Sang Pangeran

Sang Pangeran
174. Mimpi tapi Nyata


“Aku masih tidak mengerti tentang ini, siapa Tuan Surya?” tanya Rendra di salah satu ruang di studio ITV. 


Kini Aslan, Rendra, Pak Awan dan bawahan Aslan yang lain sedang berkumpul di sebuah ruang tertutup di studio ITV.


“Dia ayahku!” jawab Aslan singkat. 


“What?” tanya Rendra kaget dengan mata membulat sempurna. 


“Ya!” jawab Aslan mengangguk pasti.


Rendra menelan ludahnya penuh tanda tanya.


“Jadi Tuan Agung siapa?” 


“Ibu lebih dulu menikah dengan Ayah Surya, sebelum menikah dengan Papa,” tutur Aslan menjelaskan ke Rendra.


“Darimana kamu tau?” tanya Rendra lagi.


“Umma!” 


“Umma?” tanya Rendra lebih kaget lagi. 


“Ya! Makanya kalau ingin tahu, jenguk Umma! Umma merindukanmu, dasar anak durhaka! Kau tidak pernah mengunjunginya!” jawab Aslan lagi menatap kesal ke adik sepupunya itu. 


“Bagaimana bisa aku mengunjungi Umma, jika kau terus memberiku pekerjaan?” jawab Rendra beralasan. 


“Kau bisa ambil libur sesukamu, jangan jadikan aku kambing hitam!” bantah Aslan cemberut. 


Rendra mengusap tengkuknya berkelit. 


“Aku baru putus dari Meta, aku pasti akan dikejar menikah sama Umma! Aku tidak mau menemuinya, ” jawab Rendra malu- malu dengan wajah ditekuk. 


“Kamu putus? Hahahaha!” Aslan justru tertawa terbahak- bahak mendengarnya. 


“Ehm!” Rendra Pak Awan dan Diko berdehem, untung mereka sudah akrab dan ruangan dikunci.


Hanya saja, bagi Pak Awan dan Diko melihat Aslan tertawa selepas itu agak asing dan aneh. Selama ini senyum saja, Aslan sangat pelit. Hari ini Aslan tertawa segitu kuatnya mendengar kabar adik sekaligus sekertarisnya itu putus.


“Malah ketawa.” Gerutu Rendra memasang muka seram. Rendra benar- benar ke Bos sekaligus saudaranya itu yang sangat tidak punya empato terhadapnya.


“Cepatlah cari pengganti, sebelum Umma menyuruhmu sunat lagi!” ucap Aslan kembali membercandai Rendra. 


“Haishh! Kembali ke topik, nggak usah bahas Umma!” sahut Rendra tidak terima dipojokkan.


Aslan pun berhenti tertawa. Yang pasti Aslan harus beritahu istri cantiknya mengenai berita ini. Aslan dan Kia kan benci Meta.


Seketika itu, karena Aslan membahas menikah, bayangan Cyntia datang lagi menyerap daya fokus Rendra, bahkan seketika itu, tubuh Rendra memanas, seperti ada kiriman sihir yang membuat tubuhnya tiba- tiba mendidih. 


Aslan yang sudag merasa cukup tertawa bahagia kembali ke topik utama. Mereka membahas mengenai Nareswara.


Pak Awan, Sang Pengacara dan Pak Diko yang masih memegang bagian keuangan di Nareswara ingin Aslan kembali memperjuangkan Nareswara menjadi miliknya. Mereka ingin Aslan lagi yang memimpin. 


“Saya tidak akan mengambil apa yang sudah saya lepaskan Pak!” jawab Aslan tegas. 


"Tapi Nareswara milik Anda Tuan!” jawab Pak Awan. 


“Setelah saya menandatangani surat cerai, dan palu diketuk itu bukan milik saya lagi!” jawab Aslan lagi. 


“Tapi, keadaan Nareswara saat ini sangat memburuk, dalam satu bulan para investor menarik kerjasama dalam waktu singkat!” sahut Pak Diko memberitahu keadaan Nareswara 3 bulan sepeninggal Aslan. 


Aslan menghela nafasnya, melirik Rendra. Aslan sangat menjunjung harga diri. Aslan tidak mau merendahkan diri ke Paul, hanya karena harta. Apalagi jika harus mencurangi lawannya.


