Sang Pangeran

Sang Pangeran
118. Seperti anak SMA.


Kata seorang guru, sholat itu bukan hanya menunaikan kewajiban, tapi juga bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sholat juga waktu dimana kita bisa bersua, memuji dan mengadu pada Sang Pencipta. Memohon dan memasrahkan apa yang kita ingini.


"Aamiin"


Kia mengusapkan kedua tanganya ke wajahnya yang tampak sembab karena menangis. Mengucap amin atas semua doanya.


Sejak Kia mengetahui Aslan nekad bercerai demi anak dan dirinya, sejak Kia mengetahui seberat apa hari yang Aslan lalui selama ini, Kia sudah memutuskan akan berjuang sampai titik penghabisan menjaga anak dan hubungan mereka agar bisa bahagia.


"Semua akan baik-baik saja!" ucap Kia menanamkan kepercayaan dirinya sendiri tidak sedih lagi. Menunaikan sholat seperti mencharge energi untuknya menghadapi semua permasalahan hidupnya.


Kia menarik ujung horden sedikit, melihat keluar. Halaman yang beberapa waktu lalu menjadi tempat indah, Aslan dan dirinya mengikrarkan tali cinta yang suci di hadapan Tuhanya, kini tampak sepi dengan rintikan hujan yang kelabu.


"WO dan cateringnya ternyata sangat prifesional. Dalam waktu dekat sudah rapi seperti sedia kala," batin Kia lagi.


Tidak seperti di kampung Kia, jika setelah ada acara mereka akan kelelahan rapih-rapih. Kia bahkan tidak menyentuh satupun pekerjaan dan seperti tidak pernah terjadi suatu acara, semua sudah kembali ke sedia kala.


Kia, merapihkan sajadahnya, bangkit menghadap ke kaca hendak mengikat rambut basahnya. Kia menyunggingkan senyumnya saat melihat ke kaca. Ternyata ada tanda cinta yang Aslan tinggalkan di lehernya. Niat Kia mengikat rambut diurungkan. Kia memilih membiarkan rambutnya tergerai.


Setelah mengganti handuk dengan daster nyamanya, Kia meraih ponsel dan keluar kamar menemani anak dan keponakanya bermain. Di ruang tengah rumah bergaya modern itu, Ipang dan Daffa tampak asik bermain robot-robotan.


"Ipang Daffa, di luar hujan lho! Kalian nggak pengen main hujan?" tanya Kia malah menawari anaknya bermain hujan.


"Emang boleh Aunty?" jawab Daffa bertanya.


"Boleh dong!" jawab Kia tersenyum.


"Sungguh Bu?" sahut Ipang.


"Emem!" Kia mengangguk mengerlingkan matanya.


Kia sendiri sangat suka hujan. Jadi tidak ada alasan buat Kia melarang anaknya bermain hujan. Apalagi anak Kia laki-laki. Kia ingin anaknya bebas berekspresi dan mengenal alam.


Buat Kia, hujan yang turun selama ini menjadi teman yang mengerti Kia. Deru derasnya seperti senandung nada pelipur lara, yang menghanyutkan dan menenangkan. Dinginya membuat Kia menjadi tau nikmatnya kehangatan walau hanya dengan selembar kain sarung usang.


"Hore... " seru Ipang dan Daffa. Mereka berdua kemudian melakukan toss bersama.


Kia pun tersenyum bahagia menyaksikan gelak tawa putranya bersama sepupu dari ayahnya itu. Ipang dan Daffa segera melepas kaos atasnya dan berlari ke tempat tadi mereka mengadakan pesta.


Menengadahkan tangan telanjangnya mereka berdua berlarian ke halaman belakang rumah Kia yang tertutup pagar tinggi dan tanaman hias cantik. Ipang tidak menyiakan kesempatan langsung masuk ke dalam kolam yang ayahnya selalu janjikan padanya. Ipang sangat bahagia, kini dia sungguh punya kolam sendiri di rumahnya.


Kia memilih mengawasi mereka dari teras tengah. Duduk di sofa kayu dengan membiarkan kaki mulusnya berselonjor.


Dret... dret...


Ponsel di tangan Kia menyala dan bergetar. Kia pun membuka pesanya. Ternyata dari panitia bintang kecil. Ipang sudah lebih dari 1x 24 jam meninggalkan rumah mentornya.


"Hmm, aku harus bilang ayahnya, Ipang pasti tidak mau disuruh kembali ke atempat latian," batin Kia melihat Ipang dan Daffa masih asik bermain bola di air.


Mulai sekarang, setiap keputusan tentang Ipang, Kia jadi tidak berfikir sendiri dan melibatkan ayahnya. Kan sekarang Kia ada suami, bukan tidak mandiri sebagai ibu, tapi Kia ingin merasakan peranya sebagai istri.


Kia pun mengirimkan pesan untuk suaminya.


"Abang...Ipang gimana? Udah ijin dari kemarin dari rumah Tuan Alvin? Kia antar sekarang atau nggak usah?"


Tidak berjeda, pesan Kia langsung dibaca, suaminya juga tampak langsung mengetik pesan membalasnya.


