
"Selamat pagi Nyonya” sapa Rendra membungkukan kepala menyapa Kia, setelah Kia membukakan pintu.
“Hooh” Kia justru menatap Rendra dengan tatapan mengejek.
Orang yang pertama kali bertemu melecehkanya sekarang bahkan memberinya hormat.
“Ehm!” Rendra berdehem merasa kesal dengan ekspresi Kia.
Untung cantik dan orang yang berharga buat Aslan, kalau tidak, sudah balas dimaki. Rendra juga akan balik kanan dan meninggalkan Kia.
“Mau apa kamu ke sini? Tau darimana aku di sini?” tanya Kia menantang.
“Saya harap anda tidak lupa Nyonya” jawab Rendra dengan ekspresi datar.
“Lupa apa?” tanya Kia.
“Mohon anda jangan berfikir negatif dulu. Anda ingat kan kontrak Anda? Bukankah sudah jelas, tujuan Tuan Aslan membawa Nyonya kemari untuk menggenapi hutang anda pada perusahaan kami, tolong bekerjalah dengan baik!” ucap Rendra beralasan sangat tidak masuk akal.
“Wooh hahahaha, ck ck” Kia justru tertawa, berdecak menggelengkan kepala dan mengejek Rendra lagi.
“Apa sehebat itu aku di mata kalian, hah! Kurang kerjaan tau nggak sih kalian itu? Aku tau kalian itu punya ribuan karyawan, tapi kenapa harus bersikap begini padaku, kamu tidak perlu menjemputku. Katakan pada Tuanmu, aku tidak mau menjadi istri keduanya. Bukankah aku sudah berbaik hati, kita bisa berbagi anak, tapi jangan bodohi aku!” tutur Kia panjang dengan percaya diri.
Rendra menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Meskipun terdengar sedikit sombong dan menunjukan betapa percaya dirinya Kia, tapi kalau dipikir- pikir perkataan Kia benar.
Ngapain susah- susah mempertahankan karyawan seperti Kia, apalagi menjemput dan memaksanya, yang mengantri dan lebih berbakat banyak. Aslan memang bukan ingin mempekerjakan Kia, tapi ingin memiliki Kia. hanya caranya salah.
“Baiklah Nyonya, saya hanya ingin memperingatkan anda, jika anda masih mau bertemu dengan Tuan Muda Pangeran, silahkan ikuti kami” tutur Rendra akhirnya mengeluarkan jurus ampuhnya.
“Mbuaah, sekarang kau memakai anakku sebagai senjata, benar- benar kalian ya! Dasar!” gerutu Kia merasa Aslan dan Rendra sangat menyebaalkan.
“Saya beri waktu 15 menit, untuk anda bersiap- bersiap. Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau anda akan susah menemui Tuan Muda Pangeran, Nyonya” ancam Rendra lagi.
“Haiiiissh!!! Menyesal aku mengijinkan Pangeran mengenal kalian" desis Kia lagi memberikan tatapan membunuh ke Rendra sambil berfikir. Tapi Rendra tidak bergeming.
"Baiklah, katakan dimana anakku? Apa semalam dia bisa tidur? Apa dia baik- baik saja? Aku akan ikuti kalian untuk menemuinya. Tapi aku akan berangkat sendiri, kalian berangkat lebih dulu!”
Mendengar kata Pangeran, hati Kia memang lemah, tapi Kia tidak mau jatuh di perangkap yang sama. Kia tidak mau berangkat dengan mobil Aslan dan mobil Rendra, bisa- bisa dibawa ke tempat yang tidak diduga lagi.
“Hhh” Rendra menghela nafasnya. “Nyonya Kia sungguh tidak mudah dibodohi, perjuanganmu tidak akan mudah bos” gumam Rendra.
“Katakan dimana aku bisa menjemput anakku? Tapi aku tidak mau datang ke rumah itu lagi, dan aku mau bertemu di tempat umum” tanya Kia sedikit membentak, karena Rendra malah diam saja.
“Baiklah, kalau itu mau anda. Kami tunggu di kafe galaxy Nyonya” ucap Rendra mengalah mengikuti mau Kia.
“Oke!” jawab Kia setuju.
"Kalau begitu saya pamit"
"Hmm" Lalu menutup pintu rumah Cyntia.
