
“Terima kasih Umma!” tutur Kia lembut sembari memberikan senyum manisnya.
Bu Arini membalasnya tersenyum penuh dengan kedamaian dan kehangatan. Bu Arini kemudian mengelus lengan Kia lembut.
“Hidup tidak akan berwarna jika tidak ada cobaan, cinta tidak akan bisa dibilang hebat jika belum melewati ujian. Umma banyak beharap padamu, bimbing Tholeku ini ya! Tegur dia kalau salah, temani dia dalam perjalanan hidupnya, dia anak yang kesepian” tutur Umma bijak ke Kia menitipkan Aslan.
Kia mengangguk dan tersenyum, sementara Aslan manyun dan berdecak.
“Aslan yang bimbing dia Umma! Aslan nggak kesepian kok!” jawab Aslan selalu tidak mau direndahkan.
“Yaya. Pesan Umma, jadilah pasangan yang tangguh, jangan mudah goyah saat diterpa angin. Ingat Aslan ini pernikahan keduamu, jika dulu pilihan Papamu, sekarang dia pilihanmu. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri!” tutur Umma lagi sekarang menasehati Aslan.
“Siap Umma!” jawab Aslan memperagakan tanda hormat, Aslan berusaha bersikap hangat pada orang tuanya.
Satu tahun terakhir ini, sejak kunjungan terakhir Aslan memperingati kematian ibunya, Aslan jadi lebih sering curhat ke Umma. Padahal dulu, Aslan hanya akan ke makam ibunya setahun sekali tanpa mampir, atau mampir tapi tidak menginap. Aslan sedikit mengobrol, yang paling mengerti hanya Mbok Mina dan Rendra.
Itulah sebabnya, Umma tidak pernah sempat bercerita apapun. Kakek dan nenek mereka pun tidak berani mencampuri urusan Nyonya Andini dan Tuan Agung mengenai keputusan mereka yang merahasiakan identitas Aslan.
Bagi keluarga Umma, mereka cukup tau diri sampai mana batas tindakan mereka sebagai keluarga. Mereka percaya Aslan hidup dengan baik bersama ayah dan ibu tirinya.
Aslan yang dulu dingin, pergaulanya dibatasi oleh Tuan Agung dan Nyonya Wina. Awalnya Umma sempat sedih dan berkecil hati atas sikap Aslan yang terkesan jauh pada saudara ibunya sendiri.
Seiring berjalanya waktu, Aslan dan Umma saling mengerti. Umma mulai tahu kalau Aslan dididik dengan cara yang salah. Aslan juga mulai tahu kalaudirinya masih mempunyai keluarga selain keluarga Rendra. Meski sifat Aslan masih dingin, Aslan mulai bersikap baik dan mengenal Umma.
Bahkan suatu hari, Aslan membawakan teman untuk Umma. Satu tahun setelah suami Umma meninggal. Aslan menyerahkan Kikan untuk dijadikan anak angkat Umma.
Aslan menemukan Kikan menangis sendirian, menyadari kepergian ayah dan ibunya. Mereka meninggal dalam insiden kebakaran salah satu kantor di perusahaan Aslan.
Saat itu ada 10 korban kebakaran di pabrik Aslan. 5 orang dari mereka meninggal. 2 orang itu adalah orang tua Kikan, ibu Kikan seorang pelayan kebersihan dan ayah Kikan seorang petugas keamanan.
Satu orang penting dari 5 orang meninggal itu adalah mantan supir Tuan Surya yang dipindahkan menjadi petugas kebersihan. Supir itu sempat mengundurkan diri, tapi Ny. Andini yang memintanya untuk tetap bekerja Bu Andini menyukai kinerja bapak itu.
****
“Kikan baru tahu lho Kak kalau Pangeran itu anak Kak Aslan!” celetuk Kikan di sela-sela obrolan Umma, Kia dan Aslan.
Kia mengangguk.
“Iya dia anak kami, besok tonton dia ya! Atau mau ikut kami ayuk, ikut liat penampilan terakhirnya!” jawab Kia.
Kikan melirik ke Umma, Umma menggerakan bibirnya memberi kode, kalau mau berlibur pas resepsi Kia, harus selesaikan tugas dulu.
“Kikan nonton dari rumah aja Kak!” jawab Kikan.
