
“Untuk apa kalian datang ke sini? Kalian mau menertawakanku?”
Jenazah Nyonya Jessy sudah di semayamkan, jika tadi karena banyak pelayat yang datang, rombongan Kia hanya berdiri dari kejauhan.
Mini mereka mendekati Paulina, barangkali Paulina merindukan Alena. Yang pasti Kia ingin menyampaikan bela sungkawa tulus dari hatinya untuk Paulina.
Sayangnya tanggapan Paulina justru di luar dugaan. Paulina tetaplah menjadi Paulina yang ketus.
Untung Aslan masih menyapa tamu orang- orang besar, sebagai mantan menantu Aslan masih bersikap profesional. Aslan tak mendapat perlakuan kasar Paul. Kalau Aslan di situ pasti ribut besar dan tidak terima istri beserta anak- anaknya dibentak.
“Mommy!” pekik Alena berani.
Kia justru tercekat tidak membuka mulut.
“Kau masih memanggilku Mommy? Bukankah kau yang memilih dia sebagai ibumu? Dasar anak jalanggg! Pergi kalian semua!” usir Paulina kasar.
Namun kali ini suara Paulina terdengar parau dan bergetar.
Alena dan Pangeran sama- sama mencengkeram baju Kia, takut dibentak.
“Mommy... i just want say, Alena miss Mommy, dont you miss Alena Momm? Alena will pray for Omma Mom, I hope Omma pulang ke surga!” tutur Alena dengan suara polosnya memberanikan diri berbicara pada Paulina ibunya.
Kia sangat bangga pada Alena, Kia pun menunggu Paulina membuka mulut.
Kia bisa melihat tatapan Paulina, mata Paulina Nanar dan mulutnya seperti bergetar.
Kia sangat menunggu Palinua membalas kerinduan Alena. Kia yakin Paulina akan segera memeluk Alena.
“Pergi kalian dari sini!” celetuk Paulina di luar dugaaan Kia.
Paulina justru segera bergegas masuk ke dalam dan meninggalkan anak kandungnya sendiri.
“Hoh....!” Kia hanya menghela nafasnya, padahal belum sempat dia mengucap belasungkawa.
Alena pun hanya diam menunduk dan Ipang berdiri dengan tatapan tajamnya.
“Sudah Non, Nyonya Paulina tak ingin bertemu kita. Kita pulang saja yuk!” bisik Mbok Mina ke Kia dan Alena.
“Alena jangan sedih ya! Momy begitu karena sedang terpukul. Kalau Mommymu sudah sembuh sedih dan marahnya kita datang kesini lagi. Oke?” tanya Kia membelai rambut Alena. Kia tahu Alena pasti sangat hancur.
“No Bu. Mommy memang begitu. Alena tidak mau datang ke sini lagi!” jawab Alena mengerti.
"Ehm...." Kia berdehem bingung. Meski pemikiran Alena harus dibetulkan tapi Kia paham di situ bukan tempat yang bagus untuk mereka. Kia pun memutuskan untuk membawa anak- anak pulang.
"Kita pulang ya!" tutur Kia pelan.
Mbok Mina pun mendorong kursi roda Alena, Kia dan Ipang di sampingnya berjalan beriringan.
Entah apa yang ada di pikiran Paulina, padahal sangat jelas terlihat kalau Alena sedang sakit. Kenapa tak sedikitpun Paulina menanyakan kabar anaknya.
Apa segitu dalam luka Paulina, entahlah.
Aslan yang melihat rombongan Kia keluar dari rumah besar Paulina segera mengenalkan Kia dan kedua anakanya pada rekan- rekanya.
Tidak peduli dikatakan berpoligami atau berhianat, Aslan begitu percaya diri menggandeng Kia dan mengenalkan keluarganya.
Setelah tamu satu persatu meninggalkan tempat duka, Aslan dan Kia juga ikut pergi membawa keluarganya.
