
Halte demi halte, bus yang Kia dan Aslan tumpani itu lalui. Bus yang tadinya hanya berisi 6 orang kini mulai sesak dan penuh.
Kenyamanan yang sebelumnya Aslan rasakan mulai bergeser. Tdak pernah Aslan bayangkan sebelumnya, ternyata seperti itu rasanya naik kendaraan umum. Harus berbagi, padahal biasanya Aslan duduk dengan nyaman di mobil mewah yang wangi, disupiri lagi.
Bahkan di belakang Aslan terdengar ibu- ibu marah- marah dengan keras entah menceritakan apa pada teman sebangkunya. Lalu di seberangnya ada anak balita yang berceloteh tidak tau apa maksudnya. Tapi yang pasti berisik sekali.
Belum lagi ada bapak- bapak yang naik dengan aroma khas minyak urut. Padahal itu bus kota yang berAC. Semua di luardugaan Aslan.
Aslan kira hanya pekerja pabrik atau pekerja kantoran, yang rata- rata masih muda yang menaikinya. Tapi ternyata, yang namanya kendaraan umum, ya umum, semua ada, dari segala usia.
Aslan mulai risih dan ingin segera turun. Aslan jadi ingat mobilnya. Kenapa Aslan malah meninggalkan mobil mewahnya di parkiran dan mengejar Kia. Harusnya kan Aslan kejar Kia dengam mobilnya.
Lalu Aslan menatap Kia yang duduk tenang di sampingnya. Kia masih tetap tampak cantik dan anggun dalam diamnya. Tidak risih, atau terganggu.
Hal itu membuat Aslan semakin terpana dan mengurangi sedikit ketidaknyamananya. Wajah Kia seperti obat. Aslan harus bertahan agar bisa terus menikmati keindahan Kia.
“Apa ini kehidupan yang setiap hari Kia lalui?” batin Aslan kemudian. Jika Aslan di posisi Kia, apa Aslan bisa melaluinya.
“Kenapa liatin aku?” tanya Kia tidak nyaman. Kia tau dirinya diperhatikan.
“Nggak! Berapa lama lagi sih kita turun?” tanya Aslan mengalihkan pandangan karena tengsin. Aslan kan sudah berkali-kali ditolak dan mau menunjukan sikap jual mahal. Meskipun tetap tidak bisa.
“Kata Cyntia kita disuruh turun di halte depan kantor pegadaian, sekitar 20 menit” ucap Kia memberitahu perintah Cyntia.
Kia tidak tahu kalau Cyntia bersama Rendra yang sebenarnya juga disuruh Aslan.
Setelah Cyntia menelpon Kia mengubah tujuan awalnya. Mereka berdua kini pergi ke arah yang Cyntia beritahu.
“Kenapa mereka jemputnya di situ sih!” gerutu Aslan mendengar tempat yang Kia katakan.
“Hah? Mereka? Maksudmu?” tanya Kia heran mendengar perkataan Aslan. Kan Cyntia sendiri.
“Nggak! Berapa halte lagi yang harus kita lalui untuk sampai kesitu?” tanya Aslan mengalihkan pembicaraan.
“2 halte lagi” jawab Kia.
“Ck” Aslan berdecak kesal karena masih harus bersabar lebih lama.
“Kenapa? Nggak suka? Siapa yang suruh kamu ikut aku? Emangnya kamu mau apa ikutin aku. Kalau mau berhenti dan turun, turunlah di halte depan!” jawab Kia malah nyerocos marahin Aslan.
Aslan mati kutu kalau Kia ngomel. Tapi kalau dipikir lagi, iya ya, ngapain Aslan ngejar dan ikutin Kia. Kan dompet dan kunci rumah Kia sudah dipegang Rendra.
“Iya nggak! Lo nanti tau sendiri kenapa gue ikut lo” jawab Aslan dengan nada dingin.
“Oh ya? Apa emangnya? Kenapa nggak kasih tau sekarang?”
“Sabar!” jawab Aslan singkat.
Aslan nggak mau kasih tau Kia kalau Aslan mau kasih dompet Kia, soalnya tidak ada di tanganya lagi.
Tapi jawaban Aslan membuat Kia penasaran. Hari ini semuanya aneh.
Bus mereka sampai di sebuah halte. Hanya ada satu yang turun tapi yang naik banyak bahkan ada ibu hamilnya. Dan ibu hamil itu berdiri di dekat Aslan dan Kia karena tempat duduk sudah penuh.
Aslan yang tidak biasa naik bus awalnya tidak peduli. Wajahnya tanpa ekspresi dan pura-pura tidak lihat.
Lalu kia menyenggol lengan Aslan. Aslan menoleh bahagia kegeeran, dikira Kia mau ambil kesempatan dan mau deket- deket Aslan.
“Kenapa?” tanya Aslan mesra memiringkan kepalanya ke Kia.
“Ada ibu hamil, kasian, kasihlah tempat duduk buatnya” bisik Kia ke Aslan.
“Ehm” Aslan berdehem kecewa.
Mau menolak tidak mungkin, meski kesal Aslan menuruti Kia, mempersilahkan ibu hamil duduk di tempatnya.
Saat Aslan berdiri dan menawarkan tempat duduk ibu hamil itu justru memperhatikan Aslan.
“Saya seperti tidak asing, anda sangat mirip dengan pengusaha televisi itu? Suaminya artis Paulina Abigail?” tanya ibu hamil itu.
