasnya. Rendra juga memberikan sesuatu sebagai ucapan minta maaf sudah mengerjai polisi.


"Lain kali kalau mau membuat aduan harus dipikir matang- matang Pak!" ucap polisi lagi.


"Baik. Saya permisi" ucap Rendra pamit setah berhasil meredakan emosi petugas.


Rendra berjala malas dengan mengulum lidahnya sendiri. Apes, apes.


Randi pun menyambut Rendra dengan payung untuk masuk ke mobil. Lalu mereka meninggalkan kantor polisi membelang jalan yang gelap karena guyuran air hujan.


"Kemana kita Tuan?" tanya sopir.


Rendra diam melihat keluar hujan masih deras. Langit juga masih hitam. Sepertinya waktu terang masih lama.


Rendra ingat pesan Aslan. Kalau langsung balik ke rumah Kia, yang ada Rendra disemprot. Entah apa yang Aslan lakukan di sana. Yang pasti Aslan tidak mau diganggu.


Meski tidak tau kemana akan pergi. Randi dan Rendra hanya terus maju mengendarakan mobil tanpa tujuan.


"Cari yang hangat-hangat Pak" jawab Rendra kemudian.


"Maksudnya?" tanya Randi merasa jawaban Rendra universal. Kosa kata hangat kan bisa berati macam-macam. Setiap orang punya definisi sendiri terhadap kata hangat.


"Tempat ngopi atau makan. Aslan suruh kita jangan cepat kembali" jawab Rendra kesal.


"Ya, Tuan" jawab Randi sekarang paham.


Mereka terdiam sejenak, tetap saja Randi masih bingung kemana dia menghentikan mobilnya. Dia tidak tau tempat kopi mana yang disukai Rendra. Jadi mereka hanya berputar-putar menghabiskan bahan bakar.


Mengusir putus asa dan kesal, sekaligus mengusir kebosanan Randi mengajak Rendra mengobrol.


"Tuan"


"Hemm" jawab Rendra malas.


"Kita mampir ke kedai kopi yang mana?"


"Terserah kamu saja. Kita kembali setelah Aslan menyuruh kita kembali"


"Oh begitu" jawab Randi mentok lagi, masih bingung mau kemana.


"Ya"


"Sebenarnya perempuan berjilbab itu siapanya Tuan Aslan, kalau boleh saya tau?" tanya Randi kepo, mengusir suasana keheningan.


"Kepo sekali kamu" jawab Rendra merasa malas kenapa sopir dan tour guide nya itu lemes seperti perempuan.


"Ya saya heran saja Tuan. Seorang Aslan Nareswara semua penduduk di negeri ini kan tau, sudah punya istri semolek dan secantik Bu Paulina, dia sangat seksi. Dipuja puja kaum adam karena keseksianya. Kenapa Tuan Aslan masih mengejar perempuan kampungan seperti Nyonya tadi" ujar Randi polos.


"Kau diam saja. Kau bukan orang kaya. Otakmu tidak akan sampai berfikit ke arah sana" omel Rendra ke Randi kasar.


"Apa anak kecil itu anak Tuan Aslan?" tanya Randi lagi tidak peduli respon Rendra.


"Tutup mulutmu!" omel Rendra tidak ingin Randi bawel.


"Jadi perempuan itu istri simpanan Tuan Aslan?" tanya Randi lagi semakin bawel.


"Sudah kubilang tutup mulutmu atau habis kau di tanganku" ancam Rendra memberitahu. Urusan pribadi Tuanya bukan untuk diumbar-umbar


"Iya maaf Tuan" jawab Randi akhirnya diam


"Sudah kubilang, kalau kau ingin bekerja tidak usah banyak tanya. Kau cukup diam liat dan tutup mulutmu rapat-rapat. Fokus saja dengan tugasmu, cari mati kau!"


"Baik Tuan, Maaf" jawab Randi pasrah sudah berdua Rendra galak lagi. Membosankan begitu batin Randi.


"Kenapa sopir yang Aslan pilih rese begini?" batin Rendra tidak suka pada orang yang kepo.


Padahal semua orang di posisi Randi akan menanyakan hal yang sama. Aslan memang aneh. Paul dan Kia seperti bumi dan langit.


Rendra melihat ke samping ada kafe lumayan lebar.


"Berhenti di depan seperti lumayan untuk istirhat" perintah Rendra


"Ya Tuan"


Kemudian mereka berhenti dan istirahat di situ sampai Aslan selesai dengan urusanya.


***


Ibukota


Di gedung besar dengan dinding kaca yang tampak indah. Orang-orangan yang mengais berlian dari dunia hiburan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sebagai konsekuensi pilihanya, telah menentang mertuanya menjadi Sutradara, Satya harus buktikan kalau dia bisa sukses. Satya bekerja dengan serius dan kerja keras. ya


Meski Satya bisa menunjuk artis terkenal ataupun termahal, tapi untuk proyeknya kali ini dia memilih mengadakan seleksi terbuka.