Perusahaan barunya yang diberinama Kiara Corporation justru dalam waktu singkat sudah merapat beberapa klien yang bersedia bekerja sama. Aslan optimis usaha Aslan yang bukan warisan akan lebih sukse.


“Aku tidak ingin merebutnya. Kau tetaplah di sana! Biarkan Paulina mencoba bertahan sekuatnya, jika memang dia menyerah, aku akan membelinya dengan cara terhormat!” jawab Aslan dengan gagah.


“Apa maksud Anda, anda menunggu, Nareswara bangkrut dulu?” tanya Pak Diko mempertegas. 


“Aku tidak bilang begitu, aku hanya ingin melihat bagaimana akhir hidup Paulina! Jika dia mampu mengembangkan dan mengelola perusahaan itu, aku tidak akan mengganggunya” ucap Aslan lagi terdengar keji, tapi juga bijak. Padahal Paulina kan mantan istrinya, tapi buat Aslan, Paulina orang asing.


“Baiklah Tuan, terserah anda saja!” jawab Diko.


“Yang penting, selalu kabarkan apapun keadaanya!” jawab Aslan lagi. 


“Siap, Tuan!” jawab Pak Diko. Ternyata Pak Diko adalah mata-mata Aslan.


“Bagaiamana dengan Tuan Agung, Tuan? Apa anda juga akan melaporkanya?” tanya Pak Awan menyela. 


Rendra yang belum diberitahu kembali memicingkan matanya. “Melaporkan Tuan Agung? Ada apa lagi ini?” batin Rendra. 


“Jangan dulu, Pak. Saya perlu pertimbangkan ini dengan istri dan adik saya mengingat Papa belum sadarkan diri. Kita kawal dan ikuti terus perkembangan sidang putusan hukuman Alex tua bangka itu, jika memang dia terlibat, polisi pasti akan memanggilnya!” jawab Aslan santai dan sangat hati- hati. 


Jika dulu Aslaan emosian, bahkan dengan Paulina inginya main tangan, dengan bawahanya asal pecat dan semprot jika tak sesuai hatinya.


Aslan yang kini sangat terkontrol emosinya. Aslan merasa dunianya sudah cukup terpenuhi dengan adanya Kia dan Pangeran di sisinya. Untuk hal lain, Aslan bersikap santai.


“Bagaiamana mengenai pernyataan Nyonya Paulina yang membawa anda Tuan? Jika ini meresahkan saya siap membantu!” tanya Pengacara Aslan lagi. 


“Istriku belum mau membalasnya, biarkan Paul puas bermain dulu, kau boleh berlibur dulu Pak Awan, dan kau Rendra!” ucap Aslan bijak kemudian melirik ke Rendra lagi dengan tatapan tengil dan isengnya. 


“Ya!” jawab Rendra sigap dan kaget lagi, dari tadi di sini Rendra yang paling tidak nyambung. Pertama karena Rendra belum tahu duduk persoalan tentang Tuan Surya, kedua karena Rendra sedang diganggu dengan bayangan Cyntia yang terus mengejarnya. 


“Aku punya tugas lagi untukmu!” ucap Aslan enteng. 


“Siap, Tuan!” jawab Rendra bersikap sopan jika sedang bekerja. 


“Buat istri artis yang bernama Nicholas itu bertemu dengan istriku!” ucap Aslan memberi perintah. 


“Istri Nicholas?” tanya Rendra mempertegas. 


“Ya, cari tahu tentangnya, buat janji agar dia menemui istriku!” 


“Siap Bos!” jawab Rendra asal siap. Padahal dalam hati berfikir, dia harus menghubunginya lewat siapa. 


“Terima kasih, Tuan!” jawab Pak Awan dan Pak Diko bahagia. Sementara Rendra cemberut. 


“Kalian boleh pulang!” ucap Aslan membubarkan rapat tertutupnya.


Pak Awan dan Pak Diko adalah orang yang berkoordinasi dengan polisi memberitahu keberadaan Tuan Alex. Pak Diko juga yang mengatur anak buahnya di ITV untuk memberi ruang khusus untuk Kia dan yang lainya. 


