Sang Pangeran

Sang Pangeran
31. Pulang


Kia sampai di tempat karantina Ipang. Kali ini dia lebih berpengalaman mengelabuhi satpam.


Satpam pun membiarkanya masuk. Sebelum naik ke atas Kia memeriksa kolam renang dulu. Karena Kia mendengar suara air dan anak laki-laki tertawa.


Benar saja. Ipang sedang asik bercengkerama dengan Daffa di kolam. Tempat dimana Kia dengan mata telanjang melihat Ipang hampir meregang nyawanya kemarin.


Hal itu pun membuat Kia geram. Kenapa anaknya yang penurut sekarang jadi pembangkang.


"Ipang!" panggil Kia tegas ke Ipang setelah sampai di area kolam.


"Ibu"


"Aunty?"


Panggil Ipang dan Daffa kaget.


"Astaghfirulloh Ipaang!"


Kia memandang sekeliling tidak ada orang, bahkan OB pun tidak ada. Bagaimana bisa anaknya kemarin hampir tenggelam dan kini bebas bermain sendirian.


"Ibu kapan kesini?" tanya Ipang mentas dengan ekspresi terkejut lalu menghampiri ibunya.


"Ibu kan udah bilang jangan main di kolam orang dewasa sendirian! Kenapa kalian nekad begini? Heh?" omel Kia ke Ipang.


"He... Ipang sekarang sudah bisa berenang Bu?" tutur Ipang bangga.


"Tidak Nak! Tetap saja jangan berenang sendirian, siapa yang ajarin? Ibu nggak mau kehilangan kamu Sekarang ambil bajumu! Ikut ibu, Nak Daffa, ayo naik!" perintah Kia ke Ipang dan Daffa.


"Ibu liatlah aku, ibu harus percaya aku sekarang sudah bisa renang!" teriak Ipang berani.


Ipang kemudian berlari dan langsung mencebur ke kolan orang dewasa.


"Ipaaang" teriak Kia ngeri membayangkan anaknya celaka.


Tapi Ipang kemudian berenang dengan santainya.


"Hoooh hooh" Kia bernafas ngos-ngosan dibuat oleh Ipang..l


Ya, dia memang Ipang, ketika dilarang justru Ipang penasaran dan ingin melakukan. Dia bisa dengan mudah mempraktekan apa yang didengar dan diajarkan. Selanjutnya dia akan cepat mengusainya dengan baik.


"Iya Ibu percaya! Tapi cepatlah kalian berdua bangun dan pakai pakaian kalian!" tutur Kia lagi, meski percaya Ipang sudah bisa renang tapi Kia ingin dia dan Ipang segera pergi.


"Ya Bu"


"Ya Aunty"


Daffa dan Ipang menurut pasrah, berhenti mainan air dan mengenakan pakaian masing-masing.


"Daffa, Ipang? Apa kalian bolos lagi?" tanya Kia intens karena Kia melihat mereka hanya berdua, dan yang lain tidak keliatan.


"Iya Bu" jawab Ipang jujur dengan muka ditekuk.


"Ck. Ipaang, apa ibu pernah ajarin kamu untuk bolos?"


"Tidak Bu!"


"Ya sudah karena kamu di sini juga bolos terus. Sekarang ikut ibu ya!"


"Kemana Bu?"


"Jangan banyak tanya! Daffa kembalilah ke kelas. Dan Ipang ikut ibu!" perintah Kia sedikit galak dan mencengkeram tangan Ipang. Lalu menuntunya dengan sedikit paksakan bahkan hampir menyeret kasar.


Daffa menjadi diam dan cemberut mengikuti.


"Ibu kenapa galak sekali?" tanya Ipang protes sambil jalan. Baru kali ini Kia bersikap galak.


Kia menelan salivanya, sebenarnya dikatai galak sama anak kesayanganya begitu sakit. Tapi Kia berfikir harus lakukan itu.


"Ibu galak karena Ipang sekarang jadi pembangkang, berjanjilah untuk patuh pada ibu! Apa kau mau?" tutur Kia mengambil kesempatan membuat anaknya patuh.


Kia berhenti sejenak dari jalannya, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Ipang. Kia mengulurkan jari kelingkingnya ke Ipang, tanda Ipang harus janji.


Ipang dan Daffa ikut berhenti, tapi kali ini mereka berdua terbengong. Ipang tahu ini pasti tentang ayahnya.


"Ipang tidak mau berjanji" celetuk Ipang polos.


Kia menelan salivanya lagi merasa tertolak oleh anaknya. Dan itu membuatnya marah lagi.


"Kenapa? Jadi Ipang tidak sayang lagi pada ibu? Heh?" tanya Kia berdiri.


"Bukan begitu, Bu" jawab Ipang menggelengkan kepala.


"Apa Ipang tau dosa besar yang bisa membuat ibadah kita tidak diterima dan menghalangi masuk surga?"


"Tau Bu"


"Apa saja?"


"Syirik, durhaka pada ibu, memakan harta anak yatim, murtad, dan masih banyak lagi"


"Hmmm, jadi Ipang sekarang mau durhaka pada ibu? Iya?" tanya Kia.


"Tidak Bu" .


"Baiklah! Ikut Ibu, Kita pergi dari sini" ucap Kia lagi mencengkeram Ipang dan sedikit menariknya lagi menuju ke kamar mereka.


"Tapi Bu"


"Tidak ada tapi-tapian. Katakan selamat tinggal pada temanmu ini. Ambil tasmu kita pergi!"


"Tapi Bu, Ipang ingin bersama ayah"


"Stop Ipang! Ibu nggak mau dengar itu! Lupakan dia" bentak Kia tiba-tiba membuat Daffa dan Ipang ketakutan.