“Paulina gimana sih? Kenapa banyak tamu begitu dia tak keluar sama sekali!” gerutu Aslan begitu masuk ke mobil.
“Mungkin Kak Paulina masih terpukul Bang!” ucap Kia lirih berpositif thingking.
“Apa Alena jadi ketemu Mommy?” tanya Aslan kemudian ke Alena.
Alena mengangguk tersenyum. "Yq, Dad!"
Kemudian Kia menyentil Aslan.
“Nanti Kia ceritakan di rumah, nggak usah tanya-tanya Paul!” bisik Kia.
"Kamu cemburu?"
"Ih apaan sih? Nggaklah!"
Mereka pun kembali ke rumah mereka.
Kia memutuskan Alena di rawat di rumah dengan pengawasan doker keluarga dan perawat sewaan, keadaan Alena juga sudah berangsur membaik.
Karena ingin akrab dengan cucunya, sepulangnya Aslan dan Kia, Rendra juga menurut Umma sudah banyak berubah. Umma memilih tinggal di rumah Kia.
Sementara Kikan, Rendra jadikan umpan dan alasan agar segera mencari universitas di ibukota saja agar dekat denganya. Apartemen Rendra di pusat kota dan dekat dengan kampus- kampus terkenal, sementara rumah Aslan di pinggiran kota. Padahal sebenarnya Rendra hanya menjauhkan Umma dan Kikan.
Kikan yang sedang melancarkan aksi memiskinkan Rendra ikut saja. Tas mahal Rendra pun sungguh menjadi milik Kikan.
Kikan juga menjadi selebgram dadakan. Beberapa kali Kikan muncul di ig story Cyntia, Kikan jadi mendadak banyak followers.
Dengan kesibukanya yang baru, Kikan lupa akan misi awalnya.
Sementara Rendra dan Cyntia semakin jauh karena disibukkan dengan aktivitas masing- masing. Rendra sibuk mendampingi Aslan. Cyntia sibuk syuting dari pagi sampai malam, mereka jarang bertemu meski bertetangga.
Satu bulan sudah terlewat.
Alena sudah sehat dan semakin dekat dengan Pangeran dan Kia. Mereka berdua bahkan kini satu sekolah dan menjadi saudara yang akrab dan kompak di setiap harinya.
Dalam karir keartisanya, Pangeran dan Alena pun hanya akan menerima job jika keduanya diundang bersama, tidak mau jika hanya salah satu.
Pagi itu mereka sarapan bersama.
“Hari ini, ibu antar Alena dan Pangeran ke sekolah kan?” tanya Alena meletakan sendok sarapannya ke piring karena nasinya sudah habis.
“Kalian diantar Umma dulu ya. Ibu ada urusan sama ayah!” jawab Kia lembut.
Hari ini Aslan dan Kia akan kembali menemui ayah Alena dan menghadiri sidang putusan hak asuh Alena, setelah itu hendak menjenguk Tuan Agung. Putusan hukuman untuk Tuan Alex akan segera digelar.
“Yaaah! Padahal Alena ingin ajak Ibu ke toko bando, Alena ingin bando Bu, Umma kan tidak tau!” gerutu Alena kecewa.
“Nggak apa- apa Kak, kan bisa ajak ibu lain waktu. Hari ini sama Umma, Pangeran suka kok! Umma kan pandai bercerita!” celetuk Pangeran dewasa menyikapi keadaab, berbeda dengan Alena yang sekarang penyakit manjanya sudah pulih kembali, dan sekarang lebih posesif ke Kia.
“Tuh dengarkan adikmu Nak, sama Umma dulu ya! Besok ibu lagi yang antar kok! Kita belanja sesuka Alena.” sahut Kia menghibur.
"Janji ya Bu!" jawab Alena.
"Inysa Alloh!" Kia mengangguk tersenyum.
“Umma semalam bermimpi lho!” celetuk Umma tiba- tiba.