Meski di hadapan Rendra, Kia percaya diri sok sokan, sesungguhnya Kia pusing dan panik. Kia tidak punya baju, Kia tidak punya uang, Kia juga tidak tahu kafe Galaxy itu dimana?
"Bagaimana ini?"
Kia berjalan dengan panik, berharap Cyntia masih mau menaruh belas kasihan. Kia menggerak- gerakan tanganya sendiri mendekati Cyntia, sambil nyengir tidak tau malu mau pinjam uang.
“He…ehm” sapa Kia nyengir lalu duduk mengendap mendekati Cyntia.
“Ngapain lo nyengir- nyengir gitu? Lo nggak jadi pergi?” tanya Cyntia dengan tatapan curiga melihat gelagat Kia.
"He…, lo hari ini ada acara nggak?” tanya Kia pelan berbosa- basi.
“Kenapa?” tanya Cyntia cuek.
“Ck” melihat ekspresi Cyntia Kia berdecak, sepertinya harus bekerja keras untuk mendapatkan bantuan Cyntia.
“Gue tanya serius! Lo mau ada acara nggak hari ini?” tanya Kia lagi.
“Gue lagi nungguin pengumuman hasil audisi” jawab Cyntia dengan malas.
“Apa? Audisi? Audisi apa?” tanya Kia tidak menyangka. Cyntia kan udah kaya, ikut audisi apaan.
“Iya, gue ikut audisi , buat serial drama dari produser starcinema” tutur Cyntia menjelaskan.
“Starcinema?” tanya Kia lagi kaget. Kia mengenali nama produser film itu.
“Iya, kenapa?" jawab Cyntia enteng.
“Wuaah, gila? Lo beneran daftar ikut audisi itu?” tanya Kia benar- benar tercengang. Dunia ini memang sempit.
“Iya apa salahnya sih? Duitnya lumayan kok, gue juga kesepian bête di rumah terus, apa salahnya mengasah kemampuan acting gue lagi, siapa tahu rejeki gue. Terus gue jadi artis terkenal. Ahh lo pasti bangga kan punya temen kaya gue?” jawab Cyntia dengan wajah semangat dan berapi- api.
Saat di kampus mereka memang menyukai dunia seni peran.
Kia menghempaskan badanya ke sofa dan menghela nafas tidak percaya. Bisa-bisanya Cyntia ikut audisi itu.
“Kenapa ekspresi lo gitu? Lo nggak suka gue sukses dan berkarir. Sory ya Ki, gue nggak mau hidup gue dibikin ribet dan setragis lo!” ucap Cyntia kesal, Kia malah terkesan tidak suka.
Cyntia punya prinsip dan cara sendiri buat menikmati hidup, nggak kaya Kia.
“Cyntia, lo tau starcinema itu punya siapa?” tanya Kia gemas ke Cyntia.
“Tau! Punya Manda Anggita Sari, kenapa?”
“Kamu tau dia siapa?”
“Tau, menantu dari keluarga Nareswara" jawab Cyntia lagi dengan enteng
"Lo tau kan itu keluarga siapa?" tanya Kia lagi.
"Tau. Keluarga bapak anak Lo kan? Makanya lo nikah aja sama dia. Jadi istri kedua nggak buruk kok!"
"Cyntia!!" pekik Kia kesal.
“Cyntiaa” pekik Kia lagi lebih gemas.
“Lo iri ya sama gue? Santai kalau gue jadi artis lo gue angkat jadi asisten gue deh” tutur Cyntia salah paham.
“Hiiishh" Kia melempar bantal sofa ke Cyntia yang cerewet.
"Owh" Cyntia menangkisnya.
"Serial drama yang lagi digarap itu karya gue. Judulnya bohong kan? Itu naskah yang gue kirim dan dikontrak" tutur Kia menjelaskan ke Cyntia.
“Wuaah, sungguh?? Benarkah? Itu karya Lo?” tanya Cyntia justru kegirangan.
“Huum!” jawab Kia mengangguk lesu.
"Aah kamu hebat Kia" puji Cyntia tidak menyangka
"Ck" Kia hanya diam mengkerucutkan bibirnya.
“Aaah bahagianya aku mendengarnya” jawab Cyntia kegirangan dan bertepuk tangan sendiri.
“Hiiih, ck” Kia berdecak melihat Cyntia hebriing. Lalu cyntia menoel pipi Kia gemas. Dan duduk lagi.
