Sang Pangeran

Sang Pangeran
122. PikTor


Setelah beberapa menit, gelembung air tanda mendidih keluar. Di dini hari yang dingin itu, untuk pertama kalinya Kia menjalankan peranya sebagai istri. Menyiapkan makanan meski hanya mie instan, padahal di meja masih ada daging dan sisa sop.


Kia memasak dengan penuh cinta, selain mie, Kia menambahkan daun kangkung, tidak lupa double telur, cabai dan daun bawang.


"Huh... ada- ada saja, malam- malam minta makan!" batin Kia menuangkan mi buatanya.


Kia berjalan dengan hati-hati membawa semangkuk mie panas itu ke ruang tengah. Karena ditambah berbagai toping, mi_nya jadi lebih banyak dari seharusnya.


"Hemm baunya enak nih!" ucap Aslan bangun dari sandaranya, membau aroma mie kuah rasa soto itu.


"Habiskan lhoh ya!" tutur Kia dengan tatapan ancaman, tapi tetap cantik. Meski bangun tidur dan tanpa make up, dengan kulit Kia yang bersih, Kia tetap mempesona untuk Aslan.


"Siap!" jawab Aslan turun dari sofa, lalu Aslan lesehan di karpet, melipat kakinya duduk bersila dan meraih mangkuknya meletakan di meja.


"Sruuup sruuup" Aslan menyeruput kuah itu dengan dengan nikmat. Sementara Kia duduk di sofa dengan tatapan heranya. Bisa ya udah dini hari masih semangat makan?


"Baca do'a dulu Bang!" tutur Kia ke Aslan, seperti memperingati Ipang.


"He.. ya!" jawab Aslan mengangguk-angguk tapi tetap lanjut makan tanpa jeda doa, mungkin doa dalam hati.


"Huuft hah..." sesekali Aslan mengeluarkan suara kepedesan dan menoleh ke Kia yang menungguinya makan. Saking lahapnya Aslan makan, Kia ikut menelan ludahnya sendiri mengikutinya.


"Laper banget ya Bang?" tanya Kia lirih. .


"Huum, terus ini enak juga Sayang, kamu pengen? Mau? Abang suapin ya!" jawab Aslan setelah menelan makanan di mulutnya.


"Kia kenyang Bang, kalau mau, Kia bisa masak sendiri." jawab Kia.


Tidak mendengar jawaban Kia, sesendok kuah mi itu sudah ada di depan mulut Kia.


"Aak!" ucap Aslan menyodorkan sendok Kia.


"Ehm!" Entah kenapa jantung Kia berdebar saat Aslan menatapnya dengan mesra, mengerlingkan mata ingin menyuapinya. Kia kemudian membuka mulutnya.


"Enak kan?" tanya Aslan tersenyum.


"Kan Kia yang buat, wweek! Ya enak dong!" jawab Kia percaya diri.


"Iya... istri abang kan emang jago!" ucap Aslan memuji padahal cuma mi instan aja.


"Kia minta lagi boleh?" ucap Kia rupanya Kia jadi ingin makan lagi.


"Hemmm," jawab Aslan dengan tatapan mengejek tadi kan bilangnya kenyang.


Kia pun tanpa canggung lagi minta aak lagi. Dengan senang hati Aslan menyuapi Kia. Malam itu mereka berdua makan semangkuk berdua dengan satu garpu dan sendok, diselingi tawa dan canda.


"Abang baru tahu lho sayuran kangkung dimasak sama mi begini Yang?" ucap Aslan


"Kia juga cuma asal kok seadanya di kulkas dimasuk-masukin, tapi enak kan?"


"Enak! Nih sampai istri abang makanya belepotan!" ucap Aslan lagi karena sisa bumbu menempel di pipi Kia.


Tangan Aslan bergerak spontan membersihkan, tapi Kia menghindar karena tiba-tiba Kia dheg-dhegan. Saat tangan Aslan hendak menyentuhnya, pikiran Kia travelling duluan.


Pikiran kotor Kia, mengatakan tatapan Aslan seperti ingin melahapnya. Kia segera membersihkanya sendiri, takut Aslan tiba-tiba menciumnya seperti tadi siang dan berlanjut kemana-mana.


"Udah abis, masih laper nggak? Kia buatin lagi ya?" tanya Kia bosa basi mencari alasan mengulur waktu tidur.


Kia jadi dheg-dhega. Setelah makan selesai kan pasti Aslan akan ngajak Kia tidur. Apalagi sekarang sudah lewat dini hari. Kia tiba-tiba merinding, Aslan pasti akan mengajak tidur bareng. Kia pun tak bisa menolak lagi.


"Nggak! Makasih ya Sayang, udah buatin makan buat Abang!" tolak Aslan mesra


"Iyah, ya udah Kia beresin tempat makanya dulu ya!" ucap Kia mau membawa mangkuk kotornya ke kebelakang.


"Udah biarin aja dulu di situ, temani Abang dulu!"


"Huh!" tanya Kia semakin paranoid. Kia takut Aslan minta ditemani, nanti pasti minta macam-macam.


"Minta tolong dong, Sayang. Ambilkan leptop di tas abang tadi ditaruh di kamar Ipang yah!"


"Laptop?" tanya Kia terperangah di luar dugaanya, Aslan tidak mengajak Kia duduk atau tidur tapi ambil laptop.


Aslan mengangguk sambil tersenyum. "Ya, Sayang!"


"Ya!" jawab Kia langsung beranjak.


"Sama tasnya sekalian boleh!"