Setelah berbosa- basi, mereka kemudian berpelukan. Kia dan Aslan berpamitan pada Umma dan Kikan selepas Umma selesai bercerita.
Tujuan aslan dan Kia sekarang ke makam ibu Andini. Kebetulan makam ibu Andini lebih dekat dengan jalan raya menuju ke rumah Kia, jadi mereka ke makam sekalian pergi.
“Kami pamit Umma!” tutur Kia lagi memeluk Umma.
“Hati- hati ya!” jawab Umma mengelus pundak Kia.
Setelah itu Kia berpamitan dengan Kikan, begitu juga Aslan.
“Kok kakak sekarang nggak pakai sopir dan nggak pakai mobil sih?” ceplos Kikan saat Aslan dan Kia berjalan ke jalan raya menunggu becak motor pesananya.
Umma dan Kikan baru sadar, tidak ada pengawal atau kendaraan bagus. Biasanya Aslan mampir, kalau tidak dengan Rendra Aslan di antar sopir, tapi tidak menginap.
“Biar romantis!” jawab Aslan mengedikkan mata beralasan.
“Hoh?” Kikan masih menatap curiga dengan alasan Aslan. Masa iya hanya biar romantis Aslan rela bersusah payah.
“Becak motornya udah datang, kita pamit ya! Daah” pamit Kia mengulaskan senyum memotong rasa penasaranya Kikan.
Becak motor yang dinaiki tetangga Umma datang, Aslan memang meminta tolong Umma yang carikan, toh mereka hanya akan berjalan ke makam. Untuk pertama kalinya Aslan naik becak motor bersama Kia.
“Hati – hati Kaak!” seru Kikan melambaikan tangan.
Sebelum pulang, saat Aslan berlibur di luar Negeri Aslan memang sempat menelpon Umma, menceritakan niatnya menceraikan Paul. Asan juga sempat menceritakan tentang Kia, tapi Aslan tidak sampai menceritakan kalau Aslan melepaskan Nareswara.
****
“Maaf ya Pak kalau berat!” tutur Kia ke Bang Bentor.
Saat Aslan naik, Aslan menginjak ujung becak tergesa. Pak Bentor hampir kehilangan keseimbangan dan Bentornya hampir nyungsep. Apalagi Bang Bentornya lebih kurus dan pendek dari Aslan.
“Nggak apa- apa Mbak! Tadi bapaknya salah injak aja saya juga nggak siap nahan.” jawab Pak Bentor ramah.
Aslan yang pertama naik becak motor, agak tersinggung. Dia manyun dan tidak terima dianggap berat.
“Makasih ya Pak. Ini kuat kan Pak kita naikin berdua?” tanya Kia lagi.
“Kuat Mbak, jalan ya!”
“Ya!” jawab Kia.
Pak Bentor pun melajukan mesinya setelah Kia dan Aslan naik.
“Kenapa sih cemberut gitu?” tanya Kia ke Aslan dengan tatapan centilnya.
“Apa sih? Abang nggak berat tau, Abang salah injak aja tadi, bapaknya ngalamun!” sanggah Aslan masih tersinggung dibilang berat.
“Kok nggak nyadar sih, Abang berat sungguhan!” jawab Kia.
“Taunya? Kan kamu selalu nolak, kalau Abang mau naikin kamu! Mana tau beratnya Abang.” jawab Aslan balas meledek Kia nakal.
“Ishh “ sontak Kia langsung cubit paha Aslan.
“Auw, sukanya KDRT!” jawab Aslan mesra.
“Kalau ngomong itu disaring, abang itu berat nyatanya tadi mau jomplang becaknya!” tutur Kia manyun seperti biasa.
“Cup!” masih di dalam becak Aslan mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Kia yang manyun.
“Iya udah diem!” bisik Aslan setelahnya.
Kia jadi diam. Aslan tersenyum, tangan satunya meraih tangan Kia, tangan satunya dijulurkan merangkul Kia agar duduk nyaman di becak yang sempit itu.
Mereka berdua kemudian menikmati perjalanan naik bentor, melewati jalananan yang berkelak-kelok dan naik turun gunung. Kanan kiri mereka bukit- bukit perkebunan.
Meski matahari terik tapi suasananya tetap dingin. Teriknya matahari tidak membuat panas tapi membuat pemandangan hijau terpampang jelas dan cerah. Suasana perjalanan yang sangat indah.
“Indah banget ya Bang!” ucap Kia.
