Sang Pangeran

Sang Pangeran
103. Cerita


Setelah selesai makan Aslan pun membawa mereka ke tempat bermain anak. Membiarkan Pangeran sepuasnya, bermain dan bersenang- senang. Pokoknya hari ini harinya Ipang.


"Aku belum terlambat kan Kii?" ucap Aslan tiba-tiba saat mereka menunggu Pangeran bermain motor listrik.


"Apa maksud Abang?" tanya Kia pelan.


"Aku minta maaf, aku telat menemukan kalian. Seharusnya aku mendampingi kalian sejak awal. Aku merasa berhutang banyak pada Ipang dan kamu, tolong jangan pergi lagi ya. tetaplah di sampingku, ijinkan Abang bayar semua utang Abang" ucap Aslan lagi.


Kia kemudian tersenyum terharu. Laki- laki di depanya benar-benar memperdulikanya dan mencintainya. Kia pun menatap Aslan dengan tatapan nanar.


"Tidak ada yang salah Abang. Aku juga minta maaf. Semua terjadi di luar kehendak kita. Maafkan aku juga tidak pernah mencari tahu tentang Abang. Maafkan aku pernah berniat menjauhkan Abang dari Ipang" tutur Kia tulus dan air mata Kia tanpa sadar menetes pelan.


"Jangan menangis. Aku tidak tahan melihatmu menangis, aku jadi ingin memelukmu" ucap Aslan lagi.


"Kia janji, Kia tidak akan pergi lagi Bang, Kia salah jauhin Ipang dari Abang. Kia juga tidak tau kalau Abang selama ini menahan kesepian dan sakit. Kia akan jadi istri Abang, menjadi istri yang selalu ada untung Abang, Kia janji" ucap Kia kemudian.


"Terima kasih. Besok kita temui Kakakmu ya. Kita harus menikah secepatnya" jawab Aslan lagi.


"Iya. Tapi Bang. Sebenarnya masih ada hal yang ingin, Kia ceritakan Bang" ucap Kia.


"Katakanlah, apa?"


"Apa yang akan Abang katakan pada Alena Bang?" tanya Kia serius.


Aslan kemudian diam. Secuek apapun Aslan pada Alena. Tapi Aslan mempunyai hati nurani dan perasaan. Alena tidak salah, yang salah Aslan dan Paul membiarkan Alena tumbuh di situasi kebohongan besar. Aslan juga kasian ke Alena.


"Mau tidak mau kita harus katakan yang sebenarnya dan memberi pengertian ke dia Ki. Aku bukan ayahnya" ucap Aslan


"Dia memusuhi Ipang" tutur Kia lagi.


"Memusuhi bagaimana?" tanya Aslan selama ini informasi Rendra tidak sedetail sampai ke asrama.


"Mereka bertengkar karena Abang" tutur Kia.


"Bertengkar?" tanya Aslan lagi tidak menyangka. Aslan kira anak-anak baik-baik saja tidak mengerti urusan orang tua.


"Iya Bang" jawab Kia.


"Bertengkar bagaimana?"


"Alena tidak mau berbagi ayah dan menerima kalau Ipang saudaranya. Mereka bertengkar, makanya mereka sekarang dipisah. Dan tidak tinggal di penginapan lagi" tutur Kia bercerita.


"Memang mereka bertengkar bagaiamana?" tanya Aslan penasaran.


"Lihat pipi Ipang kan? Itu dicakar Alena. Dan Ipang juga memukul Alena dengan brutal, ini harus dihentikan Bang tidak baik untuk mereka jika terus begini!"


"Hhh" Aslan menghela nafas. Separah itu kah?


"Kia, tapi mereka kan anak kecil, mungkin mereka biasa bertengkar" sanggah Aslan mencari pembenaran.


"Abang, Alena mengatai Ipang anak haram" tutur Kia akhirnya menangis lagi, menegaskan perkelahian Alena dan Ipang bukan tentang anak kecil. Lalu Kia pun mengingat betapa kasianya anak- anak. Mereka sama- sama korban. Mereka tidak tahu apa-apa.


Aslan kemudian mendekat ke Kia dan diijinkan atau tidak diijinkan, Aslan menyentuh pipi Kia dan menghapus air mata Kia.


Di sini Aslan merasa terpukul, ternyata kesalahanya di masalalu kini berimbas pada anak-anak mereka. Padahal anak-anak tidak tahu apa-apa.


Dan Aslan baru menyadari, silsilah anak, garis keturunan pentingnya dan tujuan arti menikah yang sebenarnya itu apa sangat penting. Jika tidak mematuhi kaidah agama, akan merusak kehidupan setelahnya. Bukan hanya tentang rasa. ego dan kepentingan dunia semata.


"Aku minta maaf, ini semua salahku. Secepatnya kita sampaikan kebenaran ke Alena" ucap Aslan memastikan.


"Tapi Kia juga kasian Bang ke Alena. Dia juga pasti akan sangat sakit jika tau Abang akan meninggalkanya, apa dia bisa menerima kalau orang yang selama hidupnya dipanggil ayah ternyata bukan ayahnya? Dia masih kecil juga Bang. Kalaupun dijelaskan dia tidak akan mengerti" tutur Kia bersimpati pada Alena.


Hati Kia memang selembut itu. Dia tidak hanya berfikir tentang Ipang tapi juga Alena. Tapi si Paul malah tidak memikirkan anaknya sejauh itu.


"Terus apa yang seharusnya Abang lakukan?" tanya Aslan merasa sangat bersalah.


"Cukup dengan katakan siapa Ipang dulu Bang. Tentang ayah Alena. Sampaikan pelan-pelan sampai waktunya tiba, itu juga butuh pengakuan Paul" ucap Kia menasehati.


