
Kata orang sahabat adalah orang yang tau luar dalamnya kita. Orang yang berani berkata A jika memang kenyataanya A meski itu tidak menyenangkan, tapi dia tidak berdusta antara di depan dan di belakang.
Sahabat bukan orang yang selalu membahagiakan kita, terkadang juga menyebalkan, tapi dia orang yang ikut mengusahakan sesuatu yang akan membuat kita bahagia. Sahabat orang yang selalu ada bersama kita apapun keadaanya.
Mungkin itu yang tergambar antara Kia dan Cyntia. Seringkali Cyntia membuat Kia kesal dengan kemalasan, kecomelan dan kebandelanya. Apapun itu, meski di banyak hal Kia dan Cyntia berbeda, tapi Kia tetap sayang Cyntia.
Begitu juga Cyntia, Kia acapkali membuat repot Cyntia. kebodohan Kia dan masalahnya membuat Cyntia repot, tapi Cyntia tetap sayang Kia. Begitu juga hari ini, Kia benar- benar menyebalkan.
Bagaimana tidak, Cyntia sudah dibuat pegal, mengurus anaknya sampai Shela ninggalin. Kia dengan tanpa rasa dosa cuekin Cyntia gitu aja.
“Ssshhhh, dasar lo Ki, sahabat nggak tahu diuntung! Awas aja lu ya!” gerutu Cyntia dalam kekesalanya meratapi mobil Aslan pergi begitu saja.
Cyntia kemudian melirik ke Rendra. Tidak ada yang berubah, laki- laki itu tetap diam dengan angkuhnya. Di depan lobby itu hanya tinggal mereka berdua. Suasana malam yang terasa dingin jadi sedikit memanas dan tercipta kecanggungan.
“No, cyntia, jangan nebeng sama dia! Cari taxi onlin aja!” batin Cyntia meneguhkan pendirianya. Cyntia kemudian memalingkan muka gengsi dari Rendra. Cyntia tidak mau Rendra semakin memakinya.
Rendra berjalan mendekat, dan tau-tau sudah ada di belakang Cyntia.
“Ini kan yang lo tunggu? Nggak usah jaim,” bisik Rendra ke telinga Cyntia membuat Cyntia kaget dan kegelian. Cyntia reflek menjauhkan kepalanya dan mendongakan kepalanya.
“Hhhh hah” Cyntia menghela nafas kesal kasar, lalu menghadap ke belakang ke Rendra dengan geram.
“Lo sengaja kan? Pengen pulang sama gue? Seneng kan lo?” tanya Rendra lagi dengan nakalnya.
Entah kenapa Rendra sekarang sangat suka mengatai Cyntia dan membuat Cyntia kesal. Seperti ada sensasi rasa tersendiri yang membuat Rendra puas.
Sementara Cyntia kali ini kehilangan kesabaran. Dia terus dikatai dan dipojokan seakan-akan Cyntia sungguhan jadi penggemar Rendra.
Cyntia memejamkan matanya sebentar sambil mengambil nafas banyak, menahan kesal yang amat sangat dan tak terhingga. Cyntia butuh banyak tenaga menghadapi Rendra.
“Maaf ya Pak Rendra terhormat! Saya nggak minat ya numpang di mobil anda! Saya bisa pulang sendiri?” jawab Cyntia tegas dengan penuh penekanan.
“Yakin?” tanya Rendra mengerlingkan matanya.
“Yakinlah!” jawab Cyntia mantap.
“Bener nggak mau numpang? Saya lagi baik lho!” jawab Rendra lagi.
“Maaf ya, saya nggak terima kebaikan anda!” jawab Cyntia kesal.
“Nggak nyesel?” tanya Rendra kepedean.
“Nggaklah, ngapain nyesel?”
“Bukannya kamu tergila- gila sama aku, kamu nggak perlu nguntit gue lho, kamu bisa mandangin wajahku sepanjang jalan!” tutur Rendra lagi masih saja mengira Cyntia obsesi ke Rendra. Padahal Rendra juga yang ingin lama- lama liatin wajah Cyntia.
“Hohhh!” Cyntia pun hanya bisa ber- oh ria. Cyntia menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya benar- benar nggak nyangka masih ada laki- laki senarsis Rendra.
“Maaf ya Pak Rendra yang terhormat, saya sudah kehilangan kesabaran buat ngadepin orang gila, seperti anda!” jawab Cyntia sudah habis kesabaran.
Cyntia buru- buru menjauh dari Rendra dan tidak menghiraukanya lagi. Cyntia tidak peduli apa masih ada taxi online atau tidak, yang penting Cyntia jauhi Rendra dulu.
Nekad cium Rendra karena kesal dan ingin menyakiti Meta ternyata imbasnya bikin Rendra semakin tinggi kepedeanya. Cyntia sungguh menyesali perbuatanya itu.
“Hoh! Kia... lo tega banget sama gue sih, ninggalin gue sama laki- laki nyebelin kek dia? Kepedean banget lagi jadi orang, dasar gila, syaraf!” batin Cyntia memilin jarinya berjalan tanpa arah, keluar dari area studio ITV.
Rendra yang kepedean pun menelan salivanya karena ditolak. Entah kenapa rasanya sangat dongkol diabaikan begitu saja oleh Cyntia. Rendra kan masih ingin terus memaki Cyntia dan melihat Cyntia bersungut-sungut.
Perasaan asik dan menyenangkan itu tidak pernah Rendra dapatkan saat bersama Meta. Seperti ada tarik tersendiri saat Rendra bisa membully Cyntia dan membalas ejekan Cyntia. Sayangnya sekarang dia diacuhkan.
