
Setelah bertemu berkenalan dan berbincang, karena memang Mbok Mina berhati baik, keibuan dan ramah, Mbok Mina dan Mba Narti menjadi langsung akrab. Pagi itu mereka berdua pun langsung menjalankan perannya dengan semangat yang menggebu.
Mbok Mina menggerakan tangan tuanya dengan penuh pengabdian, merasa di tolong ibunda Aslan, bahkan dia rela tidak dibayar. Sementara Mbak Narti bersemangat bekerja demi keluarganya. Dia tidak sekolah dan tidak punya keterampilan, jadi pekerjaan dari Cyntia sangatlah berarti buatnya.
Jika biasanya setelah subuh Kia bangun langsung bebersih. Kini saat Kia bangun, lampu dapur Kia sudah menyala. Tampak Mbok Mina sudah ada di dapur, begitu juga Mbak Narti sudah memegang sapu.
“Eh Non Kia sudah bangun?” sapa Mbok Mina melihat Kia keluar kamar sambil berjalan mengikat rambutnya.
“Mbok Mina lagi apa?” tanya Kia.
“Rebus air, Mbok buatin ramuan jamu, Non Kia mau?” tanya Mbok Mina.
“Emang jamu apa Mbok?”
“Ini, jahe sama jeruk, diiris- iris tipis, nanti dikasih madu, terus diseduh pakai air panas, seger Non, Mbok badanya jadi enteng dan ringan buat kerja,” tutur Mbok Mina memberitahu.
“Ohh itu, suka Mbok, Kia suka kok. Mau deh Kia dibuatin juga. Kalau Kia biasanya jeruk sama daun mint Mbok, tapi pakai es nggak pakai air panas,” imbuh Kia.
“Mbok udah tua nggak begitu suka es Non!” tutur Mbok Mina sambil mencuci jahe dan jeruk yang ada di tempat bumbu Kia.
“Heehe iya,” Kia tersenyum mengangguk.
“Masak apa ya Mbok enaknya?” tanya Kia.
“Apa ya Non? Terserah Non Kia aja sukanya apa?” jawab Mbok Mina mengembalikan pilihan ke Kia.
Pagi itu pun untuk pertama kalinya seumur hidup, Kia merasakan mempunyai Mbok. Kia jadi mempunyai teman diskusi hal- hal kecil dalam hal dapur. Kia sangat bahagia dengan kehadiran Mbok Mina.
Setelah mengobrol dan memutuskan, kemudian Mbak Narti yang kebagian berbelanja ke pasar menemani Kia. Kia merasa mempunyai saudara saat berbelanja dengan Mbak Narti. Kebersamaan yang tidak dia dapat, saat bersama kakak Iparnya. Umur Mbak Narti seumuran dengan kakak Ipar Kia, jadi Kia merasa Mbak Narti seperti kakanya.
“Dua kilo cukup kan Mbak?” tanya Kia ke Mbak Narti saat hendak membeli ayam.
“Cukup Non, kebanyakan malah” jawab Mbak Narti.
Selama ini Kia hidup berdua bersama Ipang. Kia selalu masak dengan porsi sedikit. Ini pertama kalinya Kia merasakan rumahnya beranggotakan 4 orang. Jadi Kia sedikit heboh dan berlebihan.
“Ya udahlah, terserah Mbak Narti aja baik belinya berapa? Yang penting cukup, aku nanti juga bawa bekel kerja ya! Sama aku mau jengukin anakku, aku mau bawakan buat dia juga!” bisik Kia memberi tahu.
“Kalau mau bawa buat Pangeran, berarti dua kilo”
“Oke!” lalu mereka pun belanja bahan- bahan membuat ayam kecap dan tumis brokoli. Mereka juga mau membuat tumis ayam suir lada hitam.
Setelah selesai belanja mereka pulang. Karena pasar tradisonalnya dekat dengan komplek perumahan Kia, mereka berdua pun pulang dengan jalan kaki.
Mbak Narti pun sedikit merasa canggung berduaan dengan Kia, dulu mereka tetanggaan. Kia yang menghormati Narti sebagai orang yang lebih tua, kini Narti harus menghormati Kia sebagai majikan.
“Biar aku saja yang bawa Neng,” ucap Mbak Narti meminta barang belanjaan di tangan Kia.
“Kenapa?”
“Ini kan tugasku, biar aku yang bawa”
“Mbak Narti kan juga udah bawa banyak. Kita bagi dua, berat tau. Udah biasa aja!” jawab Kia sambil tersenyum.