“Kamu suka?” tanya Aslan.
“Huum!”
“Besok kita ajak Pangeran ke sini, kita liburan yang lama di sini!” jawab Aslan.
“Janji ya!” jawab Kia.
Aslan mengangguk, kemudian mendekat ke telinga Kia.
“Tapi kalau pas kamu nggak menstruasi ya!” bisik Aslan nakal dan tersenyum sehingga membuat Kia melotot.
“Hemmm, apa hubunganga?” tanya Kia berdehem.
“Ipang kan mau adek, Sayang! Di sini suasana pas, kalau kamu lagi kaya sekarang Abang kesiksa.” jawab Aslan lagi.
Aslan kemudian menagkap tangan Kia dan menggenggamnya. Aslan tidak berhenti hanya menggenggam tangan Kia, tapi membawa tangan Kia menyentuh sesuatu yang terlihat menonjol di celananya itu. Sehingga membuat Kia merasa aneh.
“Abang!” pekik Kia menyadari Aslan mulai mes*m.
“Dingin Sayang, jadi dia hidup, minta dipegang kamu!” jawab Aslan nyengir.
“Hissh!” Kia langsung mengedikan matanya dan menutup mulut Aslan. Takut- takut Bang Bentor dengar. Sempat- sempatnya di becak, Aslan begitu. Aslan malah senyam- senyum.
“Malu tau di dengar orang! Mau ke makam juga!” bisik Kia lagi.
Aslan tidak menjawab hanya merapatkan tubuhnya ke Kia sehingga Kia kesesakan. Untungnya Tuhan baik ke Kia, Bang Bentor mematikan mesinya dan becak berhenti.
“Pesarean Giriloyo kan Pak?” tutur Bang Bentor.
Aslan menelan ludahnya kecewa, perjalanan yang menyenangkan di atas becaknya harus berakhir. Sementara Kia bahagia.
“Iya Pak!” jawab Kia bersemangat.
Kia kemudian turun.
“Langsung melangkah ke tanah Bang! Jangan injak kayunua. Nanti nyungsep lagi!” tegur Kia memberitahu cara Aslan turun.
“Ya!” jawab Aslan patuh.
“Berapa Pak?” tanya Aslan ke Bang Becak masih ketus.
“20 ribu aja Pak!” jawab Bang Becak sopan dan agak takut.
Jika ke Aslan manggilnya bapak, ke Kia Mbak. Meski Aslan tampan tapi Aslan nggak senyum dan terlihat serius. Jadi Bang Bentor takut dibilang sok akrab kalau manggil Mas.
Aslan memberikan uang 50 ribuan sambil manyun. “Apa aku setua itu dia memanggilku Pak?” batin Aslan kesal.
“Yang Pas aja Pak!” ucap Bang Becak lagi tambah bikin Aslan kesal.
“Bawa aja!” jawab Aslan dingin.
“Terimakasih!”
“Makasih juga ya Pak!” imbuh Kia ramah.
Aslan pun semakin manyun dan berjalan meninggalkan Kia.
"Centil banget sih!" gerutu Aslan kesal.
“Ih kenapa sih? Bang tungguin!” panggil Kia mengejar Aslan.
“Bete!” jawab Aslan.
“Kenapa sih? Bete bete?” tanya Kia heran.
“Senyum- senyum aja terus sama tukang becak! Biar dipanggil Mbak!” jawab Aslan cemburu.
“Astaga, abang cemburu?” tanya Kia tertawa.
Ternyata Aslan sangat kekanakan dan sensitif.
“Hmmm!”
“Lah... Kia kan hanya bersikap sewajarnya, Abanh! Terus Bang becak itu juga wajar kan panggil Kia Mbak, Kia kan masih muda dan cantik!" jawab Kia percaya diri semakin buat Aslan kesal.
“Ya kecentilan aja terus. Kalau ke kamu Mbak harusnya ke Abang, Mas apa Bang? Bukan Pak!” protes Aslan lucu.
Kia pun semakin tertawa dibuatnya. Langkah mereka tiba-tiba terhenti di depan sebuah makam yang sekelilingnya dipagar dengan batuan indah dan tengahnya rumput rapih dengan ujung ada tanaman kamboja kecil.
Kia pun menahan tawanya.
“Apa kamu mau menertawakanku di depan ibuku?” tanya Aslan dingin.