Kia mengambilkan laptop untuk Aslan. Aslan pun menerimanya dan segera membukanya. Kia berdiri mematung dan mengusap tengkuknya. Kia terbengong, di tengah malam begini suaminya malah membuka laptopnya.


"Abang, nggak mau tidur?" tanya Kia pelan. Kia benar-benar malu sudah suudzon dengan Aslan.


"Masih ada yang mau Abang kerjakan Sayang. Kamu kalau mau tidur, tidurlah duluan, nanti abang nyusul! Kalau mau temani Abang tidurlah di sini!" jawab Aslan tidak menoleh ke Kia tapi menatap laptop dengan seksama.


"Udah malem lho, Bang ini?" ucap Kia lagi malah sekarang terkesan Kia yang meminta Aslan segera tidur bersamanya.


"Oh ya Abang belum cerita ya? Besok pagi sidang terakhir perceraian Abang. Akta cerai Abang akan segera keluar, are you happy dengar ini?"


"Besok pagi?"


"Ya!"


"Alhamdulillah, Kia seneng dengernya, semoga lancar ya Bang!"


"Harus, Abang juga mau kita punya buku nikah."


"Aamiin, Kia juga maunya gitu!"


"Abang akan usahain apapun yang kamu mau!" jawab Aslan sambil menoleh ke Kia dan meraih tangan Kia, menggenggamnya tanda Aslan berjanji.


"Iyah, tapi apa hubunganya? Kenapa Abang buka laptop malam-malam. Ini udah dini hari lho Bang! Tidur yuk!" ucap Kia akhirnya, tanpa malu malah Kia yang ajak Aslan tidur.


"Iya Sayangkuh, karena Abang besok mau urusin perceraian, Abang mau lembur kerjaan Abang, untuk mendirikan perusahan baru dari nol Abang harus siapin banyak hal. Abang kan sekarang punya kamu dan Pangeran, jadi Abang haru bekerja keras!" jawab Aslan menjelaskan.


"Hemm, ya, oke! Kia tidur dulu ya!" jawab Kia mengangguk mencoba mengerti. Meski Kia masih tetap merasa hal yang Aslan lakukan salah. Aslan harusnya tidur. Sekarang malah Kia yang kecewa.


"Ya! Good night Sayang" jawab Aslan mempersilahkan Kia tidur.


Kia kemudian mengambil mangkuk dan membereskanya ke belakang, setelah itu Kia bersih-bersih diri dan persiapan tidur.


"Kenapa dia jadi terlihat keren begitu sih?" batin Kia mengintip suaminya dari pintu kamar tampak bekerja keras.


Kia jadi terharu dan merasa bangga Aslan mengatakan harus lembur kerjaan demi dirinya dan Ipang. Kia menutup pintu kamarnya, merebahkan dirinya berniat tidur.


Kia memejamkan matanya. Tapi lama Kia memejamkan mata, Kia tetap masih terjaga. Suaminya tidak kunjung masuk ke kamarnya.


Padahal Kia sudah beberapa kali bangun. Memejamkan mata, buka lagi liat jam, pejamkan lagi buka lagi, sampai sekarang sudah pukul 2 malam suaminya tak kunjung masuk.


Kia kemudian membuka selimutnya dan memeriksa suaminya. Ternyata Aslan masih fokus dengan laptopnya.


"Ya Tuhan, kasian sekali suamiku, ini udah jam 2 padahal." batin Kia melihat jam.


Kia pun jengkel dan kesal sendiri melihat Aslan bekerja tak kenal waktu. Kia berjalan menghampiri suaminya.


"Hei... kok kesini? Belum tidur? Heh?" sapa Aslan melihat Kia mendatanginya. Kia tampak cemberut karena lelah menunggu.


"Ini udah jam dua Bang! Abang peduliin kesahatan Abang sih!" ucap Kia mulai posesif ke Aslan.


Aslan memandang Kia dengan senyum hangatnya. Aslan bahagia. Seumur hidupnya ini yang pertama ada perempuan yang melarang dan menegurnya saat bekerja lembur.


Aslan bekerja sampai pagi sebenarnya sudah biasa. Apalagi saat Tuan Agung masih bekerja, tapi tak ada yang peduli dan kini ada perempuan cantik yang menegurnya.


"Kok malah ketawa sih?" tanya Kia kesal.


"Istri Abang marah?" tanya Aslan dengan tatapan elangnya.


"Nggak!" jawab Kia menggelengkan kepalanya.


"Kamu nungguin Abang ya?" tanya Aslan lagi.


Kia menelan salivanya, mau jawab nggak, tapi boong. Mau jawab iya tapi gengsi.


Tidak menunggu jawab Kia, Aslan bangun, meraih tangan Kia dan menggandengnya duduk di sofa.


"Sinih sinih, kalau istri abang nggak bisa tidur nungguin Abang, temani Abang tidur sini. Malam ini aja, Abang harus cepat selesaikan proposal Abang. Abang juga harus beresin masalah kita. Abang akan dapetin jawabanya, Sayang, ini semua demi kita!" ucap Aslan memberitahu lagi.


"Kita?"


"Ya. Abang bawa handphone Papa. Papa pingsan setelah telponan dengan seseorang. Ini Abang lagi usaha buat kembaliin data pesan papa yang udah dihapus! Abang harus tau apa yang terjadi pada Papa sebenernya! Abang mau pernikahan kita bahagia Sayang" ucap Aslan lagi menjelaskan.


"Emang bisa?" tanya Kia masih belum paham.