Baik artis lama ataupun pendatang baru dia persilahkan mengikuti casting. Satya ingin mendapat pemain yang tidak diduga masyarakat.


Selain karena kehebatanya, Satya juga menyandang nama Narewara dalam identitasnya. Hal itu yang membuat banyak artis berminat dan yakin garapan Satya akan apik dan menjanjikan. Sehingga peserta casting membludak.


Tidak terkecuali sang ipar mereka sendiri. Paulina Abigail. Entah apa motifnya dia masih tetap mengikuti casting, padahal kemampuanya tak diragukan lagi. Dan lebih sering dia yang dikejar-kejar produser.


"Kak Paul?" batin Manda kaget, melihat Paul datang ke acara casting itu.


"Apa kita tanya Kak Aslan aja. Harus kita terima atau nggak?" tanya Manda.


"Kalau dari karakter dan pembawaanya sebenarnya Kak Paul masuk, apa alasan kita menolaknya?" jawab Satya.


"Hemmm aku tanya Kakak aja deh baiknya gimana?" ucap Manda memberikan laporan.


Lalu Paul masuk ke ruang casting. Memberikan penampilan terbaiknya. Tentu saja sebagai artis senior itu adalah hal yang sangat mudah.


Tapi meski kemampuan Paul tidak diragukan lagi. Satya tidak serta merta menerima. Dia memilih mengumumkan esok hari dan mempertimbangkanya.


Setelah casting selesai, Paul keluar dari studio. Paul terlihat berjalan menghampiri mobilnya. Hari itu ibukota juga hujan.


Paul sedikit berlari dengan heelsnya. Karena Paul sangat suka memakai hotpend dan baju minim, air hujan yang membasahi baju tipisnya membuat aset-aset berharganya terekspos.


Untung saja dia segera masuk ke mobil. Jadi yang melihat sembulan buah melon yang tampak ranum hanya penghuni mobil Paul. Paha Paul yang mulus pun tak luput dari percikan air hujan yang semakin menambah seksi.


"Kenapa lama sekali Baby?" tanya seorang laki-laki dengan tubuh atletiknya memandang Paul dengan penuh hasrat.


"Ck. Sebenarnya gue juga males banget merendahkan harga diri gue di hadapan adik Aslan itu. Ini semua demi kita" ucap Paul ke lelaki itu sambil mengelap paha mulusnya dengan tisu. Paul merasa levelnya tidak perlu casting.


"Thanks Baby, di program ini kita setiap hari akan bersama. Shootingnya juga akan banyak di luar negeri" tutur pria tampan bernama Nicholas, sambil menggenggam tangan Paul di atas paha mulusnya.


Nicholas adalah rekan artis Paul. Dia juga kekasih gelap Paul, tapi sudah beristri. Itulah kenapa Paul tidak masalah, meski Aslan tidak pernah memberikan nafkah batin. Karena Paul sudah mendapatkanya dari Nicho.


"Ya honey" jawab Paul tersenyum senang dengan tatapan menantang, karena tangan Nico mulai berselancar.


Casting yang diadakan Satya hanya untuk pemain utamanya. Untuk pemeran pembantu sudah Satya pilih sendiri. Salah satunya adalah Nicho.


Dan untuk beberapa adegan syuting, Satya akan ke negara Korea dan New Zealand. Itulah sebanya Nicho menyuruh Paul harus mendapatkan kontrak pemain utama. Mereka akan leluasa bekerja bersama.


"Bagaiamana dengan suamimu?" tanya Nicho tersenyum tipis ke Paul tanganya sudah mennyentuh sesuatu di bawah tubuh Paul.


"Perseran dengannya, aku hanya ingin kamu, bagaimana istrimu?" jawab Paul menikmati sentuhan Nicho.


"Selama gue pergi karena syuting. Dia akan selalu percaya dan tidak curiga ke kita baby"


"Aaakhh, Nicho, ini masih di mobil" desah Paul tidak tahan dengan kenikmatan hasil kelihaian tangan Nicho.


"Aku tidak sabar Sayang" jawab Nico memberi kode ke Paul.


"Aku juga menginginkanmu" jawab Paul mesra dengan suara seraknya.


"Aku sudah pesan hotel Sayang"


"Ayo kita kesana. Kau memang terbaik dan tau apa yang kumau" jawab Paul mendekat ke Nicho dan menciumnya.


Nichopun melajukan mobil mereka ke sebuah hotel mahal. Menyatukan hasrat mereka tanpa ada yang tahu.


*****


Di Kota Y.


Deraian air hujan yang mengguyur bumi siang itu semakin menambah tidak karuan perasaan Aslan. Sedari pagi dia sudah banyak menahan, saat melihat Kia marah, melihat Kia menangis hatinya meronta.


