
Ipang memeluk Aslan erat, menjemput janji dari sesosok yang kini dia jadikan panutan, sesosok yang dia rindukan.
Begitu juga Aslan, melepas rindu dari sebagian hidupnya, yang selama ini pergi. Bagian dari tubuhnya yang selama ini membuatnya gelisah, merasa ada yang hilang, membuat hidupnya selalu merasa ada yng kurang dan kini dia temukan.
Aslan pun langsung menggendong Aslan dalam dekapan dadanya. Ipang juga mengalungkan tangan ke leher Ayahnya itu.
"Ayah kenapa baru datang?" tanya Ipang ke Aslan.
"Katamu Ayah harus nikahin ibumu. Ayah pergi untuk itu, ayah tepati janji ayah" bisik Aslan dengan ekspresi nakalnya melirik ke Kia, Aslan melatih anaknya berkompromi.
"Apa ayah berhasil berbaikan dengan ibu?" tanya Ipang ceria ke Aslan
Aslan mengangkat alisnya, mengerlingkan mata bahagia. Memberi berita gembira pada kawan kecil sekaligus duplikas dirinya.
"Lihatlah ayah datang bersama ibumu, ibumu sudah jinak sama ayah" bisik Aslan lagi.
"Hihihi asik. Berarti ayah dan ibu akan menikah?" tanya Ipang dengan ekspresi girang.
"Iya dong!" jawab Aslan lagi
Lalu Ipang mengkerucutkan telapak tanganya dan diarahkan ke kuping Aslan.
"Apa nanti kita akan berlibur bersama, tidur bersama beranang dan bersama?" tanya Ipang ingat janji ayahnya waktu itu.
Aslan pun mengangguk mantap.
"Apapun yang anak ayah inginkan bersama. Akan ayah kabulkan yang penting anak ayah dan ibu Ipang bersama ayah" ucap Aslan keras.
"Yes!" jawab Ipang bahagia dan memeluk ayahnya dengan sangat erat.
Mereka berdua mengobrol sangat asik. Seakan dunia milik mereka berdua. Pertemuan yang dinantikan sejak lama, membuat mereka lupa semuanya. Bahkan Ipang lupa tentang Alena dan ibunya.
Ya, normalnya anak kecil, memang begitu. Selesai bertengkar mereka akan melupakan kesedihanya. Kecuali menemui hal yang menyakitkan dirinya itu berulang.
Saking asiknya mereka berdua. Mereka tidak sadar, orang yang sedang mereka bicarakan tampak cemberut di cueki. Dan Kia justru beradu pandang dengan laki-laki yang memandang nakal ke Kia.
Semua perlakuan menjengkelkan dan menyakitkan dari Jeje ke Kia masih diingat jelas. Kia pun ingin memukul telak penghinaan Jeje. Meski menelan ludah sendiri, dan karena dari tadi jual mahal menolak Aslan.
Kini Kia sendiri berinisiatif. Kia menelusurkan tanganya ke pinggang Aslan. Seakan memeluk dan sedikit bersandar. Merasa ada yang berjalan di pinggangnya Aslan pun kaget. Menolehnya dengan syok. Tapi bahagia.
"Ngobrolin apa sih? Kok ibu nggak diajakin?" tanya Kia sok akrab.
Ipang sendiri merasa Sangat bahagia. Kedua orang yang selama ini selalu bersitegang, bertengkar dan saling mengejek. Hari ini bisa akur dan tampak mesra.
"Rahasia!" jawab Ipang nakal.
"Oh gitu ya? Ibu nggak dikasih tau!"
"Ini urusan laki-laki Bu" jawab Aslan.
Kia pun melirik ke Jeje. Jeje tampak cemberut dan mengeratkan rahangnya. Kia tampak puas.
"Aku akan punya keluarga. Aku akan menikah dan kamu tidak akan bisa melecehkanku" batin Kia puas dalam hati.
"Sayangnya ayah udah makan belum?" tanya Aslan ke Ipang.
"Udah yah. Tapi kalau diajak makan lagi Ipang mau, apalagi bareng ayah dan ibu" jawab Ipang jujur.
"Oke, kita makan, dan ayah ada hadiah buat kamu!" ucap Aslan
"Yeeey, terima kasih ya Alloh" jawab Ipang girng masih dalam gendongan Aslan. Melihat tawa anaknya, Aslan pun langsung menciumi, pipi leher dan tubuh Ipang dengan gemas.
