Sang Pangeran

Sang Pangeran
121. Coklat Panas


"Dia pulang juga?" batin Kia mendengar langkah Aslan.


Walau sudah memejamkan mata, Kia masih mendengar dan terjaga. Dalam kamar gelap itu Kia berbaring miring memeluk Ipang, Ipang juga tampak nyaman berlindung dalam dekapan tangan hangat ibunya.


"Aku bangun dan menyambutnya nggak ya? Dosa nggak ya? Ya Tuhan aku sudah jadi istrinya gimana ini? Gimana ini? Haruskah aku bangun dan menyapanya? Kalau dia minta aku melakukan itu gimana? Nggak, ku belum siap. Pura-pura tidur ajalah!" batin Kia lagi masih pura-pura tidur.


Kia mendengarkan langkah Aslan dengan degub jantung yang iramanya lebih keras, Kia mempertajam pendengaranya dengan baik. Memperhatikan dengan seksama kemana langkah Aslan. Karena malam sunyi, suara sepatu Aslan terdengat keras, ternyata menjauhi kamar Ipang. Aslan menuju ke kamar Kia.


"Hihi dia mencariku? Sukurin Lo, aku di sini!" Kia malah tersenyum kecil menertawai Aslan sambil memeluk Ipang.


"Dasar, katanya anak nomer satu, pulang aja nggak langsung ke sini kan? Padahal baju dan barang dia di sini semua! Sabar ya Nak, liat tuh ayahmu, dia tidak langsung mencarimu!" cibir Kia lagi menciumi kepala Ipang yang ada di dekapanya.


Kia memilih memejam matanya, dan cuek terhadap suaminya itu. Tidak lama, Kia mendengar langkah Aslan lagi mendekat ke kamarnya. Kia menegang dan berakting tidur sebaik mungkin.


Ceklek


Aslan menyalakan saklar lampu. Kia mendengarkan Aslan mendengus kesal. Masih dengan akting tidurnya, Kia berusaha bernafas biasa saja dan merapatkan kelopak matanya.


Rupanya Aslan mendekat ke Kia. Duduk di samping Kia, meski tak membuka mata dan melihatnya, Kia bisa merasakan kedatangan kedatangan Aslan, seperti ada hembusan hangat mendatanginya.


"Cup"


Aslan mencium kepala Kia dan membelai rambut Kia dengan lembut. Sungguh, hati Kia langsung meleleh, meski hanya kecupan kecil, Kia seperti diberi aliran larva panas dari gunung berapi. Seluruh tubuh Kia langsung menghangat Kia merasa bergetar, tapi Kia berusaha tetap pada posisi pura-pura tidur.


Aslan bangun dan mengalah hendak tidur sendiri. Aslan berdiri dan berjalan menuju ke pintu. Aslan keluar pintu tanpa lupa mematikan lampu terang.


"Hoh.. " Kia membuka mata dan menghela nafasnya.


"Ck. Kenapa tidak bertanggung jawab sekali, nyalain lampu asal nggak matiin lagi!" gerutu Kia kesal.


Kia menyingkap selimutnya bangun. Kia hendak berjalan mematikan lampu, tapi langkah Aslan terdengar berbalik. Kia buru-buru kembali ke posisinya. Sayangnya Kia lupa menutup tubuhnya dengan selimutnya


Aslan kembali ke kamar Ipang berniat mematikan lampu. Tatapan Aslan pun jeli, Aslan tersenyum nakal melihat Kia yang berbaring. Selimutnya tampak terlepas, Kia juga tampak kaku, tidak seperti orang tidur.


"Hemmm... Rupanya kamu mau bermain -main dengan suamimu ini?" batin Aslan menyadarkan tubuhnya di tembok, bersedekap dan tersenyum nakal.


Kia tertangkap basah bohong, bahkan kini Aslan bisa lihat meski terpejam tapi bola mata Kia yang terlindung dari kelopaknya itu bergerak.


Aslan kemudian berjalan maju ke Kia lagi. Aslan duduk dengan santai di samping Kia. Karena posisi Kia tidur miring dan tidak lagi mengenakan selimut, gitar spanyol terpampang tegas di hadapan Aslan. Kia juga menggunakan piyama bahan satin.


"Sayang..." bisik Aslan ke telinga Kia.


"Huuft... apa- apaan ini?" gerutu Kia dalam hati mendengat bisikan Aslan di telinganya.


"Cup" Aslan kembali memberikan kecupan basah di bawah telinga Kia.


Aslan rupanya sangat pandai membuat Kia mati kutu. Itu tempat lemah Kia yang langsun bisa membuat seluruh syaraf dan otot di tubuh Kia melemas tak berdaya.