"Kenapa sih? Jangan jahat sama anak. Biar aja di rumah, jangan diantar! Kamu pengen cepet-cepet berduaan sama Abang ya? Sabar Sayang, kamu masih utang sama Abang! Bisa kok meski ada Ipang juga!" balas Aslan malah bicaranya ngelantur kemana-mana.


Kia langsung mengkerucutkan bibirnya dan menggerakan jarinya dengan gemas. Dasar suami mesum batinya. Membaca pesan suaminya Kia sendiri jadi merinding.


"Ishhh... Abang nih. Nggak ada utang-utang, Abang udah menang banyak. Tunggu release buku dulu, sekarang masih preloved. Kia serius Bang! Dari pihak Pak Alvin telpon Kia nanyain Ipang," balas Kia dengan emot kessal ke suaminya, orang mau bahas serius malah dianggap bercanda.


"Oh, gitu. Udah nggak usah dijawab biar abang yang bilang ke Alvin. Yang penting waktunya perform Ipang datang. Biar di rumah dulu dia!" jawab Aslan lagi.


"Ya Bang. Oh ya, gimana kabar Papah?" tanya Kia perhatian ke mertuanya.


"Tenang aja. Papah udah ditangai dokter profesional kok!" jawab Aslan singkat membuat Kia tidak khawatir.


"Hemmm"


"Abang, belum mandi lhoh Bang, Abang ninggalin sholat lagi ya?" ketik Kia mulai menunjukan peranya, memperhatikan hal-hal terkecil dari suaminya.


"Hehe..." jawab Aslan memberikan emot cium dan tertawa.


"Kok ketawa?" balas Kia.


"Kan belum jadi masuk, Sayang, nggak harus mandi dong?"


"Ya nggak gitu juga, kan Abang udah basah! Wajib mandi!" jawab Kia memberitahu.


"Kok kamu tahu Abang basah? Kamu liat ya?" balas Aslan lagi ingin menggoda istrinya.


Kia yang berniat meluruskan suaminya menjadi laki-laki yang benar, jadi geli sendiri membaca pesan suaminya.


Pertanyaan Aslan, pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab. Udah tau mereka berdua berada di atas ranjang yang sama, tentu saka Kia tau dan melihatnya.


"Udah sih nggak usah bahas. Abang celatlah mandi, ingat sholat, doa buat Papah biar cepet sehat kembali!"


"Ya, Sayangkuh! Kamu doa juga ya, biar papah begitu siuman dia juga sadar dari sifatnya. Mau restuin kita!"


"Hmmm.. Aamiin. Abang mau pulang jam berapa?" jawab Kia mengalihkan pembicaraan suaminya yang travelling kemana-mana.


"Abang nungguin Papah sadar ya. Kunci aja pintunya kalau jam 8 Abang belum pulang!" jawab Aslan memberi pesan.


"Lhoh Papah belum sadar? Berarti papah parah Bang?"


"Masih belum sadar sih! Nggak usah dipikirin, Papa udah sering begini kok!" jawab Aslan tetap santai padahal ayahnya diambang kematian.


"Oke!" jawab Kia mengedikkan matanya sendiri. Suaminya aneh, papahnya nggak sadar masih bisa santai dan bercanda.


Kia mah sebagai menantu hanya bertanya sendiri, anak kandungnya sesantai itu, ya Kia juga ikut santai aja.


"Tapi pintu kamar jangan dikunci ya!" ketik Aslan lagi dengan emot ketawa dan emot cium.


"Ishh... " Kia menutup ponselnya merinding dan ketawa sendiri.


Penganten baru itu, ibarat bunga memang sedang mekar-mekarnya. Belum jadi ditaruh, ponsel Kia sudah menyala lagi. Rupanya Aslan mengirim emot peluk banyak sekali.


Kia membacanya tapi tidak membalasnya, Kia sengaja jual mahal pada suaminya. Meski hanya berupa tulisan lewat pesan whatsap, Aslan berhasil membuat bulu kuduk Kia berdiri. Kia juga tersipu-sipu.


"Ibu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Ipang mengambil ban air di dekat Kia.


Ipang belum tau kalau orang tuanya sedang puber lagi, jadi melihat ibunya senyum-senyum dengan hape agak aneh.


Selama ini Ipang kan tidak pernah melihat ibunya jatuh cinta, yang ada Ipang sering melihat ibunya diam-diam menangis memandangi foto kakek nenek Ipang. Sementara sekarang, ibu Ipang dipenuhi rona kemerahan.


"Ehm!" Kia berdehem malu ke gep anaknya sedang pacaran dengan berbalas pesan seperti anak SMA.


"Ibu menertawai Ipang ya?" tanya Ipang lagi malah baper.


"Nggak Sayang, Ibu senyum karena bahagia liat kalian mainan air. Sepertinya seru!" jawab Kia beralasan.


"Ayo ibu ikut mandi juga!" ajak Ipang.


"Iya Aunty! Ayo ikut berenang!" Seru Daffa.


"Ibu baru selesai mandi Sayang, udah mau sore udahan yuk mandinya!" ajak Kia berhenti ke anak dan keponakanya.


"5 menit lagi, Aunty!" jawab Daffa menirukan orang dewasa mengulur waktu. Mereka masih betah mainan air.


"Hemm. Ya ya!" jawab Kia mengijinkan.