“Lo hebat banget Ki, itu genre cerita romant kisah anak dan orang tua yang so sweet. Aku suka pas baca naskahnya. Keren” puji Cyntia lagi.
“Lo nggak usah bahagia dulu, emang lo ketrima?” tanya Kia mematahkan semangat Cyntia.
“Iiih kok lo ngomong gitu?” jawab Cyntia lesu dan kesal. Di saat dia kegirangan malah Kia berespon negatif.
“Ya benerkan , lo kan baru audisi, belum pengumuman, udah lupain dulu. Sekarang bantu gue, gue mau minta tolong sama lo”
“Hmmm” jawab Cyntia malas.
“Bantuin gue dong!” rengek Kia lagi.
“Nggak! Mentang-mentang udah jadi penulis. Ngapain gue bantu Lo, Lo aja nggak doain gue!” jawab cyntia kesal.
“Iya gue doain, semoga lo ketrima”
“He... bener ya? Emang lo mau minta tolong apaan?” tanya Cyntia.
“He… gue pinjem duit sama baju dong”
“Whaat? Pinjem duit? Kenapa dari dulu lo pinjem duit terus sih ke gue?”
“Cyn gue kesini dipaksa sama Singa gila itu, gue didorong masuk ke mobil, gue nggak bawa dompet atau baju, ktp aja nggak, hp doang karena gue sakuin” terang Kia agar dimengerti Cyntia.
“Ya udah sono lo minta sama singa gila itu, udah sih mau aja dinikahin, kaya gue nih enak, meski keluarga gue nggak harmonis setidaknya ada yang jamin hidup kita”
“Ck. Lo jahat banget sih!”
“Lo masih ngatain gue jahat? Ingat gue udah nampung lo dan kasih makan Lo” ucap Cyntia.
"Ishhh, Cyn ayolah please, nanti gue balikin” rengek Kia lagi merayu.
Tiba- tiba ponsel Cyntia berbunyi. Cyntia dan Kia diam dan meoleh ke sumber suara. Lalu cyntia berjalan dan mengambil ponselnya. Melihat alamat notifikasi pesan yang masuk Cyntia sudah bahagia duluan.
“Siapaa?” tanya Kia.
“Starcinema?” jawab Cyntia dengan muka berbinar, memegng ponsel dan menempelkanya di dada.
“Oh, ya? Coba dibaca apa isinya?” ucap Kia.
Lalu dengan gugup Cyntia membuka pesan dari stacinema.
“Yeaaay” Cyntia langsung memeluk Kia kegirangan. Kia pun menerima pelukan Cyntia dengan tenang.
“Gue ketrima Ki. Gue dapet pemeran utama, oh my God, oh My God!” tutur Cyntia kegirangan lagi, Cyntia menepuk pipinya saking bahagianya. Lalu Cyntia berjingkrak-jingkrak sendiri.
Kia pun menatap Cyntia dengan bahagia.
“Gue buat karakter tokoh Liana dengan cinta, gue ragu dimainkan sama Lo, awas kalau acting Lo jelek, gue cincang Lo” ucap Kia bukanya memberikan selamat malah mengancam dengan tatapan ragu ke Cyntia
“Ish, dasar Lo. Sahabat nggak jelas. Bukanya ngedukung tapi malah gitu" jawab Cyntia mengekerucutkan bibir.
"Itu artinya lo harus serius mainin peranan itu" jawab Kia lagi.
"Hehehe, itu pasti! Ahh, aku sangat bahagia, meski bukan teater, gue akan kembali bergelut dengan dunia seni peran, aku bahagia Kia” ucap Cyntia memeluk Kia lagi.
“Yaya. Syukurlah kalau lo bahagia, jadi selamat lo dari penyakit setres”
“Karena gue lagi bahagia, gue akan bantu Lo. Katakan apa yang lo pengen!”
“Gue harus ambil anak gue, gue harus ketemu mereka di kafe galaxy sekarang”
“Sekarang?”
“Iya, anter gue kesana dong. Pinjem baju dan pijem uang juga!”
“Hemm yayaya! Ya udah mandi buru”
“Makasih sayangkuuh”
“Ck. Dasar lo”
“Cie… calon artis” goda Kia ke Cyntia.
“Ciee penulis” sahut Cyntia
“Hahahahaha” lalu mereka tertawa bersama.