“Makasih ya Neng”
“Iyah”
Lalu mereka berjalan dalam hening.
“Oh ya, maaf Neng Kia apa boleh aku bertanya?” tanya Mbak Narti kemudian memecah keheningan.
“Iya, silahkan Mbak”
“Laki- laki yang di foto itu, ayahnya Pangeran?” tanya Mbak Narti.
“Iya, kenapa?” jawab Kia tersenyum getir.
“Oh, maaf soalnya saya nggak dengar kapan kamu menikah dan lahiran, jadi aku bertanya.” Jawab Mbak Narti kemudian.
“Ehm”
Kia pun hanya berdehem dan menelan ludahnya. Lalu mereka saling terdiam lagi. Narti tidak berani bertanya lebih. Dan Kia juga tidak berani bercerita banyak. Karena semua itu adalah aibnya.
“Lambat laun semua orang akan tanya siapa ayah Ipang. Menanyakan statusku, begitu seterusnya sampai Ipang besar. Aku tidak bisa begini terus, aku memang harus menikah dengan Aslan” batin Kia kemudian.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai rumah. Mbok Mina pun menyambut barang belanjaan mereka. Dan mulai pagi itu, yang memasak di rumah Kia Mbok Mina dan Mbak Narti.
Kia kemudian bersiap berangkat kerja. Begitu juga Cyntia. Setelah bersiap berangkat kerja, meja makan pun sudah siap dengan menu sarapan pagi, seperti layaknya orang kaya.
“Makasih ya Mbok udah dimasakin,” tutur Kia terharu karena Kia baru pertama dilayani.
“Sama- sama Non” jawab Mbok Mina.
Saat Kia hendak makan. Ponsel Kia berdering. Kia pun menghentikan makanya dan mengangkatnya.
“Ya, saya segera ke sana” jawab Kia menutup teleponnya.
Kia menggigit bibirnya geram. Lalu berjalan mengambil kunci mobil dan tasnya.
“Lo mau kemana Kia, makan lo belum habis?” tanya Cyntia heran melihat Kia berjalaan dengan emosi. Mbok Mina dan Mbak Narti ikut bingung melihatnya.
“Gue mau ke Ipang” jawab Kia sambil berjalan.
“Pagi begini? Kamu nggak kerja?” seru Cyntia bertanya agak keras karena Kia berjalan tampak buru- buru.
Dan Kia juga tidak menjawab pertanyaan Cyntia. Kia ingin secepatnya sampai di tempat Pangeran. Pengasuh Ipang mengatakan mereka bertengkar sampai Ipang berdarah. Tentu saja sebagaai ibu Kia sangat khawatir dan gregetan.
Kia melajukan mobilnya denga cepat. Sampai lampu merah dia terobos, saking marah dan butanya. Untung jalanan sepi, dan tidak ada polisi. Jadi Kia tidak membahayakan diri dan orang lain. Tapi tindakan Kia tetap salah.
Dan lebih cepat 30 menit dari waktu biasanya Kia sudah sampai di karantina Ipang. Di parkiran terparkir mobil maserati warna silver. Mobil yang jauh lebih mahal dari mobil Pangeran. Kia tau siapa pemilil mobil itu.
Rupanya Paul tiba lebih dulu. Kia pun geregetan ingin segera menemui perempuan itu. Dari kemarin Kia bahkan mencarinya, dan sekarang Tuhan ketemukan mereka.
Kia dengan tergesa- gesa masuk mencari ruang yang disampaikan pengasuk kemana Kia harus datang.
****
“Berani ya kamu menyakiti putriku dan membuat kulinya memar begini, dasar anak ja*ang” dengan tanpa tahu malu begitu melihat pipi anaknya bengkak, Paul menyeret kasar tangan Ipang, dan memarahi Ipang yang masih kecil.
“Kenapa tante hanya menyalahkanku, lihatlah pipiku, dia juga mencakarku. Dan aku hanya membela diri” jawab Ipang berani.
“Diam kamu" bentak Paul mencengkeram tangan Ipang dengan bengis.
"Siapa yang memberimu ijin untuk menjawab. Anak tidak tahu diri. Kamu memang sama saja dengan ibumu, ja*ang, murahan. Tidak seharusnya kamu ada di sini, heran...” omel Paul kasar, tapi omongan Paul terpotong.
“Cukup! Paul!” teriak Kia masuk dengan muka tegang menahaan emosi yang membuncah.
