Sang Pangeran

Sang Pangeran
232. Umma mau punya cucu lagi


"Gleg!"


Kia menelan ludahnya terbengong. Mendadak lehernya seperti dicekik, kupingnya seperti disambar petir. Nafas Kia tersengal dan aliran oksigen ke otaknya pun terhambat sehingga Kia oleng. Untung Kia duduk jadi tidak terhuyung jatuh.


"Bug... bug....Hohh!" Kia kemudian menepuk dadanya agar nafasnya kembalo normal.


Cyntia pun menunduk malu.


"Eh gue nggak lagi ngimpi kan? Gue nggak salah denger kan?" tanya Kia kemudian sambil menepuk pipinya.


"Nggak!" jawab Cyntia menggeleng pelan dan menunduk lagi malu.


"Hoh...!" Kie menghela nafasnya kasar lagi sambil menyangga kepalanya bingung mau komen apa. Mendadak kepalanya sakit.


Mereka berdua kemudian sama-sama terdiam. Kia masih terus mengatur nafasnya.


"Maafin gue!" ucap Cyntia.


"Gue nggak tahu harus seneng apa sedih denger ini, kepala gue pusing Cyn! Sumpah. Gue butuh minum!" ucap Kia memegang kepalanya yang mendadak pening.


"Kok lo gitu?" tanya Cyntia. "Dia nggak sadar dan gue juga dalam kendali obat, ini kecelakaan. Dia masih cinta sama Meta. Gue nggak mau nikah sama dia!" ucap Cyntia kemudian.


"Huuuft bingung gue mau ngomong apa?" jawab Kia benar- benar syok. Kia terus memegangi kepalanya.


"Gue, gue!"


"Dunia emang kayaknya gila deh. Biarin gue mikir dulu! Lo jangan ngomong!" ucap Kia lagi sekarang sedikit galak.


Cyntia kemudian diam menunduk lagi.


Kia diam sambil berfikir dan mencocokan analisanya beserta kata Kikan.


"Apa Rendra tahu lo hamil?"tanya Kia.


"Tentu saja tidak"


"Hhhhh!" Kia menghela nafasnya kemudian menatap Cyntia lagi.


"Oke gue nggak nyuruh lo nikah sama Rendra. Sekali lagi gue tanya ke lo. Kenapa lo berfikir untuk bunuh diri sih?" tanya Kia lagi.


"Gue nggak bisa mikir, gue sayang sama anak gue, tapi gue juga nggak siap menghadapi karir gue hancur, apalagi kalau ketahuan aku gugurin anak gue. Gue bingung, daripada gue jahat gugurin anak gue. Gue mati sendiri aja!" jawab Cyntia.


"Gila lo ya Cyn, lo kenal Tuhan kan? Lo punya agama kan? Lo bunuh diri, di akhirat lo dimintai tanggung jawab. Oke jujur, tanpa ada kejadian ini,gue malah mau jodohin lo sama Rendra!" ucap Kia kemudian


"What?" pekik Cyntia malah kaget.


"Apa alasan lo nggak mau nikah sama Rendra?" tanya Kia lagi.


"Dia cintanya bukan buat gue, bahkan dia nyentuh gue manggil gue dengan nama Meta. Gue nggak mau itu terjadi di kehidupan gue seterusnya. Gue nggak mau!" jawab Cyntia lagi


"Oke... oke... gue bisa ngerti! Gue nggak maksa. Tapi sekarang gue tanya ke lo. Lo sayang nggak sih sama anak lo?" tanya Kia lagi.


"Sayang!" jawab Cyntia menunduk.


"Lo mungkin sekarang bilang nggak butuh Rendra, tapi anak lo butuh Rendra, Cyn. Sekarang atau nanti!" tutur Kia lebih berpengalaman dari Cyntia.


"Itu kan yang lo bilang ke aku dulu?" imbuh Kia lagi, di saat dulu Kia benci Aslan juga Cyntia yang nasehatin. Giliran Cyntia yang alami Cyntia ngrasain sakitnya merasa mengandung anak dari orang yang menurutnya tidak cinta ke dia dan sakitin dia.


Cyntia diam.


"Gue liat mereka berdua ketemuan di kaffe, gue pernag liat mereka ciuman di kafe waktu gue buntutin Paul" tutur Cyntia lagi


"Dan lo sakit liat itu?" tanya Kia menohok, dan Cyntia diam.


"Liat mataku!" tutur Kia.


"Denger gue. Kasih tahu ke Rendra, atau gue yang kasih tahu? Lo cinta sama Rendra, dan gue yakin Rendra cinta juga kok ke lo!"ucap Kia lagi dengan penuh penekanan.


"Lo tahu darimana?"


"Asal lo tahu, kami mengunjungi Rendra, karena kata Kikan, Rendra patah hati gara- gara Lo! Dia tegas kok bilang ke kita, Rendra putus sama Meta!" tutur Kia meyakinkan.


"Nggak gue nggak mau nikah sama dia!"


"Terserah lo deh. Yang pasti lo harus kasih tau Rendra!" ucap Kia kemudian


"Iya nanti aku kasig tahu!"


"Sekarang!" jawab Kia.


"Kok sekarang?"


"Dia ada di depan. Daritadi juga nungguin lo!" ucap Kia.


"Benarkah?" tanya Cyntia mendadak gugup.


Kia tidak menjawab dan bangun dari duduknya keluar.


Sesampainya di luar semua menatap Kia dengan tatapan tanda tanya. Sementara mata Kia menqtap horor ke Rendra yang hari ini ketampanannya berkurang 70%.


"Gimana Nak? Neng Cyntia bilang apa?" tanya Umma gusar, Umma sungguh sayang Cyntia dan khawatir. Kebaikan Cyntia membuat Umma jatuh hati.


Kia tidak menjawab dan tatapanya tertuju pada Rendra. Kia sendiri bingung, bahagia rencananya berhasil tanpa Kia bersusah payah. Tapi kenapa caranya harus salah begini.


"Tuan Sekertaris Rendra!" panggil Kia.


"Ya Bu Kia!" jawab Rendra.


"Masuklah!" ucap Kia.


Aslan dan Umma jadi bingung.


"Kok Rendra sih, Yang?"tanya Aslan.


Rendra masih terpaku karena agak bingung juga.


"Cepat masuk!" bentak Kia ke Rendra. Rendra mengangguk dan datang ke Cyntia.


Sementara Aslan dan Umma menunggu jawaban Kia.


"Umma!" panggim Kia.


"Ya, ada apa?"


"Mimpi Umma akan jadi kenyataan, Umma mau punya cucu lagi!" tutut Kia.