“Mimpi apa Umma?” tanya Alena dan Pangeran antusias.
“Umma mimpi Umma punya cucu lagi. Umma bahagia sekali. Seperti nyata, mungkin itu signal adik kalian. Umma mimpi gendong bayi kecil, lucuuu sekali, pipinya gembul, seperti bakpao, matanya juga bulat. Sangat imut!” tutur Umma dengan mata berbinar- binar menceritakan mimpinya.
Aslan yang sedang makan sampai menghentikan suapanya ikut antusias. Aslan percaya diri kalau itu adalah pertanda istrinya akan segera hamil anak kedua.
“Waah apakah itu adik Pangeran?” tanya Pangeran.
“Itu pasti pertanda, di perut ibumu sedang tumbuh adik kecil! Sayang!” sahut Aslan percaya diri.
“Benarkah ayah?” timpal Ipang.
“Ya!” jawab Aslan mengangguk dan menatap dalam ke istrinya.
“Aamiin,” Kia tersipu dan mengelus perutnya yang rata.
“Yeaay. Ipang tidak sabar ada adik bayi di rumah ini!” seru Ipang kegirangan, Ipang sangat ingin punya bayi.
“Tapi di mimpi Umma tidak ada Daddy dan ibu? Jangan- jangan bukan!” celetuk Alena tiba- tiba.
“Namanya juga mimpi sayang, kan acak!” jawab Umma menghibur.
“Oh...!” jawab Alena.
“Sudah...sudah... ayo segera bersiap, nanti kalian terlambat lhoh!” lerai Kia mengingat waktu sudah siang waktunya berangkat sekolah.
“Ya Bu!” jawab Ipang dan Alena kompak.
Mereka turun dari kursi meja makan, berlari menuju ke kamarnya masing- masing mengambil tas.
“Adiik bayi... punya adik bayi...!” Pangeran berdendang kegirangan sambil berjalan.
Aslan dan Kia mendengarnya senyum- senyum sendiri. Sementara Umma ikut bersiap mengantar cucu- cucunya. Di meja makan tinggal Kia dan Aslan.
“Abang juga sabar sayang, sambil jenguk Papah, kita priksa yuk!” ajak Aslan, sambil meraih tangan Kia.
“Abang apaan sih? Belum ada tanda- tanda! Kia tespek dulu aja!” jawab Kia.
“Tapi kan bulan madu kita sudah hampir dua bulan lho, berarti kamu udah telat mens kan? Abang yakin benih abang udah tumbuh di perutmu!” jawab Aslan ngotot.
“Abang ihh, Kia emang sering mundur mensnya. Jangan gitu nanti kecewa kalau nggak beneran!” jawab Kia lagi.
“Ya kamu yang semangat dong! Dulu aja, Pangeran, satu kali abang tanam langsung tumbuh, sekarang pasti iya kan?” ucap Aslan lagi.
“Tapi dulu Kia ngrasa kepala Kia pusing, Kia jadi sering ngantuk dan mual, ini nggak ada tanda- tanda apapun Bang!” jawab Kia lagi.
“Aaah udah itu nggak penting. Pertandanya lewat Umma! Yuk siap- siap!” jawab Aslan masih kekeh istrinya akan lagsung tek dung.
"Hemm Ya!"
Mereka berdua kemudian bangun dari duduknya. Di saat yang bersamaan, Alena dan Pangeran datang membawa tas masing- masing bersiap pergi ke sekolah.
Kia dan Aslan pun mengantar putra- putrinya sampai ke depan rumah. Mereka pun salim dan berpamitan.
“Ibu... kok ibu berdarah?” celetuk Alena melihat belakang panntat Kia ada bercak darah.
Umma, Aslan dan Kia segera mengecek. "Ya Ampin?" guman Kia malu karena bocor, padahal baru dibahas.
“Yaah!” Aslan langsung berdecak lemas.