Aslan ingin mendekap Kia. Memberikan dadanya sebagai topangan dan perlindungan. Tapi sekacau apapun perasaan Kia, Kia selalu menjaga dirinya.


Entahlah perempuan bayaran macam di depan Aslan ini. Meski katanya bayaran tapi sangat sulit dijngkau. Akhirnya Aslan semakin mantap, hanya Kia yang berhak menjadi istrinya.


Seharusnya suasana hujan yang dingin begini. Tepat menjadi momen yang indah. Bergumul di atas kasur yang empuk, berlindung di bawah selimut yang hangat, saling berpelukan. Ayah, anak dan ibu.


Tapi sayang semua itu hanya bayangan Aslan. Entah kapan bisa terujud.


Kini Aslan harus menahan dingin karena pintu rumah Kia dibuka lebar-lebar. Padahal angin bertiup kencang. Untung saja Kia berbaik hati membuatkan kopi.


"Jika aku pria lajang, apa kau mau menikah denganku?" tanya Aslan memecah suasana dingin. Aslan tidak menyerah untuk terus mengajak Kia menikah.


Mendengar pertanyaan Aslan, Kia tercengang. Daritadi sikapnya berubah manis dan tenang, tentu saja dengan wajah tampanya membuat siapapun terpana.


Alasan Kia tidak tertarik hanya satu, Aslan laki-laki beristri, bukan tidak tertarik, tapi menahan diri agar tidak terarik. Dan pertanyaan ini mengoyahkan Kia.


"Apa maksud anda Tuan?" tanya Kia kembali formal. Kia ingin menunjukan kalau di antara mereka ada batas.


"Apa aku kurang jelas mengatakanya. Jika aku pria lajang, apa kau mau menikah denganku?" tanya Aslan serius.


"Kenyataanya Anda beristri Tuan" jawab Kia kesal melawan harapana sendiri.


"Jika sekarang aku menceraikan istriku. Apa kau mau menikah denganku?" tanya Aslan lagi.


Sebagai peremuan baik-baik. Pertanyaan Aslan terkesan jahat. Meski ada perasaan bahagia merasa diperjuangkan. Kia tidak mau menjadi perempuan penyebab suami meninggalkan anak dan istrinya.


"Kau benar-benar gila ya, Tuan Aslan? Untuk apa anda menceraikanya? Dia istri yang anda nikahi secara syah dan kalian punya anak! Saya bukan pelakor, Ipang bukan anak dari pelakor. Tidak! Saya tidak mau menikah dengan anda apapun status anda" jawab Kia mengancam.


"Kia, aku ingin bertanggung jawab terhadap Ipang"


"Bukankah sudah jelas perjanjian kita. Demi Ipang, jika anda mau bertanggung jawab saya ijinkan anda menemuinya. Tapi rahasiakan tetaplah hidup dengan posisi kita masing- masing" jawab Kia lagi.


"Dan demi Ipang juga. Aku ingin kita bersatu menjadi keluarga yang utuh, seterusnya kita nggak akan terpisah lagi. Aku ingin Ipang memanggilku ayah tanpa batasan Kia. Itu artinya aku juga ingin kamu menjadi istriku"


"Tapi bukan berarti demi Ipang anda harus mengorbankan Alena"


"Kau tidak tau apapun tentang Alena dan Ibunya, Kia"


"Apa maksud anda?"


"Anakku adalah Ipang seorang, Alena bukan anaku" jawab Aslan akhirnya jujur.


"Woaah benarkah?" tanya Kia tidak percaya.


"Iya anak kandungku adalah Ipang, anak yang kau lahirkan"


"Maaf sandiwara dan drama macam apa ini? Saya tidak percaya"


"Aku berkata jujur, Paul yang sudah menodai pernikahan kami. Itulah sebabnya aku ingin menikahimu. Menikahlah denganku Kia, kita akan bahagia"


"Tidak. Bisa-bisanya kau menjelekan istrimu sendiri. Sementara jelas-jelas anda yang membayarku, menghianatinya. Dan kau sekarang di sini memintaku menikah. Kau suami yang sangat payah!" jawab Kia salah paham.


"Bagaimana jika aku bisa buktikan ke kamu, aku tidak bersalah dan aku suami yang baik"


"Tidak, aku tidak mau"


"Kenapa?"


"Aku ingin menikah dengan orang yang aku cinta"


"Baiklah aku akan membuatmu jatuh cinta padaku"


"Hooh! Please, berhenti omong kosong Tuan. Jika kau benar hanya ingin Ipang. Perjanjian tadi siang akan tetap berlanjut. Tapi jika anda begini terus, jangan temui saya lagi!"


"Baiklah! Ok. Aku akan patuhi janji kita"


"Stop bahas nikah!"


"Ya" jawab Aslan pasrah. Tapi dalam hatinya memikirkan sesuatu. Lalu dari dalam terdengar suara Ipang memanggil.