Untungnya, Kia tidur di ujung ranjang, jadi tidak ada tempat untuk Aslan ikut beraring.


"Aku tau kamu belum tidur, pindah yuk, pumpung Ipang dan Daffa tidur!" bisik Aslan lagi dangan tanganya berjalan menyusuri gitar spanyol yang terbungkus piyama berwarna biru laut.


Kia masih berjuang menahan kelopak matanya tertutup agar bisa selamat dari terkaman Aslan. Tapi tangan nakal Aslan yang bergerilnya membuat Kia tak kuasa. Kia menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara.


"Hitungan, 3 mundur nggak buka mata, Abang gendong paksa lho!" bisik Aslan lagi di telinga Kia.


Kia menyerah, tanganya pun langsung bergerak meraih tangan Aslan dan menguncinya agar tak bergerak semakin liar, karena kini sudah mulai menyusup ke piyama atas Kia.


"Hhh.. " Kia pun membuka matanya dan mengkerucutkan bibirnya sambil menurunkan tangan Aslan agar keluar.


Aslab tersenyum menang melihat Kia cemberut ke arahnya.


"Ssstt jangan keras-keras. Nanti Ipang bangun!" jawab Kia.


"Ya udah, bangun!" jawab Aslan meminta Kia bangun.


"Hemm." Kia bangun dan menuruti mau Aslan.


Dengan hati-hati suami istri itu beranjak, mematikan lampu terang, membiarkan hanya lampu temaram yang menyala, lalu menutup pintu kamar dengan pelan.


Masih di depan pintu, Aslan tidak menyiakan kesempatan. Aslan langsung memeluk Kia dari belakang dengan lembut. Mencium leher Kia, dan menopang dagunya di bahu Kia. Aslan benar- benar mendapatkan mimpinya, pulang ke rumah, melepas penat, menggantinya dengan kehangatan yang penuh candu dan cinta itu.


Karena sudah menjadi suami istri, Kia membiarkanya. Kia menyambut pelukan Aslan dengan menepuk lembut tangan Aslan yang melingar di perutnya.


"Kenapa pura-pura tidur, hhh?" bisik Aslan.


"Kia beneran ngatuk Bang!" jawab Kia.


"Hemm, sekarang juga ngantuk?" tanya Aslan lagi.


"Jadi dibuatin minuman hangat nggak nih? Mau berdiri di sini terus?" tanya Kia lagi.


Aslan kemudian melonggarkan pelukanya.


"He.. buatin minum. Abang juga lapar!" jawab Aslan dengan muka jujurnya.


Saat Manda dan yang lain makan Aslan justru menunggu Tuan Agung. Jadi Aslan sekarang kelaparan, apalagi menempuh perjalanan panjang membelah hujan yang deras.


"Huh?" Kia mengernyitkan dahi dan matanya sambik tersenyum melihat ekspresi suaminya yang lapar.


"Iya, buatin yang seger- seger, kaya yang kamu masak waktu itu!" ucap Aslan lagi mengingat waktu jemput Kia.


"Mi instan?" tanya Kia.


"Terserah lah apalah itu, yang penting yang panas dan pedes"


"Ya. Tunggu!" jawab Kia mengangguk tersenyum


"Cup, makasih Sayang!" ucap Aslan dan mencium kepala Kia lembut.


Kia ke dapur, sementara Aslan duduk di sofa dan menyalakan tivi. Aslan menggulung kakinya nyaman dan mendengarkan siaran berita olahraga.


Walau hanya sehari, Aslan benar-benar sangat bahagia. Satu harinya ini jauh lebih berharga dan mampu menghapus 7 tahun waktunya yang berlalu bersama Paul.


Aslan benar- benar merasakan mempunyai istri dan rumah untuk berpulang walau mereka baru menikah secara agama. Sementara dulu Aslan merasa hampa meski jelas di atas kertas putih bersegel dia diakui dan sah menjadi suami.


Tidak menunggu lama Kia datang membawa secangkir susu coklat panas yang masih mengeluarkan asap. Kia meletakanya dengan lembut di nakas dekat Aslan.


"Nggak ada kopi Bang, coklat panas mau kan?" tanya Kia lembut.


"Itu kesukaan Abang, kok. Makasih ya!"


"Syukurlah, tunggu minya jadi ya!" ucap Kia lagi.


"Huum!" jawab Aslan.


*****


Kasih like dan koment ya Kakak. Insya Alloh hari ini double Up.


Makasih udh baca. Oh ya. Tap loveya sekali aja, kalau udah di tap biarin janga batalin ya hehehe.