Mereka pun bergegas pulang. Aslan ingin segera menemui istrinya. Rendra yang sendirian mengekor Aslan seperti biasa. 


“Ngapain lo ngikutin gue?” tanya Aslan sekarang kembali santai dengan Rendra. 


“Pelit amat!” jawab Rendra tak tau arah, Rendra kan sedang kesepian.


“Gue mau ketemu istri gue, lo jangan ganggu!” jawab Aslan sangat berlebihan. 


“Ya elah, gue juga mau ucapin selamat buat ponakan gue!” jawab Rendra lagi. 


“Yaya!” jawab Aslan.


"Gue juga mau tau tentang Pak Surya dan dan Om Agung!" ucap Rendra.


"Jangan di sini!"


****


Acara bintang kecil ternyata sudah selesai. Pengumuman pemenang sudah diumumkan. Pangeran adalah pemnangnya. Berita tertangkapnya Tuan Alex ternyata sangat berpengaruh.


Dalam waktu beberapa menit, penggemar Ipang yang awalnya ragu kembali memencet dukungan Ipang. Apalagi ditambah komentar juri pada penampilan Alena sedikit kurang memuaskan, Alen tampak kurang maksimal dipenampilan keduanya. 


Para penonton yang memadati studio ITV pun membubarkan diri. Keriuhan dan kehebohan beberapa menit lalu berangsur menyusut. Para kru dan bintang tamu tinggal berfoto ria. Mereka mengambil kesempatan untuk berfoto dan berkenalan dengan guide star dari negeri ginseng. 


Sementara Alena terlihat menangis tersedu- sedu di pojokan kamar mandi. Alena benar- benar hancur dan rapuh.


Meski juara dua tetap mendapaatkan hadiah 500.000 juta, Alena sangat sedih. Alena berfikir ibunya pasti akan memarahinya, terbukti Mommynya itu tak kunjung datang. 


Kia dan Pangeran dibuat bingung. Di situ hanya Pangeran dan Kia orang terdekat Alena. Mommy Alena tidak ada, orang yang katanya Daddynya tak kunjung kembali. Mentor dewan juri, tentu saja begitu acara diakhiri mereka yang sebatas orang tua yang dilibatkan karena kontrak kerja, sibuk sendiri dan pergi tanpa peduli.


Manda terlihat berbincang dengan bawahannya petinggi ITV, mengingat Manda adalah istri pemilik ITV. Di situ juga hadir beberapa orang penting, tamu undangan dari kalangan pejabat. Manda mewakili suaminya yang kini siap siaga sebagai anak berbakti menunggu Tuan Agung di rumah sakit. 


Kialah yang sejak awal memperhatikan gerak gerik dan mengawasi Alena. Jika minggu- minggu sebelumnya selesai acara mentor akan membawa peserta bintang kecil pulang ke asrama, malam ini mentor lepas tangan karena berfikir para bintang kecil dijemput orang tuanya. Alena pun sendirian.


Akhrinya, Kia yang membuka tangan merengkuh Alena. Pangeran pun dengan lapang dada merelakan ibunya memberikan perhatian pada Alena.


Pangeran lebih sibuk dengan Daffa. Dia juga sibuk menerima ucapan selamat dari para teman seperjuanganya, kru, senior dan gurunya. Pangeran juga tidak menyiakan untuk berfoto dengan bintang tamu dari luar negeri. 


****


Kia dan Alena. 


“Lepasin Alena!” bentak Alena ngambek dan menangis sendirian di pojokan setelah riasanya dibuka. 


“Maaf Alena, kamu di sini sama siapa? Orang-orang - orang udah pada pulang lho. Ikut Tante aja ya!” tutur Kia lembut mengajak Alena pulang. 


“Tante seneng kan liat Alena kalah. Tante kan yang buat Alena kalah? Alena benci tante!” ucap Alena mengeluarkan emosinya dan memukul-mukul Kia.


Kia menghela nafasnya menahan sabar. Jika memakai emosi, Kia seharusnya membenci Alena. Kia juga ingin meninggalkan Alena. 


Hati Kia yang baik berkata lain. Ketidakhadiran Paulina agak aneh. Di mata Kia, senakal apapun Alena, dia hanya anak kecil.