Kia langsung berjalan mendekati Paul, memukul tangan Paul kasar agar melepaskan anaknya. Lalu Kia menampar Paul di depan anak- anaknya.
"Memalukan!" ucap Kia kasar.
Kia lupa diri, karena saat Paul mengatai Ipang lagi, nyali Ipang menciut dan Ipang menangis. Kia menyaksikan hal itu.
Pengasuh berniat mengumpulkan orang tua Alena dan Pangeran, mereka ingin agar orang tua mereka mengerti dan menasehati anak mereka masing- masing. Agar anak mereka bisa akur dan mengikuti kelas dengan baik. Tapi saat Paul datang pengasuh yang tadi menemani mereka sakit perut dan harus ke kamar mandi.
Paul yang saat ada pengasuh tampak ramah dan berbosa basi. Setelah pengasuh pergi langsung menyerang Ipang dengan sifat aslinya.
“Ibu” lirih Ipang lalu mendekat ke Kia dan memegang ujung tunik Kia. Kia kemudian menatap getir ke Ipang.
"Tenang Nak ada ibu" lirih Kia.
Lalu Kia menatap marah ke Paul dan Alena. Paul pun menatap sinis ke Kia. Mata mereka saling beradu dan menyiratkan saling menantang.
“Kau! Kau berani menampar pipi mahalku? Kau akan tau akibatnya” pekik Paul memegang pipinya yang terasa pedas karena tangan Kia.
“Seharusnya kamu malu pada umur dan statusmu ular betina. Kenapa kamu menyerang anak kecil. Ayo keluar! Kita perlu bicara” ucap Kia tajam.
“Kau mengataiku ular betina? Siapa memangnya kamu?” jawab Paul lagi.
“Di sini ada anak- anak kita, keluarlah!” ucap Kia menyeret Paul keluar.
“Lepas! Aku bisa jalaan sendiri!” ucap Paul menghempaskan tangan Kia kasar.
“Kamu boleh menghinaku, tapi tidak dengan anakku” tutur Kia.
“Dasar perempuan pembohong. Memang kenapa kalau aku menghina anakmu, kalian kan sama saja. Sama- sama ja*ang dan murahan” jawab Paul lagi sambil bersedekap dang mengejek Kia.
“Kau mengataiku murahan. Kamu pikir aku tidak tahu kartumu. Alena bukan anak Aslan, anak Aslan adalah anakku, Pangeran! Lalu apa sebutan untuk wanita sepertimu? Yang tidur dan mempunyai anak dari laki- laki yang bukan suaminya? Hah! Apa nama yang pantas untuk anak seperti Alena?” jawab Kia dengan nada geram ke Paul.
Sementara Paul hanya tertawa sinis.
“Alena akan menjadi anak Aslan dan seterusnya akan begitu, semua orang hanya tau Alena anak Aslan, kamu pikir hanya karena anakmu lahir dari benih Aslan kamu bisa bilang dia anaknya? Jangan mimpi!” ejek Paul membel diri.
“Secepatnya akan aku buat Pangeran diakui sebagai anak Aslan. Dan buat kamu, pikirkan bagaimana nasibmu, pikirkan bagaimanaa kamu jelaskan pada anakmu siapa ayahnya, kamu sudah bukan lagi istri dari Aslan kan?” balas Kia mengejek dengan berani.
Dalam hati Kia sangat bulat. Setelah ini Kia akan katakan pada Aslan Kia mau dinikahi. Bahkan jika Aslan berubah pikiran Kia yang akan merayunya.
Apa yang Kia katakan membuat Paul marah. Lalu Paul mencengkeram tangan Kia. Dan mendekatkan wajahnya berbisik pada Kia.
“Walaupun Aslan menceraikanku , kamu pikir kamu bisa menghancurkanku? Kamu tidak punya bukti apapun siapa Alena sebenarnya. Dan jangan macam- macam padaku, kalau kamu mau anak dan hidupmu tenang” ucap Paul lalu menghempaskan tangan Kia.
“Kamu pikir aku takut? Memalukan beraninya sama anak kecil dan mengancam, hoh” balas Kia.
"Pikirkan Kia apa yang akan terjadi pada Pangeran jika semua orang tau bagaimana masalalumu" ancam Paul lagi tersenyum sinis.
Kia terdiam dan ingin menjambak Paul. Tapi dia urungkan saat mendengar suara heels, rupanya pengasuh sudah kembali. Mereka berdua kemudian kembali diam dan memasang eskpresi ramah.