"Maaf ini semua karena kebodohanku, seandainya dari dulu aku tegas ke Papa" ucap Aslan lagi menyesali masalalu.


"Sebaiknya, Paul sendiri juga harus jelaskan siapa ayah kandung Alena. Sama seperti Abang ke Ipang, meski secara hukum Ipang tidak boleh dijadikan ahli waris Abang, karena Ipang lahir di luar pernikahan. Setidaknya kita sudah adil memberitahu Ipang siapa ayah biologisnya. Memberikan hak kasih sayang untuk anak kita." ujar Kia lagi.


"Itu pemikiran kamu, Kiaku Sayang. Kalau Paul berfikir seperti itu, seharusnya dari awal dia tidak memprovokasi Papahku setiap kami hendak bercerai!" jawab Aslan lagi.


Lalu mereka saling diam memikirkan solusinya.


"Ya udah yang penting Abang katakan pada Alena dulu, katakan Ipang anak Abang, yah!" pinta Kia pelan.


"Iya Sayang, secepatnya Abang katakan pada Alena" jawab Aslan mesra.


"Kapan Abang katakan itu?" tanya Kia memastikan.


"Mau sekarang?"


"Katanya Abang mau ajak Kia ke papa Abang?"


"Oh iya yah! Ya udah ayuk, sekarang kita ke Papah!"


"Ipang dan mobil Kia gimana?" tanya Kia lagi.


"Gampang!"


Lalu Aslan memanggil Ipang..


"Bermainya udah dulu ya. Kita ke kakek sekarang?"


"Ke Kakek?"


"Iya"


"Ke rumah sakit lagi?" tanya Ipang.


"Kakek sekarang sudah sehat, kita pulang ke rumah Daffa!" jawab Aslan.


Kia pun heran. Kok Ipang tanya tentang kakeknya? Tau tentan rumah sakit segala.


"Ipang pernah ketemu Papa Abang?" tanya Kia menyela.


"Iya" jawab Aslan mengangguk tersenyum


"Kapan?" tanya Kia lagi, tapi belum dijawab disela Ipang lagi.


"Ayah beneran kita ke rumah Daffa?" tanya Ipang lagi.


"Iya" jawab Aslan mengangguk tersenyum.


"Ke rumah yang ada kolam renang besarnya ya Yah?" tanya Ipang lagi.


Dan kembali lagi, Kia dicueki, hanya Ipang dan Aslan yang tau tentang pembicaraan mereka. Kenapa bahas kolam renang segala. Kia tidak tahu sebelum Aslan pergi, setiap hari Aslan pedekate ke Ipang, merencanakan banyak hal.


Selama pergipun Aslan selalu aktif menelpon Ipang. Menanyai semua tentang Kia. Benar-benar kalau sudah menikah Kia akan kesepian dan sepertinya harus segera punya adik perempuan.


"Iya" jawab Aslan.


"Yeeeey" teriak Ipang kegirangan.


"Di rumah Ibu Ipang juga ada kolamnya kok!" jawab Aslan lagi.


"Benarkah?"


"Iya dong, ayah kan tau anak ayah suka renang"


"Kalau begitu ayo kita pulang Yah! Jangan kembali ke rumah Tuan Alvin lagi" ajak Ipang polos dan jujur mengungkapkan keinginanya.


"Lhoh kok gitu. Ipang kan belum tampil besok penentuan juara lho" ucap Aslan lagi.


"Nggak apa-apa. Biar Kak Alena aja yang juara. Ipang nggak ingin juara, Ipang ingin tinggal bereng ayah dan ibu" jawab Ipang lagi cita-cita Ipang memang hanya ingin punya ayah.


"Kok gitu?" tanya Aslan.


"Aku tidak suka Yah di rumah Tuan Alvin atau di karantina?" jawab Ipang lagi.


"Lha kok gitu?"


"Abis Om Jeje tanya ibu terus ke Ipang Yah" ceplos Ipang cerita apa adanya.


Glek.


Kia kemudian mendelik. "Jeje mendekati Ipang dan menanyai tentang Kia. Kurang ajar dasar!" batin Kia.


"Siapa Om Jeje Nak?" tanya Aslan ke Ipang.


"Dia Om ganteng yang selalu kasih Ipang coklat Yah" tutur Ipang lagi.


"Oh ganteng itu Om Jeje?"


"Sayang apa maksud kamu?" tanya Kia menyerobot. Apa maksudnya, Jeje selama ini memberi coklat ke Ipang.


"Iya Bu. Jadi kalau ada kelas menyanyi hip hop. Om Jeje ikut bareng Pak Alvin. Dia selalu kasih Ipang coklat" ucap Ipang lagi bercerita. Kia pun mengepalkan tanganya.


Ternyata setelah malam itu, meski sudah tidak mengganggu Kia karena, hampir dipergoki Rendra. Dan setelah itu diancam. Jeje mendekati Ipang..


"Sayang, jangan terima coklat itu lagi! Ya. Jangan dekat-dekat Om Jeje lagi!" ucap Kia menasehati Ipang.


"Ya Bu" jawab Ipang.


Mendengar itu kemudian Aslan menatap Kia menelisik.


"Apa Jeje pria di malam itu?"


"Hah!" tanya Kia lagi.


"Pria yang hampir memaksamu?" tanya Aslab lagi.


"Abang tau dari mana?"


Aslan kemudian tersenyum.


"Semua hal yang terjadi padamu sebelum dua minggu terakhir ini aku tau semuanya" jawab Aslan di luar sepengatahuan Kia.


"Maksud Abang?"


"Sudahlah ayok kita berangkat ke rumah Kakek" jawab Aslan mengalihkan tidak ingin memberitahu Kia kalau sebelum Rendra dan Aslan sibuk. Aslan memata-matai Kia.