Rendra mengatai pria lain yang disukai Cyntia pria jadi- jadian karena baginya Rendra lebih tampan. Entah kenapa Rendra rasanya sangat kesal melihat Cyntia dekat dan mengobrol dengan laki- laki lain, apalagi Cyntia tidak terlihat mengejar Rendra dan meladeninya bicara lagi.
Rendra juga kecewa karena Cyntia benar-benar bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal Rendra sendiri yang menyuruh Cyntia melupakan peristiwa malamnya, tapi Rendra juga yang nggak bisa lupa.
Rendra kemudian masuk ke mobilnya dan mengemudikanya untuk pulang. Rendra melajukan mobilnya pelan saat melewati Cyntia yang berjalan di trotoar di bawah lampu temaram.
Kecantikan Cyntia begitu terlihat jelas saat berjalan di keremangan sendiran begitu. Tubuhnya yang ramping dan tingggi itu terlihat anggun diikuti bayangan hitamnya. Belum lagi rambut panjangnya yang terlihat melambai saat terkena angin malam, Cyntia bak Dewi rembukan yang turun dari langit dan sedang berkeliaran.
“Ehm....” Rendra jadi salah fokus dan gemash tidak sabar ingin memaksa Cyntia masuk dan ikut ke mobilnya.
Pikiran Rendra berkelana jauh kemana- mana, ini sudah larut malam bagaiamana kalau ada laki- laki yang datang dan mengganggunya. Hanya dari cara berjalanya saja, Cyntia sudah tampak mempesona, sudah jelas akan banyak yang tertarik padanya.
Sayangnya Cyntia berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mulutnya mengatup rapat. Cyntia sangat jelas terlihat kesal sekali terhadap Rendra. Rendra pun tidak punya nyali untuk turun dan mengajaknya lagi. Rendra memilih tetap melajukan mobilnya tapi masih tetap memperhatikan Cyntia dari spion mobilnya.
Cyntia benar- benar merasa dikerjai, sudah tanganya pegal karena menggendong Pangeran, kini Cyntia harus berjalan jauh menuju ke halte agar Cyntia bisa duduk, di tempat yang aman. Di depan studio ITV tempatnya seram, dan sepi, jadi Cyntia tidak mau membuka ponsel dan berdiri sendirian di situ.
Cyntia lebih memilih membuka ponselnya di sebuah halte dekat dengan apotik yang buka dua puluh empat jam. Cyntia pun duduk berniat membuka ponsel dan memesan taksi online. Di saat yang bersamaan, karena memang dari tadi petir terus menampakan keberadaanya, kini tibalah giliran hujan yang datang.
“Sempurna kesialan gue kali ini! Kia, Shela kalian harus bayar mahal perbuatan kalian, siallll!” umpat Cyntia dalam hati benar- benar merasakan kesialan bertubi- tubi. Padahal niatnya mau bawa mobil sendiri tapi Shela memaksa barengan saja.
Hujan pun turun ditemani angin membuat Cyntia kedinginan. Cyntia berusaha mengambil ponselnya, memesan taxi online.
“Aih , apalagi ini kenapa ada acara mati segala sih?” gumam Cyntia lagi kesal.
Sepanjang pertunjukan Cyntia kan on ponsel, sibuk memvideokan penyanyi idolanya dan mengabadikan di ponselnya. Alhasil ponsel Cyntia lowbat.
“Gimana gue pulangnya? Huu.... hu....!” kali ini Cyntia benar- benar menyerah dengan keadaan.
Cyntia membungkukan badanya sambil menangis sambil memeluk lututnya. Buat Cyntia sekarang Kia dan Shela benar- benar jahat. Entah bagaimana Cyntia akan mendapatkan pertolongan kalau begini. Sudah malam kedinginan tidak ada orang.
"Huu... hu... " Akhirnya Cyntia nangis sendiran.
“Nggak usah cengeng! Cepat masuk!” ucap seseorang membaya payung dan melindungi Cyntia.
Cyntia terdiam, Cyntia tidak merasakan guyuran air hujan lagi. Ditatapnya sepatu mengkilat yang sedikit basah terkena percikan air hujan, lalu berjalan ke atas sampai terlihat wajah orang itu.
“Kamu!” pekik Cyntia menatap seseorang membawa payung di hadapan Cyntia.
“Cepat masuk! Sebelum gue berubah pikiran!” ucap orang itu lagi dengan ekspresi kesalnya.
Cyntia kemudian bangun dan berdiri sehingga mereka berdua berhadapan sangat dekat karena berada dalam satu payung berdua.
“Kenapa kamu balik lagi?” tanya Cyntia masih gengsi.
“Ck!” pria itu berdecak tidak sabar. Rendra kemudian melepas jasnya denan satu tanganya dan menyerahkan ke Cyntia.
"Pakai ini!" ucap Rendra sedikit kasar.
Baju Cyntia terkena air hujan sehingga basah dan menampakan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bahkan buah ranum Cyntia menonjol nyata terlihat seperti tanpa pembungkus, tepat di hadapan Rendra seperti menantangnya. Jelas saja Rendra tidak kuasa melihat dan ingin agar Cyntia menutupi dengan jasnya.
Cyntia tertegun dan menerima jas itu.
“Cepat masuk!” ucap Rendra lagi, memayungi Cyntia.
Cyntia diam dan ikut saja. Dengan tangan kiri memegang payung, tangan kanan Rendra membukakan pintu mobil besarnya. Cyntia pun masuk ke mobil Rendra.
Mereka saling diam tidak berdebat atau saling tatap. Apalagi berterima kasih, Rendra pun melajukan mobilnya pulang.