"Hiks hiks" Ipang berjalan sambil menangis.


Sebenarnya tangisan ipang juga menyayat hati Kia. Tapi Kia menepis semua itu, Kia merasa pertemuanya dengan Aslan adalah kesalahan, Kia harus pergi.


"Ambil tasmu, ibu tunggu! Cepat!"


Lalu Daffa dan Ipang masuk ke kamar mereka.


"Kau bilang, kau akan buat kalian tinggal bersama, kenapa ibumu sangat marah? Terus kenapa kau malah mau pergi? Aku kesepian lagi" tanya Daffa di kamar sambil berbisik agar Kia tidak mendengar.


"Aku juga tidak tahu" jawab Ipang mengelap air matanya.


"Aku sangat takut dan sedih jadinya" curhat Daffa ke Ipang.


"Kau mau membantuku kan? Katakan pada ayahku untuk cari kami" bisik Ipang memberi ide.


"Baiklah, tapi bagaimana caranya?"


"Catat nomerku ya. Aku minta nomermu juga" tutur Ipang mereka berdua terlihat seperti orang dewasa bersekongkol.


"Siap" jawab Daffa mengangguk dan mengerlingkan mata.


Lalu mereka saling membuat catatan. Ipang melihat sekilas dan langsung menghafal tanpa menyimpan di ponsel, lalu menyimpan kertas itu ke sakunya.


"Sekarang aku harus ikut ibuku, tapi aku pasti akan kembali" ucap Ipang pamit.


"Hehe siap" jawab Daffa tersenyum percaya pada Ipang.


Ipang kemudian pergi ke ibunya. Dan Kia membawa Ipang tanpa pamit ke ketua karantina.


Sesuatu yang tercela, tapi Kia tau jika Kia ijin, Kia akan ribet dan dilaporkan ke Aslan. Lalu mereka segera keluar dengan mengendap-endal agar tidak terlihat satpam. Ternyata Kia sudah memesan taksi online.


"Kita mau kemana Bu?" tanya Ipang di dalam perjalanan.


"Kita pulang ke rumah Nak"


"Ke kampung?" tanya Ipang sedikit kecewa.


"Iya" jawab Kia mantap.


Meski Ipang masih anak-anak dia pandai membaca situasi. Ipang diam dan memikirkan perkataan Alena. Ipang juga memperhatikan wajah ibunya. Lalu menyusun rencananya.


"Ibu, bukankah ayah ibu seharusnya menikah dan tinggal bersama?"


"Apa maksudmu Nak? Kenapa kamu tanya begitu?"


"Di antara ibu dan ayah, pernah bersama kan? Itu sebabnya ada Ipang?" tanya Ipang tiba-tiba.


Pertanyaan Ipang sungguh menohok Kia. Iya bersama, bersama di tempat tidur meski hanya satu malam. Tapi Kia tidak mungkin menjawab pertanyaan Ipang dengan jawaban itu.


"Iya Nak" jawab Kia berbohong.


"Kenapa ibu dan ayah sampai tidak saling mengenal? Pada awalnya?" tanya Ipang lagi.


"Karena kita terpisah terlalu lama, seseorang akan berbeda dan berubah jika lama tidak bersama" jawab Kia beralasan.


"Kenapa ibu dan ayah terpisah dalam waktu yang lama?"


"Ada sesuatu hal yang membuat orang dewasa harus berpisah Nak. Ibu minta maaf ya tidak bisa memberi tahu, tapi Ipang harus terima ini. Apa Ipang bisa berhenti bertanya tentang ayah?"


"Tapi Ipang ingin ibu dan ayah bersama lagi, Bu!"


"Ipang itu tidak bisa!"


"Kenapa Bu?"


"Kamu tau Alena dan ibunya?"


"Tau, kata ayah dia jadi kakakq"


"Ibu tidak bisa bersama dengan ayah, ibu Alena sudah ada di sisi ayahmu. Jika sudah ada perempuan di sisi ayahmu, itu artinya kita sudah tidak bisa bersama. Tolong jangan tanga ibu lagi yaa? Selama ini Ipang bisa kan hidup tanpa ayah?"


"Tapi Bu"


"Ipang!" bentak Kia lagi.


"Rosululloh saja bisa bu, seorang laki-laki bersama ibu yang banyak. Raja-raja di cerita dongeng juga punya ibu ratu yang banyak" celetuk Ipang lagi.


"Ipang! Kalau Ipang masih terus bahas ini ibu akan marah" .


"Maaf Bu!"


Ipang kemudian diam menunduk. Dan mereka terdiam dalam perjalanan. Tidak terasa mereka sampai di Bandara. Ternyata Kia sudah memesanya tadi malam. Kia juga sudah packing tadi pagi.


Kia mengajak Ipang turun dari taksi, mencari seseorang yang sudah membantunya agar segera pergi dari ibukota itu.


"Hai Ipaang" sapa teman Kia yang sudah membantu membawakan koper


"Tante?" jawab Ipang menoleh ke teman ibunya.


"Makasih ya udah bantuin aku!" ucap Kia menyalami sahabatnya.


"30 menit lagi. Gue harap ini keputusan terbaik Lo, Ki" .


"Iya Cyn"


"Padahal gue seneng lho, lo balik kesini"


"Udah sejak 7 tahun lalu Cyn, tempat gue bukan di sini lagi"


"Terus gimana kontrak lo?"


"Gue nggak mau mikirin"


"Dasar lo ya, selalu main kabur, nggak ada sopan santun!"


"Hee... gue udah pamit baik-baik kok!'


"Ya udah hati-hati, tuh udah disuruh siap-siap" tutur Cyntia mendengarkan berita dari bandara.


"Makasih ya, Daah" pamit Kia menuntun Ipang masuk ke dalam.