Kia tidak tega meninggalkan Alena sendirian malam- malam. Kia pun memutuskan menunggu Aslan. Aslan lah yang harus memutuskan membantu Alena, diantar ke Paul atau dibawa ke rumahnya. Mau menghubungi Paul, Kia tak punya kontaknya.


“Alena cantik. Kamu, atau Pangeran yang menang itu ada di tangan dewan juri dan penonton! Tante tidak tahu sama sekali. Sungguh! Tante yakin kok, di hati Daddy dan Mommy Alena, Alena tetap juara satu, Alena jangan menangis ya!” tutur Kia lagi merayu Alena. 


“Tante bohong, Mommy bohong, Daddy bohong, kalian semua bohong! Huu...u....” teriak Alena tiba- tiba sambil menangis keras.


Alena seperti anak yang selama ini memendam sesuatu dan sekarang melampiaskanya. Tangisan Alena lebih dari sekedar tangis meratapi kekalahan. 


Kia menelan ludahnya kaget dan mengelus dadanya. Ipang saja yang anak laki-laki laki kalau ngambek tak sekasar itu. Kia menoleh ke sekeliling, beberapa kru sudah bersiap pulang dan beberapa sibuk berfoto di luar. 


Kia mendekat ke Alena dan merengkuh Alena paksa untuk jatuh dalam pelukanya. Kia tidak berkata apa- apa. Kia hanya memberikan tempat buay Alena mengeluatkan emosi.


Kia juga tidak bisa membayangkan seburuk apa mental dan emosi Alena hidup di tengah kepalsuan orang tuanya. Kia pun membiarkan Alena menangis dalam pelukanya.  


“Maafkan Daddy mu Sayang! Kita tunggu Mommy dan Daddymu ya!” bisik Kia lembut membelai rambut Alena. 


**** 


Di luar. 


Cyntia dan Shela yang penggemar boy band dari negeri ginseng itu pun tidak mau membuang kesempatan. Mereka membelah keramaian dan berdesakan.


Mereka berdua menyusup masuk ke belakang panggung. Untung Cyntia juga artis, kru ITV memberinya jalan saat Cyntia beralasan ingin menemui Pangeran. 


Benar saja, Pangeran terlihat sedang berfoto dengan idola Cyntia. Mata Cyntia pun berbinar- binar. Bahkan Shela yang centil dan urakan hampir berjingkrak, bekerja sebagai manager Cyntia ternyata begitu hoki. 


“Pangeran!” panggil Cyntia melambaikan tangan. 


“Tante Cyntia!” jawab Ipang dengan wajah ceria mengajak Cyntia mendekat.


Cyntia langsung memeluk Pangeran dan mengucapkan selamat. Tidak menunggu lama Cyntia dan Shela langsung centil- centil menyapa boy band dari luar negeri itu dengan bahasa inggris yang amburadul. Pokoknya yang penting Cyntia bisa salaman dan sempat berfoto, karena mereka terlihat akan segera pergi. 


Karena Cyntia sangat cantik, dan sebagian orang tahu Cyntia juga seorang aktris, boyband dan juru bicaranya menyambut Cyntia ramah.


Cyntia memperkenalkan diri sebagai tante Ipang. Pangeran pun tampak lengket dan membenarkan. 


“Ini mimpii... ini sumpah ini mimpi...” jerit Cyntia dalam hati. 


Ternyata artis dari luar negeri bukan hanya bersedia foto, tapi juga bersedia berkenalan. Sebagian dari mereka mau berbagi akun media sosial bahkan membuka diri untuk berteman dan komunikasi via jaringan pribadi. Cyntia langsung mencatat nomer ponselnya.


Itu semua benar- benar mimpi tapi nyata buat Cyntia. Sampai Cyntia gemetaran dan wajahnya memerah bahagia. Tanpa Cyntia ketahui ternyata ada sepasang  mata yang memperhatikan Cyntian dengan dada yang membara entah karena apa. 


Cyntia tampak tersipu- sipu dengan mata berbinar saat bercakap dengan pria- pria bule yang ganteng itu. Cyntia juga tampak berpose mesra dengan mereka dengan berbagai gaya. Bibir Cyntia yang seksi tampak bebas bergerak memancarkan kecentilan yang membuat siapun yang melihatnya terpana.