Tiba- tiba dada Kia bergemuruh, saat menatap pusara yang di ujungnya tertulis nama Andini. Mendadak mulut Kia tercekat. Suasananya menjadi hening seketika. Kia kemudian mempunyai ide mencairkan suasana.
“Assalamu’alaikum Bu! Anakmu yang cemburuan dan ingin dipanggil Mas padahal udah tua ini datang!” tutur Kia ingin membuat suasananya tidak mellow, lalu Kia melirik ke Aslan tersenyum meledek.
“Assalamu’alaikum Mom, anakmu yang tampan ini datang, aku datang bersama menantumu yang suka menyiksaku! Dia orangnya, ada di hadapanmu Mom!” tutur Aslan ikut- ikutan meledek Kia.
Kia pun menoleh ke Aslan dan mencubitnya lagi.
“Siapa yang suka nyiksa enak aja!” bantah Kia.
“Ssst udah jangan berisik! Ayo duduk! Nanti Ibu marah” jawab Aslan mengajak duduk di hadapan makam. Seakan mereka sedang berhadapan dengan Bu Andini yang masih hidup dan mengawasi mereka yang bertengkar.
Mereka kemudian duduk, mereka terdiam, suasana hening lagi. Aslan menyentuh makam ibunya, menatap sejenak papan nama di ujung makam itu.
Sesaat tatapan mata Aslan kosong menerawang jauh ke masalalunya. Aslan teringat cerita Umma, bayangan ibu Aslan yang cantik dan menyayanginya datang.
Seketika itu mata Aslan berkaca- kaca. Aslan tidak bisa menyembunyikan perasaanya. Ada rasa kerinduan yang besar, yang Aslan pendam. Rindu hangtanya pelukan dan belai lembut dai ibunya.
Ada banyak tanya juga yang ingin Aslan lontarkan meski tak akan pernah didengar. Aslan juga marah dan kecewa pada ibunya, kenapa Bu Andini tidak katakan sejak awal kalau Tuan Agung bukan ayahnya.
Tidak bisa dibendung dan disembunyikan lagi. Aslan menunduk dan menitikan air mata di atas pusara ibunya. Kia menjulurkan tanganya, mengelus bahu Aslan pelan.
“Kita doa ya buat Ibunya Abang!” bisik Kia lembut.
Aslan terus menunduk sesenggukan. Kia pun diam memberikan kesempatan ke Aslan menumpahkan segala emosinya. Lama Aslan menunduk sehingga Kia merasakan ada semut yang berjalan ke kakinya dan menggigitnya.
“Ishh!” reflek Kia berusaha mengusir dan menggaruk kakinya. Mendengar Kia mengeluh, Aslan jadi tersadar.
“Apa sih?”
“Banyak semut Bang!”
“Hmmm... ya udah doa bentar abis itu kita ke rumahmu!” jawab Aslan
“Ya. Kia amin- amin aja ya! Kan Kia lagi berhadast!”
“Ya!” jawab Aslan.
Aslan pun melafalkan doa ziarah kubur secara singkat, karena istrinya sudah bentol- bentol digigit semut. Detelah membersihkan dedaunan kering, mereka segera beranjak pergi.
Karena jarak dari makam ke jalan yang ada akses angkutan umumya dekat, mereka jalan kaki. Untung di rumah Umma ada tas punggung, sekarang mereka menggunakan tas punggung, bukan koper lagi. Jadi saat dibawa jalan berdua tidak merepotkan.
“Ternyata menikmati perjalanan dengan jalan kaki berdua begini nyaman ya Yang? Kamu suka nggak?” tanya Aslan berniat merayu Kia.
“Nyaman karena deket, coba jalan satu kilo, pasti Abang ngeluh, kakinya pegel- pegel!” jawab Kia malah di luar ekspektasi Aslan, bukanya terharu dan berbunga malah menghina.
“Plethak!” Aslan langsung menjitak kepala Kia kesal.
“Kok malah nyakitin sih?”
“Kaki Abang kuat!”
“Yaya!” jawab Kia tidak mau berdebat karena angkutan desa mereka datang.
Mereka pun naik angkot menuju ke terminal, agar mendapatkan kendaraan yang bisa mengantar mereka ke rumah Kia.
Untungnya angkutan sepi, jadi Aslan bisa duduk nyaman di samping sopir. Kalau tidak, Aslan pasti sudah marah- marah.