Ipang pun berespon kegelian dan Bahagia. Ipang mengeratkan tanganya yang menggantung di leher Aslan. Ipang terus menempel pada ayahnya. Mereka tampak menjadi keluarga yang sangat bahagia.
"Tapi ijin dulu kali Yah" tutur Kia memberitahu ayah dari anaknya itu.
Masih dengan menggendong Ipang Aslan menghampiri para pemain musik.
"Permisi. Selamat siang Mas!" sapa Aslan.
"Selamat siang Tuan Aslan!" sapa Jeje dan yang lain mengenal Aslan sebagai pemimpin ITV dan Nareswara yang selama ini sering nongol di acara-acara.
Mereka masih menganggap Asla petinggi. Jeje pun segan. Mereka belum ada yang tahu kalau Aslan dan Paul bercerai dan perhari ini Aslan mundur dari jabatanya.
"Siang, Tuan Alvin Bagaskaranya dimana?" tanya Aslan.
"Beliau sedang keluar kota. Mengantar istrinya ke acara nikahan saudaranya Tuan. Kebetulan hari ini beliau menugaskan kami berlatih dengan peserta bintang kecil" jawab Jeje.
"Ok. Aku akan bawa anakku, keluar sebentar. Setelah maghrib aku kembali" ucap Aslan sopan meminta ijin, ke pelatih Ipang. Sebagai orang tua Aslan pun memakai adab tatakerama.
"Silahkan Tuan!" ucap Jeje mempersilahkan.
Aslan pun mengangguk. Lalu mereka berbalik, Kia pun mengekor dan memegangi pinggang Aslan. Dan Ipang dengan tingkah polosnya terus menempel pada ayahnya. Setelah sampai di luar Kia melepaskan tanganya.
Aslan kemudian mendelik.
"Kok dilepas Sayang? Abang seneng lho kalau kamu mesra seperti tadi" bisik aslan menaikan alisnya.
"Ish" Kia yang memnfaatkan Aslan tidak bisa menjawab dan mengelak.
Kia ingin cerita tentang Jeje. Tapi Kia memikirkan akibatnya. Ipang belum selesai mengikuti ajang bintang kecil itu, kalau Aslantau tentang siapa Jeje itu. Pasti Aslan tidak terima dan akan membuat masalah.
Jika melibatkan Tua Alvin dan orang lain apalagi awak media. Kia tidak mau masalalunya terekspos. Saat Ipang, Aslan dan Kia keluar pun. Para anak buah Tuan Alvin Bagaskara bergosip.
"Ternyata Tuan Aslan punya dua istri. Pantas anak itu mirip denganya"
"Tapi kenapa waktu di audisi anak itu bilang tidak punya ayah ya?"
"Iya, aneh sekali"
"Tapi Pangeran tampak sangat dekat dengan Tuan Aslan"
"Apa Pangeran waktu audisi disetel agar terlihat menarik?"
"Mungkin saja"
"Seperrinya tidak begitu!" ucap Jeje di tengah percakapan temanya dengan tatapan menyeringai.
"Apa maksudmu?"
"Lihat saja nanti. Ini menyenangkan untuk kita kulik" ucap Jeje lagi. Mereka memang suka membuat sensasi yang bisa menghasilkan uang.
****
Aslan mengajak anak dan istrinya pergi ke restoran elit di daerah situ. Mereka kemudian memesan makanan da makanan bersama. Karena Aslan dan Ipang sama-sama tidak menyukai daging sapi mereka memilih makanan dengan menu sop dan seafood.
Seperti biasa, Kia sibuk menatakan dan menyiapkan makanan Ipang. Makanan Kia di mejanya dibiarkan tanpa disentuh. Melihat hal itu Aslan jadi bersimpati.
Aslan kemudian menyodorkan sendok berisi makanan ke Kia.
"Kamu juga perlu makan Bu, Aak" ucap Aslan memanggil Kia dengan sebutan Bu. Karena ada Ipang.
Kia tertegun. Aneh rasanya Kia disuapi Aslan.
"Aak Bu" ucap Ipang juga menyuruh ibunya makan.
Kia pun membuka mulutnya dan makan. Hari Itu Kia pun makan disuapi Aslan dan Kia menyuapi Ipang. Sebenarnya Ipang bisa makan sendiri. Tapi ini momen langka, seumur hiduo Ipang ini moment pertama Ipang bertiga bersama ayah dan ibunya dengan suasana hangat. Ipang mau, mengambil kesempatan. Ipang mau bermanja