Sementara Kia segera menarik bajunya karena malu. Rupanya Kia masih datang bulan.
“Nanti ibu ganti! Nggak apa- apa ini namanya menstruasi!” jawab Kia.
“Ibu kenapa? Ibu sakit? Adik bayi sakit?” tanya Pangeran belum mudeng.
“Nggak apa- apa! Nggak sakit sayang. Maaf ya, adik bayinya belum jadi tumbuh. Sudah sana kalian berangkat” jawab Kia tesenyum menjelaskan ke Ipamg.
Ipang dan Alena hanya mengangguk dan masuk ke mobil.
Umma yang tahu ikut lemas.
“Maafkan Umma ya, umma terlalu berharap punya cucu lagi sampai kebawa ngimpi? Jadi buat Pangeran berharap,” tutur Umma kemudian.
“Nggak apa- apa Umma!” jawab Kia lembut.
“Ya udah Umma berangkat ya!”
“Hati- hati Umma, hati- hati anak- anak, Daaah!” sapa Kia melambaikan tangan ke anak- anaknya yang berjalan menjauh.
“Daah Ibuuu!”
Setelah mobil anak- anak berjalan menjauh, Kia dan Aslan segera berbalik, hendak berganti pakaian.
“Maaf Bang... bener kan kata Kia, Kia belum hamil!” tutur Kia ke suaminya.
“Terus bayi siapa yang dimimpiin Umma!” gerutu Aslan cemberut.
“Abang... ih, namanya juga mimpi, Umma mimpi karena Umma ingin punya Baby lagi! Berdoa ya!”
“Ck... Abang kurang apa sih? Perasaan dulu sama sekarang masih sama? Kenapa dulu sekali jadi ini enggak ya?” gerutu Aslan lagi.
“Abang...namanya anak itu kehendak Tuhan. Kita coba lagi bulan depan, tunggu Kia selesai mens ya!” bisik Kia centil ke suaminya.
****
Di tempat syuting.
“Ya Ampun... Cyntiaa!” teriak Shellaa ke Cyntia yang sedang asik makan di dapur umum lokasi Syuting.
“Apaan sih? Berisik banget pagi- pagi juga udah tensi tinggi wae!” gerutu Cyntia kesal,
“Ini tuh masih pagi Cyn! Awas aja lo ngeluh sakit perut nggak mau syuting, jangan makan rujakan gitu! Makan roti atau nasi dulu. Semalam kamu baru begadang lhoh!” omel Shela melihat Cyntia makan asal.
“Berisik tau nggak! Gue Fine, gue sehat!” jawab Cyntia ngeyel, heran managernya posesif banget.
“Mana ada, pagi pagi begini makan rujak kedongdong pedes lagi! Dapet dari mana juga kamu makanan beginian?” omel Shela lagi.
“Ck... ih kamu tuh. Gue dapet dari mang- mang jualan tadi di depan apartemen pas gue lewat. Ini tuh enak seger tauk, males gue makan nasi, lo mau coba? Sok- sok!” jawab Cyntia menyodorkan rujak kedongdongnya.
"Ya tapi nggak pagi-pagi gini juga!"
Shelaa yang penasaran ikut mencoba ngerasain, belum dua gigitan Shela langsung mengernyitkan matanya dan memuntahkan makanan di mulutnya.
“Uweek, gila lu ya!” omel Shela lagi.
“Gila gimana?”
“Sini deh jangan lo makan!”
“Kenapa sih?”
“Lo kena tipes entar, ini pedes dan asam banget! Lo belum sarapan!” tegur Shela lagi.
“Nggak, orang seger begini kok!” jawab Cyntia ngotot.
Pagi itu meski baru jam setengah 8, Shela dan Cyntia berebut rujak kedongdong yang Cyntia beli dari mang- mang depan apartemen. Kru syuting lain sampai heran melihat Cyntia dan Shela yang ribut.