Aslan mengusap tengkuknya dan menatap Kia, Kia juga menatap Aslan dengan tersenyum, seakan menertawakan Aslan. Aslan bingung mau minta pertolongan Kia agar tidak ketahuan.
Lalu penumpang lain yang sebelumnya cuek dan tidak peduli ikut memperhatikan Aslan dengan seksama. Bahkan Aslan menjadi pusat perhatian.
“Iya, aslinya ganteng banget ya?”
“Lebih ganteng dari di foto”
“Kok dia mau ya naik bus kaya gini?”
“Wah keren ya dia?”
“Waah mau dong foto bareng”
Para penumpang kemudian mengeluarkan ponselnya memotret Aslan, yang berada di dekatnya, berdiri mendekat minta foto. Bahkan ibu hamil itu minta Aslan menyentuh perutnya dan berharap anakny mirip Aslan.
Kondektur sempat heran tapi membiarkanya.
Aslan kebingungan tidak menjawab sepatah katapun. Kia malah memijat keningnya tersenyum sangat manis dan melihat ke arah luar.
Sebenarnya melihat Kia tersenyum begitu Aslan sangat bahagia, tapi orang- orang yang mengarahkan kamera kepadanya membuatnya risih dan bisa gila. Aslan kan tidak suka kerumunan.
“Maaf ibu- ibu semua, saya bukan Aslan Nareswara suaminya Paulina Abigail, saya suami perempuan itu” jawab Aslan berusaha menyelamatkan diri sambil menunjuk ke Kia. Kia harus tanggung jawab.
“Hooh” Kia terbengong dan membulatkan matanya ke Aslan, kenapa Aslan harus berbohong dan bawa- bawa dirinya.
Lalu semuanya menoleh ke Kia dengan tatapan kecewa. Padahal semua orang sangat yakin kalau yang ada di depanya memang Aslan Nareswara. Tapi ternyata suami perempuan yang mereka anggap satu kasta dengan mereka.
“Aslan Nareswara tidak mungkin naik bus, silahkan duduk ketempat kalian lagi, nama saya Dito, iya kan istriku?” ucap Aslan lagi meyakinkan penumpang sambil mengerlingkan mata ke Kia.
“He...” Kia memberikan senyuman ke orang- orang yang menatapnya. Dan mau tidak mau mereka bersandiwara sebagai suami istri.
Meski masih memendam banyak tanda tanya dan tidak terima kalau yang di depan mereka itu bukan Aslan Nareswara, semua penumpang duduk kembali.
Tapi mereka masih berkasak kusuk. Kalau Dito sangat mirip dengan Aslan Nareswara.
“Mbanya beruntung banget sih punya suami setampan dia” tutur ibu hamil yang duduk di samping Kia.
“Ah ya terima kasih” jawab Kia tersenyum.
Aslan yang mendengarnya juga ikut melirik Kia percaya diri.
"Tapi mbanya juga cantik. Cocoklah kalian. Dijaga suaminya ya" ucap ibu hamil itu lagi.
"Iya terima kasih Bu" jawab Kia ramah sambil melirik ke Aslan. Aslan memang tampan sih. Sangat tampan malah
“Huuft” Aslan kemudian menghela nafasnya lega.
Aslan melonggarkan kemejanya melepas satu kancing bagian atasnya, hal itu membuat dia tambah gagah.
Untung jasnya dan dasinya sudah dia lepas dan ditaruh di mobil. Jika tidak Aslan tidak bisa menghindar dan berpura-pura. Aslan kemudian berdiri tegak memegang pegangan bus yang menggantung di atasnya.
Meski kegaduhan berhenti , tapi karena memang aslinya Aslan adalah Aslan Nareswara. Seseorang di balik bangku masih tetap memvideokan Aslan, bahkan saat Aslan menunjuk Kia, dia juga mengambil gambar Kia.
Orang itu ternyata reporter dari stasiun tv saingan Nareswara Grup. Orang itu tau, kalau yang di depanya Aslan Nareswara sungguhan.
Meski mulut Aslan berbohong, tapi jam tangan Aslan, sepatu Aslan, kemeja, celana bahkan ikat pinggang Aslan tidak bisa menutupinua. Orang itu bisa mengenalinya.
Semua yang Aslan kenakan adalah barang branded. Yang hanya seorang bos besar yang bisa membeli dan memakainya. Apalagi bau parfum Aslan yang tercium hampir ke segala arah saat Aslan berdiri.
Dan orang itu bisa mentaksir kalau outfit Aslan sekarang dengan harga bus yang mereka tumpangi, lebih mahal outfit Aslan keseluruhan.
Tidak lama mereka sampai di halte yang mereka tuju. Kia pun berdiri dan bersiap- siap turun. Karena mereka bersandiwara sebagai suami istri, Aslan dan Kia pun berjalan berdampingan.
Aslan tampak sangat perhatian ke Kia, mendahulukan dan melindungi Kia. Kiapun tampak menerima perlakuan Aslan, terutama saat membelah keramaian dan turun dari bus.
Saat menyebrang jalan juga begitu. Orang- orang pun masih antusias melihat mereka tidak terkecuali reporter tersembunyi tadi. Karena mereka memang serasi.
Dan keyakinan reporter itu semakin bulat, saat tiba di halte, dia melihat seorang laki-laki berdasi membungkuk dan memberi hormat ke Aslan. Dia tau lelaki itu adalah Rendra sekertaris dari Bos Besar itu.
“Bisa jadi topik panas nih” gumam reporter tersembunyi itu sambil tersenyum licik.